[Review Film] Thomas and Friends : Journey Beyond Sodor

Tidak ada komentar

Judul Film : Thomas and Friends : the Journey Beyond Sodor
Durasi : 73 menit
Produksi : Jam Filled Entertainment
Sutradara : David Stoten




“Think positively, Lexi! Ask yourself what can you do!"

"You mean, anything?"

"Uh, no, we can't do anything."

"But we can try!”
―Thomas, Lexi, Theo and Merlin

Thomas and Friends : the Journey Beyond Sodor ini baru tayang di Indonesia mulai tanggal 26 Januari, di jaringan bioskop CGV, Cinemaxx dan Flixx. Sebetulnya release date nya sudah dari Agustus 2017 lalu di luar negeri, lumayan lama juga ya kalau Januari baru masuk ke sini, dengan jam dan lokasi tayang yang terbatas pula. 

Film ini masih merupakan annual movie dari seri Thomas and Friends, yang terakhir adalah The Great Race tahun 2016, dan akan dilanjutkan dengan Big World! Big Adventure pada musim gugur 2018 mendatang (ya mungkin nyampe Indonesianya tahun depan lagi).

Ceritanya diawali oleh kecelakaan yang menimpa Henry, kereta yang seharusnya membawa gerobak berisik menuju Bridlington melewati Daratan Utama. Selama Henry berada di bengkel Victor untuk diperbaiki, Pak Pengawas Gendut akhirnya menunjuk James untuk menggantikan Henry membawa gerobak berisik ke Daratan Utama. 

James, kereta yang penuh percaya diri mengganggap dirinya paling penting dan disukai banyak orang, sering mengejek Thomas tentang tugas hariannya membawa kambing, susu dan hasil pertanian. Menurut James, pekerjaan itu sangat remeh dan tidak penting. 

Bukan Thomas the Cheeky One namanya kalau tidak punya akal untuk memenangkan persaingannya dengan James. Ia bangun lebih pagi untuk mengambil alih tugas James menarik  gerobak berisik ke Bridlington. 

Meskipun Thomas sangat menikmati perjalanannya menuju Bridlington, sayangnya Thomas bukanlah kereta yang terbiasa melewati Daratan Utama sehingga dia tersesat. Terlebih lagi para gerobak berisik tak henti-hentinya meledek dan mempermainkan kebimbangan Thomas dalam mencari jalan ke Bridlington.     

Dalam pengembaraannya itu, Thomas mengalami berbagai permasalahan seperti jalan yang dihadang oleh Beresford, crane geser besar yang kesepian. Sementara hari semakin gelap, ia pun kehabisan bahan bakar dan tidak bisa melaju sama sekali. Beruntung, ia bertemu Merlin, Lexi dan Theo, sekelompok kereta eksperimental yang merasa dirinya useless dan tidak punya pekerjaan yang penting.  

Pada perjalanan berikutnya, Thomas mengira ia sudah sampai di Bridlington namun ternyata  ia bertemu Hurricane dan Frankie yang menjebaknya untuk melakukan pekerjaan berat di pabrik baja (yang nantinya jadi plot twist di akhir cerita). 

Awalnya Thomas merasa ia sedang melakukan pekerjaan penting, tapi lama-lama dia merindukan tempatnya di Sodor, terlebih lagi Pak Pengawas Gendut dan kereta lain di Sodor juga mulai mempertanyakan keberadaannya. 

Dari sini, Thomas belajar menyelesaikan masalah-masalah dalam petualangannya dan berusaha tidak memperuncing lagi persaingannya dengan James. 

Meskipun udah ratusan kali nonton Thomas and Friends (baik movie, serial pendek, ataupun unboxing toys) di Youtube, kehadiran filmnya di bioskop tetap disambut dengan gembira oleh anak-anak saya. Apalagi ini kali pertama film Thomas and Friends yang saya tahu tayang di bioskop Indonesia. 

Thomas and Friends selalu hadir dengan pesan khas yang positif; optimisme, persahabatan dan keberanian. Seperti biasa, film ini semi musikal, ada 6 soundtrack baru yang dinyanyikan sepanjang film. Lagu pamungkas, "The Most Important thing is Being Friends" dinyanyikan oleh seluruh karakter pada akhir film. Anak-anak udah ngarep banget ada Thomas’ Anthem yang mereka kenal kaya biasanya itu. Tapi nggak ada :)

Ada beberapa karakter baru juga yang dikenalkan seperti Beresford, Lexi, Theo, Merlin, dan dua kereta diesel, Hurricane dan Frankie. Setelah saya baca sana sini, menarik mengetahui fakta bahwa produsen film ini menambahkan lebih banyak karakter menyesuaikan dengan keberagaman audiens nya. Contohnya Theo, sebuah kereta mekanik yang lebih suka bergelut dengan pekerjaannya, cenderung sedikit tidak nyaman bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain, maka Theo mewakili anak-anak pecinta Thomas yang mengalami spektrum autistik dalam memahami perasaannya.    

Kualitas gambar dan suara sangat baik, animasinya mulus banget. Dengan durasi hanya 73 menit menurut saya cukup bagi anak-anak yang rentang konsentrasinya tidak panjang. Mudah-mudahan film selanjutnya nggak begitu lama baru masuk Indonesia. 

Also read my rewrite review on The Urban Mama .

Tidak ada komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^