Pengalaman Vaksin Covid-19 Dosis Kedua

Saking sibuknya (baca: sibuk rebahan) saya sampai lupa menceritakan kembali pengalaman vaksin Covid-19 kedua. Setelah Juni lalu dapat vaksin Covid-19 dosis pertama, tiga bulan kemudian saya datang lagi ke RS Universitas Brawijaya sesuai jadwal yang tertera pada kartu vaksin.

Vaksinasi Covid-19

Nggak lama dari akhir Juni saya vaksin pertama, bulan Juli adalah puncaknya kelangkaan vaksin seiring dengan menjamurnya giat vaksinasi massal di mana-mana.

Salah satu faktornya adalah pemerintah mewajibkan vaksinasi untuk kepentingan perjalanan, administrasi, dan sejumlah fasum. Otomatis Juli-Agustus orang berbondong-bondong nyari vaksin, terlepas sebenarnya dia mau atau tidak.

Pertengahan Agustus, Pfizer dan Moderna sudah bisa digunakan untuk umum di Indonesia. Ini menjawab keresahan orang-orang yang menunda dengan alasan nunggu vaksin sultan, menunda dengan alasan nggak percaya vaksin made in china, atau menunda dengan alasan entah apa yang ditunggu.

Tapi, haters gonna be hate. Biarin aja.

Praktis, per September 2021, merek vaksin Covid-19 di Indonesia sudah hadir dalam berbagai pilihan, dan masih gratis. Apakah boleh pindah merek vaksin di dosis kedua? Meski ada penelitian yang menunjukkan bisa, tapi di Indonesia hal ini belum diperbolehkan mengingat cakupan vaksinasi secara keseluruhannya aja belum mencapai target.

Efek Samping Vaksinasi Covid-19

Saya datang ke rumah sakit dengan perasaan lebih ringan ketimbang dosis pertama. Tentu alasan yang pertama adalah sudah kenal medan, sudah pernah disuntik, dan sudah ngalamin efek sampingnya.

vaksin Covid-19
antrean vaksin Covid-19 

Waktu dosis pertama, efeknya demam pasca 24 jam suntik dan pegal di bagian lengan atas. Ada yang bilang dosis kedua lebih berat, ada yang dosis keduanya baik-baik aja, ada juga yang tidak mengalami efek samping keduanya.

Apa pun itu, saya merasa lebih siap, dengan membawa perlengkapan yang sama seperti di dosis pertama + termometer (yakali aja memang demamnya lebih cepat datang). Saya juga sudah punya plan, kalau pulangnya baik-baik aja mau mampir beli baju ke offline store-nya House of Shopaholic, nggak jauh dari rumah sakit :D

Vaksinasi Astra Zeneca Dosis Ke-2

Datang ke rumah sakit jam 11 siang melalui prosedur yang hampir sama, ambil form screening dan nomor antrean. Screening yang kedua ini pertanyaannya lebih singkat, tidak ada lagi pertanyaan punya penyakit penyerta atau tidak (karena dianggapnya kalau eligible di dosis 1, ya sudah lolos di dosis 2)

Karena saya kebagian nomor 104, saya melipir duduk mengisi form di kedai boba drink sebelah rumah sakit. Sampai satu gelas boba milk tea habis, saya balik ke rumah sakit dan antrean sudah sampai di nomor 80-an. Cepat juga, per 20 nomor dipanggilnya.

Ukur tekanan darah tetap dilakukan, di mana tumben sekali tensi saya sampai ke 100/80, biasanya ketebak di 90/70. Habis itu menunggu screening yang juga selesai lebih cepat karena hanya ditanya “kemarin ada efek samping atau tidak?”. Saya pun udah nggak punya pertanyaan lagi soal ini.

Kemudian tiba giliran suntik, saya dapat bilik yang sama (dan mungkin nakes yang sama juga) dengan tiga bulan yang lalu. Suntik mah ya begitu aja udah ya, disuntik di tempat yang sama, yang juga masih ada bekasnya.

suntik vaksin
Suntik vaksin Covid-19
Selesai suntik, kembali menuju ruangan observasi selama 15 menit. Lalu dipanggil untuk diberi kartu kelengkapan dan dapat bekal parasetamol 3 butir. Selesaaaiii!!!

Kartu vaksin sudah terisi lengkap sekarang, gaeess .... bahkan sms sertifikat untuk diunduh pun langsung masuk dari sejak masih di rumah sakit.
rumah sakit universitas brawijaya

Alhamdulillah saya sudah vaksin Covid-19 lengkap (begitu pun suami), dan status kami di PeduliLindungi pun hijau yang artinya sudah lebih leluasa untuk mobilitas kemana-mana. Sayangnya gue di sini-sini aja, hahaha.

Karena tadi sudah kenyang boba, saya nggak makan lagi sehabis vaksin. Tapi segera menuju toko baju yang dituju. Setelah lelah mengantre dan disuntik, saatnya self pampering dong, bawa pulang satu kulot, satu rok, dan satu pasmina, bahagiaaa...

Tapi nggak lama dari situ, lengan sudah mulai kerasa pegel. Kaget jugaaa, secepat ini. Sampai gantian tangan yang pegang kantong belanjaan. Malamnya di rumah hanya ngerasa greges aja, tapi nggak sampai demam. Minum parasetamol satu kali kemudian tidur, habis itu normal kembali.

Booster Vaksin Covid-19 Ketiga?

Karena saya hanya rakyat jelata, bukan nakes maupun sultan, Indonesia belum memberikan booster ketiga untuk masyarakat umum. Ya nggak apa-apa sih, nanti kalau cakupan vaksinasi sudah mumpuni dan ada boosternya, bisa dipertimbangkan lagi (mungkin nanti berbayar dan hanya ada di rumah sakit?)

Saya lebih berharap vaksin Covid-19 buat anak di bawah 11 tahun lebih cepat diapprove aja, sih. Semoga juga pelaksanaannya bisa dikordinir sekolah aja, sehingga anak nggak perlu nyari sendiri dan berebutan seperti orang dewasa.

Bagaimanapun juga, pencegahan adalah yang terbaik. Masker dan protokol kesehatan tetap dijalankan. Sehat semua dan segera pulih, ya, Indonesiaku! 
Next Post Previous Post
3 Comments
  • Mei Daema
    Mei Daema 16 November 2021 19.35

    wah saya juga sudah vaksin kedua niy mba, senangnya ya merasa lebih aman setelah vaksin kedua ini. semoga kita semua sehat selalu ya mba

  • Rush
    Rush 17 November 2021 21.27

    Saya merasa lapar yg luar biasa setelah vaksin dosis kedua.. Saya pakai vaksin Sinovac waktu itu

  • Reyne Raea / Rey
    Reyne Raea / Rey 21 November 2021 21.20

    Saya pakai sinovac dong, yang pertama tepar lama, yang kedua teparnya delay.

    Aslinya sih takut disuntik, jadinya heboh pas vaksin pertama 😅

Add Comment
comment url