Silvermoon, My Romantic Journey (1)

Novel Korea Silvermoon My Romantic Journey
Part 1: BROKEN HEART

Jarum jam masih berdetak jelas dalam keheningan, diselingi isak tangis yang sayup-sayup terdengar. Miranda memeluk Teddy Bear besar yang sudah basah kuyup oleh air matanya. Patah hati memang bukan baru pertama kali dia rasakan, tetapi kali ini rasanya begitu menyayat hati, apalagi ditolak gebetan sedari SMA.

Beni, si pembalap mobil yang sudah lama disukainya, menolaknya bahkan lebih dari mentah-mentah. Hanya sepucuk surat yang datang menemui Beni, tetapi caci makinya terasa menusuk ke relung hati paling dalam. Belum lagi hinaan tentang bodi Miranda yang oversize juga dilontarkan teman-teman Beni di restoran.

Miranda Saquila sudah sering kali patah hati karena ditolak gebetan dengan alasan bodinya yang hampir masuk kategori obesitas tingkat dua. Dia sudah mencoba diet ini itu. Sempat satu bulan tak makan nasi, tetapi dia justru masuk perawatan intensif karena mengalami hipoglikemia. Pernah juga mencoba ikut zumba, tetapi lagi-lagi gagal karena sendi lututnya cedera.

Akan tetapi, kali ini rasanya begitu patah hatinya. Berkeping-keping tak berbentuk lagi. Beni adalah temannya sejak SMA. Wajahnya tampan dan disukai banyak perempuan. Hatinya baik dan tidak pilih-pilih teman, termasuk Miranda, si gadis bergelambir. Dia satu-satunya makhluk dalam kelompok lelaki yang mau berteman dengannya. Sejak SMA, hanya Beni yang mau menemani Miranda. Teman yang lain justru merasa enggan dengan berbagai alasan.

Beni selalu mendukung setiap Miranda melakukan diet. Tampak berteman dengan ikhlas. Hal ini membuat Miranda mendapat serangan virus merah muda. Beni bahkan tak tergantikan di hatinya sampai kini mereka sudah beranjak dewasa.

Sayang, ketenaran Beni kini sebagai seorang pembalap dan dunianya yang dikelilingi perempuan cantik bertubuh ideal membuatnya berubah, terutama kepada Miranda. Setiap ada reuni sekolah, Beni selalu berganti pasangan.

Hari ini, dibawanya perempuan cantik berambut panjang bernama Dea. Lalu, sebulan lagi berganti dengan Alya. Satu bulan lagi berganti lagi dengan perempuan lebih cantik bernama Bella. Tak pernah lagi Beni menyapa Miranda. Tampak malu jika Miranda mengajaknya berbincang. Tak seperti ketika masih sekolah, kapan saja bisa berbincang, bahkan tertawa bersama. Memori itu membuat Miranda sedih. Belum lagi kamarnya dihiasi foto Beni dan dirinya saat masih sekolah dulu.

“Sudahlah, Mir. Laki-laki kayak Beni banyak di luar sana, berserakan,” ucap sahabat paling setianya, Pevita.

Sedari dulu, Pevita memang tak suka kepada Beni yang terlihat sekali memanfaatkan Miranda yang juara kelas. Segala tugasnya diberikan kepada Miranda dan dengan senang hati Miranda mengerjakannya. Entah karena dia terlalu baik entah memang sedang diperbudak cinta alias bucin.

Pevita masih menunggu sampai bosan karena tak tega melihat sahabatnya patah hati sampai seberat ini. Sudah hampir empat jam Miranda menangis. Napasnya bahkan sampai sesak dan terdengar dangkal.

“Lagian, sudah tahu dari awal dia enggak pernah menganggapmu ada, masih saja berani kirim surat cinta. Ini zaman modern. Masa iya masih tulis surat. Akhirnya, jadi bahan lelucon teman-temannya yang menyebalkan.” Pevita marah besar mengingat lagi perlakuan teman-teman Beni kepada sahabatnya.

“Tapi, dia dulu enggak begitu, Ta. Dia benar-benar baik. Kamu lihat sendiri, kan? Dulu, dia selalu membelaku. Bahkan, saat si geng cantik itu menghina dan mempermalukanku.” Miranda terisak-isak lagi.

Foto Miranda dan Beni ketika SMA masih terpampang besar di sudut kamar. Wajah Beni yang lugu dengan kacamata tebal dan gigi berbehel masih dipandangnya. Rasa kehilangan sosok itu membuat Miranda makin tersayat. Perih, seperti luka ditabur garam lalu ditetesi cuka, perih sekali. Entah sudah berapa kotak tisu yang habis dan sampah berserakan di kamar berukuran 4 x 5 meter itu, membuat Pevita bingung harus bagaimana lagi untuk bisa membuat sahabatnya melupakan patah hatinya.

“Enggak nyangka, ternyata teman-temannya menghinaku sampai segitunya. Itu yang membuatku sakit sejadi-jadinya. Malu juga rasanya di hadapan semua orang yang datang ke resto tadi sore, dikatainya aku atlet sumo, dikatai juga lebih mirip gorila. Sejahat itu, Ta.”

“Memang si Beni itu seganteng apa, sih? Gigi dua nongol ke depan mirip kelinci. Dulu, dia makhluk paling culun seantero SMA. Cuma nasibnya beruntung jadi pembalap. Sudah kubilang, laki-laki kayak Beni berserakan di mana-mana. Jangan sedih cuma karena laki-laki enggak tahu diuntung itu. Kalau bukan karena pertolonganmu, mana bisa dia lulus Ujian Nasional!” Pevita mulai berapi-api. Marah dengan kejadian tadi sore yang memang memalukan dan pantas membuat Miranda menangis sejadi-jadinya.

“Terus, aku harus bagaimana? Diet lagi?”

Novel Silvermoon

Pevita punya sejuta ide untuk sahabatnya. Dulu, ketika pernah ditolak dan patah hati oleh kakak kelasnya, Pevita mengubah Miranda jadi cerdas. Disuruhnya dia ikut les privat mata pelajaran di salah satu aplikasi daring dan akhirnya bisa mengalahkan kakak kelasnya di kompetisi siswa berprestasi, bahkan hingga tingkat provinsi dan membuat malu sejadi-jadinya orang yang meremehkannya.

Pevita berpikir keras. Entah apa kini idenya. Namun, pembalasan ini harus lebih menyakitkan daripada sekadar memalukan si Beni. Malah, kalau bisa, membuat dia juga teman-teman kurang ajarnya itu meminta maaf bersimpuh di kaki Miranda. Tersirat ide konyol dalam pikiran Pevita. Enggak, enggak, itu akan menyiksanya, gumamnya dalam hati. Dia menggeleng, lalu berpikir lagi lama. Miranda menatapnya sambil sesenggukan. Berharap ide sahabatnya kini manjur seperti ide-ide yang dulu.

“Kamu harus berubah secantik artis Korea, Shin Min-ah. Kamu tahu dia, kan? Dia punya body goals. Wajahnya sebelas dua belas sama kamu. Cuma bedanya dia sekurus bihun dan kamu sebesar mangkuknya.” Pevita terkekeh lalu melanjutkan lagi idenya. “Kamu harus bisa berubah, change, change.” Pevita memberi semangat.

“Ogah, ah, diet yang bagaimana lagi buat kayak Shin Min-ah? Dia makan saja mungkin cuma sepersepuluh dari porsiku. Mana bisa aku menjauhi bakso dan lemak-lemak nikmat itu? Kemarin saja pakai produk yang kata kamu brand internasional itu, enggak ada efek apa pun sama tubuhku.”

“Ya ampun, ya iyalah. Kamu pakai brand mahal, tapi enggak olahraga, ya, sampai kapan pun enggak akan mempan sama tubuh kamu yang bergelambir itu. Kamu mau terus-terusan diejek sama si Beni dan komplotannya?” Kini, Pevita mulai serius menekankan kepada sahabatnya tentang idenya.

Miranda tampak berpikir. Dia berharap ide Pevita bisa lancar jaya seperti biasanya.

“Oke, aku mau berubah, bahkan kalau bisa sampai mirip kayak Shin Min-ah. Tapi, enggak ada cerita pakai olahraga menyiksa, apalagi harus diet ketat. Bisa enggak, tuh?” jawab Miranda terkekeh ke arah sahabatnya.

Pevita menepuk jidat. Bingung harus berkata apa lagi. Sahabatnya ini dia sayangi, tetapi kelakuan bebalnya sendiri juga yang membuatnya jadi bahan olok-olok orang lain. Empat jam tadi dia menangis patah hati, merengek menyesali tubuhnya yang kelewat batas. Namun, dia juga yang kini ogah-ogahan disuruh membuat perubahan.

Ada saja alasan konyol Miranda untuk menolak mengubah pola hidupnya jadi lebih baik. Membuat Pevita pusing sendiri. Kalau saja Miranda ini kentang, mungkin Pevita sudah menelan sahabatnya ini bulat-bulat.

Miranda nyengir. Tangisnya mulai reda walau masih agak terasa nyelekit di hatinya. Dipandangnya Pevita yang masih kesal dengan otak bebalnya.

“Iya, deh, aku diet, tapi porsi makanku ditakarnya jangan keterlaluan, ya.”

“Kamu mau balas si Beni enggak, sih?” Pevita serius menatap sahabatnya.

Miranda mengangguk. Kini, dia harus ikut saran sahabatnya itu. Beberapa kali idenya selalu jitu membalas orang-orang yang pernah meremehkannya karena bodinya itu. Kini, walau harus menahan lagi selera makannya, dia berharap ada keajaiban mengubahnya jadi secantik dan sekurus Shin Min-ah, tetapi tanpa menyiksa selera makannya yang tak pernah bisa diubah.

Pevita kini duduk di sebelah Miranda lalu menatapnya. Cantik sebenarnya. Hanya, Miranda tak bisa menerapkan pola hidup sehat untuk mengubah pola makannya yang keterlaluan. Bayangkan, pagi makan nasi dengan bakwan atau semangkuk mi ditambah lagi dua piring nasi. Belum lagi orang tuanya juragan daging. Bisa tiap hari Miranda membuat yakiniku ala-alanya sendiri. Sekali makan bisa habis sekilo daging sendiri. Dia sudah lama menumpuk lemak jenuh di tubuhnya. Kini, dia harus berubah kalau mau membalas cemoohan yang selalu datang kepadanya.

Harusnya, ini saatnya Miranda menampar mulut-mulut pedas itu dengan kesuksesan perubahannya. Walau tetap saja dia berharap ada program diet atau apa pun produk yang bisa mengubahnya jadi secantik Shin Min-ah tanpa menyiksanya harus olahraga dan menahan porsi makan.

(Bersambung)

-------------------------------------
Next Post Previous Post
3 Comments
  • Seftinaqurnia
    Seftinaqurnia 6 November 2021 19.49

    Pengen tau nih apakah miranda akan berubah seperti yang fiucapkan pevita

  • miasitiaminah
    miasitiaminah 8 November 2021 22.23

    Komedi romantis, asik bacanya.

  • Nurhabibah
    Nurhabibah 9 November 2021 09.12

    Apa yang harus dilakukan Miranda???

Add Comment
comment url