Love Enough for Two

4 komentar
"We know we did a good job loving our children when
each one feels he or she is the one we loved best."

- Unknown


Berderaian air mata baca artikelnya Pam Leo ini, gileeee....gue bangeeeetttt!!!! nget! nget!! 
Ya mungkin bukan cuma gue, tapi jutaan orangtua yang lagi ada di masa transisi dari punya satu anak jadi dua anak.

Many parents say they remember worrying about whether they could ever love the second baby as much as they loved their first child. Then, when the second baby was born, they loved the new baby so much they worried that they were betraying their first child.

Ini iya banget deh, having several convos with peer group, waktu masih punya anak satu, rata-rata pada belum siap punya anak lagi karena takut gak bisa sesayang ke anak pertama. Felt the same way, sure. Then BANG! lahir anak kedua, sayang, terus dibuntutin rasa bersalah ke anak pertama. Thus it's very berry challenging, ya ini baru tiga bulan ngejalaninnya tapi udah banyaaakkk banget pelajaran hidup yang didapet. 

The most stressful part of caring for two is when only one parent is there and both children need you at the same time. When they are very close in age they may both need the same thing at the same time.

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, i feel more competent today about caring the baby, no babyblues at all. Tapi, ngurus kebutuhan dua anak, hmmm....jungkir balik rasanya. Dua tangan ini harus mampu menuhin kebutuhan dua belahan jiwa, all at once. Sayangnya, kita gak punya pilihan, harus bisa mikir cepet yang mana lebih urgent untuk duluan dilakukan, tapi harus dua-duanya dilakukan. 

Bangun tidur barengan, yang satu harus disusuin, yang satu harus buru-buru dikasih sarapan biar ga rewel karena lapar. Solusinya, siapin sarapan sambil nyusuin bayi di gendongan, atau bangun lebih awal buat bikin preparation dish. 

Nangis berjamaah? oke, saya dahulukan kakak, alesannya kakak udah bisa nangis lebay agar kebutuhannya diperhatikan or -at worst- leads to tantrum, tidaaakk. Sedangkan adik kadang nangis bentar, mimpi atau digigit nyamuk gak lama trus tidur sendiri.   

"Sleeps when your baby sleeps" surprisingly works on me, on certain times.

Children under three usually have the hardest time sharing their parents with the new baby. Many young children tell their parents they want them to send the baby back. Under threes are still very focused on their parents and still need a lot of attention. When very young children can't get what they need, right when they need it, they get very frustrated and some may express that frustration by trying to hurt the baby. 

Kalimat pertama bener, tapi selanjutnya Alhamdulillaaaahhh, sujud syukur enggak terjadi sama sekali. Kisah-kisah tentang sibling rivalry mengerikan yang sering saya denger, gak ada ceritanya antara Arraf-Ali. Mungkin karena Arraf belum bisa ngutarain perasaannya, sampe sekarang aja masih ngira 'dede bayi' itu masih di dalem perut ibu (nangiiisss, artinya perut gw masih kaya hamil), tapi ternyata hal tsb gak cuma terjadi di anak pertama seusia Arraf tapi hampir semua anak pertama yang baru punya adik, either he's 3, 4 or 5. Or even it's 15, when i was having my sister.... -__-"

Yah hal-hal mengkhawatirkan emang terjadi diawal, kaya elus-elus kepala bayi trus dicolok, bantal yang lagi ditidurin tiba-tiba ditarik, selimut lagi dipake diambil, nidurin tempat tidur bayi, bayi lagi tidur digangguin, digoyang-goyang boxnya, ribut kalo bayi nenen pengen ikut nenen endeswey endebrey tapi menurut saya semua masih bisa terkendali. Kendalinya ya bisa dengan pengertian atau sedikit marah-marah, just to show that he did wrong to his brother.

Nggak lama kok, bulan kedua keadaan aman-aman aja. Soal nen, berhubung pas adiknya lahir Arraf udah 21m, maka udah bisa dimulai proses sugesti weaningnya. Saya sering bilang kalo dede bayi masih kecil, belum bisa mamam makanya harus nenen sedangkan Arraf udah bisa mamam, main, trus bentar lagi sekolah jadi kalo mau sekolah udah gak nen. Sekarang Arraf udah bisa cuek kalo ibunya gendong Ali atau ngeliat biasa aja pas nenenin.

Arraf juga sering minta gendong bayi yang tentu saja saya kasih Ali di pangkuannya trus dicium-cium, diusap kepalanya sambil bilang "dede sayang..." tapi dengan upah kepalanya sendiri harus diusap sama ibu sambil bilang "kaka sayang...". Trus sebisa mungkin saya libatin taking care adiknya semisal ambilin popok atau telonnya, dimana habis minyakin adiknya trus minyakin dia juga (padahal udah). Ya intinya sih kami ngerti banget kalo dia takut lose attach sama orangtuanya dan kami pastikan hal itu gak akan terjadi. He's still number 1, along with his bro. (It is important to let the child know we understand how hard it is to wait when the baby needs attention and then give the child some love and attention as soon as possible.)

*bentar ya....ngelap air mata dulu*

The most important thing parents can do to make life smoother with the second baby is to take great care to make sure the first child's needs are still being well met.

We're trying our best up to present. Mumpung Ali juga masih kecil, banyak tidur, gampang dibuat tenang, masih ada waktu buat menciptakan kondisi saling pengertian antara kita berempat. Saya juga pelan-pelan harus menghilangkan rasa bersalah, jaga kondisi agar tetap waras sehingga bisa menghasilkan anak-anak yang baik. Kalo ayahnya pulang kerja udah pasti Arraf lepas dari saya nemplok ayahnya, begitupun weekend kita cari kegiatan yang melibatkan semuanya misal jalan-jalan atau berenang, meskipun yang berenang cuma Arraf dan ayah.

Wearing the baby in a sling is a great way to meet the needs of the baby and the older child. When the baby is in the sling, the baby's need for touch and movement is being met and you have both hands free to do more with the older child. Seeing the baby being carried may trigger a very young sibling's need to be carried, especially if they were not carried a lot as a baby. 

Iyaaa, ini banget lah. Sore hari, Arraf butuh main ke luar buat sosialisasi dan penyaluran energi, Ali masih melek gak mau ditaruh. Solusinya, bawa dua-duanya keluar...agak sulit pas ngejar Arraf yang menggelinding dengan bayi di gendongan, tapi tetangga-tetangga sini baik hati mau di outsource-kan mata saya buat mantau Arraf lari kemana. Awalnya Arraf juga suka minta digendong tapi lama-lama juga dia lebih suka main sendiri daripada digendong berdua.

The more resources parents have the better they are able to recognize, accept and appreciate each child's unique temperament and personality. Siblings can be (and often are) very different from each other. Just because they have the same parents doesn't mean they need the same kind of parenting.

Jadi memang kesalahan banget kalo saya selalu membandingkan Ali sama kakaknya waktu dulu. Waktu 2 bulan Arraf udah bisa anu, Ali kok belum atau sebaliknya -- ini gak adil. Statement di atas perlu banget banget saya ingat selamanya, biarpun jaraknya cuma 21m, biarpun mukanya mirip dan dibesarkan dalam satu masa, they're just different each other. Noted.

Project Ultah Abal-Abal

9 komentar
Ini namanya project nekat ambisius, pengen bikin sesuatu buat ultah Arraf tapi kemampuan baking nol, kemampuan masak nol. Jadiiii aja, random banget bikin ini itu mana aja yang jadi *giggle*

Nggak niat bikin pesta ultah rame-rame gitu sih, abis anaknya juga belum ngerti ulang taun sayang dia gak dapet maknanya. Arraf tau sih tiup lilin di atas kue, tapi dalam rangka apa ya gak ngerti. Dianya juga masih soliter kalo ada rame anak-anak di rumah pasti cuek melipir main sendiri, belum ngerti posisi center of attention. 

Karena kebetulan di sini tradisinya suka bagi-bagiin makanan, ya udah deh kita bikin goodie bag sama bento aja buat dibagi ke setiap anak, lumayan satu gang sini ada 20-25 anak *nyengir kuda* 

Bento abal-abal

Inspirasi dan contekan berasal dari dBento, dicari teknik dan contoh yang paaaaliiing sederhana (paling cemen). Pengen bikin bento yang dihias-hias gitu, ala kyaraben, tapi gak punya vegetable cutter dan yang utamanya gak punya keterampilan menghias, huhuhu *nangis di pojokan*

Bangun jam 2 pagi buat nyiapin 25 porsi, tapi gak keburu...jadinya cuma bikin 20 karena ayah udah mau ngantor. Iyes, yang goreng-goreng, siapin masakan dan cetak-cetak tugas ayah semua, saya tinggal rapiin ^^

sejumlah bento yang siap diedarkan
Isi : 
Nasi unyuuu, resep nasi ungu dari Dapur Hangus tapi gak dibikin uduk..
Nugget ayam homemade, resepnya pabalatak lah ya di google
Telur puyuh diiris, ditusuk
Mie goreng telur 
Sosis goreng
Selada
Brokoli kukus
Wortel-buncis kukus

Satu hal yang masih mangkel : sosisnya gak mekaaarrr, ini pasti gara-gara ayah ngegorengnya massal kaya goreng kacang, etapi bersyukur juga sih ayah mau kerjabakti ngerjain proyek hore-hore ini.

Snack

Disponsori oleh Nestle, Kraft foods dan Frisian Flag, hahahaha *kecup mak Rey*

ada dua gambar bungkus, yang satu Jungle satu lagi gambar Cars
Isi :
Biskuat
Hello Panda
Koko Krunch
Susu bendera Yes
Susu bendera kenyot
Tango Waffle
Choco Loli / Choco Balls, yang ini homemade
Vanilla cupcake sprinkle ungu, homemade juga

Maunya ya, maunya isi snack makanan sehat gitu. Tapi apa siiih, standarnya kan relatif yaaa. Mungkin susu berperisa dan jajanan warung itu tidak sehat dan bikin batuk, okaayy trus apa yang bisa 'dibungkus' sebagai makanan sehat? shud i make, errr...salad buah potong aja mungkin ya? biar aman bok. Jadi kalo isi gudibeg ini dianggap 'junkfood', maka biarlah saya diganjar label 'pengkhianat milis' :D

choco loli / choco balls
Choco loli/choco balls itu karangan saya semata, resep aslinya Coklat biskuit loli, tampilannya cakep banget. Tapi saya segera sadar bahwa mencetak biskuit di cetakan coklat itu susah jenderal, lama pula, jadiiiii, cukup dibulat-bulat saja, tusuk. kemudian celup coklat, tabur sprinkle. Karena waktu berjalan cepat sementara banyak iklan berdatangan (ya nyusuin lah, boboin-mandiin anak-anak, gangguan recok dari yang ultah) maka sisa coklat langsung dicetak aja ga pake biskuit-biskuitan. Tadaaaa, dalam beberapa jam sudah diproduksi 30 pcs coklat beda-beda, ceritanya biar tiap anak bisa cerita eh kamu dapet coklat apa? aku dapet yang loli, yang lain dapet yang bola... *padahal mah nyetaknya gak keburu*

cupcake unyuuuu
Vanilla cupcake ini nyontek resepnya dari Joy of Baking, menggoda iman banget kan tuh cupcakenya (yang di JoB loh, bukan yang buatan saya). Ini pertama kalinya saya bikin cupcake pake frosting, jadi beneran amatir banget deh, itu juga pake acara gosong, gak ngembang. Cupcake yang dibagiin lebih kecil, diameter 3cm, ini bukannya pelit loh tapi daripada gagal terus, bikin lagi, gagal lagi ngabisin bahan mending cari yang relatif cepet dan aman. Hasilnya memang lebih baik yang 3cm, cakenya ngembang dan ngefrostingnya juga lebih mudah. Btw, ini frosting pake buttercream + pasta anggur. 

Rasa gimana rasa? hmmm not bad padahal, tapi Arraf cuma suka jilat-jilat frostingnya doang T___T

Kenapa tema warnanya ungu? gak kenapa-kenapa sih, menyesuaikan sama warna nasi aja gitu biar matching. Tadinya mau sengajain nyari isian snack yang warna ungu-ungu juga macam tango waffle ungu, richeese blueberry, susu rasa anggur dsb tapi rempong yaaahh, anak kecil mana peduli warna yang penting makanan banyak sikaaatt.

Trus, belum tiup liliiiiinnn...eeeaaa, anaknya keburu liburan ke Bandung. Nanti aja deh beli Harvest ya nak, biar difotonya tjakep terus ngakuin itu bikinan ibu :))

on two years

2 komentar

It's December 7, and my son is turning two today... 

Beberapa hari menjelang dua tahun, emang ujian (buat emak)nya berat banget. Jelas cari perhatian banget, nangis sampe teriak-teriak, nangis dibuat-buat, pengen sambil dipangku ditemenin main ikan (Feeding Frenzy), habis itu ganti main burung (Angry Birds) gak nyampe 3 menit minta pindah main ulat (Galapagos), bangun tidur nangis, makan pengen disuapin ayah, cebok mau sama ayah, ibu harus bobo terus di sebelah buat bacain cerita sambil dipeluk-peluk, pleus....minta nenen terus-terusan, yang tadinya cuma nen sebagai pengantar tidur siang-malem aja, sekarang minta juga di luar jam-jam tidur, saingan sama adenya. 

Subhanallah banget yaahh... 

Menguras emosi, pasti...Arraf belum bisa atur emosinya sendiri, emaknya juga bingung atur emosi yang keluar. Kita sama-sama belajar mengendalikan emosi sendiri. 

Dua tahun, jelas Arraf bukan bayi lagi. Waktu masih gendong-gendong secara manusiawi pengen juga liat Arraf cepet mandiri, bisa jalan, bisa lari, makan sendiri, ngoceh-ngoceh lucu bin kepo. Sekarang semua udah tercapai, saya kangen gendong Arraf lagi...

Ahh, human grows up. Masih banyak PR di usia 2th ini, maka dari itu saya berdoa semoga Arraf bisa semakin mandiri, cepat belajar mengerjakan sesuatu tanpa sedikit-sedikit minta dibantu. Bisa buka-pake baju sendiri, ngancingin baju sama pasang apron sendiri (eh, itu mah iklan susu yak?). Bisa lebih rapi lagi makan-minum sendiri.

Pernah denger, kalo merasa anak belum mandiri juga...itu mungkin kitanya yang gak percaya sama kemampuan anak sendiri jadi semua masih kita urusin. Jeblak! namparabis.    

Semoga Arraf juga bisa beradaptasi sama lingkungannya. Saat ini dia masih soliter dan jago kandang. Semoga di tahun ke depan Arraf lebih bisa ekspresif dan adaptif lagi bersosialisasi. Kalo saya liat nih, meskipun suka didorong atau dirangkul sama anak lain, Arraf gak pernah balik dorong atau mukul, paling dia melepaskan diri trus menghindar, ini patut dipertahankan, sikap tidak suka kekerasan, baik hati dan menyayangi sesama. Tapi ya ada rasa sedikit khawatir juga kok anak gw diem aja yah digituin, ga agresif sama sekali, takut dibully :'( (oh gw lebay yah, maap deh..) 

Kok ini mah lebih harapan pada lifeskill yah? ya gapapa, walopun PR mempersiapkan lifeskill ini ada pada pundak emak-bapaknya, doanya adalah semoga diberi kelancaran pada prosesnya.

Pinter, sholeh, baik, nurut, itu mah udah pasti didoakan....dengan sering mendengar komentar dan pujian, semoga gak menjadikan Arraf tinggi hati melainkan jadi motivasi. Semoga kepala tetap tertunduk seiring dengan bertambahnya kecerdasan dan kemampuan diri. Semoga diberi kerendahan dan kelapangan hati dalam menghadapi tantangan ke depannya.

Satu lagi, semoga Arraf jadi anak yang mudah berbagi dengan saudara dan sesamanya. Rukun dan damai bersaudara sama adiknya. Amiin, insya Allah.  

Dua tahun ini milestone, gak lama lagi saya harus siap melepas Arraf ke area lebih luas lagi alias sekolah. Akan ada lebih banyak sosialisasi, tantangan, pengaruh, dsb. Apa Arraf sudah siap? atau justru saya yang belum siap? kapan kita tahu kalo udah siap?

Well, "we never know, but when they know, you know..." kata dude Crush di Finding Nemo :')


#GoBakeGiveaway for Beginner Baker

4 komentar
Sebagai baker amatir, yang udah dari gadis mulai baking tapi sampe sekarang jadi emak-emak gak mahir juga, punya baking tools yang lengkap itu surgaaaa...begitu ada mood bisa langsung tap, tap, tap, ambil ini ambil itu, cemplung sana cemplung sini, kocok, aduk, panggang. Beres.

Lain halnya, pas kepengen bikin sesuatu, eh gak punya alatnya, eh gak ada bahannya....cuman bisa manyun liatin gambar makanan atau buru2 sms "ayah beli kue ini yuuukk..." 

Maka dari itu, untuk menjadi seorang maestro baking *ealaaah, belum apa-apa udah lebay aja cita-citanya?* dibutuhkan kelengkapan baking tools, cara dapetinnya bisa dari mana aja, beli sendiri *semoga kuat dananya*, nodong warisan dari nyokap *beberapa udah gue dapetin, semoga nyokap masih bisa dirayu* ataaauu....cari gretongan!! 

Yak, salah satunya cari  giveaway gini deh. Kebetulan ada Meta, temen di TUM gue yang cantik jelita sedap dipandang jago masak dan baik hati *usaha mah gimana aja yak caranya..* lagi ngadain #GoBakeGiveaway alias bagi-bagi baking tools nya yang tentunya bakal gue butuhin buat (suatu saat) mood baking. Yak, suatu saat, karena mood baking gue belum tentu Senin-Kamis juga datengnya, bisa Senin bulan ini baru Kamis bulan depannya lagi :D 


Mau yang measure cup *cup, cup, cup, kecup* 

Pemburu gretongan juga? silakeun, kejarlah (pemilik) blog ini di #GoBakeGiveaway and lets go bake!

Al, 2 Bulan

3 komentar
Masuk 2 bulan, kehidupan pelan-pelan mulai agak tenang. Iya, karena pola setiap harinya udah cukup teratur, misal jam berapa anak-anak bangun, mana dulu yang harus disiapin, jam berapa mereka makan, jam berapa tidur lagi TERMASUK jam berapa emak bisa mandi, makan, ngenet, leyeh-leyeh. Itu penting juga dijadwalkan setiap harinya. 

Jadi yah, ternyata, faktanya adalah....anak gue dua-duanya bukan tipe bangun pagi. None of them consistently awake at the morning, paling sekali-kali aja kalo bobo malemnya kecepetan. Huw, buah memang jatuh gak jauh dari pohonnya ya, kecuali ketiup angin, itu juga kalo buahnya ringan (apa sih), ketauan banget anak siapa, sih, naaakkk....


This Virgo baby BB nya udah 5.2kg (atau naik 1kg dari bulan sebelumnya), TB 52. Presentase peningkatannya sih menurun, ini jadi evaluasi saya juga apa nyusunya gak sebanyak di bulan pertama atau kurang dapat hindmilk, mengingat sekarang tidurnya udah sering lama, siang atau malem. 

Bisa dibilang kita jarang begadang sih (atau belum ya?) ya pokoknya jarang lah bangun tengah malem lama-lama buat nyusuin misalnya, atau buat ngeladenin anak bayi main. Enggak kayanya. Ali cuma kebangun haus, trus dinenin sambil tiduran ya tidur lagi..itu paling terjadi 2-3x dalam semalem. Masih bangun sekitar jam 3-an sih (jam lahirnya dia), nangis dikit, dipukpuk trus nen tidur lagi. Ini bagus deh, di sini kan adzan subuh jam 4 jadi sekalian jadi 'alarm' subuh orangtuanya juga.

Saya juga udah mulai biasain dia tidur tengkurep dari sebulan kemarin, kebetulan anaknya juga suka, kalo tengkurep pasti bobonya lama. Banyak yang takut ya nengkurepin bayi, banyak kontraversinya juga soal SIDS lah, apalah, menurut saya sih asal kita paham betul aja gimana cara dan antisipasinya insya Allah gak kenapa-kenapa. Apa untungnya tidur begini? selain biar anaknya gak bosen terlentang terus liat dunia kebalik, perut lebih hangat, melatih otot lehernya juga buat angkat kepala. Benernya dia udah bisa nolehin kepala kanan-kiri kalo pegel ke satu sisi, angkat kepala juga udah mulai kuat.

Udah bisa apa lagi ya, yaa penglihatan udah jelas, respon terhadap suara juga. Paling seneng sih suara keresek yaa, pasti dia ngikutin kemana arah kresek-kreseknya, bageeuus, mainan cukup dari bahan-bahan alami (baca : yang ada) aja ya, nak :p Tenaga udah susah dibendung, kalo mandi pasti jedak jeduk ke bak nya, trus eng..nangisnya kenceeeeenggg!!!! Udah kaya digigit nyamuk deh kalo nangis, tiba-tiba teriak gitu, tapi gak pernah lama-lama.  

Imunisasi standar : BCG, DPT1, Polio2. HiB, masih mikir dulu nih...kalo akhirnya mau ambil paling ambil jadwal catch up bulan depan sebelum dosis dua diberikan, atau, catct up nya nanti aja menjelang setahun, atau, catch up sekali aja di 15 bulan. Banyak ataunya ya, iya nih...mahal sih :'(

Frekuensi pup, glek...jarang sih, paling seminggu sekali dengan konsistensi seperti pasta gigi, warnanya kuning emas kaya jus mangga. Ini menggugah misteri juga, kenapa kalo asinya terserap semuanya tapi BB nya cuma naik 1kg? *maaaakkk, don't be such a rabid deh, sekilo itu cukup kok! 

Yang dua, yang dua....

7 komentar
From my previous post, apakah gue mencitrakan diri gue keren seperti mamak-mamak ini? 
ENGGAK lah yaa boooookkk. SAPA ELOOO???? 

But yes, they're looks stunning with two close-aged kids. 

Camila Tea

Angelina Jolie

Gwyneth Paltrow

Vic Beckham


Ataukah suami gue sekeren babeh-babeh ini?? 
ya ENGGAK laaahhh, SAPA LAKI LOOO???



Kalo di rumahnya mereka pada dasteran juga gak sih...??

Daster, Baju Kebesaran Istri di Rumah

3 komentar

Marriage can change people's life....and outfit too. Sedikit atau banyak, setelah menikah pasti ada perubahan pada selera berpakaian, dandanan dan penampilan. Termasuk baju kebesaran saat di rumah. Siapa yang bisa menolak kenyamanan daster?

Ada yang cewenya jadi seneng dandan dengan alasan udah ibu-ibu, harus menyesuaikan sama pasangan (apa hubungannya yak?)

Ada yang cowonya jadi lebih rapi, katanya sekarang ada yang ngurusin, nyetrikain baju kerja tiap hari (lah emang waktu single baju kerja gak pernah disetrika?)

Ada juga yang cewenya jadi lebih berani pake baju blah-bloh, alesannya biar gampang nyusuin anak, menjaga ketertarikan suami biar matanya gak jelalatan (oh well..)

Yang cowo biasanya lebih gendut setelah merit, its a truly fact. Alasannya sih karena ada yang masakin setiap hari, makan terjamin (yakin? mending kalo istrinya bisa masak...jleb!)

Ya Alhamdulillah, banyak yang jadi lebih baik setelah menikah. Regardless alasannya karena sudah sold out (memang wkt single jualan apa?), perintah suami atau karena ketaatan semata kepada AnNur:33, ya apalah...syukur Alhamdulillah.

Then i look into my marriage life.


Masih inget, dulu dimarahin nyokap gegara piyama+bergo pas pacar ngapel. Ya piyama biasa aja loh gambar bunga-bunga pink, bukan piyama nerawang. Pikiran saya dulu kalo suka, ya harus suka semuanya lah, terima saat gue cantik, pun saat gue kusut..jadi ntar gak ngerasa ketipu gitu pas nikah. Tapi mungkin emak takutnya si pacar malah kabur ya kalo liat saya dandan ala embok-embok. Tapi dengan kekuatan cinta, saya yakin si pacar bukan tipe cowok seperti itu..eeaaaa.

Sejujurnya lingerie-lingerie seserahan dulu buat saya gak ada fungsinya. Ya oke, buat dipake malam pertama sih, tapi palingan bertahan dipake berapa lama siiik, belum sempet ngelus-ngelus bordirannya juga.

Sehari, dua hari, pulang honeymoon balik ke rumah juga udah balik lagi ke baju tidur kebesaran. Piyama atau daster bali. Adem. Lingerienya jadi pemanis lemari ajah, dilipet di tumpukan paling bawah sampe gak ketauan pernah ada lingerie disimpen di situ.

Buat nanti kapan-kapan anniversary, sebagai 'pemanas' suasana gitu? ya entar aja deh..

Tetangga sebelah, kalo pas ketemu di tukang sayur pagi-pagi, selalu pake lingerie satin gitu. Usia pernikahannya sama kaya saya, tapi belum punya anak..mungkin honeymoon terus tiap hari ya. Jempol deh, suaminya pasti seneng, soalnya gampang *gampang wuopooo... 

Sementara saya begitu ada klakson tukang sayur terbirit-birit nyambit bergo, jaket, buat nutupin kaos lahak compang-camping. Ya maklum lah ya, busui semalem suntuk bajunya ngablak-ngablak.

Kemudian setelah punya anak menemukan kenyamanan dalam daster batik adem. Kayanya tiap daster itu ada jampi-jampinya deh yang bikin pemakainya betah luar biasa, no social status limited. Apa bedanya daster pembantu sama daster majikan? kalo udah dipake sama aja bikin keliatan kaya pembantu. Nobody cares how much the price, every daster batik looks equal. Gak heran kalo industri daster batik gak ada matinya, semua ibu-ibu cinta daster.

Kecuali nyokap. 

Nyokap saya itu tipe istri yang jaim banget. Gak pernah beliau keluar pake baju tidur semalem atau daster 35 ribuan, walo cuma beli galon. Di rumah juga baju rapi, lipstikan, warnain rambut, krim siang-malam, anything does to please my daddy. Dan memang bokap pengennya nyokap selalu enak dipandang, seperti yang dia titahkan juga ke saya di stasiun waktu mau pindah ke sini. "...kalo suami pulang tuh ya udah cape di kantor, di rumah jangan dikasih pemandangan istri awut-awutan sambil cemberut. Ya namanya juga laki-laki.." dan pesan bokap itu dijawab "hoeekkk" di dalem hati.

IMO, nyokap boleh loh protes ke bokap yang sehari-hari cuma singletan, celana pendek, kaos partai yang tangannya udah dibuntungin, jarang mandi pula.

Well, di luar dua contoh maintenance-wives di atas (tetangga, nyokap), kebanyakan yang kita liat cewe kalo udah nikah jadi less care soal penampilan, seolah-olah berpakaian baik dan dandan itu luxury banget, cuma  pas ada kondangan, lebaran, dsb aja baru dandan rada genah. 

Yah, bisa maklum sih kalo udah nikah itu, apalagi kalo udah punya anak, waktu untuk dandan itu kepotong banyak buat urusan rumah tangga. Kalo pas mau pergi misalnya alih-alih kita biasa persiapan satu jam, sekarang harus mengalokasikan waktu minimal dua jam sebelumnya kalo gak mau kebat-kebit. Belum lagi lilitan jilbab hasil nyontek tutorial hancur berantakan ditarik-tarik anak pas gendong, insiden lipstik patah, bedak pecah, it's sooooo motherhood thingy. 

Jadi ngerti bangetlah kalo ibu-ibu memilih untuk pake daster, baju paling praktis sesuai fungsinya. Daster itu adem dipake masak depan kompor, kena basah pas mandiin anak atau nyuci piring cepet kering, apalagi kalo masih nyusuin, dasterlah paling nyaman. Semakin bolong semakin adem. 

Dan saya bukan pengecualian, bisa dihitung berapa banyak baju di lemari yang bener-bener kepake buat pergi, apalagi pilihannya mengerucut ke baju-baju berkancing depan. Dengan lebih sering di rumah, setelan pergi yang umurnya uzur banyak yang alih fungsi jadi setelan rumah, buat agak mantesan kalo pas ke posyandu, arisan atau ke pasar. Sehari-hari emang gak jauh dari setelan celana pendek-kaos v neck, daster batik atau celana piyama, pleus rambut gelungan ke atas. However ya saya tetep ganti bajulah kalo siang ganti malem, apalagi sejak hamil-menyusui kan keringat berlebih tuh, tetep mandi 2x ganti baju 3x. Krim siang-malem kalo inget, kalo gak cukup facial wash aja pas mandi, seharian blas polosan..paling banter eyeliner saja cukup biar gak terlalu pucet ntar dikira mbaknya Arraf :p

Does my hubby complain? Unfortunately (or fortunate?), suamiku lempeng abeeesss. Entah definisi cantik atau enak dipandang menurut dia apa, dududu.

Waktu dendongan tjakep pake dress keren, pake korset, high heels, ditanya "ibu cantik gak?"
Jawabnya cantik.
Waktu bangun tidur acakadut habis begadang, muka berminyak, daster kusut, ditanya cantik apa enggak,
Jawabnya ibu cantik.

Ya iyalah ya, mana berani dia bilang jelek kalo gak mau disambit bantal!

Di mana ya itu, hadits/qur'an yang kurang lebih nyebut "...hendaklah wanita berhias untuk menyenangkan pasangannya (suami)..." Ya, menurut saya, menjaga penampilan setelah menikah itu ya perlu, selain untuk menjaga harga diri pasangan juga menghargai diri sendiri, kalo ada waktu buat berpakaian rapi dan berhias kenapa enggak, dan suami juga merestui. Jadi ibu-ibu gak mesti embok-an juga kok, kalo sambil masak boleh lah, tapi Farah Quinn aja suka masak pake high heels coba, ibu-ibu kenapa gak bisaaa...?? *dilempar wedges sama ibu-ibu seRT*

Apa gak pernah dicoba berhias sedikit sapa tau suami lebih senang? pernah dong, pake lipstik dan dress open shoulder tapi trus ditanyain " udah tau gampang masuk angin, pake bajunya yang benerrr.." eeaaaa *langsung sweater-an* Sejak itu saya asumsikan dia tidak lebih senang juga kalo saya berlebayan.

Trus apa kabar outfitnya suami? samapun dia pulang kantor langsung celana pendek-an sama kaos butut (yang mana adalah calon lap kompor berikutnya). Dia lebih parah lagi, satu baju bisa dipake berkali-kali, dari pagi sampe malem. Jorok to the max.

Baiti jannati, rumahku surgaku. Tempat bertaburnya cinta tanpa syarat dari orang-orang yang akan selalu menerima kita apapun kondisinya. Jadi yah apapun yang buat nyaman di rumah, pakailah..gak akan ada yang berkurang cintanya karena itu. Ya kalo emang nyaman pake kaftan mote-mote ya silakan kakaakk...

Dress like yourself. Lagipula, sebaik-baiknya pakaian istri itu adalah takwa, eeeaaaa *dadah-dadah ke Mamah Dedeh*

*notes menjelang 3rd anniv, buat pak suami yang sangat pengertian istrinya gampang masuk angin sehingga gak pernah request pake dress open shoulder :D 

Apple Cake (Apfelkuchen)

1 komentar
Ternyata nyali gue belum cukup gede buat bikin apple pie, pake resep paling mudah sekalipun. Akhirnya dapetin resep ini dari Nisa, katanya ini cemilannya sehari-hari waktu di asrama selama di Groningen (set dah cemilannya beraatt), nyaris serupa dengan apple pie tapi bikinnya lebih mudah. Boleh juga buat pemanasan bikin pie...


Topping:
3 butir apel malang atau Granny Smith, dipotong tipis2
bubuk kayu manis

Mousse:
2 butir apel malang atau Granny Smith, dikupas lalu diblender/parut
1 sdm gula
air perasan setengah lemon
bubuk kayu manis
(seluruhnya dicampur dan dipanaskan sampai warnanya kecoklatan)

Adonan kulit:
250 gr tepung terigu
125 gr margarin atau butter
4 sdm gula
1/2 sdt baking powder
1-2 kuning telur
sedikit bubuk vanili
sedikit garam

Cara membuat 
Campur bahan2 kering
Tambahkan telur dan margarin
Aduk-aduk santai sampai rata dan crumbly (menyerupai remah), pake mixer juga bisa sih biar rata tapi habis itu diaduk lagi pake tangan biar agak padat 
Simpan 30 menit di kulkas sebelum dibentuk loyang
Setelah 30 menit, ratakan adonan di dasar loyang (bisa juga digilas dulu di permukaan datar, tapi kemarin adonan gue malah lengket di penggilesan, ada yang tau kenapa?) 
Tuang apple mousse hingga merata di atas adonan
Susun potongan apel di atas mousse lalu taburi kayu manis
Panggang di suhu 180 celcius sampai warna adonannya keemasan, sekitar 30-40 menit
Tunggu sekitar setengah jam hingga kue dingin supaya bisa dipotong-potong.

Cocok dimakan sore-sore dengan teh hangat. Kombinasi apel dan kayu manis emang gak pernah salah deh...nyummy!! 

Al,1 bulan

2 komentar
Udah sebulan aja ya, gak kerasa..

Udah bisa ngapain aja anak bayi? yaa what do we expect from nuborn baby selain nangis-pup-pee dan nenen, gitu-gitu aja bisanya.

1 hari - 1 bulan
Baby Ali, got to be honest, nyusunya biasa aja gak kuat-kuat amat sampe berjam-jam sebagaimana biasanya anak laki suka dibilang. Frekuensi sering, tapi gak lama. Atta cuma bangun buat nyusu, itu juga sebentar-sebentar, hal-hal penyebab bangun lainnya popok basah atau pup, udah itu aja.

Selain daripada itu tidak lain tidak bukan ya gangguan kakaknya T__T
Ahh nanti jadinya gue curhat toddler blues, di postingan lain deh.

Kalo baby blues, ehm hampir dipastikan gak ada, boleh lah agak jumawa sedikit gantiin popok sambil merem juga bisa. Mungkin satu-satunya indikator saya emak beranak dua keliatan dari cara gendong anak, udah luwes aja gitu secara two years in a row bok, boleh diadu lah ama cucus yayasan yang gajinya jut-jut
itu ;p

Errr, ya tentunya selain dari body emak-emak yaaa... *kemudian nunduk, kencengin korset*

Ali sering saya cuekin, hiks..ya kalo nangis gitu gak bisa langsung diangkat atau digendong-gendong terus seharian. Kadang pas nangis, pas saya lagi mandiin Arraf, atau lagi nyuci, jadi gak puguh sih, ngeburu-buru yang mandi eh pas nyamperin yang nangis udah berhenti sendiri bosen dicuekin. But both of them always be my priority, wiseman said : don't devide your love, multiply them. 

Sebulan ini, saya kembali bersahabat dengan koyo, kopi dan tolak angin. Penurunan BB emak dari 52kg udah jadi 45kg sekarang, see? household chores gives the blessing ;p *pukpuk sendiri*

Overall, BB nya sekarang 4.2kg, panjang 50cm. Alhamdulillah, sehat terus ya, nak ;*

RSIA Melati Husada, Malang

8 komentar

Kalo browsing pasangan dsog dan RS bersalin di Malang, yakin deh..paling banyak muncul itu nama dr. Nuke dan rumah sakit Melati Husada. Beberapa kali nyoba keyword berbeda, ujung-ujungnya selalu mentok di nama itu-itu lagi trus dari beberapa ibu-ibu yang saya kenal di kota ini, rata-rata pada melahirkan disini..

melati husada, dr.nuke, rs melati husada
Image nya minjem dari sini yaa, gak sempet foto-foto 

Lokasi dan Suasana

Daya tarik rumah sakit Melati Husada selain si ibu dokter kandungan yang oke banget, suasananya yang homy berat dan tarif terjangkau. Lokasinya strategis di tengah kota, cuma beberapa meter dari Mall Olympic Garden dan stadion Gajayana, sebelah barat ada jalan Ijen yang sejuk dan berbunga.

Bangunan rumah sakitnya make bangunan lama jaman Belanda, sebagaimana kebanyakan bangunan di sekitar situ, cuma dimodif di berbagai sisi sesuai kebutuhan. Jadi eksteriornya ala londo berat tapi interiornya njawani banget. Hiasan perabotan kuningan, patung pengantin jawa, cermin berbingkai ukiran, lukisan alam, vas bunga dari kendi yang segede gaban ditaruh di meja bertaplak batik/kain, trus di mejanya ditabur bunga-bungaan asli, gak bakal nemu bunga palsu disini, semuanya fresh flower yang diganti tiap hari. Tambah lagi suka diputer backsound gamelan jawa lembut (kaga usah horooorr...ini cuman musik dari tape, bukan gamelan beneran)

Nakesnya? kaya petugas hotel..serius. Gak pake baju putih-putih, apalagi yang di front desk, mereka make blazer hitam dan kemeja putih. Udah gitu ruangan-ruangannya gak bau-bau karbol ala rumah sakit.

Semasa kontrol, dr Nuke prakteknya di klinik Bunga Melati, klinik afiliasinya si Melati Husada ini, nah kalo ada pasien bersalin, baru ke rumah sakitnya. Untuk menghibur pasien yang nunggu lama, di sini suka disediakan meja coffee break, lumayan lah sambil nunggu bisa ngabisin bergelas-gelas teh atau kopi (hah? selama itu ngantrinya?)

Waktu melahirkan kemarin saya dapet kamar Paviliun Melati, di lt 2. Jadi kalo disini nama-nama kamar pun bernuansa kolonial gitu, misal kamar di sebelah kolam ikan namanya kamar van der pool. Nah, sesuai namanya, kamar saya pun ya letaknya seperti paviliun alias agak terpisah dari bangunan rumah sakitnya, dengan selasar berisi kursi-meja kayu di luar kamar buat yang nengok atau nongkrong-nongkrong ngeliat jalan ke bawah sambil jemur bayi.

Kamarnya ok banget, terdiri dari dua ruangan. Ruangan depan itu ruang tamu, satu kursi panjang, tiga kursi pendek, semua dari jati, ada lemari ukir buat pajangan plus jendela yang pake kaca-kaca apa tuh namanya yang warna-warni kaya mozaik gitu. Ruangan kamar berisi kasur jati lebar dan beberapa bufet, nakas, meja sama cermin hias. Kalo kamar mandi, didesain lebih modern dengan dinding dan lantai keramik kontemporer trus pake kloset duduk dan sistem water heater. Yang klasik cuma cermin rias di depan wastafel aja.

Di sini juga disediain toilettries yang pake dus-dus ala hotel gitu, plus washlap dan sendalnya juga. Fave saya di kamar ini adalah lampunya kereeeen, lampu gantung yang sinarnya kuning gitu, ada lampu tidurnya juga, aku sukaaa. Barang modern lain di kamar ini adalah tv 32 inch, ac, telepon dan kulkas yang berisi beberapa teh botol dan susu ultra.  

Bangunan untuk kamar-kamar perawatan sebenernya bangunan baru, tapi dibuat seperti bangunan lama dengan atribut perabot klasik. Seperti misalnya lukisan bunga sepatu di tembok kamar itu buatan tahun 2007, tapi dibuat klasik jadi kaya lukisan jadul gitu.

rs melati husada, melati husada, dr.nuke

Ingat ya, di sini gak ada lift dong! Jadi, 2 jam habis melahirkan saya langsung ditatar naik tangga. Kebayang kalo yang sc kasian, bisa kuat gak sih langsung naik tangga gitu?

Dari segi suasana dan tempat, Melati Husada juara deh. Konsep boutique hospitalnya dapet banget. Jadi karena itu saya pilih melahirkan di sini? hehe, ya salah satunya pengen coba suasana baru, yang gak 'rumah sakit' banget gitu, nyaman juga buat yang nunggu berhubung udah niat mau boyongan sekeluarga selama di sini.        

Pelayanan Umum

Baik untuk periksa atau bersalin, di sini gak bisa pake sistem booking/daftar. Ya bisa aja sih daftar, tapi urutannya tetep sesuai kedatangan. Kalo melahirkan sc kayanya bisa pesen kamar duluan, tapi kalo normal gak bisa, tergantung pada kamar yang available saat itu aja.

Room service setiap hari, tapi jamnya gak tentu. Awal masuk langsung dapet sekeranjang welcoming fruit (sesisir pisang, anggur, jeruk, beberapa wafer), trus ditawarin free massage! yipee, ini fave gue juga. Jadwal makan 3x sehari (sarapan, maksi, makmal + snack sore) yang menunya enyak-enyaaakk macem soto daging, rawon, soto ayam, perkedel, ayam goreng serundeng, soto paru, aahh pokoknya paling fave deh! Buat yang nunggu juga dapet makan satu kali sehari, menunya sama enaknya, lumayan kaan....

Suster-suster maupun pelayannya cukup ramah dan helpful, suka nyapa juga. Trusnya entah karena saya lahiran pas weekend atau gimana, bagian administrasinya juga somehow gak bikin kita tertekan dengan teror "guarantee letternya sudah dikirim, pak?" atau syarat DP sekian persen pas masuk rumah sakit. Cuma sekali pas masuk ruang partus, diminta isi data dan pilihan kamar, udah itu aja. Senin pagi kita baru hub orang kantor buat kirim guarantee letter, gak lama Surat Keterangan Lahir keluar, copy bill keluar, urusan administrasi beres.

Pulangnya dioleh-olehin satu set bantal-guling bayi berbungkus batik sama susu bumil ;p

Biaya melahirkan keseluruhan standar aja, total sekitar 5.3 juta. Sewa kamar tgl 15-17, dihitung 2 hari x 450rb. Jasa dokter kandungan 1.6, sisanya biaya obat dll. Visit dokter kandungan setiap hari, pasca pulang ke rumah dapet free visit suster juga 3x buat ngecek kadar kuning, puser, kondisi fisik bayi atau ibunya ada masalah menyusui. Seger gak tuh segitu? inilah makanya males lahiran di Bandung, hihi.

Pelayanan Medis

Nah, SOP di Melati Husada ini memang rada membingungkan karena gak ada keberadaan dokter anak baik di ruang partus atau visit ke kamar. Awalnya saya kira karena lahiran subuh hari, kalo DSA kan memang bukan jenis dokter panggilan 24/7 kaya DSOG dan bukan jenis dokter jaga juga kaya dokter umum. Tapi besok-besoknya ditunggu kok gak ada DSA yang dateng, sampe pulang lupa juga gak nanyain padahal ditatar dulu di ruang bayi.

Karena saya mengacu pada pengalaman melahirkan sebelumnya, yang pas pulang dicek ini itu, agak bingung juga pulang-pulang gak punya data berapa nilai bilirubin dan goldar anak. Trus liat billnya juga ga ada jasa buat dokter anak dan lab, cuma ada jasa dokter umum. Ya kalo dokter umum kan memang bisa dipake buat ngetes APGAR pada nuborn, nah harusnya pas mulai IMD dan seterusnya bayi ada di bawah tanggung jawab DSA, bukan?    

Nanya2 ke temen-temen yang lahiran di MH, jawabannya juga beda-beda. Ada yang pake DSA tapi gak dicek goldar sama bilirubinnya, ada yang gak pake dsa, ada juga yang dapet dua-duanya. Pas suster visit ke rumah, baru deh ditanyain.

Ternyata, kata susternya, tes bili dan goldar itu harus dilakukan atas instruksi DSA. Kalo pasien gak dapet DSA, berarti menurut pengamatan DSOG dan tenaga medis di ruang bayi, kondisi klinis bayi dianggap bagus sehingga gak perlu manggil DSA. Misal, anak saya gak kuning, maka gak perlu dicek bili, lagipula peningkatan bilirubin itu baru hari ketiga, hari dimana diperbolehkan pulang jadi kalo dicek pas lahir hasilnya akan beda ketika dicek lagi beberapa hari kemudian. Atau misal, pas lahir itu si bayi ada kelainan atau nenggak ketuban sebelumnya atau lahir sc, baru deh panggil DSA. Konon ini salah satu kebijakan RS juga buat penghematan si pasien, either bayar sendiri atau pasien jaminan. Hmm, kalo kaya gini bisa dipertimbangkan sebagai RUM gak yah?

Ya memang, dede baru keliatan secara fisik 'menguning' itu pas hari ke 5, trus hari ke 7 nya dicek bilirubin 11.45 dengan goldar B. Yakin banget tingginya bili itu gara-gara goldar saya ma dede beda trus nyusunya juga gak seaktif waktu kakaknya nuborn, disuruh fototerapi sih tapi kita bandel aja dirawat di rumah via jemur dan gempur ASI.

Jadi inget dua tahun lalu, bili waktu lahir Arraf itu cuma 5, tiga hari kemudian dicek jadi 8 DSA nya udah nyuruh disinar dengan alasan "dalam tiga hari aja naiknya segini, gimana besok-besok, bu.." ya walaupun disuruh sinar sendiri aja di rumah tapi harusnya gak perlu kaaaann.

Selain itu, untuk sikap pro ASI nya rumah sakit ini menurut saya udah lebih baik daripada pengalaman temen-temen sekitar 1-2th lalu. Well di sini memang belum ada faskes yang berkomitmen 100% kaya di Jakarta atau Bandung yang informasi dan sosialisasinya udah menyebar rata, tapi udah ada ranting AIMI dan banyak ibu-ibu sudah melek asi pun langkah kemajuan banget. Sempet maju-mundur lahiran di sini gara-gara ini, tapi setelah didiskusikan lagi sama ayah akhirnya tetep maju dengan syarat ayah harus pro aktif dan mau cerewet demi anak sendiri.

Alhamdulillah giliran saya dapet kesempatan IMD, dan difasilitasi untuk asi eksklusif pula. Sebenernya kalo kita mau bilang, nakes di sini nurut kok. Tapi dari hasil komunikasi sama suster disitu dan liat arsip dede ditulis gede-gede FULL ASI, insya Alloh yah, Alloh melindungi anak saya..  

So far penilaian saya untuk rumah sakit ini, 9.0 / 10 ;)
 

2nd Delivery..

2 komentar
Ahh, akhirnya...melahirkan lagi ;D 

EDD gue itu, rata-rata berkisar di tanggal 22-29 September, malah waktu kontrol terakhir mundur jadi Oktober. Kayanya wajar aja yaa (wajar apa cuek?) kalo dua minggu sebelumnya gue masih agak santai, baru nyuciin baju, dsb. 

Di minggu-minggu melahirkan, hari minggunya gue baru borong baju bayi lengkap karena selama ini belanjanya sedikit-sedikit. Semua udah gue kumpulin di keranjang buat dicuci besok-besoknya. Seninnya gue masih jalan-jalan nganterin Tatat yang lagi ada kerjaan kantor ke Malang, makan bakso president, nongkrong di Und Cafe sampe malem. Selasa masih berenang bareng Arraf di hotel tempat Tatat nginep, trus jalan-jalan berdua dimana hari itu Arraf banyak pengen digendong. Besok-besoknya dalam sesi kejar tayang, gue nyuci dua lusin perlak trus nyetrika. Nah, pas nyetrika itu sebetulnya sesiangan nyeri perut bawah dan mulai keluar lendir-lendir, tapi yaa normal aja bukan keluar lendir pas hamil tua, masih fase persiapan.

Bahkan pas hari rabu mertua nyampe Malang, gue udah merencanakan sama ayah sabtu ini kita mau ngedate, abis gue senam hamil mau nonton ke bioskop.

Sejujurnya, meskipun ini yang kedua tapi gue masih bego aja ngenalin signs of labor. Pertama, kali ini gue 
grogi karena sering di rumah sendirian dan cuma suami yang bisa gue andelin buat apa-apa. Kedua, ada Arraf yang harus dipikirin. Ketiga, jarak dari rumah ke RS yang jauh jadi mesti mastiin kita gak bolak-balik karena kontraksi palsu, well sama sih jaraknya sama rumah gue di Bandung ke Hermina Pasteur, cuma kan kalo di sana gue udah kenal medan, tinggal telepon taksi, dijemput. Kalo di sini ya gue belum hafal transport paling mudah apa, jadi andelan gue nelepon ayah, tunggu dijemput ayah pake mobil. 

Selain itu juga, waktu Arraf gue full induksi, jadi cuma ngerasain mules alami sedikit habis itu everything 
goes by design dan sudah ditangani sama profesional dari awal. 

Jumat malem (14/9) sambil bikin nugget ayam buat stok makan Arraf, gue bolak balik ke toilet, bener-bener gak bisa nahan pipis sementara itu lendir terus keluar berwarna kecoklatan. Tapii, sekali lagi gue gak yakin itu beneran yang dimaksud flek, soalnya gak bercampur darah merah segar gitu. 

Malem jam 10an, gue ngerasa laper banget tapi males makan berat, jadi minta ayah nemenin makan pisang sama kupasin apel. Habis 3 biji pisang + 1 biji apel sebelum Arraf mulai ngek ngok dari tidurnya. Setelah kebangun itu Arraf susah lagi tidur, nangis-nangis rewel, udah habis dua botol susu masih ga mau tidur juga, maunya digendong ayah terus sampe si ayah sempet sempoyongan karena gendong sambil ngantuk. Saat itu juga gue mulai ngerasa mules, yang cukup intensif. Sempet nyusuin Arraf sebentar lalu kemudian gue lepas karena gak kuat mulesnya. 

Jam 11 pm, mulesnya mulai 15 menit sekali. Gue belum mutusin buat segera ke RS karena masih berharap ini cuma braxton hicks dan akan reda dengan gue hipno dan ganti posisi berbaring. Seriously gue belum siap dan belum kepikiran akan melahirkan saat itu, sempet sih mikir apa sambil beberes aja masuk-masukin baju ke tas tapi seiring mulesnya makin kerasa, makin gak bisa ngapa-ngapain n gak kepikiran apa-apa lagi deh gue. " nak, besok lagi ya, malem ini kita istirahat dulu yuk..kasian ayahnya capek, " itulah sugesti yang terus 
gue bilang sambil usap-usap perut pas mulesnya lagi berhenti. Beneran gue gak tega liat ayah yang tepar 
ngorok di samping Arraf yang baru bisa bobo sekitar jam 1-an. Jadi meskipun saat itu gue nahan mules sampe nungging-nungging kasur, gue gak bangunin ayah..cuma ayah suka kebangun tiap kali gue remes tangannya, trus nanya "ibu mau ke dokter sekarang, gak?" haaah, gue masih belum berani mutusin iya apa enggak sejujurnya ngerasa kayanya belum dan masih sangat sangat berharap mulesnya besok pagi lagi aja. 

Tapi akhirnya gue nyerah dan bangunin ayah buat segera panggil mobil. Gue masuk-masukin hp, dompet, charger, buku periksa ke tas tangan, sementara mak-bapak mertua di kamar sebelah nyiapin tas siaga, apa aja yang dimasukin gue tunjuk-tunjuk sembarang aja sambil mules. Yang paling penting di kepala gue cuma pembalut melahirkan, popok dede, baju dede dan baju gue. 

Sabtu (15/9) jam setengah 3-an mobil dateng, gue udah gak kuat berdiri. Masuk mobil udah gak bisa gerak lagi karena sakit gak tertahankan.  Sedih gak sempet cium pamitan sama Arraf dulu, dan itu juga yang terus kepikiran selama di jalan, pagi-pagi dia pasti nyariin gue..huhuhu. Sambil nahan sakit gue takbir sambil megangin ayah, tarik-tarik rambutnya. Ahh pokoknya saat itu gue udah pasrah, udah dalam tahap pengen ngeden, kalo harus keluar di mobil ya terserah deh. Si sopir sempet nanya "bu masih kuat gak? kalo gak ke Siti Miriam aja (RSB deket kompleks)," ya gue masih sadar punya waktu trus gue jawab "stengah jam bisa, pak"    
   
Nyampe RS jam 3 pas, rasanya udah mau keluar aja, langsung digotong ke ruang partus sambil meringis-ringis, susternya membimbing gue buat narik nafas panjang, somehow dengan banyak narik nafas itu ngebantu banget buat tetep sadarkan diri, langsung cek bukaan dan...udah bukaan 9 aja dong! panteeess, dorongan buat ngedennya itu tak tertahankan. "kok baru dateng, pak?" kata susternya, err..yah kirain gak secepet ini sus. Semua prosedur dengan cepat disiapin, termasuk nguras perut sama cukur rambut pubis. Emang enak ya pas ketuban dipecahin itu, aliran hangatnya bikin rileks dikit ke perut. 

5 menit kemudian, dr Nuke nyampe. Saat itu juga gue mulai dibimbing bidannya buat ngeden kaya mau pup, tau-tau ayah ngebisikin "kepala dedenya udah keluar, bu..ayo dikit lagi sayang.." sekali, dua kali, tiga kali 
ngeden.. 

3.10, tangisan pertama terdengar, dan gue luar biasa lega. Satu kecup dari ayah trus gue mulai jetlag, hah, udah ya? secepet ini? perasaan baru tadi gue mules-mules, sekarang udah gak kerasa apa-apa lagi selain lega. 

Kata dr Nuke robekan di perineum nya sekitar 2cm, tapi tetep gue gak mau tau berapa banyak jahitannya. Pokoknya tau beres lah. Kerasanya sih jahitan sekarang lebih smooth daripada yang pertama dan gak terlalu 
ngilu.

Sebagaimana pengalaman kita dulu, kita langsung minta IMD begitu bayi selesai diobservasi. Dede ditelungkupin di dada gue, memang gerakannya gak seagresif Arraf, dede diem aja tapi lumayan alami dia dapeting putingnya, sedangkan waktu Arraf harus diarahkan. Kita sih gak idealis juga ya, cukup 1 jam aja baru kita serahin lagi ke suster buat dibersihin dll, tentunya pake pesen : asi eksklusif ya, sus..jangan dikasih apa-apa tanpa sepengetahuan saya. Ayah sempet ngikutin ke kamar bayi, syukurlah dede langsung pup, artinya kolostrum udah masuk.

Sementara nunggu dipindah ke kamar rawat gue mulai menggigil, udah habis dua gelas teh manis trus gue pengen pipis. Kata susternya kalo kuat jalan bisa ke kamar mandi tapi kalo pusing dan gak kuat bangun nanti pake portable pispot aja. Gue cobain buat bangun dari ranjang, trus jalan ke kamar mandi eh ternyata kuat-kuat aja meskipun sambil pegangan sama ayah. Sempet takut sih di kamar mandinya keliyengan trus gak bisa duduk di toilet tapi gue coba eh lancar-lancar aja meskipun masih berlumuran darah. Keluar dari kamar mandi gue jalan sendiri balik naik ke ranjang, mertua shock "hah? udah bisa jalan?" hehehe, mungkin anestesinya masih kerja ya soalnya beneran saat itu gue gak gitu ngerasa sakit atau apa. 

Jam setengah 5 an, dapet sms dari bapak mertua yang tinggal di rumah jagain Arraf ngabarin Arraf kebangun gak lama dari kita pergi trus sampe sekarang gak mau tidur, nyariin ibu. Tuh kan, gue mulai mellow, kangen banget sama Arraf. 

Jam 6 gue nyampe kamar yang nyaman, masih menggigil, tapi baik jalan, turun naik ranjang, semuanya lancar-lancar aja sampe mak mertua gue ngilu sendiri. Gak lama kemudian, sarapan dateng, disusul suster nganterin dede bayi udah dimandiin, pake baju, pake bedong. 

Setelah memastikan dede udah rooming in dan gue cukup kuat buat gendong nyusuin, suami dan mertua gue balik ke rumah dulu buat ambil barang-barang yang gak kebawa dan jemput Arraf kemari. Sementara kita cuma berdua, gue coba susuin dede tapi mulutnya tetep mingkem. Dede bener-bener kalem (atau sementara ini masih kalem?), sepanjang pagi itu dia tiduuuur terus, gue mulai ngantuk dan cape pengen ikutan tidur tapi gak bisa tidur, terlalu excited mungkin, dan pengen cepet ketemu Arraf. 

Beberapa jam kemudian, Arraf dateng sama ayahnya, masih pake baju tidur. Langsung gue peluk, cium, nenenin sebentar trus dia liat box bayi, "dede bayi!" katanya, langsung nyamperin, ngeliatin, adenya terus-terusan dipanggil, diajak ngobrol, diketok-ketok boxnya. 

Seharian itu, kita di kamar, menikmati saat-saat pertama kita jadi berempat. Arraf masih cuek kalo adiknya 
nenen, ketawa-ketawa, elus-elus kepalanya, peluk, cium, trus bobo siang bareng. Malem pertama berbagi cinta, bayi gue pindahin ke kasur, sebelah kiri gue sementara Arraf di sebelah kanan, trus ayahnya di pinggir. 

Mungkin karena biasa bobo sambil nenen, Arraf mulai ngerasain perubahan jadi dia lumayan menampakan 
kejelesannya dengan agak sedikit rewel. Tentu yang aman itu adalah menidurkan Arraf dulu, baru ngelonin dede bayi tapi kan masalahnya pas gue nyusuin Arraf, dede nangis, atau sebaliknya. Jadilah gue sama ayah gantian megang. Gue berusaha adil, dede bayi masih banyak tidur dan nenennya sebentar-sebentar, jadi gue masih punya banyak waktu buat Arraf. Yang pasti sih, seringnya ayah yang bertugas ngalihin perhatian pas gue nyusuin dede, dan memang selama di RS Arraf lebih manja banget sama ayahnya.    

Hari kedua, dede gak pup sama sekali, padahal hari pertama itu dia udah 4x pup. Khawatir sih sama asupan 
asinya, soalnya dia banyak banget tidur sampe PD gue sering bengkak, kalo aja gak disusuin ke Arraf. Sampe malemnya dia masih belum pup juga, dan frekuensi pipisnya gak lebih dari 5x. Sempet dimarahin suster dong gue, karena waktu dede dibawa ke ruang bayi tiap mau dibersihin, di pipisnya sempet ada pink spot gitu tanda kurang minum. "Kalo ibu semangat asix, ibu harus pikirin gimana caranya supaya adek mau bangun buat nyusu", yaelaaahh...tiap kali bayi nyampe kamar juga langsung gue buka-buka bedongnya, nyalain ac, dsb (meskipun mengundang omelan dari mertua) ya tapi gimanaa, tiap kali nyusu gak lama merem lagiii.    

Dua hari kemudian pulang ke rumah, pas lagi di kamar, Arraf mendadak cerewet banget ngajak ngobrol ini itu, duh..ini pasti dia pengen diperhatiin makanya lebih banyak ngomong dan bertingkah ini itu. Gue mulai mellow sampe hari-hari selanjutnya. Duh, bantu kami menjadi orangtua yang adil, ya Allah.            
      
Emang bener sih kata orang-orang, anak kedua itu biasanya semua serba lebih cepet. Ya edd nya suka lebih cepet, ya prosesnya juga lebih mudah. Totally right. 
Tidak ada komentar

Attallah Ali Akbar 
Sabtu 15 September 2012. 03.10am 
2800 gr - 48 cm 
RSIA Melati Husada, Malang

Lets swim!

Tidak ada komentar
Bumil 9m vs Toddler 21m

Pregnancy Shots

2 komentar

Yes, intetionally. Ada perbedaan ? ^__^

My Breast(feeding) Journey

3 komentar

Ada dua tantangan menyusui yang saya boldmark dalam perjalanan menyusui saya selama hampir 2 tahun ini. 

Tantangan yang pertama datang di saat si kakak usia 9 bulan, di mana stok asip tidak lagi melimpah ruah. Kami terpaksa mendadak harus terpisah, kakak dititipkan keluarga di Bandung sementara saya bekerja di Jakarta. Otomatis, saya - kakak - suami, berada di tiga kota yang berbeda, berjuang dengan caranya masing-masing. 

Bekal pertama kakak cuma ada 16 botol asip, untuk ditinggal selama 3 x 24 jam sebelum saya pulang lagi ke Bandung membawa hasil perahan di Jakarta. Secara perhitungan kasar jumlah ini tidak mencukupi, apalagi ini kali pertama saya berpisah sama kakak, pasti sama-sama berat, bisa jadi dia membutuhkan lebih banyak asip untuk mengobati kangennya sama saya. Tiga hari kemudian pulang kerja saya langsung naik bis ke Bandung, membawa cooler bag besar isi puluhan botol asip. Hati saya berdebar karena malam ini saya bisa melihat wajah lucunya sambil menyusu langsung, sepanjang perjalanan saya berdoa semoga kakak tidak mengalami bingung puting, hal yang paling saya takutkan selama long distance ini. Ada kepuasan besar ketika memindahkan botol-botol asip ke dalam freezer, bangga sama kerasnya usaha saya mengumpulkan sejumlah cairan emas untuk bekal kakak. Yang lebih bahagia lagi, ketika kakak menyambut saya dengan senyuman dan pelukan hangat dilanjut dengan tatapan kangen saat menyusu. Subuh menjelang, saya harus ikhlas melepas pelukan kakak di lengan saya, kembali menjalankan rutinitas ke Jakarta, untuk kemudian pulang lagi saat weekend, membawa rizki yang tak pernah henti-hentinya saya syukuri. 

Begitulah rutinitas seterusnya setiap minggu, Senin subuh berangkat, Rabu malam pulang, Kamis subuh berangkat lagi kemudian Jumat malam pulang, bawa-bawa coolerbag. Sudah cukup sering disangka tukang susu murni di kopaja, tak jarang juga asip mencair begitu sampai rumah karena perjalanan yang terlalu lama saat long weekend, dan hasil yang tidak konsisten sudah jadi langganan, akibat load pekerjaan atau efek pikiran, hormonal, lelah dsb. 

Tak terasa kakak sudah setahun, yang artinya sudah empat bulan saya dan kakak melewati proses ini. Tidak selalu lancar, karena ada kalanya saya di sms orang rumah mengabari kalo stok asip tinggal 2 botol untuk semalam mengakibatkan saya harus pulang hari itu juga bawa asip seadanya dan menyusui langsung malamnya. Kakak juga masih menolak UHT, jadi saya masih belum bisa menghela nafas karena pasca setahun ini produksi mulai menurun, padahal frekuensi perah sudah ditambah. 

Alasannya terjawab sebulan setelah saya resign dari pekerjaan, saya positif hamil 9 minggu. Inilah kenapa sejak kakak umur setahun, hasil produksi asip menurun drastis dan menyusui rasanya bikin mual dan sakit.   

Tantangan menyusui kedua dimulai sejak terus-terusan sama saya, kakak jadi bingung botol, tidak mau asip, tidak mau campur UHT, maunya menyusu langsung sama saya. Satu sisi bahagia, karena saya bisa terus bersama kakak tanpa batas jarak dan waktu, menyusui sepuasnya dan menyaksikan pertumbuhannya dari hari ke hari. Sisi lain, saya sedikit merasa kecewa, kenapa saat saya bisa full time untuk kakak, sudah keburu hadir adiknya di dalam perut. 

Tapi takdir itu pasti sudah di-desain sedemikian rupa untuk bisa dijalani, bukan? maka, pastilah ada jalannya. 

Ketemu tulisan mak Kirana yang ini, duh..saya bangeett! Alih-alih mensupport untuk makan lebih sehat karena ada tiga badan yang ditanggung, keluarga besar sibuk menyuruh saya berhenti menyusui kakak, alasannya ASI sudah jelek, basi, bikin anak bodoh, manja dan cacingan. Setiap kali kakak 'ketahuan' menyusu, selalu disuruh berhenti, dikata-katain " Udah dong nen nya, kasian nanti habis buat dede bayi. " Lama-lama saya capek juga dengernya, kok jadi kakak yang harus dikorbankan sih, kan kakak masih dalam masa menyusui, ASI masih jadi haknya setidaknya sampai 2 tahun. Saking jengahnya saya jadi sembunyi-sembunyi kalo menyusui kakak di depan keluarga, gak tega membiarkan kuping kakak dengar sugesti-sugesti seperti itu. Suatu saat saya ditanyai ibu, " Sudah mau punya adik, si kakak kurus dong sekarang? " katanya hal itu lumrah terjadi karena biasanya mamanya sibuk ngurus diri sendiri dan bayi baru, jadi kakaknya terabaikan. Duh, ini bayinya aja belum keluar kok kakak udah dituduh kurus aja siiihhh...?? 

Cobaan terus berdatangan seiring kakak mulai berlari, belajar bicara dan semakin besar rasa ingin tahunya, otomatis dia gak segendut waktu bayi. Pertumbuhan BB kakak stagnan, kalau lagi sakit langsung kelihatan kurus, pas lagi banyak makan gendut lagi, sayangnya orang lebih suka lihat kekurangan orang lain ya, jadi yang disorot hanya pas kakak kurus saja, dibilang kasihan gak keurus emaknya yang lagi hamil dan semakin menguatkan opini kalau ASI selagi hamil itu sudah gak ada gizinya. Terlebih lagi, pada trimester pertama nyeri payudara sangat membuat gak nyaman ketika disusui, perubahan hormonal juga bikin saya sering marah-marah karena lelah atau banyak pikiran. Segunung rasa cemas dan bersalah menghantui hari-hari saya, tiap malam menyusui sambil berurai air mata, akankah saya sanggup memberi hak keduanya? 

Tiga Obgyn yang saya tanyai sambil kontrol kehamilan membolehkan saya tetap menyusui tapi dengan sejuta syarat : tidak pernah mengalami keguguran sebelumnya dan pastikan tidak ada keluhan kontraksi atau flek. Puncaknya saya disarankan untuk berhenti sampai usia kehamilan 5 bulan, meskipun gak ada indikasi apa-apa. Itu artinya si kakak masih 17 bulan dan saya amat belum siap untuk menyapih. Tadinya saya berharap kakak mau self-weaning, tapi walaupun frekuensi menyusunya sedikit berkurang, dia cuek saja dengan perubahan rasa dan kuantitas asi saya. Hingga saat hamil 7 bulan, asi saya berubah jadi kolostrum lagi, kakak kembali menyusu dengan lahap, rasanya ingin tertawa bahagia tapi sambil meringis ngilu. 

Suatu malam di usia kehamilan 8 bulan, kakak susah tidur, inginnya menyusu terus sampai saya kelelahan dan mulai merasa perih di puting. Saya bilang sama kakak, " Udah dong kakaknya bobo, ibu capek..", seketika itu juga kakak melepaskan hisapannya, diam, hanya menempel-nempelkan payudara ke pipinya sambil bilang " Kasian...dede bayi.." Ohh, tidaaakk! I'm melting. Bukan maksud saya menghentikan kenyamanan kakak, duh..rasa bersalahnya berkali lipat. Ini pasti secara nggak sadar dia mendengar sugesti orang-orang waktu itu tiap kali dia menyusu. Saya dekap kakak, menawarkan kembali kenyamanan yang mungkin masih dia butuhkan saat ini. Sadar bahwa ini saat-saat terakhir kakak memiliki saya seorang diri, saya bertekad terus menyusui kakak sampai waktunya dia menyapih dirinya, kalo perlu tandem saat adiknya lahir nanti, lanjut deh.. 

Semua artikel dan forum mana saja yang membahas nursing while pregnant atau breastfeeding during pregnancy hingga tandem nursing saya pelajari betul-betul, memastikan bahwa langkah saya untuk terus menyusui kakak itu aman, baik bagi kakak, adik, maupun diri saya sendiri. Jangan sampai ada kasus kecolongan karena kurangnya pengetahuan saya. 
     
Kedua kutipan dari Babycenter dan Kellymom ini jadi pegangan saya selama ini; 

" Some moms are concerned that nipple stimulation during breastfeeding will lead to premature labor. Nipple stimulation does trigger your body's production of the hormone oxytocin, which helps with milk letdown and also plays a role in the contractions you have during labor. Fortunately, the amount of oxytocin released isn't enough to stimulate labor under normal circumstances. "

- Jan Barger, Lactation Consultant

When the subject of breastfeeding during pregnancy comes up, it is often said that the mother’s body gives first to the fetus, then to the nursling, and then to her own reserves. This may unintentionally be a bit misleading. First, we do not know how nutrients are partitioned between placenta and human milk production during times of nutritional stress. And secondly, you could take this to mean that your body will provide for your children to your own detriment. There is no reason to believe this is true for well-nourished mothers.

– Hilary Flower in Adventures in Tandem Nursing, p. 249

So, kunci dari semua jawaban atas tantangan ini adalah : Percaya diri, bahwa tubuh sudah punya mekanisme sendiri untuk mendistribusikan gizi sesuai yang dibutuhkan dan memproduksi cukup asi untuk newborn maupun batita yang sedang mengalami pertumbuhan. Yakinlah Allah sudah mengatur semuanya, tidak mungkin ada yang dirugikan atas kehendakNya. Selain itu, menyusuilah dengan keras kepala dan pengetahuan yang memadai. Yes, breastfeeding is worth fighting for. Enjoy and have no worries :)

35w3d

1 komentar
Maju-mundurlah umur si utun di dalem sini, kadang kepalanya kegedean, tapi badannya gak segede umur kepala. Padahal terakhir kontrol 3 mingguan lalu udah 33w, sekarang harusnya 36w malah masih 35w.

Masuk 9 bulan ini udah campur aduk deh rasanya, capek ngerjain semua sendirian, lelah karena gak bisa tidur enak, mau kesana-kemari berat, kadang kenceng-kenceng gak karuan, kelamaan duduk pegel tulang bokong, kelamaan berdiri kaki lemes, belum khawatir pra persalinan, ngerasa belum siap ini itu, cucian belum beres, rumah masih berantakan, dsb...aack, semoga tidak dilanjut dengan babyblues/toddlerblues.

Statistik dede utun bulan ini :
AC  31.5 cm
FL  65.9 mm
BPD 89.9 mm
EFW 2774 gr
AVE 35w3d

Due date? 5 oktober, mwahahaha mundur jauh lagiii...tapi enggak sih, yang biasanya jadi pegangan kan kalo gak EDD pas awal kehamilan, pas janin masih di bawah 20 minggu di mana ukurannya masih akurat belum banyak atribut lain-lain, dan itu...kata dokternya, sekitar akhir bulan (biasanya juga hasil USG gak pernah jauh-jauh dari tanggal segitu)

Keluhan lain adalah, batpil gue gak sembuh-sembuuuhh...dari bulan ke bulan adaaa aja urusan batuk-pilek-sesek ini mewarnai buku kesehatan. Malah sempet inhalasi minggu kemarin saking dahaknya gak keluar-keluar trus menghambat jalan nafas. Setelah dinebulizer, seseknya ilang, dahaknya keluar terus tapi udah keburu cape batuk-batuk mulu, sakit ke perut dan punggung :(

Ini beneran deh hamil kali ini santai abis, baju bayi sehari-hari belum beli dong *tepok jidat*, malah diduluin
ngumpulin perlengkapan sama jumper-jumper pergi, pikiran kalo daily wear mah gampang lah bisa beli cepet di mana aja, nitip juga bisa. Trus gak tau ya, gak terlalu kalap-obsesif gimana gitu sama barang-barang bayi, mungkin karena udah tau prioritas ya jadi liat ini ah ga bakal kepake, liat itu ah belum butuh dsb...

Clodi, perlak, alas ompol, kain bedong, popok, daster ibu, pembalut, Insya Allah semua udah cukup. Tapi semuanya, berikut baju, juga belum ada yang dicuci hihi otomatis tas siaga juga belum siap *trus mau dicuci kapan, reeell..?? getok nih!*

Sebenernya pengen nungguin rumah beres dulu direnov baru beberes total, ih lama ya..habisnya kita gak make tukang tiap hari melainkan pake tukang yang kerja di pabrik ayah, jadi ngikutin jadwal dia gak lembur baru bisa deh ngerjain rumah kita. Kenapa gak make tukang harian, soalnya kan sehari-hari di rumah cuma ada saya ma Arraf doang, risih kalo ada tukang (orang lain) di rumah...belum lagi males masaknya *eta mah alesan*. Klo sama tukang yang biasa kerja di pabrik kan udah kenal, rumah juga ga perlu ditungguin, tinggal kasih uang makan aja trus tinggal seharian juga aman. Minimal kalo ada apa-apa kita tau harus kemana carinya. Yah risikonya sih, renovasi ini biarpun kecil-kecilan tapi beresnya lama. Sekarang tinggal bongkar tembok, ngecat sama masang-masang wastafel dan saluran air aja sih..sebenernya 2-3hari juga beres, cuma kalo sabtu-minggu mereka lembur kan bayarannya gede, pasti milih di pabrik lah daripada di rumah kita, hadooohh...gemeess.    

Permasalahan lain juga ini kita masih single fighter, belum ada bala bantuan dari mana-mana. Mak mertua sudah dipastikan akan diangkut ke Jakarta sama adik ipar yang udah mau masuk kerja lagi, pembantu nyari sana-sini gak berjodoh juga, ada yang udah keburu diambil orang atau menolak digaji harian. Pusing nih nyari siapa yang bisa dititipin Arraf selama saya lahiran *pasang koyo kiri-kanan*. Maka dari itu, anakku... keluarlah jika sudah waktunya tiba dan segala sesuatunya sudah siap ya, i trust you, dear son... :*