Wonderful Journey with OPPO Reno 10x Zoom

by - Agustus 01, 2019

Sejujurnya, saya suka mupeng banget dengan foto-foto cakep yang seliweran di Instagram. Tentang keindahan Indonesia, traveling, atau konten-konten kreatif yang disajikan dengan visual yang jernih dan suara yang clear. Di zaman yang serba compact begini, gadget untuk meng-create hal-hal semacam ini tentulah harus menyesuaikan kepraktisan. Semakin tinggi mobilitas, tuntutan kebutuhan gadget praktis yang pocketable pun nggak kalah besar. 

Saat yang handy-handy sedang digandrungi, perangkat hape dengan fungsi maksimal sangat membantu kemudahan dan kelancaran menangkap momen dan mengabadikannya dalam konten yang apik dan bermanfaat. Satu hape untuk fungsi foto, video, suara dan konten. 
2019, Oppo memperkenalkan Oppo Reno 10x Zoom untuk konsumen dengan kebutuhan tinggi terhadap specs yang dapat mengcover pengalaman hebat mereka hanya dengan satu perangkat. Kebayang nggak, 10x zoom itu bisa nangkap objek dalam jarak sekian meter tanpa gambarnya jadi pecah atau blur. Begini contohnya : 
Lihat dong tulisan BCA nya....terbaca dengan jelas terpampang nyata
Keunggulan Oppo Reno 10x Zoom ini ada pada tiga kamera belakang dengan spesifikasi 48MP. F/1.7 + 13MP  F/3.0 (telephoto) + 8MP F/2.2 (wide angle), 10x hybrid zoom, 60x digital zoom, Dual OIS, Artistic Potrait Mode, Ultra Night Mode 2.0, Dazzle Color Mode, 4k Video 60 fps. 

Dilengkapi RAM 8GB dan ROM 256GB yang masih bisa diperbesar lagi hinggal256GB, hape ini mumpuni banget untuk dibawa-bawa keliling Indonesia menelusuri hutan-hutan, pantai dan tempat eksotik lain tanpa dibebani oleh volume barang yang bulky dan kehebohan piranti pelengkap lainnya. 
kamera yang menyembul ke atas itu adalah koentji, dia akan membuka dan menutup sendiri saat dipakai
Saat sesi pengenalan Oppo Reno 10x Zoom Indonesia - Wonderful Journey di Malang hadir juga kak Windy Ariestanty - Content Creator (@windy_ariestanty) yang berbaik hati mau membagi wawasannya dalam workshop "Bercerita Dalam Foto". 

Menurut kak Windy, tidak ada foto yang buruk, yang ada hanya sudut pandang yang berbeda atas sebuah foto. 


Setiap foto punya nilai. Bukan semata-mata soal estetika, teknik ataupun objek foto. Nilai berhubungan dengan momen yang langka, feel yang terasa meski secara komposisi fotonya biasa saja. 

Pada umumnya, orang kalau berbicara tentang foto, yang diomongin adalah persoalan teknisnya saja, jarang ada yang ngomongin fotonya itu sendiri bercerita apa, konteksnya bagaimana, ataupun momennya sedang apa. 

Para pembelajar fotografi khususnya, harus belajar bercerita juga. Tak cukup hanya pandai dengan teknik memotret. Foto itu harus punya fungsi pencerita, karena dia tidak bisa berbicara sendiri. They said "one picture speaks a million words", tapi tanpa cerita yang disampaikan, sebuah foto hanya berupa gambar bisu saja yang tak berkata apa-apa. 
materinya mantap, pematerinya bernas
Perlu diingat, cerita berbeda dengan deskripsi. Tanpa diceritakan, orang sudah tahu apa-apa saja objek yang ada di dalam foto tersebut. Tapi sebuah cerita membawa kita ke dimensi lain yang visualisasinya diperkuat oleh sebuah foto. Ceritakan tentang konteks foto tersebut, hal-hal yang tidak tertangkap oleh kamera yang nantinya itu akan memperkuat sebuah foto.  

Peran cerita dalam sebuah foto adalah untuk membagikan hal-hal yang menurut si fotografer penting. Tell stories, share values. Transform the way we talk about who we are, what we do, and the unique value we bring to audiences. 

See...foto tidak hanya sekadar foto, kan? 

Kak Windy lalu menceritakan pengalamannya saat di Jambi bertemu dengan Orang Rimba kecil bernama Nande. Jika pada saat itu ia membawa kamera besar untuk memotret kehidupan Orang Rimba, maka kemungkinan besar ia akan ditolak dan mereka kabur sembunyi dari kak Windy. Tapi pendekatan yang dilakukan kak Windy adalah dengan membiarkan orang-orang Rimba bermain dengan hape Oppo Reno yang saat itu ia bawa. Dengan mode kamera depan, anak-anak Rimba itu tertarik ketika melihat wajah mereka ada di layar kamera. Mereka tertawa-tawa sambil mengetuk-ngetuk hape dan gembira saat diperlihatkan hasil foto mereka yang natural itu. Dua pulau terlampaui oleh kak Windy : dapat foto mereka plus membuat mereka lebih mudah didekati dengan tangan terbuka. 

Dalam situasi yang sama, ketika kita sedang pedekate dengan etnis atau golongan yang perlu perlakuan tertentu, kita nggak bisa langsung main jeprat jepret saja meskipun untuk kepentingan pemberitaan. Ada sisi humanis yang harus disentuh demi mendapatkan kepercayaan mereka. Jangan berhenti pada bagaimana caranya ambil foto bagus saja, tetapi fungsikan juga pada kekuatan cerita. Visual yang kuat, bukan foto yang bagus. 

Melanjutkan paparannya, sebuah foto itu berada beyond esthetic visual. Bercerita dalam format apapun, mau foto, video atau lukisan, kita memerlukan konteks. Kontekslah yang membuat sebuah foto menjadi bernilai. Itu kenapa, pemenang fotografi yang mendapat penghargaan, seringkali adalah sebuah foto yang punya nilai sosial, historis, budaya atau kemasyarakatan...karena foto dengan objek tersebut punya konteks yang sangat kuat. 

Lalu,  bagaimana caranya bercerita dan menemukan konteks? 

Memahami dasar-dasar bercerita bisa membuat seorang fotografer bekerja dengan lebih terstruktur dan terkendali. Dia jadi tahu harus mengambil alur foto yang seperti apa, tahu siapa tokoh yang signifikan dalam konteks untuk diambil gambarnya, paham dengan latar belakang yang harus ada dalam foto, dll. Asah skill menulis yang dipindahkan menjadi berupa gambar. Hal ini berguna agar kita lebih peka dan jeli dalam melihat sesuatu dan terpancing untuk mencari tahu lebih banyak tentang nilai-nilai dibalik suatu objek foto. 

Nggak perlu susah-susah mencari cerita, karena bahannya selalu ada dalam keseharian. Jika perlu tantangan untuk cerita yang lebih besar, cari dan pelajarilah tekniknya, temukan cerita dibalik sebuah foto, gunakan teknologi untuk meningkatkan skill bercerita. Salah satunya ya dengan memaksimalkan fungsi perangkat gadget kita, belajar multimedia agar kita bisa bercerita pakai media apa saja. 

Bagaimana agar cerita kita kena dengan konteks dan visualnya? 

Ada beberapa elemen kunci untuk bercerita :
1. empati 
Cerita adalah pekerjaan merawat empati. Agar kita bisa menghasilkan cerita yang berdaya, belajar mengolah empati. Tidak semata-mata mengejar foto yang bagus lantas kita mengabaikan nurani dan moralitas. Bagaimana membangun empati antara kita dan objek? interaksi, yes. pedekate.  

2. Shared experience 
Not giving up one another. Emphaty is not symphaty. Fuel of curiousity. Leave us with the feeling. 

3. Struktur 
Membuat cerita mengalir dengan membangun struktur ceritanya terlebih dahulu. Rancang cerita yang terstruktur mulai dari pembuka, perjalanan dan penutup. Buat semuanya berkorelasi antara foto dan narasi cerita namun bukan berupa deskripsi. 

Nah, seperti itu sudah lengkap banget pemaparan dari kak Windy tentang bercerita melalui foto. Tinggal kita yang jeli dan peka menangkap momen dan memahami konteks. Pede ajaahh, kalo gadgetnya oke, feelingnya bagus, hasilnya juga akan mantap. 


Nggak perlu ragu ribet lagi kalo mau eksplor keindahan Indonesia, Oppo Reno 10x Zoom Indonesia - 10x Wonderful Journey dapat memberikan kita kepuasan visual 10x lipat juga! 

You May Also Like

0 komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^

Baca Juga

7 Essentials Korean Kitchen