2021: Sekolah Daring atau Tatap Muka?

14 komentar
Jumat (20/11) jam 13.30 siang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar siaran langsung di channel Youtube-nya Kemendikbud RI dengan tajuk "Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19". 

Tayangan ini, sama halnya seperti pengumuman sebelum-sebelumnya, merupakan update keputusan bersama antara 4 kementerian dan BNPB mengenai sistem pembelajaran persekolahan di masa pandemi Covid-19. 

Dalam kurun waktu 9 bulan ini, pemerintah sudah mengeluarkan dua Surat Keputusan Bersama:  
SKB 1 (Juni) : pembelajaran diprioritaskan pada wilayah zona hijau 
SKB 2 (Agustus) : perluasan izin tatap muka pada zona kuning dan daerah kepulauan 

Lalu SKB ketiga diumumkan sekarang isinya adalah penyesuaian terhadap hasil evaluasi penyelenggaraan yang ditetapkan sebelumnya. 

sekolah di masa pandemi



Sebagai orang tua yang punya anak sekolah, pastilah masa-masa ini dilematis banget. Nggak dipungkiri bahwa kita juga mengalami kelelahan, tapi juga kalau anak-anak disuruh balik sekolah seperti biasa lagi, kok kayanya was-was gituuu.. tapi juga kalau lihat anak-anak di rumah diam saja, gemeessss... 

Duuhh, emak-emak memang yaaa. 9 bulan di rumah aja mengampu pembelajaran sekolah dan pendidikan di rumah memang sangat menguras energi dan emosi jiwa. Kadang ingin ada waktu bernapas sejenak, untuk sekadar rehat dari hiruk pikuk menjelaskan dan mengupload tugas.  

Untuk itu, kita banyak berharap pada keputusan-keputusan dari pemerintah yang dapat memberikan alternatif solusi, gimana caranya anak-anak tetap mendapat haknya bersekolah dengan cara yang aman. Karena nyatanya, ini pandemi nggak selesai-selesai, masih aja mubeng di first wave -___-  

Sekarang sudah hampir memasuki akhir semester ganjil, anak-anak juga mulai pekan depan sudah ujian tengah semester, pertanyaan selanjutnya tentu saja... "tahun depan masih daring kah? sampai kapaannn???" 

Keputusan Pembelajaran Semester Genap 2020/2001

Pengumuman Keputusan Bersama hari ini setidaknya memberikan penggambaran, jika kita tidak bisa berharap pada pusat, maka harapan tinggal pada pemerintah daerah yang lebih mengerti situasi dan kondisi persekolahan di wilayahnya. Selanjutnya harapan kita akan bergantung ke kesiapan sekolah dalam menerapkan kedisiplinan protokol kesehatan selama KBM. 

Menurut pihak Kementerian PMK, keputusan ini diambil demi keselamatan pendidik dan anak didik, dan tidak berisiko kehilangan kesempatan. Karena dari Belajar di Rumah (BdR), anak hanya dapat satu dari empat aspek bersekolah, yakni knowledge; sementara untuk tiga aspek lainnya yaitu attitude, skill, dan values biasanya bisa didapatkan dan dilatih di sekolah. 

Izin pembelajaran tatap muka kali ini dikeluarkan berdasarkan pada rekomendasi dari pemerintah daerah dan kantor wilayah/kementerian agama. Pemerintah perlu menyesuaikan kembali SKB 4 menteri untuk 2020/2021. Pemda yang merupakan pihak yang paling memahami wilayahnya, perlu diberikan kewenangan penuh untuk menentukan model pembelajaran. 

Kondisi kecamatan, kelurahan dapat sangat berbeda satu dan lainnya. Maka, SKB kali ini tidak lagi berdasarkan zonasi pemetaan  dari Satgas Covid-19 seperti sebelumnya, tetapi berdasarkan penilaian pemda masing-masing. 

Paparan Kemendikbud

Fokus: pemberian kewenangan bagi pemda untuk penyelenggaraan pembelajaran tatap muka 2020/2021

Dalam SKB yang kedua, pemerintah sempat memberikan relaksasi untuk zona kuning dan wilayah kepulauan untuk menyelenggarakan belajar tatap muka. Tetapi, hanya 13% satuan pendidikan yang melaksanakan pertemuan tatap muka. Hal ini karena tergantung kesiapan sekolah dalam memenuhi ceklis yang ditetapkan pemerintah dan persetujuan komite sekolah yaitu wali murid. 

Setelah Kemendikbud mengevaluasi hasil dari PJJ, pemerintah mengambil kesimpulan >> semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, semakin besar dampak negatif yang bisa terjadi pada anak, sbb:  
- ancaman putus sekolah (anak harus kerja, persepsi orang tua terhadap sekolah)
- kendala tumbuh kembang (learning loss risk, ketidakoptimalan pertumbuhan di usia PAUD, kesenjangan capaian belajar) 
- tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga (anak stres, kekerasan tidak terdeteksi)

Penentuan kebijakan kali ini berfokus pada daerah agar sesuai konteks, kondisi, dan kebutuhan daerahnya. Sesuai permintaan para kepala daerah ke pusat, bahwa walaupun zonasi risiko ditentukan per kabupaten atau kota, tetapi bahwa ada wilayah-wilayah atau desa-desa yang situasinya aman dan di wilayah tersebut sulit dilakukan pembelajaran jarak jauh. 

Jadi, 2021 sekolah luring atau daring? 

Semester Genap (mulai Januari 2021), kebijakan pembelajaran tatap muka dimulai dari pemberian izin oleh pemda/kanwil/kemenag, kemudian tetap dilanjut dengan izin berjenjang dari satuan pendidikan dan orang tua. 

Pembelajaran tatap muka diperbolehkan, namun tidak diwajibkan. 


sekolah tatap muka
prosedur perizinan sekolah tatap muka



Untuk itu, sekolah yang ingin melakukan tatap muka harus segera melakukan persiapan memenuhi ceklis yang ditetapkan. Pemda diminta untuk benar-benar mempertimbangkan dengan matang, dan sekolah tidak harus langsung serentak melakukan tatap muka melainkan boleh bertahap.

Orang tua tetap memegang kunci untuk mengizinkan anaknya pergi sekolah tatap muka ataupun tidak, meskipun sekolahnya sudah mulai tatap muka.


Faktor-faktor pertimbangan pemda dalam pemberian izin pembelajaran tatap muka: 

  • tingkat risiko penyebaran covid di wilayahnya

  • kesiapan faskes

  • kesiapan satuan pendidikan 

  • akses terhadap sumber belajar/kemudahan BDR

  • kondisi psikososial peserta didik 

  • kebutuhan layanan pendidikan bagi anak yang ortunya kerja di luar rumah

  • ketersediaan akses transportasi aman (karena akan terjadi lonjakan penumpang saat anak mulai bersekolah)

  • tempat tinggal warga satuan pendidikan 

  • mobilitas warga antar kabupaten-kota-kecamatan-kelurahan-desa

  • lokasi geografis 


ceklis sekolah untuk dapat melakukan pembelajaran tatap muka


Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan hanya boleh dilakukan setelah memenuhi 6 ceklis : 

  • sanitasi sekolah
  • akses faskes
  • wajib masker
  • memiliki thermogun
  • pemetaan warga satuan pendidikan (siapa saja yang memiliki komorbid, riwayat sakit, dll)
  • persetujuan komite sekolah tentang adanya tatap muka

protokol kesehatan sekolah saat pandemi
protokol kesehatan tatap muka di sekolah

Setelah sekolah memenuhi keenam ceklis di atas, sekolah memasuki protokol baru. Jadi, pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan tertentu (bukan kembali ke situasi seperti sebelum pandemi).
  • kapasitas 50% dari rata-rata jumlah murid (paud 5:15, dasar - menengah 18:36, SLB 5:8)
  • shifting
  • masker
  • cuci tangan
  • jaga jarak
  • etika batuk/bersin
  • warga sekolah yang memiliki komorbid dilarang ikut sekolah
  • tidak diperkenankan kegiatan berkerumun
*kantin boleh buka dengan protokol
*kegiatan olahraga yang melibatkan kontak fisik tidak diizinkan


Paparan Kemendagri dan Kemenkes


Kemendagri akan mengeluarkan Surat Edaran, dimana isinya menyebutkan apa saja yang harus dikerjakan oleh kepala daerah setelah membuka sekolah. Termasuk bila terjadi cluster saat anak mulai sekolah, kemendagri akan lihat pemda sudah bertindak apa tidak? kalau sudah, akan didukung, kalau belum, pusat akan turun tangan. 

Kemenkes akan mendorong peran puskesmas di setiap wilayah, dan meningkatkan kapasitas kesiapan pelayanan kesehatan. 

Bagaimana dengan Perguruan Tinggi? 

Akan ada wacana diberlakukan tatap muka juga, tapi protokol dan daftar periksa, aturan dan detailnya sedang dibuat oleh Dirjen Dikti, jadi menunggu dulu. 


Sikap Orang Tua Menghadapi Sekolah Tatap Muka


Sejujurnya, saya pun galau. Dua bulan terakhir ini, anak-anak memang sudah melakukan tatap muka terbatas (satu kali sebulan) dengan jam pelajaran terbatas di sekolah. Saat seperti ini, kami masih oke saja hitung-hitung anak menghirup udara segar di luar dan melihat jalan. Tapi kalau semester depan sekolahnya jadi tiap hari...ya kepikiran lagi... 

Hanya saja, tingkat penularan Covid-19 di daerah saya memang tidak seganas di kota-kota lain (setidaknya begitu yang saya tahu), pun juga suami masih anteng bolak-balik WFO dari sejak awal pandemi, jadi rasa khawatir ini masih bisa diatasi. 

Orang tua

Bagi orang tua yang berada di zona merah, dan masih belum rela melepas anaknya pergi ke sekolah, penting untuk bersinergi lebih kenceng lagi dengan sekolah mengenai hal-hal yang dikhawatirkan orang tua, bagaimana yang diinginkan, dan harapan terhadap tindakan yang diambil sekolah.  

Orang tua perlu menyampaikan secara gamblang, kalaupun tidak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah, mintalah kompensasi pada sekolah untuk memfasilitasi anak-anak yang tidak bisa pergi ke sekolah. 

Sekolah
 
Sebaliknya, sekolah juga harus mempersiapkan sebaik-baiknya amunisi dan antisipasi ketika murid-murid mulai bersekolah lagi. 

Ada penyesuaian-penyesuaian, mulai dari materi pembelajaran, jam pelajaran, bobot mengajar guru, dan proses pembelajaran yang harus disiapkan dalam waktu kurang dari dua bulan ini. 

Kita tentu tidak ingin mengalami lost generation, usia bertumbuh anak-anak juga tidak dapat terulang lagi, jika kemudian pada akhirnya kita akan berdampingan dengan situasi seperti ini, pastikan untuk tetap melakukan ikhtiar yang tak pernah kendor, dan doa yang tak pernah putus. 

Together, we fight! 

Hak Masyarakat Adat dan Deforestasi Sumber Pangan

21 komentar


Saya sangat menyukai ragam kuliner nusantara dari Sabang sampai Merauke. Selalu ada nilai kebajikan dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap sajian hidangan asli nusantara. Mulai dari sumber bahannya, namanya, sampai cara memasaknya. 

Lalu, apa hubungannya kuliner, hutan, dan masyarakat adat? 

Jika ditelusuri asal muasalnya, masakan tradisional nusantara ini merupakan produk budaya masyarakat adat yang kemudian turun menurun hingga sampai di meja makan masyarakat umum. Biasanya, kuliner nusantara memiliki bahan dasar pangan yang berasal dari hutan. Bagi masyarakat adat, hutan adalah sumber kehidupan, baik pangan, sandang, dan papan.  

Gudeg, Produk Kuliner Hasil Pangan Hutan 


gudeg
Gudeg nangka. Sumber: Selerasa

Kita pasti sudah sering dengar, kan, tentang filosofi nasi tumpeng yang merupakan representasi hubungan manusia dengan Tuhannya dan juga dengan sesamanya. Tetapi, apa ada yang tahu tentang filosofi sejarah gudeg? 

Kisah gudeng sendiri diceritakan dalam Serat Centhini yang ditulis oleh Paku Buwana V di tahun 1600an. Dalam Serat Centhini, dituliskan bahwa makanan tradisional adalah wujud hasil bumi yang menjadi hidangan dalam berbagai situasi, seperti perjamuan tamu, upacara adat, dan gotong royong. 

Konon, gudeg tercipta saat dibukanya lahan hutan Mentaok untuk dibangun Kerajaan Mataram. Saat itu, banyak pohon nangka dan juga pohon kelapa yang ditebang untuk mendirikan pemukiman dan bangunan keraton. Buah nangka muda yang masih menempel di pohon yang jatuh kemudian diolah menjadi makanan yang dinamakan gudeg, yang kemudian menjadi menu utama masyarakat Mataram kala itu. 

Gudeg terlahir di zaman di mana nangka muda masih belum banyak dilirik untuk dijadikan bahan pangan. Nangka muda hanya dijadikan alternatif pengganjal perut di kala sulitnya mencari bahan makanan yang layak saat itu. Karena sifatnya yang belum empuk seperti nangka matang, maka dalam memasak nangka muda memerlukan waktu yang lama untuk menjadi gudeg empuk dan manis seperti sekarang. 

Menarik bukan, bahwa sedari dulu, bahan pangan kuliner nusantara sumbernya ada di hutan dan kekayaan alam yang merupakan tanah-tanah ulayat (beschikkingsrecht), yaitu hak masyarakat adat yang merupakan sumber kehidupan bersama yang secara kolektif dimiliki, dikelola, dan dipertahankan keberlanjutannya. 

Hutan sebagai Hak Masyarakat Adat 


dampak deforestasi
Sumber: greeners.co

Mari batasi definisi dulu tentang masyarakat adat (indigenous people) untuk membedakannya dengan yang lain. Masyarakat adat adalah sekelompok orang yang hidup secara turun temurun di wilayah geografis tertentu, memiliki asal usul leluhur dan/atau kesamaan tempat tinggal, identitas budaya, hukum adat, hubungan yang kuat dengan tanah dan lingkungan hidup, serta nilai. 

Masyarakat adat memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mempertahankan keberlanjutan kehidupan mereka sebagai komunitas adat. 

Bagi masyarakat adat, hutan merupakan sumber pangan, sumber sandang, sumber pengobatan, dan sumber pengetahuan. Hutan berfungsi sebagai sekolah sekaligus supermarket alami untuk keberlangsungan hidup.

Unik diketahui, bahwa budaya menyimpan bahan pangan ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Eropa saja melainkan masyarakat adat Indonesia sudah melakukannya sejak berabad tahun lalu hingga sekarang. Dengan pengetahuan sederhana, masyarakat tradisional sudah berpikir jauh tentang menyimpan hasil panen di lumbung-lumbung pribadi atau komunal. Mereka menyimpannya sebagai bekal persediaan hingga musim panen selanjutnya atau persediaan untuk menghadapi musim paceklik.

Kuliner Nusantara yang Terancam oleh Deforestasi 

Tempo hari, saya sempat membaca artikel tentang kuliner Nusantara yang tengah menghadapi ancaman kepunahan akibat deforestasi yang merenggut hak masyarakat adat di Indonesia secara berangsur-angsur. Semula saya berpikir, hak apa yang hilang dari penebangan atau kebakaran hutan dan hubungannya dengan kuliner? 

ragam kuliner nusantara
Masyarakat adat Banten Kidul. Sumber: Wikicommons

Ahh, akhirnya saya paham. 

Bahwa merupakan kesia-siaan ketika berbicara tentang kebanggaan atas keanekaragaman masakan nusantara sementara laju deforestasi di negeri sendiri tak bisa dihentikan. Sebab, bagaimana kuliner bisa terus terjaga kelestariannya jika sumber bahan pangannya saja sudah tidak ada? 

Wah, saya ngeri sendiri membayangkannya bahwa kekayaan kuliner nusantara pun ikut terdampak dari menipisnya hutan sebagai supermarket alam. Dari mana kita akan mendapat mbothe sebagai bahan membuat keripik talas yang gurih dan renyah itu? Ke mana lagi mencari sagu untuk bahan membuat kue talam yang lembut dan manis kesukaan tua muda? Bagaimana nasib papeda, sambal kecombrang, dan yang lainnya? 

Sejarah manis tentang gudeg mungkin tak lagi terulang ketika hak-hak masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya pada hutan sulit dipertahankan, tanah-tanah ulayat kini banyak beralih fungsi menjadi pusat hiburan atau komersial. Tidak saja sumber pangan, tapi juga tempat tinggal yang ikut terenggut. 

Hal-hal lain yang menjadi akibat laju deforestasi adalah perubahan iklim, wabah, dan bencana alam. Tak ada satupun aspek kehidupan manusia yang luput dari dampak deforestasi. 

Tindakan untuk Melindungi Hak Masyarakat Adat 

Saat ini, perlindungan terhadap hak masyarakat adat dikawal oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang merangkul 2.366 komunitas adat yang ada di Indonesia. Secara kasat mata pun, kita tahu bahwa masyarakat adatlah yang paling mengalami kerugian atas politik pembangunan dan turunannya seperti deforestasi. 

Jika saya menjadi pemimpin negeri ini, saya akan membuat kebijakan yang lebih ketat dan segera mengesahkan RUU Tentang Masyarakat Adat yang sudah sedemikian lama terbengkalai di meja parlemen.

RUU Masyarakat Adat
Sumber Gambar : Tirto.id

Mengakui saja tidak cukup jika tidak diiringi tindakan yang nyata. Dalam RUU tersebut, perlu ditambahkan klausul pemerintah wajib melindungi, menghormati, dan memenuhi hak-hak Masyarakat Adat atas wilayahnya, hak atas status kewarganegaraan, hak atas penyelenggaraan pemerintahan, hak atas identitas budaya dan spiritualitasnya, hak atas pembangunan, hak atas lingkungan, hak atas persetujuan dini tanpa paksaan, serta hak-hak perempuan adat.

Pembatasan pembukaan lahan harus gencar dilakukan. Tak ada yang boleh mengusir masyarakat adat atas ruang hidupnya. Dengan memperketat regulasi, tingkat pembalakan liar, pembukaan lahan semena-mena bisa diminimalisir dan dikaji dari berbagai aspek.

Saat ini, peran generasi muda bisa lebih besar lagi dan lebih mudah dilakukan karena akses informasi yang semakin luas. Perhatian anak muda terhadap isu-isu lingkungan dan kebudayaan grafiknya menunjukkan kemajuan. Mereka akan saya rangkul untuk saling bersinergi memahami hak-hak masyarakat adat atas habitatnya, mempertahankan kelangsungan hidupnya, yang sekaligus juga ikut melestarikan sumber pangan kuliner nusantara. 

Kelak, saya harap tidak ada lagi peminggiran masyarakat adat yang terjadi karena alasan pembangunan. Bukankah dalam sustainable development goals (SDG's) sudah disepakati, bahwa salah satu dari 169 capaiannya adalapembangunan untuk keselamatan manusia dan planet bumi?

Aman Bersepeda Saat Pandemi

2 komentar
besepeda kala pandemi

Saat pandemi gini, dimana kita harus tetap menjaga stamina dan kesehatan, salah satu olahraga yang bisa dilakukan adalah bersepeda. 

Kenapa bersepeda?

Karena olahraga ini relatif mudah, murah, minim polusi, bisa sekalian mendapat udara segar dan pemandangan luar rumah, dan yang terpenting, bisa dilakukan secara individu. 

Kepopuleran bersepeda ini tidak dipungkiri semakin meningkat di masa pandemi bisa jadi dikarenakan beberapa hal juga, misalnya tempat olahraga biasanya seperti kelas yoga, gym & fitness, atau GOR sedang tidak beroperasi. Bahkan beberapa kolam renang publik pun sempat ditutup dulu pada awal-awal masa pembatasan sosial. Pokoknya segala olahraga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain memang sebaiknya dihindari dahulu di masa-masa ini. 

Pasalnya, lingkaran penularan Covid-19 ini juga semakin tidak jelas dan semakin masif, sementara protokol kesehatan yang diterapkan orang-orang sudah mulai melonggar. 

Lalu apakah kelonggaran ini menjadi alasan kita untuk tidak berolahraga atau justru hajar saja beraktivitas seperti sebelumnya? 

Tidak begitu yaaaa …. 

Dengan mengenali kondisi kesehatan diri sendiri dan menerapkan protokol kesehatan dengan baik, kita tetap bisa kok berolahraga dengan nyaman. Awal bulan kemarin saya ikut webinar yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan bareng komunitas sepeda dengan tema “Yuk Sepedaan Sehat dan Aman di Era Kebiasaan Baru”. Dalam seminar tersebut saya mendapat pengetahuan dan tips-tips bersepeda aman dan nyaman dalam situasi serba terbatas ini. 


Bersepeda Sehat dan Aman Selama Pandemi 

Bapak Azwar Hadi Kusuma dari Komunitas Sepeda Lipat Indonesia menguraikan tips-tips di bawah ini untuk bersepeda dengan aman: 

Persiapan Bersepeda 

Hal yang pertama dan terpenting adalah, kondisi tubuh yang sedang sehat. Kedua, buat rute gowes yang tidak melalui keramaian sehingga kita tidak perlu terlalu banyak berpapasan dengan orang lain. Ketiga, pakai pakaian tertutup untuk meminimalisir infeksi melalui kontak kulit. Keempat, siapkan perlengkapan baik untuk teknis sepeda dan perlengkapan kesehatan seperti masker cadangan, hand sanitizer, air minum dengan botol yang tertutup. 

Bersepeda saat New Normal

Sepedaan sebaiknya dilakukan secara individu aja, atau kalau mau rame-rame sama keluarga atau batasi hanya maksimal 5 orang saja, itupun jaga jarak dengan orang lain. Gunakan juga helm, masker, dan kacamata untuk perlindungan lebih baik. 

Bagi teman-teman yang merupakan tim sepedaan dadakan, sebaiknya atur intensitas bersepeda dari ringan sampai sedang. Harus sadar diri yaaa, jangan langsung ambil track gede-gedean, bertahap saja. 

Nah, ini yang paling penting : saat gowes bareng-bareng, hindari sosialisasi atau istirahat makan minum bareng. Kenapa? karena justru pada saat-saat itulah, pertahanan kita melonggar dan rawan virus bertransmisi dari orang ke orang. 

Kalau dulu ada sesi nongkrong-nongkrongnya, maka sekarang direm dulu aja. Meskipun gowesnya sama keluarga, tapi dengan mampir-mampir artinya kita singgah di beberapa tempat yang kita nggak tahu akan kontak sama siapa. 

Hal yang Harus Dilakukan Setelah Bersepeda 

Sehabis kita bersepeda berkelompok bersama teman-teman segeng misalnya, pulang ke rumah jangan langsung leyeh-leyeh cipika-cipiki sama anggota keluarga. Amat dianjurkan untuk melepas atribut sepeda di luar rumah, semprot-semprot desinfektan, lalu segera mandi dan membersihkan diri. Lebih baik lagi jika membatasi kontak fisik dulu dengan orang rumah. 

Terlihat ribet nggak sih? Percayalah, jauh lebih ribet apabila kita los dol begitu saja tanpa ada usaha pencegahan terlebih dahulu. 

Bahkan menurut saya, penerapan protokol kesehatan ini hendaknya dilakukan seterusnya ke depannya, sebagai kebiasaan baru. Kebersihan dan kesehatan adalah hal mendasar yang diperlukan setiap orang untuk bertahan di masa rawan pandemi begini. 

Oh ya, untuk teman-teman yang baru memulai bersepeda dan menemukan kenyamanan dengan olahraga ini, Pak Poetoet Soedarjanto dari Komunitas Bike To Work juga membagikan tips-tips bagi para pesepeda. 

Tips-tips Bagi Pesepeda Pemula 

  • Hidup sehat dan bugar. Sehat saja tidak cukup, tetapi bugar adalah perilaku produktif, yang juga mempengaruhi endurance dan stamina. 
  • Perhatikan hal-hal berikut sebelum bersepeda: Kenali sepeda (jenis, sifat, dan kelengkapan teknisnya), kenali diri (kondisi kesehatan, penyakit bawaan), dan kenali lingkungan
  • Apapun kendaraan yang kita gunakan, harus mengacu pada undang-undang lalu lintas yang diterapkan. Jangan merasa arogan di jalanan, dan tetap bersepeda di jalur aman
  • Pakai tas selempang di sebelah kiri untuk keamanan 
  • Letakkan botol minum di bagian yang mudah dijangkau sehingga bisa diminum selagi gowes 

Adapun pertimbangan dalam memilih sepeda, Pak Putut bilang sesuaikan dengan ukuran tubuh, bukan usia. Tetapi untuk menimbang spot alias medan yang dilalui, perhatikan ukuran sepeda. 

Juga jika mengajak anak bersepeda, lakukan pelan-pelan secara bertahap. Kita juga perlu memperhatikan kondisi anak jika mulai terasa engap, sebaiknya berhenti-berhenti atau disudahi saja sesinya. 

peserta webinar, rame juga diisi sama gowesers maupun bukan

Naaahh bagi saya yang aslinya bukan goweser, pengetahuan dan tips-tips bersepeda ini sangat berguna dalam mendampingi anak-anak dan suami yang juga gemar sepedaan. Saat mereka bersenang-senang, ibu harus jadi pengerem lah ya biar semuanya tetap terkendali, sehat, dan aman.

Saengil Chukha Hamnida, Drakor Class!

Tidak ada komentar
Seperti yang pernah saya singgung sedikit di tulisan Hari Bloger kemarin, kali ini dengan bahagia saya mau nulis tentang blog Drakor Class yang hari ini lagi anniversary bulan pertama! 

Saranghae, saengil chukha hamnida, Deurakor Keullaseu!!


drakor class

Berawal dari KLIP 

Nah, sebelumnya saya ceritakan dulu tentang aktivitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) yang merupakan cikal bakal munculnya DrakorClass ini. Saya gabung KLIP sejak 2019 (sebelumnya bernama One Day One Post 99 Days), di sini kami punya challenge literasi yaitu konsisten menulis minimal 10 hari selama sebulan, dengan setoran minimal 300 kata. 

Jadi, karena kegiatan dari KLIP ini terbuka untuk kalangan umum siapa saja yang mau ikut, maka partisipannya banyaakkk sekali dari berbagai penjuru dunia yang ingin set the goal untuk konsistensi menulisnya masing-masing. KLIP juga punya Whatsapp Grup, optional untuk orang-orang yang senang berkumpul, saling memotivasi atau mencari inspirasi dari tulisan teman-teman lain. 

Yak, di WAG inilah, interaksi dan engagement sesama member terbangun. Awalnya dari iseng aja beberapa member sering nyeletuk dan berbagi tontonan drama Korea yang sedang atau pernah ditonton. Selain ceritanya, kami juga bahas hal-hal lain yang berhubungan dengan Korea itu sendiri seperti kpop atau kuliner dan lain-lain. Lalu, seiring anggota kelas bertambah di tiap trimesternya, maka bertambah juga teman-teman yang punya interest dan ikut bergabung mendiskusikan hal yang sama. 

Kalau sudah ngomongin drama Korea yaaa, terlalu seru sampai suka nggak inget waktu.. apalagi kalo disambi nungguin drama on-going tayang tengah malam. Aliran chatnya ramaaaiii sekali, macam 'merusuh' di grup aja. 

Playground Drakor & Literasi


Setelah beberapa waktu, kami minta izin mendirikan unit grup khusus Drakor & Literasi untuk mengadakan tantangan menulis 30 hari dengan tema-tema seputar Korea. Tentu saja nggak gitu sulit bagi kami yang sudah dasarnya senang nulis, diberi tema bahasan kesukaan. Hasilnya ya bukan kaleng-kaleng...

Setelah periode tantangan pertama selesai, kami merasa perlu pemantik lebih lanjut untuk mendukung tulisan-tulisan bertema drama Korea. Karena sudah ada di grup dengan peminatan sama, maka nggak ada lagi rasa sungkan untuk mengeluarkan ide-ide ‘gila’ dalam menuangkan kesukaan kami pada hal yang lebih besar lagi. 

Tanggal 10, bulan 10 tahun 2020, situs Drakorclass.com  launching sebagai bukti keseriusan kami berdua puluh menggarap hobi yang produktif. Situs ini lahir dengan perencanaan yang cepat tapi cukup matang. Salut banget memang sama para kontributor, semangat dan keseriusannya patut dapat apresiasi jempol dua puluh. 

Kami garap blog ini juga nggak sekadar punya-punyaan, tapi juga dilengkapi sama domain dan hosting dot com, lay out dan template yang SEO friendly, plus penambahan plug in-plug in yang bisa mem-boost blog kami jadi terdepan di situs pencarian. 

Kami juga melengkapi properti dengan sosial media Instagram, Twitter, Facebook Page, dan Youtube Channel (belakangan merambah ke TikTok juga). Semua sudah siap begitu blog diluncurkan. Tujuan adanya sosial media ini kurang lebih untuk menjaring pasar dan berinteraksi dengan para pembaca. 

Sesuai harapan kami atas hadirnya blog ini; jadi referensi pecinta drama Korea sekaligus sebagai playground tempat bersenang-senang menulis apa saja tentang kesukaan kami.  

Target kami awalnya nggak muluk-muluk, satu orang bisa menulis satu kali sebulan saja sudah cukup memenuhi tujuan dua puluh tulisan setiap bulannya. Namun ternyata semua kontributor sangat bersemangat hingga mampu menulis lebih banyak dari yang diharapkan. 

Sampai 30 hari sejak peluncurannya, situs ini sudah mengantongi 61 artikel, tiga kali lipat dari yang ditargetkan. Daebaaakkk!!! 

IG Live Perdana


Kami juga sukses mengadakan IG Live perdana pekan lalu dengan tema "Blogger dan Drakor Class", menghadirkan empat blogger (termasuk saya) yang merepresentasikan para kontributor Drakor Class. Di sini kami cerita bagaimana menonton drama Korea bisa jadi inspirasi menulis di blog maupun artikel di platform lain. Bahkan beberapa dari kami dengan kreatif membuat fan-fiction alias cerita drakor-based yang dikembangkan berdasarkan imajinasi sendiri.

Bahwa kerjaan kami tidak hanya nonton drakor siang malam, atau ngebucin-in oppa-oppa, melainkan kami juga melakukan riset, baca buku, menuntaskan tulisan sebelum nonton, dan tetap mengutamakan prioritas keluarga, itu inti yang ingin kami sampaikan pada audiens baik kalangan umum maupun sesama pecinta drakor sendiri. 

Maklum lah yaa, stereotiping anak drakor ini suka agak-agak dipandang tidak positif oleh publik secara umum. Salah satu angel mission kami ya menyampaikan value-value yang bisa menggeser stigma 'buang-buang waktu' ini. 

20 orang audiens hadir menyaksikan di launching perdana, menurut saya bukan hal yang bisa diremehkan. Selanjutnya kami pun sudah menyusun jadwal, tema, dan kontributor dari teman-teman sekalas dalam live untuk dua bulan ke depan.  

drama Korea
partisipan IG live perdana

Jika ada yang bertanya, kami dapat apa dari menulis soal drama Korea? Hm, tentu saja kami akan kompak menjawab: dua hal yang kami sukai tersalurkan sekaligus dalam suatu karya.

Hwaiting!!!     

Serunya Wahana Ombak Tsunami di Hawai Waterpark

2 komentar
Mau merasakan sensasi diterjang ombak seperti para surfer di lautan? Yuk, main-main ke Hawai Waterpark. Salah satu wisata air terbesar dan terlengkap di Malang ini akan memberikan pengalaman seru dikejar gelombang hingga setinggi 3.5 meter sebanyak tiga kali! 

Sesuai tagline-nya, “Tsunami Terbesar di Indonesia”, wahana yang bernama Waikiki Beach atau Tsunami Pool ini memang yang baru pertama ada di Indonesia. Maka, kalau jalan-jalan ke Malang, jangan lupa sempatkan main ke tempat ini supaya ada ‘oleh-oleh’ cerita seru sepulang liburan. 

Serunya merasakan ombak ala tsunami di Hawai Waterpark, Malang


hawai waterpark
Sumber: Hawai Waterpark


Apa itu Ombak Tsunami? 

Dilansir dari websitenya Hawai Waterpark, Waikiki beach atau Kolam Tsunami ini merupakan kolam ombak pertama di Indonesia yang gelombang ombaknya sama persis seperti di Hawaii, sehingga para pengunjung benar benar dapat merasakan asiknya ombak di kepulauan Hawaii, Amerika. Terdapat beberapa level ombak khas Hawai Waterpark Malang yang ditawarkan. Mulai dari level rendah hingga level tertinggi dengan ketinggian mencapai 3,5 m. didampingi dengan lifeguard professional dan alat keamanan yang lengkap.

Adapun beberapa tipe tsunami yaitu:
Tsunami
Tsunami Cano
- Merasakan sensasi ombak Tsunami dengan perahu karet yang terdiri dari lima penumpang dalam satu perahu.
Tsunami Tube
- Merasakan sensasi ombak Tsunami dengan ban.

 
Bagaimana Ikut Keseruan Ombak Tsunami? 


Jadi, saat sirene berbunyi “wiiuuu wiiuuu”, pintu masuk wahana akan dibuka oleh petugas, lalu pengunjung masuk ke dalam kolam besar yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa seperti sebuah pantai dengan kontur kemiringan tertentu. 

Selagi pengunjung duduk-duduk menunggu ombak pertama datang, mereka akan diajak berdialog oleh MC di atas panggung. Ini MC-nya bagus sih menurut saya, di tempat seluas itu artikulasinya jelas dan sound-nya juga bagus. Si MC akan memberitahu orang-orang apa aja yang harus dilakukan saat ombak datang, mengingatkan tentang prosedur keselamatan, dan mengajak serta para pengunjung di luar yang masih ragu-ragu buat ikut bergabung ke dalam wahana ini. 

hawai waterpark
Lifeguard akan berjaga di sekeliling wahana

Saat pemandu meneriakan aba-aba ketiga, ombak pertama datang dari arah panggung menuju barisan pengunjung. Semua yang ada di kolam Tsunami berlarian dikejar ombak besar, ada juga yang mencoba berenang mengikuti arus sebelum disusul ombak yang kedua. Saat gelombang yang kedua datang lebih tinggi lagi, orang-orang sudah punya pengalaman menghadapi ombak yang pertama, sehingga mereka lebih siap dengan antisipasinya. 

Saat ombak mulai surut, ada yang ikut terseret bagi yang merelakan dirinya terombang-ambing gelombang. Lucu banget sih karena ada juga yang bertahan pegangan sama kaki-nya lifeguard :)) 


kolam tsunami hawai waterpark

Khusus menjelang ombak terakhir, pengunjung diajak untuk lebih interaktif lagi mengekspresikan kegembiraannya dalam wahana ini. Semua berteriak memanggil datangnya ombak yang ketiga, yang tentunya lebih tinggi dan lebih dahsyat. 


Kapan Kolam Tsunami Dibuka?


Untuk diketahui, wahana Kolam Tsunami ini dibuka dalam tiga sesi setiap harinya. Setiap sesi memiliki dua subsesi: untuk anak-anak dan dewasa. 

Adapun jadwal buka wahana Kolam Tsunami adalah sebagai berikut: 

Senin-Kamis: 12.00, 13.30, dan 15.30
Jumat: 13.30 dan 15.30
Weekend dan hari libur: 10.00, 12.00, 14.00, 15.00, dan 16.30

Nah, saya dan keluarga sudah mencoba keduanya, baik sesi anak-anak maupun dewasa. Keduanya sama serunya, yang membedakan hanya intensitas derasnya ombak. 

Tips Bertahan di Ombak Tsunami


kolam tsunami


Saya mau memberikan tips menikmati pengalaman seru dalam wahana ombak Tsunami di Hawai Waterpark ini: 
  1. Anak-anak yang ikut sebaiknya sudah lebih dari 5 tahun dan wajib pakai rompi pelampung 
  2. Berada di posisi tengah adalah yang terbaik, membuat lebih mudah mengambang di atas air 
  3. Saat ombak datang, sikap yang tepat adalah berenang mengikuti arus, jangan melawannya 
  4. Pegangi anak, tapi juga jangan menahannya saat tersapu gelombang supaya dia tidak cedera. Tenang saja, pelampung akan menahannya dari tenggelam. 
  5. Jangan panik, para penjaga berpengalaman berdiri standby di sekeliling area dan siap membantu siapa saja yang kesusahan

Hawai Waterpark Malang 
Jl. Graha Kencana Utara V, Karanglo, Banjararum, Kec. Singosari, Malang
Jam Buka khusus Masa Pandemi: 
Saturday9AM–4:30PM
Sunday9AM–4:30PM