Tampilkan postingan dengan label Review Film/Drama Korea. Tampilkan semua postingan

[Review Drakor] The World of the Married (ost)

1 komentar

The World of the Married, atau The World of Marriage Couple, adalah drakor fenomenal 2020. Semuanya pas. Pas momen di rumah aja, pas temanya pelakor, pas banget favorit penonton Indonesia. Thanks to JTBC. Habis drama keren Itaewon Class, digempur langsung sama drama rumah tangga sensasional. Daebaakk! 

Karena review dan spoiler hardcore sudah bertebaran di mana-mana, saya nggak mau bahas lagi. Udah lewat ye cin, gue aja yang telat. Saking hebohnya saat on going, dibicarakan di mana-mana, ya forum drakor, forum nonton gratisan, sampe Komunitas Bisa Menulis ampir tiap minggu ada angkat jadi bahasan. Sampe muntah-muntah, kalo kata Jupe. 

Eng, nganu... saya bahas lagu soundtrack dan backsoundnya aja yah. Karena, seperti drama sebelum ini (beneran deh JTBC bersinar taun ini), kumpulan OST Itaewon Class juga lagunya bagus-bagus. Nah, TWOM juga punya kumpulan lagu pengiring yang bikin suasana drama tambah deramaahh...

Yes, soundtrack dalam serial atau film merupakan elemen penting pendukung suasana sebuah adegan dalam cerita. Tanpa soundtrack, tayangan jadi terasa hambar tanpa kesan. Begitu pula dengan bakcsound, yang punya peran penting dalam penggambaran situasi, perasaan maupun pemikiran tokohnya. Visualisasi adegan didukung dengan instrumen audio yang pas, mewakili cerita yang disampaikan tanpa banyak berkata-kata. Salut buat penata musik drama The World of the Married ini, apiik banget nempatin dukungan melodi di setiap adegan-adegannya. 

soundtrack the world of the married
pasti inget banget kan scene yang paling menegangkan ini? :) 

Jadi setuju kan ya, kalo kita seringkali kebawa tegang, kebawa sedih, kebawa kesel karena musik yang dimainkan? :D 

Begitu pula lagu-lagu yang mengiringi kisah pilu rumah tangga Bu Dok Ji Sun Woo dengan mantan suaminya Lee Tae Oh, bikin hati penonton makin teriris-iris serasa dikucuri jeruk nipis. Terutama di adegan-adegan yang mengaduk-aduk perasaan, contohnya saat dia menceburkan diri ke laut, lantunan A Loneliness Voyage makin menusukkan perih di hati yang luka, siapalah yang kuat hati seperti budok, setegar itupun ada keinginan buat menghilang ditelan bumi... 

Aaahhh, aahhhh....haaaaa aaahh aaahh... *meweeekk*


Tapi kemudian setelah scene dramatis ini music scoring jadi adem, ketika Kim Yoon Ki datang sebagai penyelamat gundah hati emak-emak, eh Sun Woo (ya budok juga emak-emak kaann...) 

Begitu dahsyat efek musik dalam cerita. Seringkali sebuah lagu soundtrack mengingatkan kita pada adegan atau setting tertentu. Bahkan soundtrack dan backsound drama ini nggak kaya cuman musik latar saking menyatunya setiap alunan dalam cerita. 

Bahkan tak jarang kalo di Korea, si aktor/aktrisnya juga bisa menyanyikan lagu soundtrack drama yang dimainkannya. Kedua bisnispun saling mendukung.  

Berikut 5 soundtrack dan backsound yang ada di The World of the Married yang terkadang menyebalkan tapi terngiang-ngiang terus di telinga saya :)) 

1. Farewell in Tears (Hu Gak) - eps 5


Ini lagu manis sebenernya. Diputer saat pemotretan keluarga buat foto dinding itu. Tapi jadi perih karena dipake juga sama Tae Oh dan si Keong saat balik ke Gosan. Cuman instrumennya aja sebenernya udah bikin sedih... Same energy with waktu Da Kyeong nemuin hape rahasianya Tae Oh, aaakkkk....jleb jleb jleb.  

2. The Day We Love (Baek Ji Young) - eps 6 



Gimana dong, ini lagunya bagus kan romantis. Tapi diputer pas lagi sendu-sendunya, hancur-hancurnya ...  there is no you in my memory... 

3. Sad (Sonnet Son) eps 3 


Ini lagu mejik yaaahh. 
Langsung bisa bawa aura  gelap, sakit, tapi powerful. Ji Sun Woo banget, aigooo. 

4. Lonely Voyager (Kim Yoon Ah) - eps 1


Sejak lagu ini muncul di eps 1, langsung tergambar semua rasa dalam drama ini. Lara, haru, kehilangan, rasa sakit, kesedihan mendalam, dan perihnya pengkhianatan.

Hatiku terluka aku tak bisa untuk menahannya. Kegelapan yang semakin dalam mencoba menelanku.

Sampe waktu belanja ke toko perabot aja backsoundnya lagu ini dong, gimana gak autodrop mood belanja saya, hahahaha. 

5. The Backsounds 

Adegan testpack garis dua... 
Adegan Joon Young kabur... 
Adegan pas buka handphone Tae Oh dan muncul foto si pelakor... 
Adegan Hyun Mi dikejar-kejar In Kyu di stasiun Gosan... 
Adegan Da Kyung lihat handphone rahasia Tae Oh...

Silakaaan diingat-ingat lagi, musik apa pas adegan apa, hahahaah. Merindiiinggg... 


Anyway, bagian instrumen violin, stylenya mengingatkan saya sama soundtracknya Sherlock Holmes edisi RDJ - Jude Law. Full album isinya instrumen semua dengan melodi violin ala tahun 1800an.  

My Only One (Sting) - bonus 

Ini sebenernya bukan ost hahahaha, tapi saya mau bahas soalnya bikin pengen lempar batu ke kaca mobilnya Da Kyung. Siapa yang tiba-tiba merasa jijik inget adegan dalam mobil saat berduka? Hahahaha...kuingin meruntuk, tapi udah lewat. 


Om Sting mungkin nggak nyangka lagunya bakal dipake drakor perselingkuhan, tapi dengan ini orang jadi langsung ngeh "lagunya si Tae Oh buat ngemodus yah" :)) 

So far, dengerin sealbum lagunya enak-enak semua sih. Yaa gitu yaa, mungkin kalo gak pake sambil nonton gak terlalu berasa feelnya. Tapi atas nama solidaritas perkumpulan emak-emak non Gosan, tiap kali denger lagu sambil inget adegan ceritanya, rasanya pengen tak hiiihhh >.< 

[Review Drakor] Itaewon Class

Tidak ada komentar

Itaewon Class layak jadi salah satu drama terbaik tahun ini. Pemain, karakter, isi cerita, sampe soundtracknya semua baguuss. JTBC emang sesuatu banget deh taun ini drama yang dikeluarin pada bagus-bagus. 


Jadi, waktu awal lockdown dua pekan kemarin sebelum puasa tuh sekalian aja nuntasin drama Itaewon Class ini. Sengaja baru sempet nulis sekarang di blog supaya nulisnya bisa objektif, nggak kebawa euforia 😁 .

Park Seo Joon selalu sukses ambil peran, dan dia bisa move on dari peran sebelumnya. Si mister "auraahh!!" ini juga lawan mainnya bagus-bagus. Kali ini sama Kim Da Mi, dedek gemes yg aktingnya cucok meong sama karakter tokoh di drama ini; badass sociopath! 

Netizen sempet pada gak bisa nerima karakter cewek macam ini karena terbiasa disajikan lead female yg cantik feminin rambut panjang lemah lembut dan nrimo. Tapi coba aja terusin nontonnya dengan hati yang lapang, you'll be in love with Jo Yi Seo 🥰 .

Itaewon Class emang bukan tipikal drama cinta-cintaan emosional. 90% gak ada kisseu, aman yah...hanya di episode terakhir ajalah biasa pamungkas. 

Keseluruhan ceritanya keren banget, banyak hal yang bisa diambil tentang kerja keras, harga diri dan kesabaran. Bahwa apapun latar belakang kita, jangan menyerah...kita punya kesempatan lebih baik di masa depan. Park Sae Ro Yi cuma tamatan SMP dan mantan napi, tapi dia fokus pada kehidupannya yg lebih baik ke depannya, tidak terkungkung dengan masa lalu, dan memilih pergaulan yang baik dikelilingi oleh orang-orang yang kompeten.

Karakter tokohnya unik-unik, temanya juga kekinian banget. Melibatkan profesi-profesi yang jarang disorot seperti vlogger, fund manager, supply chain, dan gambaran besar persaingan bisnis makanan yang ternyata juga penuh intrik.

Meski ada hal-hal standar drama korea seperti motif balas dendam, plus ada selipan topik liberalisme hehe, tapi dikemas apik dan semua dibuat dlm kronologis waktu yang masuk akal. Nggak ujug-ujug dari miskin jadi kaya, dari kaya raya jatuh ngegembel atau menang terus dari lawan...ada kalanya momen si lakon gagal, terjebak, jatuh... yang bikin ceritanya berasa natural nggak dibuat-buat.

16 epiaode lewat, happy ending buat semua pihak 😍👏 . Soundtracknya kereenn, yang dari Gaho ini. V-BTS juga  nyumbang lagunya untuk episode 12.


Baeksang awards, here we come! 

Ps : banyak kejutan di eps terakhir! Pokoknya jangan dilewatiiinn... 

[Review Film] : Cart (2014)

2 komentar

review film korea Cart


Cart (Ka-teu), K-movie lawas bertema isu sosial ini salah satu yang bikin saya berderai air mata sepanjang durasi film. Lemah banget emang kalo dikasih tema begini, dibanding cinta-cintaan yang sedihnya menye-menye, nonton film kaya ginian tuh semacam ikut sakit hati dan merasakan problematika rakyat jelantah, hahah...hadeuh.

Kaya waktu nonton Pursuit of Happiness atau Misaeng gitu lah... bukan cuman mengedepankan drama, tapi ada isu sosial aktual yang diangkat untuk jadi perhatian penonton.

Review K-Movie CART (2014)


Pemeran : 
Yum Jung-ah as Sun-hee (sekilas mirip banget sama Jang Na Ra versi tua)
Moon Jung-hee as Hye-mi
Kim Young-ae as Madam Soon-rye
Kim Kang-woo as Dong-joon
Do Kyung-soo as Tae-young

Director : Boo Ji-young
Writer :  Kim Kyung-chan
Rilis : 13 November 2014 

Oke, mau ngaku dulu kalau awalnya tertarik nonton film Cart ini karena ada Kyungsoo oppa yang juga menyanyikan OST yang berjudul Crying Out. Ih lagunya sediiihhh... Kabarnya film ini termasuk awal-awal karir aktingnya D.O sehingga mendapatkan Best Rookie Actor di Soompi Awards. 


Film yang ditayangkan perdana pada Toronto Music Festival tahun 2014 ini disutradarai oleh Boo Ji-Young. Sutradara ini tersohor handal dalam mengungkapkan isu-isu sosial kedalam sebuah film, banyak hasil karyanya yang terpilih mengikuti festival-festival film internasional. 

Plot Cerita 

Cart bercerita tentang peristiwa pemogokan kerja yang dilakukan sekumpulan pekerja kontrak wanita di jaringan supermarket besar, The Mart. Pemogokan ini didasarkan pada suatu alasan yakni pemberhentian sepihak secara tiba-tiba oleh perusahaan terhadap karyawan sebelum masa kontrak mereka habis. Lazimnya kalau sekarang sih disebut efisiensi (duh, it happens in the real life!) 

Para pekerja ini tentu tidak bisa terima begitu saja. 

Adalah Sun Hee, seorang ibu dua anak yang sudah bekerja sebagai kasir selama 5 tahun, harus dihempas kenyataan bahwa promosinya sebagai karyawan tetap sesuai yang dijanjikan perusahaan tidak akan terwujud. Padahal dia sudah berusaha dan bekerja dengan sangat keras. Sun Hee juga punya tanggungan dua orang anak yang membutuhkan biaya, sedangkan suaminya jarang pulang karena bekerja di laut.

Hye Mi, seorang single mother yang juga bertugas di bagian kasir, dengan berani memimpin dan mengajak rekan sesama pekerja kontrak untuk mendirikan serikat pekerja dan memperjuangkan hak-hak mereka yang diabaikan perusahaan. Bersama Sun Hee dan seorang cleaning service senior, mereka didaulat jadi juru bicara perserikatan. 

Bagi para pekerja wanita ini, berstatus kontrak saja sudah membuat ketar ketir setiap kali waktu perpanjangan kontrak habis. Apalagi tak jarang mereka juga mendapat perlakuan tidak cukup baik, semisal bekerja di luar jadwalnya, dipaksa meminta maaf pada pelanggan walau salah (karena slogannya pelanggan adalah raja yang terhormat), belum lagi berbagai makian dari atasan yang harus diterima oleh mereka. 

Berhenti di sini bentar, mungkin sebagian pembaca kelas menengah ngehe akan berkata "keluar aja lah, ngapain bertahan di situasi yang nggak sehat begitu." 

Hellow milenial serba tanggung! tentu tidak mudah berada di posisi mereka. Persoalan tenaga kerja vs lapangan kerja di mana-mana, di negara maju sekalipun selalu jadi isu sosial yang seksi. 

Pemogokan Kerja 

Gerakan mogok kerja yang dilakukan serikat ini diawali dengan mengokupasi supermarket selama berhari-hari, sampai supermarketnya harus tutup operasional dulu. Mereka nggak pulang-pulang sampai pihak manajemen perusahaan mau menemui mereka setelah berkali-kali gagal diminta bertemu. 

Harapan para pekerja ini simpel saja, manajemen mau membuka negosiasi bagi mereka setidaknya sampai kontrak selesai. Namun nihil, perusahaan malah mengirimkan pasukan polisi anti huru-hara untuk membubarkan kerumunan. 

Aksi unjuk rasa mencapai puncaknya ketika beberapa karyawan tetap yang juga merasakan ketidakadilan perusahaan bergabung dengan serikat pekerja. Dong Joon, salah satu manajer toko bersedia untuk menjadi ketua perserikatan dan berjanji akan sama-sama berjuang sampai akhir. 
review cart kmovie
"Bibi, bisakah tetesan air menembus batu?" - Dong Joon, Manager The Mart

Konflik Sosial dan Keluarga 

Kehidupan personal keluarga Sun Hee menjadi yang paling banyak disorot dalam film ini, termasuk permasalahan dengan anak sulungnya yang masih SMA, Tae Young. Diceritakan bahwa Tae Young merasa kecewa karena beberapa hal; yang pertama, ponsel yang dia miliki masih model flip, sementara milik teman-temannya sudah pada pake model yang terbaru; kedua, kartu makan siang yang tak kunjung terisi saldo; dan yang ketiga, ia terancam nggak bisa ikut fieldtrip sekolah ke pulau Jeju karena ibunya nggak ada biaya, uceett yaahhh....darmawisata aja ke Pulau Jeju TT__TT

K-movie cart (2014)

Awalnya si Tae Young ini rada ngeselin, tipikal abege yang nggak mau ngerti keadaan orang tuanya. Tapi saat dia bekerja paruh waktu di minimarket, ternyata dia juga mengalami ketidakadilan dari sang pemilik minimarket. I love the way Sun Hee membela hak anak laki-lakinya ketika si pemilik minimarket menuntut kerugian toko. Begitu tegas, terasa welas asihnya sebagai ibu tapi tetap menegakkan keadilan. 

Sementara itu, demonstrasi masih terus berlangsung sampai berganti musim. Aksi dorong mendorong, gusur menggusur, retorika, sampai penyiraman air mewarnai hari-hari para pengunjuk rasa. 

Tenda markas yang mereka dirikan bahkan kembali diobrak-abrik oleh polisi sampai putra Hye Mi yang masih balita harus masuk rumah sakit gara-gara ketiban tiang tenda. Hye Mi pun harus ambil keputusan yang realistis bagi hidupnya. 

Dalam kesempatan lain, ketua serikat juga menjadi terlibat dengan masalah hukum karena keadaan seperti mentok, tak ada jalan keluar. Ia pun sangat putus asa.  
review k-movie

review k-movie

My View 

Himpitan kebutuhan hidup dan idealisme memang seringkali berbenturan jauh melampaui yang terlihat.  Semakin kita realistis, sesungguhnya semakin banyak yang kita korbankan. Suatu hari bapak saya sendiri pernah bilang, "nggak perlu ikut-ikut serikat-serikatan, pasti kamu yang bakal rugi. Selamatkan diri dan keluarga kamu aja yang lebih penting." 

Nasehat Bapak terdengar sangat natural dan realistis sih, emang. Beberapa kali jadi bagian dari sebuah perusahaan, isu hak dan kewajiban ini nggak pernah selesai dan happy ending. Entah siapa yang nggak puas, manajemen kah, pekerja kah... atau semua memang dibuat nggak puas oleh sistem yang tidak berperikeadilan. Yang jelas, aturan apapun sepertinya tidak bisa menyenangkan semua pihak. 

It's hurt to know bahwa yang berkuasa hampir sudah pasti selalu menang. Entah dengan cara menawarkan kompensasi lebih pada para aktivis serikat, memberikan ancaman, atau negosiasi dengan berbagai persyaratan.

Dari sisi filmnya, agak pingin ketawa sih kalo D.O masih cocok meranin anak SMA padahal 2014 umur dia udah 21 tahun. Nggak nyangka sekarang dia sudah pergi wamil *menatap nanar*. Aktingnya di sini udah lumayan sih, meski belum bisa dibilang bagus. Gapapa dedek masih belajar yah....

D.O Kyungsoo
Akan lebih menyentuh lagi kalau konflik antara ibu dan anaknya dipertajam, pasti deh ceritanya tambah kuat dan mengharukan. Rada nggak jelas saat ibu dan anak ini bertengkar malam-malam, apakah situasinya Tae Young habis mencuri atau bagaimana. Kehadiran temen cewek yang nggak gitu mempengaruhi isi cerita juga rada nggak penting, mungkin maksudnya mau menggambarkan bahwa situasi ini juga dialami oleh banyak keluarga lain, tidak hanya keluarga Tae Young saja.

Yang saya bingung juga, emang kalau di Korea ayah yang bekerja jauh nggak ngirimin uang ke keluarga mereka gitu? Kalau di sini kan, biasanyaaa, income kepala keluarga yang bekerja jauh dari keluarga itu rata-rata tinggi, makanya dibelain walau mesti LDR dari keluarga.

Satu hal yang pasti menarik, bahwa film ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi pada bulan Juli 2007, ketika pekerja di Supermarket E.Land Mart mendadak dipecat dan mendorong terjadinya pemogokan selama 510 hari (sumber: asianwiki.com)

Lama banget kan itu ya, hampir 2 tahun berunjuk rasa, berganti musim. Saya sempat coba cari informasi tentang pemogokan karyawan E-Land Mart tahun 2007 dan menemukan berita ini di Korea Times. 

Sebagaimana yang terjadi dalam kejadian nyatanya, ending film ini juga tidak happy maupun sad. Sudah kuduga sih... yang begini-begini memang alot sekali mencapai titik temunya. 

"Despite constant negotiations, the union and management failed to narrow their differences over employment security, salaries, upgrading non-regular workers to regular employees and management's lawsuit against the union." 

Hiks.

[Review Drakor] Misaeng-Incomplete Life

3 komentar

Misaeng, drakor

Misaeng (Incomplete Life), salah satu drakor yang storylinenya menurut saya baguuuss banget, dikemas apik, very relatable sama kita yang pekerja kantoran. Drama yang disuguhkan juga proporsional, secukupnya, nggak dibuat-buat. No romance-story at all, nggak ada kontak fisik sama sekali. Aman. 

Ini drakor lawas tahun 2014 yang saya telat nonton, hehe. Drakor berjumlah 20 episode ini diangkat dari webtoon dengan judul sama karangan Yoon Tae Ho dan ditayangkan di TvN. Tema generalnya tentang office life/slice of life, hal yang unik dan berbeda dari drakor biasanya. 

Karena drakor ini terlalu menarik untuk dispoiler, saya ceritain awalnya aja. Adalah Jang Geu Ra (Im Siwan, idol boyband ZE:A) yang sedari kecil mendedikasikan hidupnya berlatih  Go (semacam board game yang populer di Asia Timur) demi cita-citanya menjadi atlet Go profesional. Namun impiannya terhenti ketika ayahnya wafat, ia harus bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup berdua dengan ibunya. Meski sudah amat telat bagi dirinya untuk menggeluti dunia kantoran, dengan berbekal ijazah persamaan SMA, ia mencoba magang di One International, perusahaan perdagangan ternama di Korea lewat koneksi salah satu petinggi.    

Nah, seangkatan dengan dia, ada juga beberapa pemagang lain yang kualifikasi dan pendidikannya 'lebih layak' untuk bekerja di perusahaan. Mereka jelas mengucilkan Geu Ra yang berpendidikan rendah dan nggak punya kemampuan apa-apa, bahkan bahasa Inggris pun nggak bisa.

Singkat cerita, setelah presentasi magang akhir, dari sekian pemagang hanya 4 yang diterima jadi karyawan tetap yaitu An Young Yi, Jang Baek Ki, Han Seok Yul dan Jang Geu Ra (hanya dia yang statusnya kontrak 2 tahun). Geng anak baru ini kemudian sering kumpul bareng, meskipun canggung satu sama lain. 

Dalam cerita ini bukan hanya Geu Ra yang terus-terusan disorot, not a classic from zero to hero story. Setiap tokoh punya karakter kuat dan latar belakang masing-masing yang makin membuat greget cerita ini.

Yuk kenalan dulu sama orang-orang yang ada di poster :

1.  Jang Geu Ra (Im Siwan)

Udah ada di paragraf atas yaa. Pokoknya, menyadari dirinya unqualified dan telat memulai bekerja di kantoran, Geu Ra berusaha keras untuk melakukan yang terbaik yang bisa dikerjakan. Manajernya yang workaholic berharap dia nggak berhasil lolos presentasi akhir. Namun dia rela digembleng sampai hal remeh sekalipun; menghafal istilah-istilah trading yang penuh dengan singkatan, foto copy, menulis notulen rapat dan folder filing. 

Geu Ra tahu betul dirinya tak dianggap dan diremehkan. Kata-kata pertama yang ia minta pada manajernya adalah, "karena aku tak tahu, Bapak bisa mengajariku, jika Bapak memberiku kesempatan."

2.  Oh Shang Sik (Lee Sung Min)

Dia adalah manajer Tim Penjualan Tiga, di mana Geu Ra bekerja. Karyawan senior yang gila kerja dan punya idealisme yang kuat. Boleh dibilang karena itu juga dia jadi susah dapat promosi. Pak Oh manajer gesit yang suka teriak-teriak, namun dibalik sikapnya yang seperti tidak peduli, dia tetap memikirkan kesejahteraan bawahannya. 

Pak Oh sebetulnya tidak senang dengan cara Geu Ra masuk ke One International. Dia sangat membenci KKN, termasuk dalam proyek-proyek yang ia kerjakan. Sempat disarankan oleh rekan sesama manajer untuk sering pendekatan sama bos-bos demi kemajuan karirnya, tapi Pak Oh tidak peduli. Dia bukan penjilat atasan.  

Pak Oh ini kok ngingetin saya sama pak suami, punya anak tiga, istri mengurus rumah, sering pulang larut sampe nggak sempat garap kerjaan rumah, tapi posisinya mandeg di situ-situ aja, #eehhh #curhat #alhamdulillah #disyukuri aja.

3. Kim Dong Shik (Kim Dae Myung)
Pak Kim, wakil manajer yang berbadan subur dan berambut keriting. Karakter favorit banget. Ia bertindak bagai kakak yang mengayomi adik pada bawahannya. Sikapnya supportif, meski pekerjaannya sendiri nggak habis-habis karena atasannya yang gila kerja. 

Sebelum ada Geu Ra, hanya ada ia berdua dengan Pak Oh di kubikel dekat toilet. Dong Shik sangat loyal bekerja pada Pak Oh dan tidak tertarik pindah ke tim lain. 

Seangkatan Pak Kim, ada Pak Cheon, Pak Kang, Pak Ha, dan Pak Sung (geng wakil manajer yang dulunya memulai karir sebagai pemula juga). Karena persaingan dan beban kerja, mereka hanya berkutat pada pekerjaan dan melupakan persahabatan. Ada satu scene cocwiit di mana mereka akhirnya punya waktu buat nongkrong bersama lagi.  

4. Ahn Yong Yi (Kang Sora)
Satu-satunya perempuan di geng magang yang ditempatkan di tim SDM. Seorang pekerja keras yang multitalenta. Meski ia diperlakukan diskriminatif karena perempuan, ia tetap bertahan dengan cara menerima perlakuan yang tidak bersahabat dari rekan timnya. Ada kebutuhan keluarga yang membuat ia harus terus bekerja, makanya ia tak ingin menyerah meski bertubi-tubi dimaki atasan pria. 

Young Yi bukan tipikal tokoh perempuan yang menye dan polos seperti di drakor lainnya. Dia tampil sebagai karyawan pintar nan humble. Sedih banget waktu lihat atasannya ngomel sambil nunjuk-nunjuk kepalanya, ikut sakit hati. Tapi Young Yi sangat tegar dan pada akhirnya bisa membuktikan bahwa perempuan bisa bekerja sebaik karyawan pria.

5. Jang Baek Ki (Kang Haneul)

Lulusan bahasa Jerman universitas ternama ini sikapnya kompetitif dan gengsian, biasa ya tipikal orang pinter. Dia nggak terima diberi tugas nggak penting seperti ngatur barang di gudang, mengoreksi kalimat dan merapikan file excel. Mentornya bersikap dingin dan tegas, sampai-sampai Baek Ki ingin menyerah dan apply ke kantor lain. 

Baek Ki sebenernya naksir Young Yi, tapi nggak berani memperlihatkannya lebih jauh. Ia juga merasa 'kalah' dari Geu Ra yang diberi pekerjaan penting. Namun atasannya bilang, "tak peduli apa yang terlihat oleh orang lain, kita hanya perlu mengerjakan tugas kita." 

Ternyata, begitu cara Pak Kang mendidik juniornya dalam mempelajari dasar-dasar kerja di Tim Baja. Semua orang tahu pak Kang sangat andal dalam pekerjaannya, trust pun mulai terbangun dalam diri Baek Ki terhadap seniornya itu. 

6. Han Seok Yul (Byun Yo Han)
Aselliikkk, waktu dia muncul di awal-awal ini orang rebek dan nyebelin banget. Mesum, banyak gaya, banyak bicara dan merasa lebih berpengalaman karena ditempatkan di lapangan. Meski berhasil masuk Tim Tekstil incarannya, dia agak stres karena nggak biasa kerja kantoran dan dipertemukan sama mentor tukang jilat. 

Seok Yul si tukang gosip yang akhirnya berbalik jadi bahan gosipan orang sekantor karena pernah berusaha jadi whistleblower. Kesini-sininya sikapnya lebih kalem dan semakin bijak. Ia pribadi yang cukup fair dan supportif terhadap teman-temannya. 

"Kenapa begitu mudah menjelekkan orang, tetapi sulit mengajak orang menilai seseorang?" - Han Seok Yul.  

7. Sun Ji Young (Shin Eun Jung) 
Rekan seangkatan Pak Oh dengan posisi yang lebih tinggi sebagai Wakil Ketua. Bu Sun adalah wanita karir dengan dilema yang sama pada umumnya. Anak yang harus ditinggal di daycare setiap hari, suami yang sama-sama sibuk, dan rekan kerja yang sudah dia anggap keluarga ternyata diam-diam menusuk dari belakang.

Pak Oh yang bisa memahami keadaan Bu Sun membantu mengambil alih tugas-tugas Bu Sun selama ia dirawat di rumah sakit karena kelelahan. Apa pasal dia lelah? karena di dunia ini perempuan harus bekerja lebih keras dari laki-laki supaya dianggap setara. 

Sikap Bu Sun sebagai pimpinan padahal cukup tegas dan berani. Termasuk saat membela karyawan perempuan yang dilecehkan secara verbal oleh salah satu timnya Pak Oh.

8. Cheon Kwan (Park Hae Joon) 



lee tae oh, park hae joon

Pak Cheon adalah personel setara wakil manajer yang belakangan bergabung dengan Tim Penjualan Tiga sebagai perpanjangan tangan dari pak Choi (direktur). Sempat kuatir sih jangan-jangan dia mata-mata yang akan menghancurkan karir Pak Oh, soalnya agak ngerasa senior gitu awalnya tapi ternyata nggak terbukti. Dia baik dan mau melebur sama yang lain. Sama lah ya kaya di kantor, ada orang-orang lama yang ngerasa lebih senior, cuma minta dihormati, aslinya sih pada baik aja. 

Perannya mungkin nggak terlalu signifikan, baru muncul di tengah-tengah episode juga, tapi Pak Cheon bisa mengisi kekosongan sumber daya yang dibutuhkan oleh Tim Tiga (karena Geu Ra jelas nggak bisa mengimbangi kinerja kedua atasannya). 

Misaeng, review drakor

Pemeran pendukung lainnya di drama ini ikut punya andil besar dalam memperkuat cerita. Melihat mimik muka Pak Ha yang nyebelin, diskriminasi terhadap Young Yi makin terasa menyakitkan. Dinginnya ekspresi Pak Kang, membuat tekanan yang dirasakan Baek Ki semakin berat, dan muka mengjengkelkan ala Pak Sung, sukses bikin kita mendukung Seok Yul untuk melawannya. 

Kehidupan dunia kerja tergambarkan dengan sangat realistis dan manusiawi di drakor ini. Politik kantor, budaya suap, bullying, senioritas, pelecehan seksual, diskriminasi, after work-life, integritas, dan permasalahan masing-masing karyawan di balik meja kerja. Semuanya pernah saya saksikan sendiri di dunia nyata.  

Plotnya yang cenderung flat nggak dramatis banget, tapi bisa tiba-tiba menegangkan sebagaimana naik turunnya stressing di kantor, bikin kita ingin terus ngikutin setiap episodenya sambil manggut-manggut "iya banget nih, emang kaya gini kalo di kantor".

Puncak ketegangan menurut saya adalah ketika terbongkarnya kasus fraud yang menyebabkan pemutasian para pejabat atas dan personel yang dianggap bertanggung jawab. Sungguhlah kejadian begini banyak dan terang-terangan terjadi di dunia kerja, tapi orang semacam dianggap harus memilih : menyelamatkan diri sendiri, atau melakukan yang benar. Yang mana akhirnya hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa, "kita hanyalah semut pekerja berdasi, yang hanya perlu puas dengan gaji dan promosi saja," begitu kata Pak Kim pada Geu Ra.   

Nonton ini saya jadi ingat masa-masa magang dan jadi pemula di dunia kerja, i feel very related. Tau banget rasanya duduk di ruang arsip super dingin, ngurusin berkas-berkas legal supaya mudah dicari, disuruh bikin kolom-kolom secara manual di agenda polos sebanyak 500 halaman (kenapa nggak beli agenda yang udah bergaris aja sih, Boski?), sampai saya dikirim pelatihan Finance for non Finance demi bisa ngerjain Laporan Tahunan bagian yang penuh dengan angka-angka dan istilah keuangan perusahaan. Junior mah ngikut ajaaahh...demi bisa diterima dan ada gunanya di tim.  

Banyak pelajaran dan pesan hidup yang diambil dari Misaeng ini, rekomen banget buat para pekerja (dan mungkin ex pekerja seperti saya) untuk menggali insight ketika ada problematika kantor yang membuat kita serasa ingin menyerah. 

Pak Oh pada episode-episode terakhir bilang, "bukankah kita semua punya surat pengunduran diri di laci masing-masing, di mana setiap paginya kita berniat mengajukannya namun sampai bertahun-tahun masih saja di situ." Haha. Ironis.

Nah, setelah nggak kerja begini, saya bisa sepakat pada satu hal yang nggak saya lakukan seperti Geu Ra, yaitu bertahan, apapun keadaannya. Saya termasuk orang yang menyerah dan nggak sekuat mereka yang tetap tegar bertahan, bagaimanapun toxicnya situasi kantor. Tak ada yang bisa menilai dan menghakimi, kenapa seseorang bertahan di posisi itu instead melepaskan diri dan mencari pekerjaan lain. 

Yaa....hidup memang tak pernah semudah itu, Ferguso.  

[Review Drakor] 100 Days My Prince, Drakor yang Bikin Semangat Nulis

3 komentar

[warning : mengandung spoiler]

Drama sageuk (drama tradisional/sejarah) ceritanya pasti nggak jauh-jauh dari urusan kekuasaan, ambisi, cinta segitiga dan loyalitas. Begitu juga 100 Days My Prince ini. 

Tapi tetep aja nonton sageuk itu menyenangkaaan. Baju-bajunya bagusss, colorful, mata dimanjakan dengan pemandangan klasik tradisional, jadi tau gitu oh dulunya Korea tuh kurang lebih seperti ini, berikut aturan-aturan kerajaannya begini begitu. Menarik, meski tema ceritanya begitu-begitu aja. Tambahan lagi aktor aktrisnya terlihat berbeda dari keseharian mereka saat kasual, jadi segar aja gitu dengan penampilan lain. 


review 100 days my prince


Penampilan D.O EXO sebagai putra mahkota 

100 Days My Prince, makin menarik karena dibintangi sama D.O Kyungsoo (EXO), brondong kinyis-kinyis yang mukanya kaya bayi ituuu. Nggak nyangka gara-gara drama ini, akoh jadi nyari-nyari filmnya D.O yang lain, hihihi.  

Berperan sebagai Yi Yool, Putra Mahkota yang cerdas dalam sastra dan bela diri. Ia berhasil lolos dari percobaan pembunuhan dirinya yang direncanakan oleh Kim Cha Yeon, bapak mertuanya. Saat jatuh terguling di lereng gunung, kepalanya mengalami benturan dan jadi hilang ingatan (bentaarr, kok kaya sinetron Indosiar yah?). Beruntung ia diselamatkan oleh seorang warga desa Sungjoo hingga kembali pulih dan menjalani kehidupan baru dengan nama Won Deuk.

Won Deuk dipaksa menikah dengan Hong Shim, putri warga desa tersebut. Ini disebabkan ada perintah kerajaan yang menyuruh semua lajang di Joseon harus segera dinikahkan due to kekeringan panjang di masa itu.   

Menjalani 100 hari kehidupan sebagai rakyat jelata di desa Songjoo, Won Deuk mendapat banyak sekali pelajaran yang tak pernah ia dapatkan di istana. Mulai membelah kayu, mencabut rumput, dan memilin jerami menjadi sepatu. 

Meskipun begitu, jiwa "ningrat" Won Deuk masih tertinggal di dirinya. "Apakah hanya aku yang merasa tidak nyaman?" jargon ala bangsawan payah ini sering bikin jengkel Hong Shim dan teman-teman desa-nya. Menurut mereka, Won Deuk perlu memperbaiki sikap dan cara bicaranya yang terkesan sombong dan tidak sopan. "Entahlah, aku merasa tak terbiasa memberi hormat," begitu dalihnya dengan lempeng. Et dah, songong beut.  

100 days my prince review

Seringkali juga dia mengeluhkan kemisqueenan hidupnya, bersikeras ingin makan panekuk daging, dan belanja barang-barang mewah meski ditipu lintah darat. Untuk melunasi utang-utangnya itu, Hong Shim bekerja keras mencari akal untuk menghasilkan uang. 

Bangsawan yang suami-able 

Dalam beberapa kejadian, Won Deuk tidak berhasil melakukan pekerjaan lantas mendapat cap Suami Tak Berguna dari masyarakat desa. Tapi ini nih, yang bikin drama ini so sweeett...meski tak ingat apapun tentang istrinya, sebagai suami, Won Deuk loyal banget dan bertanggung jawab. 

Paling nyess adalah saat Hong Shim bekerja di rumah Pak Park, pejabat yang berniat menjadikan dirinya selir, Won Deuk marah karena Hong Shim memakai gincu. "Berjanjilah, selain untukku...jangan pernah memakai gincu lagi" katanya sambil mengusap bibir Hong Shim. Uwuwuuuu banget kan tuuhh ;) 

Belakangan, Hong Shim tahu bahwa Won Deuk bisa membaca dan menulis. Ia pun pandai berpuisi. Pastilah dia bukan orang biasa di kehidupannya yang dulu, pikir Hong Shim. Mulai saat itu, Won Deuk bisa menghasilkan uang dengan bekerja menulis ulang novel dan membacakan dokumen-dokumen milik rakyat. Tak perlu lama, Won Deuk menjadi kesayangan dan banyak dibela warga desa. 

Sementara itu, Won Deuk mulai penasaran tentang siapa dirinya sebenarnya. Ia merasakan beberapa hal yang membedakan dirinya dengan orang-orang desa. Berkat kecerdasannya, ia bisa menghubungkan beberapa peristiwa dengan ingatan akan kejadian di masa lalu. Won Deuk memutuskan pergi ke Hanyang dan masuk ke istana guna mengembalikan ingatannya. Dari situ, rumor bahwa Putra Mahkota masih hidup beredar luas di kalangan istana. Hal ini tentu membuat Wakil PM Kim alias mertua lucknut itu geram. Ia mencari tahu dan membuat aneka siasat untuk memastikan bahwa menantunya ini benar-benar sudah mati. Ia mengutus tim pembunuhnya untuk memburunya sekali lagi. 

Tak dinyana, ternyata Hong Shim adalah adik Moo Yeon, sang pembunuh bayaran yang ditugaskan membunuh Putra Mahkota. Ia jadi mengurungkan niatnya untuk mencelakai Won Deuk karena Hong Shim. Ia kembali ke istana dan membuat laporan palsu. 

Orang jahat tidak menyerah begitu saja, Wakil PM Kim tetap bergerak sendiri. Ia mulai curiga Moo Yeon menyembunyikan sesuatu darinya. 

Ada masalah apa sih, sampe ngebet banget pengin membunuh Putra Mahkota? Nah, Putri Mahkota So Hye adalah koentji, ia sedang mengandung bayi yang digadang-gadang calon ahli waris kerajaan. Guna melindungi cucunya ini, ia berambisi melenyapkan Yi Yool. Namun siasat ini berubah ketika ia menemukan sendiri Putra Mahkota yang sedang linglung. PM Kim membawa Yool kembali istana dan memperalat Pangeran dengan cara memanipulasi ingatannya demi melanggengkan garis kekuasaan.

Yool nggak sadar, bahwa di istana, ada dua pihak yang senang jika dirinya mati. Kembali menduduki kursi Putra Mahkota berarti ancaman besar sedang mengintai nyawanya. 


Pangeran dan sahabatnya yang cerdas 

Namun, Pangeran Yi Yool terlalu cerdas buat dikibulin. Dibantu oleh Jung Ji Yoon (Kim Seon Ho), pustakawan charming sebagai orang kepercayaannya, perlahan-lahan ingatan Yi Yool mulai kembali utuh. 

Jurnal harian Yool yang berjudul Diam mengungkapkan segalanya. Tentang perseteruannya dengan bapak mertua, tentang pengawal setia yang rela bertukar nyawa untuknya, tentang kenapa tempo hari ia dibunuh saat akan menghadiri Ritual Hujan, dan bahwa ia tidak pernah akur dengan Putri Mahkota. 

Ia juga mengingat cinta pertamanya dengan seorang gadis kecil dengan hanya melihat kenangan bunga Sakura. Jreeeengggg.....mulai seru saat episode-episode ini nih sebetulnya (kepanjangan cerita di desa siihh). 

Long story short, berkat kepintarannya berpikir, Yool sampai pada kesimpulan bahwa Moo Yeon dan Hong Shim adalah adik-kakak yang orangtuanya dibunuh oleh Kim Cha Yeon di depan mata kepalanya sendiri 10 tahun yang lalu. Selain daripada itu, bayi yang dikandung Putri Mahkota bukanlah anak Yi Yool, namun ia tak bisa menghukumnya. Dilema banget bagi semuanya untuk saling berbalas dendam. 

Dengan strategi matang yang sudah dipikirkan, Yi Yool bisa balik menjebak Kim Cha Yeon yang juga sengaja menjebaknya dalam perang.  

Cinta pertama yang dilematis

Hong Shim, yang ternyata adalah Yoon Yi Suh, cinta monyetnya Yool di bawah pohon sakura, menyadari posisinya tidak menguntungkan bagi lelaki tersebut. Ia merasa bersalah karena perbuatan kakaknya, Moo Yeon alias Yoon Soek Ha terhadap Putra Mahkota dan memutuskan untuk menjauhinya. 

Di akhir-akhir, keadaan yang tadinya sangat serius mendadak jadi penuh hal-hal kocak yang menggelikan, termasuk Raja yang berpura-pura sakit dan ingin Yool segera menikah lalu menggantikan tahtanya. Untuk mendapatkan kembali hati Yi Suh, Yool sengaja menjebaknya untuk membaca jurnal harian yang berisi curahan-curahan hati kesepian Yool selama 10 tahun terpisah sejak pertemuan terakhir mereka.

Perempuan mana yang nggak tersentuh sama hal-hal romantis kaya gini ya? Bisa ditebak endingnya walau nggak digambarkan secara gamblang (whaayy, i love happy ending!). 

Masih penasaran juga sama nasib Jung Jo Yoon yang cintanya bertepuk sebelah tangan (berharap endingnya jadi sama gisaeng baik yang naksir sama dia). Sempat sebel waktu dia pansos banget carmuk sana sini tapi kepandaiannya bisa sangat membantu Yi Yool merajut serpihan-serpihan ingatannya.

Harus diakui, endingnya agak nanggung banget, dan seperti dipadatkan di akhir-akhir. Semacam greget gitu berasa ada yang nggak tuntas. 


do kyung soo prince

Drama ini sukses bikin akooh ngefans sama D.O. , untuk seukuran bukan aktor, dia cocok meranin Yi Yool yang dingin, pintar tapi juga sweet. Who can resist that babyface smile! 


Dan kabarnya, karena rating drama ini terus meningkat, pihak TvN membagikan video dari pemeran drama yang memenuhi janji mereka dengan mempelajari koreografi lagu hit EXO “Growl.” 

Video mereka nari bisa dilihat di sini .


100 days my prince


han soo hee, review
the casts

Apa hubungannya 100 Days My Prince dengan menulis? 


Lihat, apa barang penting yang menyelamatkan ingatan Yi Yool? yeess, buku jurnal yang rajin ditulis Yool sehari-hari. Bisa jadi, jurnal seperti ini juga yang bisa membantu kita di kemudian hari. 

Buku harian cenderung jujur, karena saat menulisnya kita dalam keadaan lepas dari beban yang seolah berat ditanggung seharian. Segala kecemasan, kecurigaan, maupun kesenangan yang kita rasakan akan sangat terlihat grafiknya dalam buku harian. Lagipula, berapa banyak orang yang menghapus dan mengedit catatannya yang sudah lewat? Tidak. Kita justru membiarkannya jadi saksi bisu. Apapun itu, kita nggak pernah malu sama buku harian, tidak memanipulasi catatan demi citra. Norak sekalian, mewek sekalian. Beda sama sosmed nowadays. 

Yi Yool juga mengajar kelas sastra bagi para pemuda kerajaan. Masa mudanya dihabiskan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Selain karena tertantang oleh gadis pujaannya, ia juga tumbuh jadi pemuda yang cerdas berpikir. 

Yi Yool tidak percaya mentah-mentah dengan apa yang disampaikan Kim Cha Yeon padanya, ia menganalisa bukti-bukti yang ia temukan dengan pengetahuannya. Dalam usaha memulihkan ingatannya, ia juga peka pada kejadian-kejadian kecil misal kenapa dia tidak refleks menoleh saat dipanggil dengan nama Won Deuk. Dia percaya ada hal yang harus dia selidiki di balik hidup yang dijalaninya.    

Semua pengalaman yang ia temukan, ia tuliskan dalam jurnal hariannya. Sampai-sampai waktu akhirnya bertemu lagi dengan Yoon Yi Suh di desa Songjoo, dia bilang "Aku sudah tahu apa yang akan kutuliskan malam ini..." 

Persiiisss jika kita sudah terbiasa menulis, tiap kali "ngeliat bahan", rasanya udah otomatis kebayang di kepala apa aja yang mau ditulis. Saat berkesempatan menuliskannya, tinggal ngalir aja yang ada dalam pikiran ke dalam tulisan. 

Jadi, setelah nonton ini, udah bikin pengin rajin nulis belum? 

Baca Juga : Han Soo Hee di World of the Married