Perimenopause, Sesuatu Deh...

by - Maret 10, 2018

Suatu sore pas lagi browsing soal treatment untuk PMS, saya berhenti pada satu gambar teks tentang “perimenopause”. Wah, apa lagi nih…beda dengan menopause, kah?


Perimenopause,   disebut juga transisi menopause, yaitu masa yang dialami oleh perempuan sebelum masa menopause yang sebenarnya tiba. Hal ini bisa dialami perempuan pada usia yang berbeda-beda, umumnya terjadi pada usia 40 tahun, tapi dapat juga terjadi mulai pertengahan usia 30an.  

Lalu apa saja gejalanya ?

  • Siklus menstruasi yang tidak teratur. Jadwal yang berubah-ubah, durasi menstruasi juga tidak menentu, dimana aliran darah menstuasi terkadang sedikit, atau bisa juga banyak. Gangguan tidur dan hot flash. Biasanya terasa lebih gerah pada malam hari, susah tidur dan terasa panas di beberapa bagian tubuh
  • Perubahan mood. Emosi yang naik turun, mudah tersinggung, mudah lelah dan gampang stres juga jadi gejala psikis yang mengawali perimenopause. Hal ini bisa jadi karena kurang tidur dan sakit badan tadi, tapi juga bisa karena hal psikologis yang lain.
  • Pendarahan vaginal dan masalah pencernaan. Ketika kadar estrogen menurun, daerah kewanitaan mungkin mengalami kekeringan dan berkurangnya elastisitas otot kewanitaan. Estrogen rendah juga mengakibatkan rawan infeksi kandung kemih atau kelamin. 
  • Fertilitas menurun. Rasanya ini berbanding lurus dengan kadar estrogen yang berkurang ya.
Gejala-gejala lain seperti osteoporosis, peningkatan kolesterol juga bisa jadi pertanda dimulainya perimenopause. 

Ah! Sekarang saya ingat, pernah jadi saksi perimenopause mama di usia pertengahan 40an, dan itu nggak selesai dalam waktu sebulan dua bulan, tapi hampir dua tahunan. Sejujurnya saya seperti menyaksikan seorang perempuan strong yang pada akhirnya dibuat galau oleh si meno ini….mama jadi lebih sering uring-uringan, sering tertidur karena capek, sakit badan, puasa dan sholat yang belang-betong akibat siklus menstruasi yang gak jelas. Tentulah, selain masalah fisik seperti ini, persoalan psikis juga menambah beban di kepala. Semacam, ada sebagian kepercayaan dirinya sebagai perempuan yang sedikit luntur karena perubahan fisik dan hormonal, dan juga kekhawatiran lainnya.

Baru tau sekarang kalau itu namanya perimenopause. Dan ini normal saja, siklus biologis yang dialami semua perempuan.   

Tapi, namanya juga pre alias sebelum, seseorang yang mengalami masa perimenopause bukan berarti sudah tidak subur. Dia tetap bisa hamil, meskipun kesuburannya sudah berkurang. Jika memang tidak ingin hamil lagi, maka alat kontrasepsi masih diperlukan sampai benar-benar menopause. 

Apa ada treatment khusus buat perimenopause ini, mengingat PMS aja udah berat, apalagi menghadapi masa menopause seperti ini. Dilan pasti gak akan kuat, karena dia gak pernah PMS. Ternyata, karena hal ini juga merupakan masalah medis, ada beberapa obat yang bisa mengatasi gejala-gejala perimenopause (tapi bukan buat menghentikan prosesnya terus berlangsung yak, plis deh...buibu jangan ngarep)

Pengobatannya antara lain : 

Hormonal
Pada beberapa penelitian, pemberian terapi hormon bermanfaat untuk mengurangi gangguan dan gejala tertentu seperti osteoporosis atau patah tulang saat perempuan memasuki masa menopausenya. 

a. Terapi hormon, melalui pil KB atau KB suntik. Dengan terapi ini rata-rata bisa mengantisipasi keluhan hot flash dan berkeringat di waktu malam.

b. Vaginal estrogen, yang dapat mengatasi kekeringan pada vagina yang menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan atau sakit pada kandung kemih. Bisa didapat dari krim, cincin vagina atau tablet. 

Non-hormonal
Bagi yang tidak bisa menerima atau punya risiko dengan obat hormonal, juga bisa mengambil obat anti depresan atau gabapentin, untuk mengurangi nyeri sendi dan rasa panas pada tubuh. 

Ah, perempuan….kompleks sekali ya dari atas sampai bawah. Pantaslah dari lahir sampai ajalnya, ia selalu dimuliakan. Dari peran sebagai individu, istri dan ibu, pintu surga selalu melekat kepadanya. 

Jadi ingat sama diri sendiri yang belum ngalamin lagi menstruasi secara normal sejak melahirkan anak terakhir tiga tahun lalu. Iya sih, bisa saja efek pil KB satu hormon yang digunakan, tapi efek ini tidak permanen pada setiap orang. Ada saja yang tetap menstruasi meskipun berKB. PMS nya sih kadang muncul macam kram perut, sakit punggung meskipun nggak seberat waktu masih gadis. 

Baca-baca tentang ginian itu asyik ya, se-excited waktu remaja yang bingung menstruasi pertama. Jadi lebih kenal lagi dengan tubuh sendiri, dan siklus yang akan dihadapi. Mudah-mudahan semuanya lancaaarrr. 

You May Also Like

0 komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^

Baca Juga

7 Essentials Korean Kitchen