Makan Enak Nongkrong Puas di Middleclass

1 komentar
Sepertinya lagi musim ya ruang makan berkonsep food court/pujasera yang juga sekaligus berfungsi sebagai public space. Saat lagi di jalan, sering nggak sengaja nemu tempat-tempat sejenis ini, bahkan ada yang dilengkapi kids playground di tengah-tengah, bikin hepi emak-emak. 

Salah satu tempat asik kaya gitu di Malang yang saya datangi adalah Middleclass Indonesia.  



Hah, kok middle class? Apa ada juga high class, low class?

Jadiii, ini nama tempatnya adalah Middleclass Indonesia. Menurut Bu Rossana, owner Middleclass Indonesia, dinamakan Middleclass supaya bisnis kulinernya ini bisa menjangkau semua kalangan. Mau nyari yang murah banyak, mau nyari yang mahal juga ada. Semua bisa menyesuaikan dengan keadaan kantong konsumen yang kebanyakan adalah mahasiswa. 

Yup, berlokasi di ruas utama jalan Cengger Ayam yang ramai, tepat di sebrang ponpes Al Hikam/STAI Al Hikam, Middleclass punya posisi yang strategis jadi tempat persinggahan para mahasiswa. Terlebih lagi daerah sini banyak terdapat kos-kosan mahasiswa yang berkuliah di UB, UM, dan sekitarnya. 

Terdapat belasan tenant yang menjajakan makanan lokal sampai internasional, mau yang bikin kenyang atau cuman cemilan lucu-lucu, atau hanya ingin seruput-seruput cokelat sambil ngobrol, atau mau semuanya, kuy...bareng teman-teman semua bisa pilih sesuai selera masing-masing. 

Hari itu saya beruntung bisa nyoba beberapa menu yang dijajakan Middleclass Indonesia, nggak cuman satu, tapi empat sekaligus.  

Lakar Nyaman, spesialis masakan khas Madura dan Seafood. 

Menunya nasi bebek hitam dan nasi kepiting. Kabarnya, dua menu favorit ini yang paling sering dipesan di sini. 

Disajikan dengan sepiring nasi, sambel pencit dan lalapan, menu bebek hitam ini terasa lebih joss selain daripada dagingnya yang empuk dan bumbunya yang meresap. Nggak berasa lagi makan bebek yang biasanya terasa liat dan susah dikunyah, ini empuk, anak-anak aja bisa makan.


Sedangkan bumbu kuah kepiting yang saya seruput, terasa kental dan gurih. Kepitingnya juga bukan kaleng-kaleng, dagingnya banyak, berwarna oranye dan nggak kudu bawa tang hihi, tinggal kopek-kopek aja pake tangan kulitnya mudah terbuka. 
Meski bahan baku seafoodnya diambil langsung dari Bangkalan, Madura, harga menu di Lakar Nyaman ini ramah di kantong tapi rasanya nggak murahan. Oh iya, outlet di Malang ini cabang ketiga setelah Madura dan Surabaya. Bisa cek-cek IG nya juga di @lakarnyaman_kuliner_madura 

Kyom, Authentic Korean Sween n Spicy Chicken 


Pernah makan menu Korea dengan harga di bawah 20 ribu? Cuman di Kyom bisa dapat harga segitu tapi rasanya nggak abal-abal. Paling banyak hanya menghabiskan 24.9 ribu untuk Kyom Delight yang toppingnya ampun-ampunan. 
Ini tiga menu yang saya coba di Kyom. Dry chicken, dibalut dengan tepung ala shihlin, tabur wijen dan nori, rasanya gurih dan empuk. Kyom original, disiram saus gochujang, membuat rasa lebih kaya dengan sentuhan sedikit hot. Satu lagi ramyeon original, puas deh kalo makan ini semua sendiri. Kenyang maksimaaalll. 

Stand Kyom ini ada di depan sendiri, berwarna kuning-biru, dan dijaga oleh oppa dan eonni yang juga sehari-harinya adalah mahasiswa. Lucu ya, memberdayakan sekitar. Cuss cek IG nya @kyom.id buat mendapatkan promo-promo hemat dan menarik yang sering dibagi-bagi sama Kyom. 

Republik Taichan, yang tak pernah kamu temukan di peta manapun. 

Itu sih tagline karangan saya aja. Aslinya sate taichan ini rasanya memang unik. Jika nggak suka berbumbu, bisa dimakan begitu saja tanpa cowal-cowel. Jika mau terasa spicy dan kaya rasa, ya tinggal aduk aja bumbunya, kucurkan jeruk nipis di atasnya....blas, segeeerrrr. 


Harganya, haduuhh....very worth to buy untuk kelezatan sate taichan plus lontong dengan bumbu lengkap pedas, asin, seger. Paling suka taichan kulit, tapi swiwi wings nya juga enak banget. Ah iya, bisa juga nambah-nambah topping seperti extra bawang, extra sambal atau kerupuk. Boleh cek-cek IG nya @Republik.Taichan yaa, biar makin ngiler dan cuss ke Middleclass. 

Dari sekian banyak tenant yang menjual minuman, saya rekomendasikan Cozy Chocolate karena cokelatnya kental, nggak kemanisan jadi nggak bikin batuk. Standnya ada di pojokan yah, nyempil di area tengah barangkali nggak kelihatan dari luar. Cek IG @coklat_cozymalang untuk postingannya. 


Masih kurang banyak kah reviewnya? Cuss aja langsung lah ke Middleclass Indonesia. Kalau komunitas atau perkumpulan apapun punya acara, mau nobar, kumpul-kumpul atau reuni, bisa juga sewa tempat di sini dengan GRATIS. Syaratnya hanya membeli makanan dan minuman seharga minimal 300.000 rupiah saja untuk 2 jam pemakaian. Kapasitas cukup sampai 150 orang. Gede juga kan ya. 



Foodcourt Middleclass yang mengusung konsep bangunan industrial ini buka mulai jam 10.00 sampai jam 23.00. Jangan kuatir dengan colokan listrik, ada di mana-mana, wifi tersedia, dan full music. Jadi nggak bakalan sepi meski hanya nongkrong sendirian di sini.

Khusus hari Jumat ada program sedekah dari setiap tenant di sini, kalau mau disela Jumatan dulu saat ngumpul-ngumpul di sebrang ada masjidnya Al Hikam, untuk yang mau sholat 5 waktu tersedia mushola dan toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Lengkap. 

Jangan harap ada yang jual rokok atau minuman beralkohol, semua makanannya aman dan halal insyaallah.  

Rekomen banget untuk nongki dan maksi di sini! 

Middleclass Indonesia 
Jl. Cengger Ayam No.34, Tulusrejo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Buka 10.00 - 23.00 
Instagram https://www.instagram.com/middleclassindonesia 


     

Saatnya "Bye Mata Kering!" dengan Insto Dry Eyes

4 komentar
Semingguan ini lagi banyak deadline naskah atau terjemahan yang membuat saya harus berhadapan dengan laptop dalam waktu yang panjang. Bahkan, proyek yang saya kerjakan dua hari lalu hanya ngasih deadline nggak sampai 18 jam (masih kepotong jam tidur pulak!). Otomatis mata melek terus mantengin laptop sepanjang yang dikerjakan belum rampung atau kena tanggung karena pas lagi on fire

Biasanya nih kalau lagi semangat gitu, mata dipaksa dibunder-bunder, tapi ya harus sadar diri juga sih, kalau malam tidurnya diskip, besok bisa-bisa ambruk malah nggak bisa lanjut kerja. Gimanapun juga, hak jam biologis tubuh harus tetap ditunaikan supaya badan juga tetap fit, terutama mata. Karena mata adalah salah satu aset utama yang saya gunakan buat berkarya.  

Setelah tugas semua beres baru terasa kok mata sepet, pegel dan perih. Lihat layar hape sebentar aja lelah, yah rugi dong nggak bisa santai-santai nonton drakor di Viu, padahal Hotel del Luna lagi rame. Usut punya usut, mata sepet, mata pegel, mata perih dan mata lelah ini adalah gejala mata kering. Mata kering beda lho dengan mata merah atau iritasi. Kalo iritasi kan biasanya mata berair, nah kalo mata kering ini justru malah sepet.

Hew hew...janganlah berlangsung terlalu lama, karena pekerjaan sudah kembali menanti dan drakor antri minta ditonton. 

Sebenarnya, ada beberapa penyebab mata kering ini, antara lain: perubahan hormon (kontrasepsi, kehamilan), usia atua penuaan, kondisi medis dan obat-obatan, kosmetik, lingkungan (paparan asap, angin) dan kegiatan lainnya. Kasus saya jelas yaahh, kebanyakan natap layar atau aktivitas yang membutuhkan konsentrasi visual sehingga mata jarang berkedip. 

Mata kering mengakibatkan kita lebih sulit untuk melakukan beberapa kegiatan, seperti menggunakan layar, membaca, dan dapat menurunkan toleransi mata untuk lingkungan kering, seperti udara di dalam pesawat terbang. Kondisi mata kering, sepet, pegel dan lelah ini nggak bisa disepelekan, bisa menimbulkan peradangan, nyeri, bisul atau bekas luka. Kalau sudah tau akibatnya begini, mending buru-buru cari solusi aja untuk mengatasi mata kering.

Menurut saya yang paling mudah terjangkau dan solutif tentu aja tetes mata. Tetes mata ini selalu ada di kotak P3K di rumah karena urusan gangguan pada mata nggak bisa ditunda-tunda. Khusus untuk mata kering, pakenya Insto Dry Eyes.

Eits, jangan salah ya...setiap tetes mata itu ada peruntukannya, selain untuk mata kering, untuk antiiritasi atau antialergi misalnya. Obat-obatan mata tersebut bekerja dengan cara meningkatkan cairan pelembap (lubrikasi) pada mata dan mengurangi penguapan air mata, sehingga mata tak mudah kering. Obat tetes mata lebih sering dipilih karena paling mudah dan nyaman ketika digunakan.












    Nah, si Insto Dry Eyes ini emang pas banget buat keluhan mata sepet, pegel dan perih. Kandungan bahan aktif hydroxypropyl methylcellulose dapat mengobati radang kelopak mata atau permukaan mata yang berkontribusi pada mata kering. Cara kerjanya memberikan efek pelumas seperti air mata, mengatasi gejala kekeringan dan meringankan iritasi mata yang disebabkan kekurangan produksi air mata. 

    Cukup 1-2x tetes pada setiap mata, pejamkan bentar, kedip-kedip, udah deh. Mata kembali terhidrasi lagi dan terasa lebih lembut. Pemakaian boleh sampai 3x sehari, tapi nggak perlu sampai rutin dan jangka panjang juga, secukupnya saja saat dibutuhkan. 


    Eh, Insto Dry Eyes ini juga bisa lho dipake sebagai pelumas softlense. Efisien banget kan nggak perlu bawa banyak botol cairan mata, cukup satu botol Insto Dry Eyes kecil aja cukup untuk pelumas mata kering maupun softlense.    

    Terakhir, ada tips nih untuk mengurangi gejala mata kering: 
    • Jangan lupa berkedip secara teratur, terutama saat membaca buku atau menatap layar gadget dalam waktu lama 
    • Tingkatkan kelembaban udara di rumah atau di tempat kerja 
    • Kenakan kacamata hitam saat di luar ruangan, terutama yang memiliki bingkai untuk mengurangi paparan angin dan matahari 
    • Menghindari dehidrasi dengan minum air sebanyak 8-10 gelas setiap hari 

    [Review Film] : Cart (2014)

    1 komentar

    review film korea Cart


    Cart (Ka-teu), K-movie lawas bertema isu sosial ini salah satu yang bikin saya berderai air mata sepanjang durasi film. Lemah banget emang kalo dikasih tema begini, dibanding cinta-cintaan yang sedihnya menye-menye, nonton film kaya ginian tuh semacam ikut sakit hati dan merasakan problematika rakyat jelantah, hahah...hadeuh.

    Kaya waktu nonton Pursuit of Happiness atau Misaeng gitu lah... bukan cuman mengedepankan drama, tapi ada isu sosial aktual yang diangkat untuk jadi perhatian penonton.

    Review K-Movie CART (2014)


    Pemeran : 
    Yum Jung-ah as Sun-hee (sekilas mirip banget sama Jang Na Ra versi tua)
    Moon Jung-hee as Hye-mi
    Kim Young-ae as Madam Soon-rye
    Kim Kang-woo as Dong-joon
    Do Kyung-soo as Tae-young

    Director : Boo Ji-young
    Writer :  Kim Kyung-chan
    Rilis : 13 November 2014 

    Oke, mau ngaku dulu kalau awalnya tertarik nonton film Cart ini karena ada Kyungsoo oppa yang juga menyanyikan OST yang berjudul Crying Out. Ih lagunya sediiihhh... Kabarnya film ini termasuk awal-awal karir aktingnya D.O sehingga mendapatkan Best Rookie Actor di Soompi Awards. 


    Film yang ditayangkan perdana pada Toronto Music Festival tahun 2014 ini disutradarai oleh Boo Ji-Young. Sutradara ini tersohor handal dalam mengungkapkan isu-isu sosial kedalam sebuah film, banyak hasil karyanya yang terpilih mengikuti festival-festival film internasional. 

    Plot Cerita 

    Cart bercerita tentang peristiwa pemogokan kerja yang dilakukan sekumpulan pekerja kontrak wanita di jaringan supermarket besar, The Mart. Pemogokan ini didasarkan pada suatu alasan yakni pemberhentian sepihak secara tiba-tiba oleh perusahaan terhadap karyawan sebelum masa kontrak mereka habis. Lazimnya kalau sekarang sih disebut efisiensi (duh, it happens in the real life!) 

    Para pekerja ini tentu tidak bisa terima begitu saja. 

    Adalah Sun Hee, seorang ibu dua anak yang sudah bekerja sebagai kasir selama 5 tahun, harus dihempas kenyataan bahwa promosinya sebagai karyawan tetap sesuai yang dijanjikan perusahaan tidak akan terwujud. Padahal dia sudah berusaha dan bekerja dengan sangat keras. Sun Hee juga punya tanggungan dua orang anak yang membutuhkan biaya, sedangkan suaminya jarang pulang karena bekerja di laut.

    Hye Mi, seorang single mother yang juga bertugas di bagian kasir, dengan berani memimpin dan mengajak rekan sesama pekerja kontrak untuk mendirikan serikat pekerja dan memperjuangkan hak-hak mereka yang diabaikan perusahaan. Bersama Sun Hee dan seorang cleaning service senior, mereka didaulat jadi juru bicara perserikatan. 

    Bagi para pekerja wanita ini, berstatus kontrak saja sudah membuat ketar ketir setiap kali waktu perpanjangan kontrak habis. Apalagi tak jarang mereka juga mendapat perlakuan tidak cukup baik, semisal bekerja di luar jadwalnya, dipaksa meminta maaf pada pelanggan walau salah (karena slogannya pelanggan adalah raja yang terhormat), belum lagi berbagai makian dari atasan yang harus diterima oleh mereka. 

    Berhenti di sini bentar, mungkin sebagian pembaca kelas menengah ngehe akan berkata "keluar aja lah, ngapain bertahan di situasi yang nggak sehat begitu." 

    Hellow milenial serba tanggung! tentu tidak mudah berada di posisi mereka. Persoalan tenaga kerja vs lapangan kerja di mana-mana, di negara maju sekalipun selalu jadi isu sosial yang seksi. 

    Pemogokan Kerja 

    Gerakan mogok kerja yang dilakukan serikat ini diawali dengan mengokupasi supermarket selama berhari-hari, sampai supermarketnya harus tutup operasional dulu. Mereka nggak pulang-pulang sampai pihak manajemen perusahaan mau menemui mereka setelah berkali-kali gagal diminta bertemu. 

    Harapan para pekerja ini simpel saja, manajemen mau membuka negosiasi bagi mereka setidaknya sampai kontrak selesai. Namun nihil, perusahaan malah mengirimkan pasukan polisi anti huru-hara untuk membubarkan kerumunan. 

    Aksi unjuk rasa mencapai puncaknya ketika beberapa karyawan tetap yang juga merasakan ketidakadilan perusahaan bergabung dengan serikat pekerja. Dong Joon, salah satu manajer toko bersedia untuk menjadi ketua perserikatan dan berjanji akan sama-sama berjuang sampai akhir. 
    review cart kmovie
    "Bibi, bisakah tetesan air menembus batu?" - Dong Joon, Manager The Mart

    Konflik Sosial dan Keluarga 

    Kehidupan personal keluarga Sun Hee menjadi yang paling banyak disorot dalam film ini, termasuk permasalahan dengan anak sulungnya yang masih SMA, Tae Young. Diceritakan bahwa Tae Young merasa kecewa karena beberapa hal; yang pertama, ponsel yang dia miliki masih model flip, sementara milik teman-temannya sudah pada pake model yang terbaru; kedua, kartu makan siang yang tak kunjung terisi saldo; dan yang ketiga, ia terancam nggak bisa ikut fieldtrip sekolah ke pulau Jeju karena ibunya nggak ada biaya, uceett yaahhh....darmawisata aja ke Pulau Jeju TT__TT

    K-movie cart (2014)

    Awalnya si Tae Young ini rada ngeselin, tipikal abege yang nggak mau ngerti keadaan orang tuanya. Tapi saat dia bekerja paruh waktu di minimarket, ternyata dia juga mengalami ketidakadilan dari sang pemilik minimarket. I love the way Sun Hee membela hak anak laki-lakinya ketika si pemilik minimarket menuntut kerugian toko. Begitu tegas, terasa welas asihnya sebagai ibu tapi tetap menegakkan keadilan. 

    Sementara itu, demonstrasi masih terus berlangsung sampai berganti musim. Aksi dorong mendorong, gusur menggusur, retorika, sampai penyiraman air mewarnai hari-hari para pengunjuk rasa. 

    Tenda markas yang mereka dirikan bahkan kembali diobrak-abrik oleh polisi sampai putra Hye Mi yang masih balita harus masuk rumah sakit gara-gara ketiban tiang tenda. Hye Mi pun harus ambil keputusan yang realistis bagi hidupnya. 

    Dalam kesempatan lain, ketua serikat juga menjadi terlibat dengan masalah hukum karena keadaan seperti mentok, tak ada jalan keluar. Ia pun sangat putus asa.  
    review k-movie

    review k-movie

    My View 

    Himpitan kebutuhan hidup dan idealisme memang seringkali berbenturan jauh melampaui yang terlihat.  Semakin kita realistis, sesungguhnya semakin banyak yang kita korbankan. Suatu hari bapak saya sendiri pernah bilang, "nggak perlu ikut-ikut serikat-serikatan, pasti kamu yang bakal rugi. Selamatkan diri dan keluarga kamu aja yang lebih penting." 

    Nasehat Bapak terdengar sangat natural dan realistis sih, emang. Beberapa kali jadi bagian dari sebuah perusahaan, isu hak dan kewajiban ini nggak pernah selesai dan happy ending. Entah siapa yang nggak puas, manajemen kah, pekerja kah... atau semua memang dibuat nggak puas oleh sistem yang tidak berperikeadilan. Yang jelas, aturan apapun sepertinya tidak bisa menyenangkan semua pihak. 

    It's hurt to know bahwa yang berkuasa hampir sudah pasti selalu menang. Entah dengan cara menawarkan kompensasi lebih pada para aktivis serikat, memberikan ancaman, atau negosiasi dengan berbagai persyaratan.

    Dari sisi filmnya, agak pingin ketawa sih kalo D.O masih cocok meranin anak SMA padahal 2014 umur dia udah 21 tahun. Nggak nyangka sekarang dia sudah pergi wamil *menatap nanar*. Aktingnya di sini udah lumayan sih, meski belum bisa dibilang bagus. Gapapa dedek masih belajar yah....

    D.O Kyungsoo
    Akan lebih menyentuh lagi kalau konflik antara ibu dan anaknya dipertajam, pasti deh ceritanya tambah kuat dan mengharukan. Rada nggak jelas saat ibu dan anak ini bertengkar malam-malam, apakah situasinya Tae Young habis mencuri atau bagaimana. Kehadiran temen cewek yang nggak gitu mempengaruhi isi cerita juga rada nggak penting, mungkin maksudnya mau menggambarkan bahwa situasi ini juga dialami oleh banyak keluarga lain, tidak hanya keluarga Tae Young saja.

    Yang saya bingung juga, emang kalau di Korea ayah yang bekerja jauh nggak ngirimin uang ke keluarga mereka gitu? Kalau di sini kan, biasanyaaa, income kepala keluarga yang bekerja jauh dari keluarga itu rata-rata tinggi, makanya dibelain walau mesti LDR dari keluarga.

    Satu hal yang pasti menarik, bahwa film ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi pada bulan Juli 2007, ketika pekerja di Supermarket E.Land Mart mendadak dipecat dan mendorong terjadinya pemogokan selama 510 hari (sumber: asianwiki.com)

    Lama banget kan itu ya, hampir 2 tahun berunjuk rasa, berganti musim. Saya sempat coba cari informasi tentang pemogokan karyawan E-Land Mart tahun 2007 dan menemukan berita ini di Korea Times. 

    Sebagaimana yang terjadi dalam kejadian nyatanya, ending film ini juga tidak happy maupun sad. Sudah kuduga sih... yang begini-begini memang alot sekali mencapai titik temunya. 

    "Despite constant negotiations, the union and management failed to narrow their differences over employment security, salaries, upgrading non-regular workers to regular employees and management's lawsuit against the union." 

    Hiks.