Aug 18, 2019

Menginap di Hotel Tugu Sri Lestari Blitar

August 18, 2019 0 Comments
Senja memasuki kota Blitar, kota kecil di selatan Jawa Timur yang sejuk dan sederhana. Sudah memasuki waktu Maghrib tapi kami masih belum memutuskan mau menginap di mana malam itu. Sebenarnya lebih karena bingung, situs booking online tidak menawarkan banyak pilihan penginapan di kota ini, terlebih timing kita dadakan begini. 

Blitar memang tidak luas, sambil berkeliling pun sudah ketemu lokasi beberapa penginapan yang jaraknya nggak begitu jauh satu sama lain. Dari informasi di internet, hampir tak ada hotel di Blitar yang punya fasilitas swimming pool, hanya ketemu satu, itu pun masih simpang siur informasi ada atau tidaknya.

Setelah baca-baca review, kami putuskan untuk menginap di Hotel Tugu Sri Lestari. Simply karena testimoni yang pada bilang puas dengan layanan dan keunikan suasana yang ditawarkan Hotel Tugu. Konon, hotel ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia.


Hotel Tugu Blitar, unprecedentedly the best hotel and restaurant in Blitar, East Java, is housed in a colonial building that was built in the 1850s, and was previously owned by a distinguished family of Blitar. After the second World War, the hotel was called Hotel Centrum; many years after the name was changed to Hotel Sri Lestari – and later become Tugu – Sri Lestari.    - tuguhotels.com

Nah, tambah penasaran deh...yang kebayang sama saya adalah arsitektur bangunan kolonial yang njawani, serupa dengan karakter hotel Tugu yang pernah kami lihat di Malang. 

Lokasi hotel ini mudah dicari, pinggir jalan banget nggak jauh dari Alun-Alun Blitar/Taman Pecut. Saking mudahnya, hampir aja kelewatan karena posisinya yang tidak menonjol sejajar dengan ruko-ruko lain di sepanjang jalan Merdeka. Plang nama pun terlampau atas, hampir nggak keliatan.



Jalan masuknya unik banget, berupa lorong dengan untaian akar dari pohon kiri kanan...di sisi kiri adalah restauran, sedangkan sisi kanan adalah lobi yang cukup besar, diisi beberapa kursi jati dan interior yang bikin pengen foto sambil berkebaya.

Bangunan utama tampak malam vs tampak Siang
Resepsionis menyambut ramah saat saya menyodorkan bukti pemesanan kamar dari Tiket.com yang dibooking saat berkeliling tadi. I put no expectation here, dapat kamar model apa saja oke, hanya perlu tempat untuk istirahat karena besok pagi pun udah harus check out. Petugas mengantar kami ke kamar tipe Deluxe 502 yang berada di lantai 1 dari bangunan 3 lantai. Model kamar-kamar di sini langsung menghadap ke pekarangan/tempat parkir (tidak seperti hotel modern yang pintunya saling berhadapan). Di depan kamar tersedia kursi dan meja duduk untuk menikmati welcoming snack yang disediakan berupa teh/kopi dan buah-buahan tropis. 
aslinya salak dan jeruknya masing-masing dua, cuman udah dicomot
Kamarnya sendiri nggak begitu luas, begitu buka pintu langsung ketemu kasur. Alhamdulillah dapat twin bed, karena kalau dapat double bed kudu atur formasi agar cukup 5 orang. Meski mungil, kamarnya apik dan terasa nyaman. Di depan kasur ada nakas yang di atasnya terdapat TV LCD cukup besar dengan channel tv kabel. Di bawah nakas tersedia dua pasang kelom atau bakiak kayu, menambah suasana tradisional dipadukan dengan lantai tegel kunci jadoel berwarna broken white.


Lemari baju dari kayu berdiri di mana dua botol air mineral diletakkan beserta keterangan harga minuman yang tersedia dalam kulkas mini di bawahnya. Hanya ada Pocari Sweat dan Ion Water sih, harganya pun 8000an, tapi keberadaan kulkas mini menambah value kamar yang harganya nggak lebih dari 400 ribuan ini. Di sisi lemari satunya, terdapat hanger dan gantungan baju plus laundry bag dan tarifnya. Cukup lengkap. 



Nah, sudut favorit saya adalah meja wastafel. Ukurannya cukup lebar, dilengkapi dengan toilettries yang dikemas kardus seperti waktu kita crafting zaman sekolah dulu. Isinya masing-masing sikat-odol, shower cap, sabun, shampo dan sewing kit. Lucu banget kan! Di atas wastafel ada cermin besar berbingkai warna emas dengan pencahayaan yang manis bikin pengen terus-terusan ngaca.  




Sisi sebelah kanan wastafel terdapat lilin aromaterapi, korek api dan baygon mat. Serius, baru kali ini lihat hotel menyediakan obat nyamuk :)) Tapi justru nilainya bertambah lagi untuk kamar ini, karena langsung menghadap luar, kemungkinan nyamuk mungkin saja ada, maka untuk meminimalisir komplen netijen nan budiman, mereka preventif menyediakan obat nyamuk elektrik. 
Kebetulan Baygonnya nggak kepake karena gak ada nyamuk 
Satu lagi yang menarik, yaitu kamar mandi. Sesaat waktu lihat di foto agak gelap dan suram, tapi ternyata enggaaaa...karena dindingnya warna hijau aja sih jadi kaya gelap. 
Tapi pas masuk, kesan itu langsung hilang...karena kamar mandinya bersiih, flush lancar, tisu gulung, handuk dan gantungan, WC nya modern (WC duduk baru), dan shower panas-dingin yang airnya turah-turah mau malam ataupun pagi!! Hepiii banget bisa mandi lama-lama di dalem, berasa iklan sabun. Ada yang lucu juga di dalam kamar mandi, yaitu kursi duduk yang dilapis kain. Saya nyolek suami, "itu kursi buat apaan sih?". Sempat sama-sama bengong sebentar, akhirnya ketahuan itu kursi buat mandi sambil duduk gitu wkwkwk...mungkin pegel ya, atau buat lansia yang ngga kuat lama-lama berdiri, nice service. 

Kualitas tidur oke, mungkin memang ngantuk juga. Tapi ya cukup memuaskan kok, bantalnya satu kasur satu, selimutnya yang agak berantakan dari covernya saat ditarik sampai leher. AC berfungsi dengan baik. Di antara kasur ada nakas dengan pesawat telepon jadul dan buku menu yang lagi-lagi ala crafting banget. Harga minuman di sini murah-muraaahh...start from 8k, duh kuterharuuu. Tapi kalo harga makanan, standar hotel, termasuk sajian khas lokal Blitar bandrollnya mahal.

Malam harinya kami makan di Kuning Kitchen and Cafe, nggak jauh dari hotel... Nggak ada alasan khusus sih kenapa makan di sini. Untuk ukuran kota kecil, harga menu di sini "lumayan", tapi sepadan dengan porsi yang besar bisa untuk makan rame-rame. Di Kuning juga jual gelato, plus jual spot-spot instagramable :) 

Saat balik lagi ke hotel saya sempatkan berjalan-jalan keliling hotel untuk ambil foto. Biasanya, hotel tua model tradisional begini suka ada gosip-gosip spooky, itu juga yang kemarin sempat jadi kekhawatiran...bakalan bisa tidur nggak ya? Sebetulnya hotel ini cocok banget buat foto-foto instagram, lampu-lampu temaram di taman dan berbagai pernak pernik Jawa-kolonial di sudut-sudutnya bakalan keren banget kalo dipajang di sosmed. Sayangnya kamera hape saya kurang bagus untuk cahaya yang minim hihi #kesiaaan.  

Pada bangunan utama yang berada di tengah-tengah, terdapat empat kamar  yang difungsikan sebagai kelas Presidential Suite. Bangunan bergaya indische emire style ini awalnya bukanlah sebuah hotel, melainkan rumah tinggal.  Konon, hotel ini erat kaitannya dengan Presiden Soekarno yang memang merupakan wong asli mblitar. Tak heran di area tengah banyak terdapat foto-foto Bung Karno dalam acara kenegaraan dan benda-benda antik lainnya. 

Di sudut lain, ada semacam pawon dengan meja kursi yang mungkin difungsikan untuk tempat ngobrol atau berfoto. Belakangan saya tahu itu namanya Waroeng Jawa, dan benar dipakai sebagai tempat duduk-duduk menikmati afternoon snack setiap sore sebagai pelayanan pada tamu-tamu hotel. Waroeng Jawa diset ala-ala jadoel gitu dengan perabotan dan tungku-tungku tradisional. 


Terus terang, saat malam di sini agak deg-degan. Lalu saya buru-buru ngibrit ke spot berikutnya yang yah, sebenernya biasa aja sih...hanya karena sepi aja jadi berasa khawatir.

Ah iya, di sebelah bangunan utama ada ruangan gamelan yang menurut resepsionis pertunjukannya dimainkan setiap hari Jumat. Sayang nggak kebagian nonton...   



Pagi-pagi, sinar matahari menyapa sudut kamar, gorden hanya ada satu lapis tanpa vitrase, jadi nggak bisa dibuka kecuali mau show off xixixi. 
balkon di depan kamar kita, menghadap pekarangan hijau dan parkiran
Sarapan dimulai pukul 7 di Colony Restaurant dengan menu yang sudah ditentukan hotel. Kita tinggal memesan mau sarapan soto, rawon, pecel atau nasi goreng. Alangkah baiknya pihak resto memberikan free 1 porsi untuk anak-anak selain 2 porsi yang sudah include. Kami memesan soto ayam, pecel Blitar dan nasi goreng. Teh dan kopi tersedia free flow, suami pesan tambahan iced lemongrass tea. 


Colony Resto
nasi goreng, soto ayam
legendary pecel Blitar 
Rasa makanan menurut saya cukup baik, pecelnya lengkap disajikan dalam pincuk dengan lauk rempah kelapa, rempeyek kacang, sayuran hijau dan bumbu yang bercita rasa pedas manis. Sotonya anak-anak suka dan tandas. Nasi goreng porsi cukup komplet dengan kerupuk udang.

Beres sarapan anak-anak dan suami kembali ke kamar sambil beberes dan nonton tv. Saya penasaran naik ke lantai dua untuk melihat view dari atas. Bertemu dengan beberapa petugas yang sedang membersihkan kamar, saya disapa oleh seorang bapak tua yang sedang menyapu lantai. Bapak itu dengan lancar bercerita bahwa Ibu Megawati sewaktu masih jadi presiden rutin menginap di sini setiap merayakan haul Bung Karno. Selain Megawati juga pejabat-pejabat lainnya seperti Raja Thailand dan tamu-tamu luar negeri lain langganan bermalam di hotel ini kalau sedang ke Blitar. 

Kalau lihat websitenya, sepertinya kita bisa mendapatkan pengalaman lebih yang bisa dilayani oleh hotel ini. Paket wisata ke Candi Penataran, Kebun Kopi dan Makam Bung Karno, misalnya. Yakin deh, tamu-tamu tertentu pasti nggak akan melewatkan layanan ini selagi ada yang memfasilitasinya.  



Bapak--yang dengan menyesal saya lupa menanyakan namanya--sudah lama sekali bekerja di hotel Tugu, dari sejak namanya masih hotel Centrum dan bangunannya masih sangat sederhana. "Tahun 70an sebelum kamu lahir, saya sudah kerja di sini, Ning," ujar si Bapak yang masih tampak bugar dan cekatan di usia senjanya. 

"Ini hotel yang paling tua, mungkin se-Indonesia, di antara hotel Tugu yang lainnya, ini paling tua." Bapak masih melanjutkan ceritanya seraya menunjuk pohon-pohon besar yang ada di tempat parkir dan taman.

"Yang paling tua, itu pohon mangga yang ada di sana...sampai sekarang masih berbuah, tapi sudah kami babat karena takut mangganya menjatuhi mobil."

Saya menunjuk pohon beringin besar yang akarnya menjuntai-juntai, "Kalau pohon itu udah lama juga ya, Pak?" Dengan mengejutkan si Bapak bilang bahwa pohon itu masih lebih muda dibanding pohon mangga yang barusan dia ceritakan. Ada satu pohon lagi di pekarangan yang saya kurang jelas namanya. Ketiga pohon itu ia yang merawatnya sedari kecil, masih bisa dibentuk-bentuk sampai sekarang sudah jadi pohon raksasa yang membuat adem suasana.

Tentang pohon di jalan masuk yang akarnya terjuntai rapi, dia menyebut namanya juga tapi saya lupa (duh, apa atuh aku mah sagala poho...). Ketimbang bertanya ini hotel pemiliknya siapa dan apakah si owner punya anak (buat mantuuuu maksudnyaaaa), saya malah bertanya "Apa pernah ada cerita-cerita serem di sini, Pak? Katanya, ini dulunya bekas makam." Bapak itu tertawa renyah dan menggeleng. "Ndak, ndak ada itu, Mbak. Saya tidur di mana aja di sini kok nggak pernah ada yang ganggu," jawabnya dengan yakin. Baiklah aku mengangguk saja, mau apa pulak gue tanya-tanya begituan hadeuuh. 
ini tema bahasan saya dengan si Bapak 
Setelah pamit pada si Bapak, saya kembali turun dan berkeliling hotel. Luas hotel Tugu Blitar ini sekitar 5.370m2 dengan total 56 kamar berbagai tipe. Biaya sewa mulai 350 ribu sampai 2-3 juta untuk Sang Fajar Presidential Suite. Kamar petilasan Bung Karno ini bebas disewa oleh pengunjung manapun yang ingin menikmati romansa sejarah di kota Patria ini. 
Jam 9 kami check out dari kamar, bertemu kembali dengan si Bapak yang membantu kami keluar dari parkiran. "Langsung pulang, Ning?" tanyanya ramah. "Nggih, Pak. Matur nuwun, monggo!" Jawab saya dan suami berbarengan sambil melambaikan tangan. Nggak salah memang kalau hospitality dan service di hotel ini asli jempolan.

Menurut saya, ini yang terbaik di Blitar. Menginap dengan suasana yang berbeda, cocok dengan ambiance kotanya yang mungil, asri namun penuh kesan kejayaan kota tua.    

Anak-anak sama sekali nggak komplen dengan ketiadaan pool, mereka cukup happy bisa berlarian di pekarangan depan kamar, mandi air hangat dan tidur yang nyenyak. Until we meet again, Blitar!   



Hotel Tugu Sri Lestari Blitar 
Jl. Merdeka 173 Blitar
East Java • Indonesia
+62 342 801 766, 
+62 342 801 687, 
+6285 335 551 326
Fax. +62 342 801 763
Reservations: blitar@tuguhotels.com

Aug 11, 2019

Film Mahasiswi Baru, Semangat Belajar Sampai Tua!

August 11, 2019 0 Comments
Satu lagi film Indonesia yang punya tema unik dan berbeda tayang pada 8 Agustus tahun ini. Film garapan sutradara Monty Tiwa ini dibintangi oleh Widyawati, Slamet Rahardjo, Morgan Oey, Mikha Tambayong, Sonia Alyssa, dan Umay Shahab. 



Familiar yaaa ama pemain-pemainnya? Aktor dan aktris multi generasi banget, dan ini jadi salah satu alasan kuat untuk tidak melewatkan film Mahasiswi Baru di bioskop. Simak 5 alasan di bawah ini kenapa film Mahasiswi Baru harus ditonton :   

1. Kemunculan aktris senior Widyawati sebagai mahasiswa baru
Widyawati berperan sebagai Lastri, oma 71 tahun yang mendaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Cyber Indonesia. Meski tak lagi muda, Lastri masih bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Seperti halnya kelakuan mahasiswa pada umumnya, tante Lastri juga bikin geng sama mahasiswa-mahasiswi muda di kampus. 

2. Slamet Rahardjo, rekan senior Widyawati jadi dekan galak 
Karena ketidak-lazimannya, Pak Chairul Umam, yang merupakan dekan fakultas di mana Lastri berkuliah, bersikap kurang welcome. Menurut dia, Lastri sudah tidak pantas berkuliah dan menerapkan standar yang sangat tinggi pada Lastri, tidak main-main, harus dapat IP yang tinggi sejak semester satu. 

3. Akting Morgan Oey semakin matang
Film Mahasiswi Baru juga merupakan ajang berakting kembali Morgan Oey ke jagad perfilman Indonesia. Nggak tanggung-tanggung, langsung adu akting sama senior macam Widyawati ama Slamet Rahardjo. Sosok Danny, yang diperankan Morgan Oey adalah seorang selebgram yang apa-apa diposting di sosmed. Danny jadi salah satu member geng-nya tante Lastri.

4. Geng tante Lastri yang kerap membuat gaduh di kampus
Dalam perjuangannya memperoleh IP yang tinggi di semester satu, tante Lastri didukung oleh gengnya yang beranggotakan Danny, Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab) dan Reva (Sonia Elyssa) yang memiliki karakternya masing-masing. Pada perkembangan ceritanya, geng ini juga tidak selalu akur, ada drama konflik yang mewarnai pertemanan mereka. 

5. Intrik menarik ketika Lastri gagal punya IP tinggi 
Ketegangan semakin meruncing ketika Lastri tidak berhasil mendapat nilai yang cukup baik untuk melewati semester pertama. Terpaksalah Lastri harus menempuh jalan yang tidak biasa menghadapi pak Dekan. Di sini, konflik semakin berkembang tidak hanya soal Lastri tapi juga merembet ke keluarga dan kehidupan teman-temannya. 

Surprisingly, film Mahasiswi Baru ini ternyata ide ceritanya berasal dari kisah nyata. Penulis naskah Jujur Prananto mengisahkan tentang seorang wanita yang berkuliah di usia senja dan mengejawantahkannya dalam sinema visual. Pantas aja ceritanya mengalir dengan alamiah,  tentang semangat belajar tak kenal usia bahwa kehidupan begitu kompleks meski hanya ada satu faktor yang berubah.

Film Mahasiswi Baru ini cocoks banget ditonton sama yang mau kuliah, lagi kuliah, ataupun yang udah nggak kuliah kaya saya. Lebih seru lagi kalo ditonton bareng temen-temen segeng, pasti ngikik mulu karena akting para pemainnya yang kocak abiiss.  

Bergenre komedi dipadu dengan kisah drama keluarga dan gambaran gaya pergaulan anak muda milenial ini semakin membuat film Mahasiswi Baru terasa fresh dan menggemaskan. Kebayang nggak, tante Widyawati ngomong "Yoaa, Braayy...." hahahah lucu, di film mana coba dese berani tampil sangat berbeda dari peran-perannya yang biasanya. 

Dari sisi cerita, jempol banget deh meski ada beberapa yang missed, tapi semua ketutup sama grand story yang bikin kita ber-oohh-ooh ria di tengah film. Akting nggak usah ditanya lah ya, dua master perfilman Indonesia hadir di sini udah pasti ngangkat banget, ditambah lagi para aktor dan aktris muda yang semakin mewarnai film dengan kematangan aktingnya. 

Rekomen banget buat tontonan liburan weekend ini. Tonton trailernya lalu cuuzz...bioskoopp!!



Aug 9, 2019

Menata Rumah Mungil dan Ruang Kerja di Rumah

August 09, 2019 0 Comments
Rumah, buat saya dan suami yang sama-sama berkarakter introvert, adalah tempat yang paling nyaman. Saat weekend kami betah hanya mendekam saja di dalam rumah sekadar gogoleran sampe ngantuk lagi, nonton video, main sama kucing atau nyoba-nyoba resep masakan. 

Cerita sedikit soal rumah, mumpung lagi hepi...alhamdulillah bulan kemarin KPR kami akhirnya lunas, nas, nas. Rumah kami bukanlah tipikal rumah kekinian yang dari bangunannya saja udah edgy. Luas tanah 96m2 dengan luas bangunan 84m2, rumah kami belum banyak mengalami perubahan dari bangunan aslinya. Tau lah ya, biaya renovasi rumah itu selalu menimbulkan pembengkakakan setidaknya dua kali lipat dari RAB, nguras sana sini banget... Jadi kami selaw saja dalam memperluas dan memanfaatkan lahan-lahan di rumah, kami prioritaskan pada fungsi utamanya dulu, sebagai tempat tinggal, tempat kerja dan tempat bertumbuh sebagai keluarga. 

Salah satu sudut favorit saya di rumah (selain meja makan, wkwkwk) adalah tempat kerja. Jangan dibayangin working space keren kaya di IG yah, hihi....di rumah saya sih sebenarnya hanya spacekecil aja berisi meja laptop, kursi dan sisi untuk menaruh buku-buku, kamus, dan arsip-arsip penunjang pekerjaan. Yang penting posisinya berada dalam pandangan di mana saya bisa sambil mengontrol anak-anak beraktivitas dan sebaliknya. 

Kepikiran juga sih, suatu saat pengin bikin ruang kerja yang lebih cantik lagi (guayaa nih, karena utang dah lunas yeee...). Mulai dari lihat-lihat inspirasi dan masukan dari para pakar lah ya, biar ruangannya berfungsi maksimal bukan cuman buat foto-fotoan aja. Juli kemarin di acara Indonesia Properti Expo 2019 di JCC Senayan, mbak Zata Ligouw (lifestyle blogger) ngasih tips and trik menata ruang kerja di rumah. 

1. Siapkan tempat khusus untuk meja kerja
Pojok ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dll
Jika punya ruang lebih, boleh pakai satu ruang khusus

2. Sesuaikan meja yang pas 
Gunakan meja yang ada
Beli meja baru/bikin meja sendiri
Ergonomis (supaya nggak pegal)  
Cuma perlu gitu doang sebenernya ya, kakak. Nggak usah mikir pake coffee bar segala,
wkwkwk...tapi ya boleh aja sih kalo mau, gak perlu bolak balik ke dapur.

Lalu bagaimana jika ruang kerjanya ingin pakai aksesoris-aksesoris

atau semacam boardplan untuk mengingat pekerjaan? Nah ini, boleh juga. Fungsinya selain

menunjang pekerjaan juga menaikkan mood bekerja.  

3. Aksesoris ruang kerja 

Sesuaikan dengan tempat/ruangan
Gunakan meja yang ada/Beli meja baru 
Ergonomis (supaya nggak pegal)

Bisa buat sendiri : meja atau rak, mood board
4. Alat tulis dan tanaman 
Alat tulis jelas pentingnya, tapi tanaman? Hmm, jangan salah. Fungsi tanaman di ruang
kerja bisa meredakan stress loh. Kalau kitanya rileks, otomatis mood naik seiring dengan
produktivitas. Tempo hari saya taruh bunga mawar, kalanchoe di sudut meja. Bener loh 
pas lagi mikir inspirasi gitu lihat ke tanaman, mata yang lelah juga jadi lebih segar, ide-ide
pun mengalir.

Bereeesss...untuk sudut kerja udah kebayang mau gimana dan sepertinya nggak terlalu 
ribet juga. 

Masih dalam gelaran IPE 2019, mbak Adelya Vivin (@adelyavk), home enthusiast, juga
ngasih pelajaran penting buat anda-anda dan termasuk saya, tips dan trik penataan ruang
yang kecil alias small space living

Saat ini di mana harga properti gila-gilaan, nampak sulit untuk kaum urban dapat hunian 
yang luas dan besar. Kalaupun ada, ya harganya gila. Maka sekarang trend small space 
living menjadi gaya hidup yang pada akhirnya daleman rumah pun menyesuaikan dengan 
spacenya. Nggak lagi jamannya guci-guci kaya rumah kakek kita, atau lemari-lemari jati 
besar yang nggak movable. Semakin sedikit ruang, maka semakin sedikit space untuk 
barang tambahan yang kurang esensial.   

Nah, kalo gitu apa hal-hal yang penting dalam membuat hunian mungil menjadi nyaman
ditinggali, tak terkesan sumpek dan terbatas? 

Pertama, perencanaan
1. Tentukan apa saja kebutuhan keluarga 
2. Mengenal karakter diri sendiri dan keluarga
3. Perbanyak referensi hal-hal yang disukai 
4. Menghitung budget yang tersedia 

Selanjutnya, bentuk hunian menjadi terasa lebih lapang dengan memperhatikan
hal-hal berikut : 
1. Lighting atau pencahayaan (skylight, big windows) 
2. Sirkulasi udara 
3. Warna cat (gunakan warna netral untuk kesan yang lebih luas) 
4. Storage (open storage untuk menghemat lahan sempit) 
5. Penghijauan (indoor plants) 
6. Ketepatan furnitur yang dipakai dengan tema rumah 

Ada beberapa tema rumah minimalis yang saat ini sedang
trend, yakni rustic, scandinavian, japanese style, bohemian, dan french country. Tapi
kalo menurut saya sih, tema rumah Indonesia juga bisa dibuat sederhana dengan
perabotan yang dicukupkan sesuai fungsi utamanya. Rumah-rumah zaman dulu juga kalau
bukan rumah raja sih sederhana aja padahal yaa...i believe we can adapt any style into
minimalist living. Kalau dirasa interior rumah modern itu terlampau mahal (itu makanya 
kudu itung budget dalam perencanaan), maka go for the style you can afford.    

Boleh aja sih punya cita-cita ingin punya rumah yang instagramable, sukur-sukur diliput 
majalah IDEA, ehehehe. Tapi perhatikan prioritas ya pace mace, standar kenyamanan tiap
orang berbeda-beda. Pada akhirnya rumah adalah tempat privasi yang hanya kita dan 
keluarga yang menikmatinya setiap hari, maka kenali saja apa yang membuat nyaman kita
sekeluarga lalu hidupkan lewat tatanan rumah yang sesuai :)   

Aug 1, 2019

Wonderful Journey with OPPO Reno 10x Zoom

August 01, 2019 0 Comments
Sejujurnya, saya suka mupeng banget dengan foto-foto cakep yang seliweran di Instagram. Tentang keindahan Indonesia, traveling, atau konten-konten kreatif yang disajikan dengan visual yang jernih dan suara yang clear. Di zaman yang serba compact begini, gadget untuk meng-create hal-hal semacam ini tentulah harus menyesuaikan kepraktisan. Semakin tinggi mobilitas, tuntutan kebutuhan gadget praktis yang pocketable pun nggak kalah besar. 

Saat yang handy-handy sedang digandrungi, perangkat hape dengan fungsi maksimal sangat membantu kemudahan dan kelancaran menangkap momen dan mengabadikannya dalam konten yang apik dan bermanfaat. Satu hape untuk fungsi foto, video, suara dan konten. 
2019, Oppo memperkenalkan Oppo Reno 10x Zoom untuk konsumen dengan kebutuhan tinggi terhadap specs yang dapat mengcover pengalaman hebat mereka hanya dengan satu perangkat. Kebayang nggak, 10x zoom itu bisa nangkap objek dalam jarak sekian meter tanpa gambarnya jadi pecah atau blur. Begini contohnya : 
Lihat dong tulisan BCA nya....terbaca dengan jelas terpampang nyata
Keunggulan Oppo Reno 10x Zoom ini ada pada tiga kamera belakang dengan spesifikasi 48MP. F/1.7 + 13MP  F/3.0 (telephoto) + 8MP F/2.2 (wide angle), 10x hybrid zoom, 60x digital zoom, Dual OIS, Artistic Potrait Mode, Ultra Night Mode 2.0, Dazzle Color Mode, 4k Video 60 fps. 

Dilengkapi RAM 8GB dan ROM 256GB yang masih bisa diperbesar lagi hinggal256GB, hape ini mumpuni banget untuk dibawa-bawa keliling Indonesia menelusuri hutan-hutan, pantai dan tempat eksotik lain tanpa dibebani oleh volume barang yang bulky dan kehebohan piranti pelengkap lainnya. 
kamera yang menyembul ke atas itu adalah koentji, dia akan membuka dan menutup sendiri saat dipakai
Saat sesi pengenalan Oppo Reno 10x Zoom Indonesia - Wonderful Journey di Malang hadir juga kak Windy Ariestanty - Content Creator (@windy_ariestanty) yang berbaik hati mau membagi wawasannya dalam workshop "Bercerita Dalam Foto". 

Menurut kak Windy, tidak ada foto yang buruk, yang ada hanya sudut pandang yang berbeda atas sebuah foto. 


Setiap foto punya nilai. Bukan semata-mata soal estetika, teknik ataupun objek foto. Nilai berhubungan dengan momen yang langka, feel yang terasa meski secara komposisi fotonya biasa saja. 

Pada umumnya, orang kalau berbicara tentang foto, yang diomongin adalah persoalan teknisnya saja, jarang ada yang ngomongin fotonya itu sendiri bercerita apa, konteksnya bagaimana, ataupun momennya sedang apa. 

Para pembelajar fotografi khususnya, harus belajar bercerita juga. Tak cukup hanya pandai dengan teknik memotret. Foto itu harus punya fungsi pencerita, karena dia tidak bisa berbicara sendiri. They said "one picture speaks a million words", tapi tanpa cerita yang disampaikan, sebuah foto hanya berupa gambar bisu saja yang tak berkata apa-apa. 
materinya mantap, pematerinya bernas
Perlu diingat, cerita berbeda dengan deskripsi. Tanpa diceritakan, orang sudah tahu apa-apa saja objek yang ada di dalam foto tersebut. Tapi sebuah cerita membawa kita ke dimensi lain yang visualisasinya diperkuat oleh sebuah foto. Ceritakan tentang konteks foto tersebut, hal-hal yang tidak tertangkap oleh kamera yang nantinya itu akan memperkuat sebuah foto.  

Peran cerita dalam sebuah foto adalah untuk membagikan hal-hal yang menurut si fotografer penting. Tell stories, share values. Transform the way we talk about who we are, what we do, and the unique value we bring to audiences. 

See...foto tidak hanya sekadar foto, kan? 

Kak Windy lalu menceritakan pengalamannya saat di Jambi bertemu dengan Orang Rimba kecil bernama Nande. Jika pada saat itu ia membawa kamera besar untuk memotret kehidupan Orang Rimba, maka kemungkinan besar ia akan ditolak dan mereka kabur sembunyi dari kak Windy. Tapi pendekatan yang dilakukan kak Windy adalah dengan membiarkan orang-orang Rimba bermain dengan hape Oppo Reno yang saat itu ia bawa. Dengan mode kamera depan, anak-anak Rimba itu tertarik ketika melihat wajah mereka ada di layar kamera. Mereka tertawa-tawa sambil mengetuk-ngetuk hape dan gembira saat diperlihatkan hasil foto mereka yang natural itu. Dua pulau terlampaui oleh kak Windy : dapat foto mereka plus membuat mereka lebih mudah didekati dengan tangan terbuka. 

Dalam situasi yang sama, ketika kita sedang pedekate dengan etnis atau golongan yang perlu perlakuan tertentu, kita nggak bisa langsung main jeprat jepret saja meskipun untuk kepentingan pemberitaan. Ada sisi humanis yang harus disentuh demi mendapatkan kepercayaan mereka. Jangan berhenti pada bagaimana caranya ambil foto bagus saja, tetapi fungsikan juga pada kekuatan cerita. Visual yang kuat, bukan foto yang bagus. 

Melanjutkan paparannya, sebuah foto itu berada beyond esthetic visual. Bercerita dalam format apapun, mau foto, video atau lukisan, kita memerlukan konteks. Kontekslah yang membuat sebuah foto menjadi bernilai. Itu kenapa, pemenang fotografi yang mendapat penghargaan, seringkali adalah sebuah foto yang punya nilai sosial, historis, budaya atau kemasyarakatan...karena foto dengan objek tersebut punya konteks yang sangat kuat. 

Lalu,  bagaimana caranya bercerita dan menemukan konteks? 

Memahami dasar-dasar bercerita bisa membuat seorang fotografer bekerja dengan lebih terstruktur dan terkendali. Dia jadi tahu harus mengambil alur foto yang seperti apa, tahu siapa tokoh yang signifikan dalam konteks untuk diambil gambarnya, paham dengan latar belakang yang harus ada dalam foto, dll. Asah skill menulis yang dipindahkan menjadi berupa gambar. Hal ini berguna agar kita lebih peka dan jeli dalam melihat sesuatu dan terpancing untuk mencari tahu lebih banyak tentang nilai-nilai dibalik suatu objek foto. 

Nggak perlu susah-susah mencari cerita, karena bahannya selalu ada dalam keseharian. Jika perlu tantangan untuk cerita yang lebih besar, cari dan pelajarilah tekniknya, temukan cerita dibalik sebuah foto, gunakan teknologi untuk meningkatkan skill bercerita. Salah satunya ya dengan memaksimalkan fungsi perangkat gadget kita, belajar multimedia agar kita bisa bercerita pakai media apa saja. 

Bagaimana agar cerita kita kena dengan konteks dan visualnya? 

Ada beberapa elemen kunci untuk bercerita :
1. empati 
Cerita adalah pekerjaan merawat empati. Agar kita bisa menghasilkan cerita yang berdaya, belajar mengolah empati. Tidak semata-mata mengejar foto yang bagus lantas kita mengabaikan nurani dan moralitas. Bagaimana membangun empati antara kita dan objek? interaksi, yes. pedekate.  

2. Shared experience 
Not giving up one another. Emphaty is not symphaty. Fuel of curiousity. Leave us with the feeling. 

3. Struktur 
Membuat cerita mengalir dengan membangun struktur ceritanya terlebih dahulu. Rancang cerita yang terstruktur mulai dari pembuka, perjalanan dan penutup. Buat semuanya berkorelasi antara foto dan narasi cerita namun bukan berupa deskripsi. 

Nah, seperti itu sudah lengkap banget pemaparan dari kak Windy tentang bercerita melalui foto. Tinggal kita yang jeli dan peka menangkap momen dan memahami konteks. Pede ajaahh, kalo gadgetnya oke, feelingnya bagus, hasilnya juga akan mantap. 


Nggak perlu ragu ribet lagi kalo mau eksplor keindahan Indonesia, Oppo Reno 10x Zoom Indonesia - 10x Wonderful Journey dapat memberikan kita kepuasan visual 10x lipat juga!