Movie Review : Peter Rabbit (2018)

Tidak ada komentar

Judul : Peter Rabbit 
Durasi : 94 menit 
Produksi : Columbia Picture
Cast/voice : James Corden, Daisy Ridley, Elizabeth Debicki, Margot Robbie, Rose Byrne, Domhnall Gleeson, dan Sam Neill.
Sutradara : Will Gluck 
Tanggal rilis : 23 Februari 2018 
Rating : SU

Siapa yang suka baca kisah si kelinci jahil nan lincah, Peter Rabbit? Yep, serial karangan Beatrix Potter yang terbit pada tahun 1902 ini sukses merebut hati anak-anak di seluruh dunia karena ceritanya yang hangat dan begitu hidup. Buku ini juga telah diterjemahkan dalam 35 bahasa di seluruh dunia, dan jadi salah satu rekomendasi living books bagi pendidikan karakter anak-anak.

Lalu bagaimana ketika sebuah cerita klasik diadaptasikan pada sebuah film? Pada film Peter Rabbit ini, adaptasi yang dilakukan oleh sutradara Will Gluck hanya mengambil penokohan keluarga kelinci lalu kemudian diterjemahkan secara bebas pada ceritanya. Alih-alih melihat cerita yang penuh nilai kehidupan dan pesan positif, film ini menyajikan petualangan seru dan penuh aksi dari seorang kelinci berjaket biru. 

Inti cerita film ini masih tentang usaha Peter Rabbit dan ketiga saudaranya (Flopsy, Mopsy, dan Cotton Tail) yang suka mencuri sayuran dari kebun Mr. McGregor. Ketika Thomas McGregor, keponakan Mr.McGregor tua pindah ke rumah tersebut, ia menemukan keluarga kelinci di rumahnya dan berniat menyingkirkan mereka.  


Adegan kejar-kejaran antara McGregor muda dan keluarga kelinci pun mewarnai sepanjang film ini, rada mirip Tom and Jerry sebetulnya, hide and seek yang tiada habisnya. Ketegangan dimulai ketika Benjamin, sahabat Peter yang bertubuh besar tertangkap oleh McGregor lalu hampir diceburkan ke sungai. Para kelinci mengikuti McGregor sampai ke kota, di mana ia membeli bahan-bahan peledak untuk membasmi kelinci di kebun.

Namun sehabis kejadian itu, Bea, tetangga cantik yang menyayangi para kelinci, menjadi semakin akrab dan sering menghabiskan waktu bersama McGregor. Para kelinci tidak menyukai itu, mereka berusaha menyingkirkan McGregor dari sisi Bea. Hingga terjadi sebuah insiden pada salah satu lukisan Bea yang menyebabkan Peter diusir dari rumah Bea. Pertempuran semakin sengit antara geng kelinci dengan Thomas McGregor. 


Dalam beberapa adegan di mana pasukan kelici dan McGregor seorang diri saling berkejaran dan melempar, tampilannya seperti pertarungan biasa saja pakai peluru tomat dan sayuran, tapi ternyata ada hal yang mengundang kontroversi saat McGregor dilempari blackberry oleh para kelinci. McGregor diceritakan punya alergi blackberry, dan adegan ini dikhawatirkan memberi dampak bagi penonton menyepelekan suatu alergi.


Situasi bertambah parah ketika Peter secara tidak sengaja meledakkan lubang kelinci dan menghancurkan rumah Bea. Durasi 30 menit terakhir diisi oleh upaya Peter menebus kesalahannya baik pada Bea maupun pada McGregor. 



Peter Rabbit (Sony Picture Entertainment)
Secara cerita, tidak ada yang istimewa dalam film ini. Seperti juga dituturkan oleh narator saat Peter merasa bersalah memandang lukisan orangtuanya, tidak ada pesan atau nasihat yang ingin disampaikan oleh orangtua Peter seperti halnya cerita di buku. Sayang banget, padahal film Paddington bisa diterjemahkan dengan baik dan disukai anak-anak. 

Unsur modernitas yang dimasukkan semacam terlalu berlebihan dalam film ini, sudah lah pakaian Peter seperti manusia, kelakuannya pun dibuat ngehip. Musik pop, musik rap, pesta pora saat McGregor tua wafat kena serangan jantung, dan humor-humor slapstick cenderung bullying, Hollywod banget! 


Buat orangtua yang mau ngajak anaknya nonton, silakan aja, tetap bisa menikmati keseruannya kok. Pemain dan pengisi suaranya juga bertabur bintang. Hanya saja kalau saya, yang sudah kadung membacakan cerita Potter sebagaimana aslinya pada anak-anak, biarlah image Peter Rabbit yang melekat adalah yang diceritakan dalam buku, dengan segala kejahilan dan pesan positifnya. 


Tidak ada komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^