Masih Nggak Mau Nonton Credit Title ?

2 komentar





Karena minggu-minggu kemarin lagi banyak film bagus dan rada lumayan sering nonton ke bioskop, ada hal menarik yang bikin pengin mikir…kenapa ya, orang cenderung buru-buru meninggalkan bioskop begitu credit title dimulai, seperti dikejar atau mengejar sesuatu gitu. Padahal lampu sudah dinyalakan. Harusnya nggak takut gelap, dong? #eh


Credit (kata benda), secara kamus artinya pengakuan atau pujian dari publik yang diberikan kepada seseorang, atau sebuah pihak atas karya, tindakan atau tanggungjawabnya. Bersinonim dengan kata penghargaan, apresiasi dan ucapan terimakasih.


Dalam dunia sinematografi, credit title artinya sebuah pengakuan atau penghargaan terhadap para kontributor yang terlibat dalam produksi tayangan atau film tersebut. Ada credit yang ditaruh di depan (opening credits), ada juga di belakang (closing credits). Soal begini ini bukan perkara gampang, lho. Karena butuh ilmu yang mumpuni membuat opening film yang menarik sehingga mendukung suasana dan menaikkan mood penonton untuk nonton lebih lanjut. Film horor pasti tambah serem dong kalau dibuka dengan visual dan suara yang menegangkan, begitu juga film animasi, nggak mungkin openingnya sepi. Kalau openingnya saja nggak oke, kadang kita sudah underestimate duluan, kan? Yaaah, awalnya aja begini..gimana filmnya nih. Oke, itu mungkin saya aja.

Tertarik untuk tahu lebih lanjut soal credit title ini?
istilah yang dipakai untuk ini adalah title sequence, bisa lanjut ke laman Art of the Title.


Balik lagi ke closing title yang sering ditinggalkan penonton, dulunya yang tampil di akhir biasanya cuman kata THE END saja, dan lebih banyak menampilkan title di bagian depan. Sekarang, kebanyakan di depan cuman menampilkan main cast atau bahkan judulnya saja, kemudian masuk ke cerita, baru di belakangnya berentet title yang panjang.


Usut punya usut, teman-teman yang saya tanya kenapa buru-buru keluar dari bioskop, biasanya punya alasan sendiri, yang paling banyak adalah PENGEN PIPIS! Ini entah karena AC bioskop yang terlalu dingin atau kebanyakan minum manis-manis selama film berlangsung.


Alasan lain yang kedua adalah males uyel-uyelan sama penonton lain pas keluar. Iya sih, memang lumayan padat itu pas keluar. Tapi ini sebetulnya bisa diantisipasi dengan duduk dulu sebentar sambil nonton credit title, dijamin nggak akan senggol-senggolan deh.    


Ketiga, ini mungkin semacam prinsip. Cuman pengin nonton filmnya aja, dengan begitu tujuan nonton sudah tercapai. They’ve seen what they want to. Nggak perlu nonton opening-endingnya.


Terakhir ada berbagai macam alasan seperti ada agenda lain selepas nonton, sudah ditunggu anak di rumah, atau kuatir disapu mas-mas cleaning service. Intinya, merasa nggak ada urgensinya kenapa harus nunggu credit title sampai selesai.


Yang sering terjadi pada saya adalah, saya suka latah. Liat orang-orang pada berdiri tersugesti jadi ikutan berdiri, apalagi kalau posisinya di dekat aisle, berasa diburu-buru orang di sebelah yang mau keluar. Padahal aslinya masih pengin stay, meresapi cerita film dan tokoh-tokohnya yang baru saja lewat. Sembari penyesuaian mata dulu lah, habis 2.5 jam fokus masa langsung berdiri.


Tapi kadang dibelain juga untuk duduk dulu sebentar, biasanya kalau nggak tahu siapa yang main, saya akan menunggu sampai closingnya muncul, berikut ber-oh-oh ria, ooo yang tadi mainin ini tuh si ini. Nama kru film lain sih saya nggak hafal, tapi kalau suka sama soundtracknya saya bakal niat nyari tau music directornya siapa, berikut judul lagunya apa. Favorit saya sejauh ini masih tetap Hans Zimmer.  


Pernah baca nggak, betapa singkatnya waktu bagi cleaning service untuk membersihkan sisa-sisa makanan di setiap jam penayangan usai? Sebenernya nggak apa-apa kok kalau kita cuman duduk 10 menit aja nungguin credits, kan dia masih bisa bersih-bersih di bagian yang lain sementara kita tetap duduk di tempat. Kayanya sih nggak bakal diusir security juga, kok.


Kalau pecinta Marvel pasti udah hafal dong ya, suka ada additional scene sehabis credits. Nah, dicoba deh, yuk, duduk dulu barang 3-5 menit aja, sekadar menghargai para seniman yang terlibat dalam pembuatan film yang kita tonton. Nama mereka mungkin nggak setenar aktor dan sutradaranya, tapi  kerjanya sama kerasnya. Nggak keliatan? Sama, tapi nggak apa-apa, dengerin musik/soundnya aja sampai selesai.

2 komentar

  1. aiiih, ini saya banget. kalau habis nonton, ga langsung turun. Selain karna ga suka ndesel-ndesel diantara kerumunan orang, saya suka nunggu adegan-adegan yang salah plus kepo siapa nama para pemainnya. Walau ga semua film menampilkan ini siih. hehehe. Dan biasanya, suka diiringi lagu yang menjadi daya tarik saat credit title muncul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, kaya film DKI jaman dulu (duh, angkatan berapa saya :D) suka ada adegan salah yang lucu-lucu di belakang film. Naah, padahal bisa aja browsing ya, tapi tetap judul lagu itu dinanti. Makasih udah mampir, Mbak :)

      Hapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^