[Review Buku] Jejak Rasa Nusantara, Menyelami Sejarah Kuliner Indonesia dari Masa ke Masa

Kalau makanan bisa bicara, mungkin kita bakal shock mendengar betapa jauhnya perjalanan mereka sebelum sampai ke piring kita. Untungnya, Fadly Rahman sudah jadi juru bicaranya lewat buku ini.

Apa yang terbayang dari “kuliner Indonesia”, pikiran kita sering langsung melayang ke rendang, sate, soto, atau nasi goreng. Tapi sebetulnya, seberapa dalam kita memahami sejarah di balik hidangan-hidangan itu? Apa benar semua makanan yang kita anggap “asli Indonesia” itu memang benar-benar orisinal dari sini? Atau ada kisah panjang yang tersembunyi di balik setiap bumbu, teknik memasak, dan kebiasaan makan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab oleh buku ini. Dianggap sebagai salah satu karya paling penting dalam literatur sejarah kuliner Indonesia, buku ini bukan sekadar membahas makanan, tetapi membongkar bagaimana identitas kita sebagai bangsa ikut dibentuk lewat dapur. Boleh percaya atau tidak, membaca buku ini rasanya seperti traveling melintasi zaman lewat lorong waktu.

Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia karya Fadly Rahman
PenerbitPT Gramedia Pustaka Utama 
Tahun terbit: November 2016 menurut Bukukita 
ISBN: 978-602-03-3521-6 
Jumlah halaman: 428 halaman 

Siapa Itu Fadly Rahman?

Sebelum membahas bukunya, kita perlu kenalan dulu dengan orang di balik riset serius ini. Iya, saya bilang riset serius karena Fadly yang ini bukan sembarang Fadly.

Fadly Rahman adalah sejarawan kuliner Indonesia (food historian), sekaligus dosen di Departemen Sejarah Universitas Padjadjaran (UNPAD). Bidang keahliannya memang unik, ia meneliti makanan, bukan dalam konteks resep atau teknik memasak, tetapi lewat kacamata sejarah, budaya, politik, hingga relasi global.

Jejak Rasa Nusantara sebenarnya lahir dari tesis S-2 Fadly di Universitas Gadjah Mada sebelum dikembangkan menjadi buku yang jauh lebih lengkap. Hasilnya? Sebuah karya tebal yang bukan cuma informatif, tetapi juga membuka mata bahwa semua makanan yang masuk mulut kita ini punya memori panjang, bahkan lebih panjang dari timeline gosip artis yang bisa berjilid-jilid. 

Siapa saja yang berperan dalam pengembangan kuliner Indonesia dari masa ke masa? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut dengan menyajikan berbagai fakta baru dan menarik yang sarat referensi sejarah sejak masa kuno hingga modern.

Outline: Makanan sebagai Sejarah

Fadly memetakan perkembangan kuliner Indonesia dari era kuno, masa kerajaan Nusantara, masa kolonial Hindia Belanda, hingga pertengahan abad ke-20. Metodenya serius, ia memakai prasasti kuno, naskah Jawa, arsip kolonial, hingga buku masak Belanda yang beredar di Hindia. 

Nggak usah heran yaa, karena beginilah akademisi bercerita. Tapi tenang aja, meski dilandasi riset akademis, cara penyampaian buku ini tetap mengalir seperti cerita. 

1. Makanan di Masa Kuno, Dari Prasasti ke Dapur

Buku ini membuka perjalanan dengan menelusuri catatan-catatan tua tentang bahan makanan dan persiapan hidangan di masa kerajaan Hindu-Buddha. Dari sini terlihat bahwa bumbu rempah, teknik pengawetan, dan gaya penyajian sudah berkembang jauh sebelum bangsa Eropa datang.

Yang menarik, makanan saat itu bukan cuma urusan kenyang, tapi simbol status dan ritual. Ada makanan khusus untuk upacara, makanan kerajaan, dan makanan rakyat, dan masing-masing punya cerita.

2. Jejak Pengaruh Asing, Pertemuan Rasa dari Empat Penjuru

Lembar-lembar di awal memang terasa sedikit ngantuk bacanya karena full teks. Tapi makin ke dalam makin menarik karena Fadly menunjukkan bahwa masakan Nusantara sebenarnya adalah hasil kawin-mawin dari berbagai budaya. 

Misalnya India (membawa rempah dan teknik masak berbumbu pekat), Tiongkok (memperkenalkan mi, kecap, bakso, tahu, hingga teknik tumis), Arab dan Persia (membawa penggunaan kapulaga, cengkih, serta budaya hidangan manis), dan Eropa (mengenalkan teknologi pengolahan, roti, bahan-bahan baru, hingga metode pencatatan resep).

Ada hubungan antara rendang khas Minang dengan pengaruh teknik pengawetan daging ala kuliner Portugis pada abad ke-17; dan cikal bakal kuliner Indonesia sudah tercitrakan dalam Kokki Bitja, buku masak terawal yang terbit di Hindia Belanda pada 1857, atau seabad lebih sebelum buku masak nasional pertama proyek Presiden Soekarno, Mustika Rasa, terbit tahun 1967. 

Buku ini akan menyadarkan pembaca betapa kekayaan sejarah, budaya, dan citarasa kuliner Indonesia perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas bangsa.

Jadi kalau selama ini kita bangga menganggap bahwa semua masakan Nusantara itu 'kemurnian lokal', yah… ternyata sejarah bilang lain. Tapiii, justru di situlah letak keindahannya. Identitas kuliner Indonesia adalah hasil dialog panjang antara budaya lokal dan global. Jadi nggak perlulah sibuk berdebat tentang keontetikan sebuah karya kuliner, nyatanya nothing new under the sun. 

3. Hidangan di Masa Kolonial: Dari Dapur Nyai sampai Menu Tuan Besar

Di masa kolonial, percampuran budaya makin intens. Ada banyak cerita tentang bagaimana perempuan pribumi yang bekerja di dapur kolonial menghasilkan kreasi-kreasi hybrid, makanan Eropa yang dimasak dengan lidah Nusantara, lengkap dengan rempah lokal. Dari sinilah lahir banyak kue-kue londo yang sebetulnya lebih ng-indonesia daripada tentara KNIL.

Fadly juga menelusuri terbitnya buku masak klasik seperti Kokki Bitja (1857) hingga Mustika Rasa, buku masak nasional pertama legendaris yang disusun oleh Departemen Pertanian pada 1967. Ini bukan sekadar arsip resep, tetapi upaya membangun identitas kuliner Indonesia pascakemerdekaan.

4. Modernisasi dan Perubahan Selera

Bagian terakhir buku ini membahas bagaimana gaya makan masyarakat berubah seiring masuknya modernitas semisal hadirnya teknologi dapur, industrialisasi bahan makanan, hingga propaganda pola makan era Orde Baru (yang sempat mendorong konsumsi makanan pokok non-beras). 

Fadly dengan halus menunjukkan bahwa selera itu tidak pernah tetap, ia selalu dipengaruhi perubahan zaman, ekonomi, dan bahkan politik. Fleksibilitas selera mengikuti dinamika manusia dan lingkungannya.

Kenapa Buku Ini Penting?


Buku ini penting karena mengajak kita berhenti melihat makanan hanya sebagai rasa. Ia adalah arsip budaya, bukti sejarah, jejak interaksi global, bahkan simbol kekuasaan.

Setelah membaca buku ini, kita mungkin akan makan rendang dengan sedikit lebih khidmat. Atau memandang sepotong kue lapis beras dengan rasa penasaran baru. Karena ternyata, ada cerita ratusan tahun yang meresap dalam makanan-makanan itu. 

Karena rasa penasaran inilah membaca buku 428 halaman terasa jadi begitu menyenangkan. Nggak kerasa tahu-tahu sudah di tengah, tidak lupa oohh-ooh nya, makin yakin kalau pengetahuan itu begitu luas dan selama ini hanya secuil aja yang saya ketahui.

Kelebihan Buku 

Dari sudut pandang pembaca umum, kelebihan buku ini cukup menonjol, selesai membacanya bikin kenyang ilmu dan meneguk rasa bahagia. 

  • Risetnya sangat kaya, isinya tidak sekadar opini tapi juga dilengkapi riset, bukti sejarah, jejak informasi, dan referensi-referensi lain yang tidak pernah terpikirkan. 

  • Bahasanya tetap enak dibaca, meski topiknya akademik. Nggak kok, nggak berat dan njelimet. Cenderung mudah dipahami orang awam yang tidak kuliner-friendly sekali pun. 

  • Banyak insight baru yang sering tidak kita temukan di buku sejarah biasa. Jarang banget, kan, buku sejarah yang membahas makanan? 

  • Cocok untuk food enthusiast, sejarawan, blogger kuliner, hingga ibu-ibu yang suka nge-bake tapi juga suka sejarah (kombinasi ini nyata ada, kok).

Kekurangan Buku

Kalau berharap buku ini dipenuhi foto-foto estetik makanan dengan food styling yang menarik, hmm...sayangnya nggak bisa termanjakan sepenuhnya sih. Ini juga yang menjadi kegelisahan saya saat awal-awal baca. Saya kerap membolak-balik lembarannya hanya memastikan abis ini ada fotonya kan. Nanti ada bab yang banyak fotonya kan.  

But, in the end ini bukan buku menu, juga bukan buku resep. Lebih tepat disebut Buku Berat Bergizi sih. Tapi yaaa, inilah yang membedakan buku ini dengan yang lain, fokus pada konten cerita, bukan estetika. 

Tenang aja tapi sih, konten banyak teks tidak selalu membosankan, seperti misalnya para food blogger menulis artikel kulinernya. Tetap pada enak dibaca kok. 

Buku 'Enak' yang Wajib Dicicipi

Jejak Rasa Nusantara adalah bacaan wajib untuk siapa saja yang ingin mengenal Indonesia lewat jalur yang paling universal dan friendly, yaitu makanan. Fadly Rahman mengajak kita melihat dapur sebagai ruang sejarah, bukan hanya tempat menumis bawang. 

Dari sanalah kita belajar bahwa Indonesia dibangun oleh pertemuan rasa, sebagaimana manusia hari ini dibentuk oleh tempaan pengalaman yang berlapis-lapis. Habis baca pasti nggak lagi memandang makanan hanya pemuas lapar, nggak makan tinggal  makan. Hopefully, bikin tiap sesi makan lebih mindful. 

Kalau suka kuliner, suka sejarah, atau suka dua-duanya, buku ini akan terasa seperti santapan lengkap yang gurih, kaya, menyentuh memori. Lembar demi lembarnya bikin ingin mengunyah lebih banyak pengetahuan di dalamnya.

Saya masih utang baca seru karya Fadly lainnya yang berjudul Rijstaffel dan Rasa Tanah Air, semoga ada waktu dan kesempatan untuk  namatin buku-buku itu dan tulis reviewnya lagi di sini. Ditunggu ya. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url