Terlambat Imunisasi? Lengkapi dengan Imunisasi Kejar


imunisasi terlambat

Selama dua tahun terakhir bertugas sebagai petugas dasawisma desa, saya secara rutin mendata perihal kependudukan, kesehatan, dan imunisasi setiap keluarga dalam lingkup area kerja.

Belakangan, salah satu tugas dari Kecamatan yang secara intens dilakukan adalah penyampaian informasi jadwal vaksinasi Covid-19 pada warga. Mulai dari lokasi, jenis vaksin sampai persyaratannya kami harus tahu betul, karena warga pasti mengandalkan pihak terdekat untuk informasi.

Karena fokus pada percepatan vaksinasi Covid-19 untuk dewasa, saya baru menyadari sesuatu bahwa sejak Posyandu tidak dilaksanakan selama pandemi, anak-anak jadi kurang dipantau status imunisasinya.

Padahal, angka kelahiran bayi saat pandemi justru meningkat. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, angka kelahiran di Indonesia naik sebesar 10 persen pada tahun 2020 atau tambahan 400-500 ribu per tahun, dari angka sebelumnya 4-5 juta kelahiran per tahun.

Di kalangan dasawisma saya, ada dua kelahiran bayi dan 8 balita yang statusnya penerima imunisasi dasar. Setelah ditelusuri pada orang tuanya, bayi-bayi hanya mendapat imunisasi saat lahir, dan sebagian lagi belum lanjut imunisasi karena PSBB, atau takut pergi ke fasilitas kesehatan membawa anak kecil.

Imunisasi Tertunda pada Bayi dan Balita

Berhentinya kegiatan Posyandu di masyarakat, kurang lebih jadinya berdampak pada tertundanya jadwal imunisasi yang harusnya didapat bayi dan balita. Saya sedih menghadapi fakta ini, terlebih saya dahulu sangat disiplin dengan jadwal imunisasi anak-anak saya. 

imunisasi rutin lengkap
jadwal imunisasi rutin lengkap anak 0-24 bulan

Ibu A, tetangga dua rumah di samping kiri saya yang memiliki anak usia 2 dan 5 tahun, menyatakan bahwa kedua anaknya belum mendapatkan imunisasi MR karena takut ke rumah sakit.

Padahal, vaksinasi Measles dan Rubella penting untuk kedua anak perempuannya, tetapi karena kondisi, Ibu A tidak mau ambil risiko membawa anak-anaknya ke fasilitas kesehatan terlebih dirinya sedang hamil muda.

Sementara Ibu B yang memiliki bayi usia 9 bulan, terpaksa harus menunda jadwal imunisasi DPT ketiga karena sempat terinfeksi Covid-19 dan harus isolasi selama dua minggu.

Kasus Ibu A dan B ini tentu tidak hanya terjadi di daerah saya saja, melainkan seluruh Indonesia, bahkan dunia. Menurut data WHO dan UNICEF pada bulan Juli 2021, ada 23 juta anak-anak di seluruh dunia yang imunisasi dasarnya tertunda selama tahun 2020, atau 3.7 juta lebih banyak dibandingkan tahun 2019.

Anak-anak yang merupakan kelompok rentan, posisinya semakin terpojok karena tertundanya beberapa imunisasi dasar di usianya. Di luar adanya wabah Covid-19, infeksi lain yang sama berbahayanya mengintai diam-diam terutama pada kelompok rentan.

Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen WHO mengatakan, “Dengan meningkatnya angka imunisasi yang tertunda pada kalangan anak-anak, makin membuka potensi adanya multiple outbreak selain Covid-19.”

Senada dengan hal tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mengkhawatirkan adanya wabah ganda yang disebabkan tertundanya imunisasi dasar pada anak. Contohnya adalah penyakit campak yang daya tularnya lebih cepat daripada Covid-19, di mana satu orang yang sakit campak bisa menularkan kepada 18 orang. Selain itu, daya jangkau percikan droplet dari penderita campak juga bisa mencapai 6 meter, damage-nya lebih masif daripada Covid-19.

Sukseskan Imunisasi Kejar untuk Negeri yang Sehat


imunisasi kejar

Terlambat imunisasi lebih baik daripada tidak sama sekali.

WHO, UNICEF, IDI, maupun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai pihak-pihak yang berwenang memberikan rekomendasi kesehatan, semuanya sepakat bahwa imunisasi pada anak-anak adalah hal yang mendesak dilakukan.

Imunisasi Kejar (catch up immunization) adalah solusi atas permasalahan yang sedang atau bisa terjadi akibat tertundanya imunisasi pada anak-anak.

Imunisasi sungguh tidak bisa dianggap sepele karena ini adalah bentuk upaya kemanusiaan yang bertujuan mengurangi penderitaan manusia. Baik penderitaan karena penyakit itu sendiri, penderitaan sosio-ekonomi yang bisa ditimbulkan akibat penyakit, dan penderitaan lingkungan tempat manusia berada.

Tentu saja imunisasi tepat waktu adalah yang terbaik, tapi jika mengalami penundaan secara darurat seperti yang kita alami saat ini, maka tidak ada alasan bagi orang tua melewatkan hak anak yaitu dengan Imunisasi Kejar.

Imunisasi Kejar memungkinkan seorang anak mendapatkan beberapa imunisasi secara simultan atau sekaligus dalam satu waktu. Misalnya, untuk kasus Ibu B tetangga saya yang anaknya terlewat DPT ketiga, bisa mendapatkan suntik DPT sekaligus campak/MR dalam satu kali kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Keuntungan dari Imunisasi Kejar

  • Mengurangi frekuensi bolak-balik kunjungan ke faskes
  • Mengurangi trauma pada anak yang takut disuntik
  • Anak mendapatkan perlindungan terhadap penyakit
  • Cost-efficiency untuk orang tua, karena hanya membayar satu kali jasa tenaga kesehatan
Maka, saat Pekan Imunisasi Dunia di bulan April ini, mari kita dukung dan sukseskan program Imunisasi Kejar untuk mencapai negeri yang sehat. 

Sebagai orang tua, saya punya bagian untuk memberikan perlindungan terbaik pada anak, sedangkan sebagai warga masyarakat, saya memiliki tugas mengedukasi sesama warga agar kekebalan kelompok dan lingkungan sehat terbentuk. Lalu sebagai manusia, saya berbahagia bisa menunaikan misi kemanusiaan untuk saling melindungi satu sama lain.

Sumber: 
  1. https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/catchup.html
  2. https://www.unicef.org/press-releases/covid-19-pandemic-leads-major-backsliding-childhood-vaccinations-new-who-unicef-data
  3. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220411/5839627/imunisasi-kejar-lengkapi-imunisasi-dasar-anak-yang-tertunda/
  4. https://www.okezone.com/tren/read/2020/09/27/620/2284606/pandemi-covid-19-angka-kelahiran-naik-10-di-indonesia
  5. https://nasional.kompas.com/read/2020/06/08/19411951/imunisasi-tertunda-akibat-pandemi-ini-saran-idai?page=all
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url