Catatan Tentang Review Tempat Makan

Akhir pekan lalu saya ikutan Round Table-nya Feastin, media yang membahas food, people, and culture. Round Table ini semacam diskusi atau ngobrol bareng gitu yaaa, dan kali ini sudah volume ke-5 dengan mengusung tema “Jangan Arogan! Catatan untuk Pelanggan dan Restoran”.


Apa sih yang dibahas dari diskusi meja bundar yang dilakukan via Zoom selama satu jam ini. Arogansi apa yang dimaksud dari restoran dan pelanggan. Well, kita tahu kan ya saat ini sudah banyak sekali foodies, food vlogger, food reviewer, food blogger, and so forth seiring meningkatnya trend makan di luar dan mengulasnya di sosial media.

Ada yang memang ngerti, ada yang penting review jujur meski awam, ada juga yang ala kadarnya…tinggal bilang “enak banget”. Ada juga yang senang mempertontonkan sesi makan kepada khalayak ramai.

Nah, sebaliknya, pihak resto juga jaman sekarang lebih ‘turun gunung’ istilahnya, untuk menyapa para pelanggan di media sosial dan membuka komunikasi lebih dekat lagi.

Nah, di Round Table ini hadir narasumber yang akan ngobrol bareng yaitu Patrese Vito (executive chef dari Botanica), Lidia Tanod (moderator Jalan Sutra), dan Prawnche Ngaditowo (foodies @foodadventurer). Tentu saja dipandu sama writer-chef, Kevindra Soemantri dari Feastin.id

Arogansi yang Terjadi di Tempat Makan

Sesi pertama dimulai sama mbak Lidia yang bilang hal yang penting untuk dipahami bahwa jangan sampai kita mereview suatu tempat makan untuk menjatuhkan usaha orang.

Jargon klasik yang sering kita dengar “kalau anda senang beritahu teman, kalau anda tidak senang beritahu kami” itu bukan sekadar basa-basi, tapi merupakan prinsip dasar bagaimana pelanggan dan pemilik usaha saling menjaga etika masing-masing dengan rendah hati.

Yes, lawan dari arogansi adalah rendah hati.

Ketika kita punya sesuatu untuk disampaikan ke restoran, sampaikan apa yang kita rasakan apa adanya, tidak perlu didramatisir. Sebaliknya, pemilik tempat makan juga berkewajiban memberi servis menyenangkan sehingga apa pun feedback dari pelanggan, hendaknya disikapi dengan rendah hati.

Ada aja memang, pemilik atau chef yang merasa sudah pengalaman, tapi balik lagi ke apa esensinya yg mau kita sampaikan di sosmed?

Nah kalau dari sisi restoran, memangnya sejauh apa sih resto menggangap tamu itu arogan?

Chef Vito menjawab dengan sangat elegan, di mana dia menyampaikan bahwa tiap orang pasti ingin mendapat servis yang baik, hanya saja penyampaiannya berbeda-beda. Ada yang memang menyampaikannya kurang nice, ada yang sungkan, ada juga yang blak-blakan.

Resto sendiri nggak bisa berbuat banyak dengan keluhan pelanggan yang bilang too salty, kurang garam, atau kemanisan.. karena hal-hal seperti ini bersifat subjektif, sehingga sulit mau diapa-apain. Tapi kalau yang dikomentari itu hal-hal teknikal seperti gosong, overcooked, nah itu baru bisa diusahakan.

Bagi Chef Vito, kalau ada yang ngomong nggak enak, ya disabarin aja...direspon dengan baik dengan tujuan we change the way they think about us. Mereka juga biasanya akan offer some help dengan baik-baik juga, misalkan ditawarkan hidangan lain atau tambahan.

Sedangkan dalam pandangan Prawnche yang notabene punya power untuk nulis tentang kesan sebuah resto, bahwa pengalaman buruk seseorang belum tentu dialami oleh orang lain. Bisa jadi juga saat itu adalah ‘hari apes’nya si resto sehingga bisa melakukan kesalahan tersebut, yang ‘apesnya’ juga dialami oleh kita. Tapi di hari lain bisa saja resto tersebut excellent pada pelanggannya sehingga orang lain nggak ngalamin apa yang kita alamin.

Bagaimanapun juga, kita harus jadi orang baik sehingga orang lain bersedia mendengar/membaca apa yang kita sampaikan. Memang nggak enak kan, kalau baca tulisan yang isinya marah-marah mulu, berasa ikut diomelin :))  

Fenomena Jepret-Makan-Posting

Selanjutnya Chef Kevin menyoroti fenomena maraknya orang-orang yang ‘mungkin saja’ baru pertama kali makan di restoran, dan nggak ngerti cara kerja restoran day to day. Sehingga, saat melakukan komplain, isinya nggak esensial gitu tapi ngegas dulu aja. Begitu juga saat memberikan ulasan di sosial media, isinya adalah kritikan tentang operasional yang barangkali sebenarnya udah jadi common practice tapi ybs baru tahu jadi bikin kurang nyaman.

Actually, di bagian ini saya nggak bisa bayangin sih due to saya juga keitung jarang lah makan di resto fine dining. Bawa anak-anak gitu lho nggak enak kalau mereka mericuh di tempat kalem.

Vito menceritakan pengalaman lucunya terkait fenomena orang sekarang yang suka show off dengan ngomongin makanan, komen apa tapi sebenarnya salah… Jadi suatu saat ada yang komplain tentang panacotta, kata si pelanggan (sambil nada tinggi) “ini masaknya gimana? kok panacotta-nya masih berasa tepungnya?!”

Tentu saja panacotta nggak pakai tepung, tapi sebagai orang yang lebih pengalaman dan ngerti, Vito menyikapi hal-hal seperti ini dengan santai. Nggak take too personal. Iya-iyain aja. Mungkin ada orang-orang yang melakukan itu dalam rangka to impress someone, ingin kelihatan oke di depan temen-temennya, atau pasangannya.

Ada baiknya juga untuk menyaring, apa komplenan ini hanya dari satu orang atau banyak orang, major apa enggak. Kalau kasusnya seperti panacotta tadi, mending tawarkan hidangan lain aja tanpa perlu menjawab kalau panacotta memang sebenarnya nggak pakai tepung.

Luar biasa emang ya bekerja di dunia hospitality ini kudu banyak sabarnya. Tertawa dalam hati aja. Kalau dibalas dengan panas, alamat bisnis kita sendiri yang akan terpuruk.

Kalau menurut Chef Vito, ada banyak aspek dalam bisnis kuliner seperti service, how they talk to customers, how they put personal touch to the service agar berkesan buat tamu. Di dalam dapur sendiri banyak yang harus dipikirkan mulai dari ingredients, pemilihan supplier yang kadang nggak konsisten juga bahannya. Sehingga terkadang resto nggak bisa jual popular menunya karena nggak dapat bahan yang bagus. Padahal itu kan menu speciality, tapi kalau disajikan apa adanya dengan bahan seadanya tetap saja bisa invite komen jelek dari pelanggan.

Beberapa business owner mungkin aja tetap menyajikan menu seadanya, pakai bahan yang nggak bagus asal ada, dan mungkin pelanggannya nggak ngerti juga.

Attitude Pelanggan vs Resto

Lazim ya kita lihat ada pelanggan yang marah-marah karena tidak puas, baik dari sisi penyajian, pelayanan, atau entah apa saja yang bisa jadi masalah.

Sebetulnya resto sudah siap dengan hal-hal seperti ini sebagai konsekuensi dunia hospitality. Hanya saja cara penyampaiannya berbeda. Ada yang sambil marah-marah, ngomong jelek, ada juga yang talk nicely.

Sebagai perwakilan dari resto, Chef Vito biasanya menanggapinya dengan penyesuaian. Ketika pelanggan marah-marah, kita turunin tone supaya mereka ikut tone down juga. Tentu saja menanggapi keluhan pelanggan ini harus memakai hati yang lapang dan pikiran terbuka, karena latar belakang pelanggan berbeda-beda.

Prawnche juga setuju, bahwa edukasi dan training karyawan itu penting, untuk memberikan pengetahuan etiket di dunia hospitality. Meminta maaf dengan tulus misal ketika tidak bisa menyajikan menu spesial, atau ada kekurangan, tidak menjadikan semerta-merta resto itu bersalah. Hanya aja pelanggan menginginkan permintaan maaf dan lebih appreciate resto yang bersedia humbly apologize.

Chef Kevin pernah ketemu pelanggan anak-anak muda yang sikapnya bikin dia ingin bilang "kalo kalian nggak tahu apa-apa, jangan komen deh”. Tapi tentu saja dia nggak boleh bilang begini.

Menurut Kevin, harus dimunculkan lagi gaya chef datang ke meja, berinteraksi dengan tamu sebagai orang yang paling tahu produknya.

Pertanyaan saya secara pribadi sebetulnya standar aja sih sebagai blogger yang kadang ingin mereview makanan atau tempat makan. Bagaimana membuat tulisan kita objektif sementara kita punya subjektivitas semisal selera, taste preference, dll.

Mbak Lidia memberi masukan agar kita fokus cerita soal makanannya. Deskripsikan makanan dengan detail, bagaimana tampilannya, rasanya, tekstur, dan apa yang kita rasakan. Kita juga bisa bandingkan dengan pengalaman yang pernah kita rasakan sebelumnya.

Simpel saja, kalau tempat makan atau makanan tersebut cocok dengan selera kita, kasih compliment. Kalau nggak cocok, cukup ceritakan makanannya aja. Nggak perlu jelek-jelekin hal yang lain.

Jangan pula lupakan riset, supaya tidak rely on testimoni pengalaman saja. Prawnche mencontohkan dia sendiri banyak memeriksa fact check di Google sebelum menulis. Hal ini untuk menghindari kesotoyan itu tadi, yang sebenarnya kita nggak tahu apa-apa tapi ingin komentar. Kalau menyampaikan pure opini, jangan lupa kasih pendahuluan “ini menurut aku…” sehingga, tulisan kita akan terbuka terhadap masukan dan koreksi, karena tentu saja istilah ‘menurut aku’ ini sangat subjektif dan belum tentu benar.

Empat hal yang harus diperhatikan dalam menulis review makanan/tempat makan: humility, modest. fact checking, validasi.

Wah beneran menulis review itu nggak asal nulis sih ya. Utamakan etiket, bahwa tulisan kita tidak bermaksud menjatuhkan usaha seseorang, mendiskreditkan sesuatu, atau membuat orang tidak ingin mencoba hal yang kita tidak sukai. Karena soal makanan ini kan balik ke selera ya. Kita tidak bisa memaksa orang mencoba atau tidak mencoba, pengalaman tiap orang akan berbeda-beda.

Karena tulisan kita saat ini dipublish dan dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, ya buatlah tulisan yang bijak, subjektif tapi berimbang, dan jangan lupa be a kind person.

Let’s just celebrate the good food!!
Next Post Previous Post
6 Comments
  • Okti Li
    Okti Li 10 Agustus 2021 21.36

    Etika dalam menulis review apalagi review dunia kuliner memang banyak point' yang harus diperhatikan. Jangan asal nulis apalagi menjatuhkan.
    Bayangkan kalau kita di pihak owner. Termasuk kita menulis yang apa adanya itu tadi tapi tetap dengan mengedepankan etika

  • dianisekaring
    dianisekaring 11 Agustus 2021 01.54

    Buatku, reviewer makanan yang paling sreg di hati sejauh ini adalah Alm. Bondan Winarno. Beliau detail sekali saat memberikan review, nggak sekadar "Enak, Mantap" sehingga penonton juga menjadi teredukasi. Untuk bisnis F&B memang harus banyak bersabar dalam menghadapi customer. Benar bahwa tidak semua masukan bisa ditampung, harus dipilah berdasarkan relevansinya.

  • Lina Sophy
    Lina Sophy 11 Agustus 2021 08.02

    Bener banget ini ya mbak, kalau mau review soal makanan emang harus dipikirkan betul dampaknya jangan sampai tulisan viral tapi disisi lain bisa saja menjatuhkan usaha orang lain, berlaku buat apapun siy ya mbak nggak hanya makanan. Seharusnya kekurangan disampaikan dengan bijak dan diberikan masukan buat kedepan.

  • Diah Alsa
    Diah Alsa 12 Agustus 2021 19.26

    noted niih Mbak, menulis review makanan dan juga produk lain terlebih lagi UMKM begitu memang harus ingat aturan dan etika juga sih, kan bisaa jadi gak sesuai selera kita padahal orang lain punya selera berbeda yang tidak bisa disamaratakan ya :)

  • atiq - catatanatiqoh
    atiq - catatanatiqoh 14 Agustus 2021 14.40

    wah mbak, terima kasih sudah mengingatkan ya :) bener banget ini kadang kita main foto-foto aja, share ke sana kemari tanpa permisi yang punya bisnis, bisa jadi bagian dari promosi kalau kita kasih info yang bagus dan menarik, tp soal kritikan, kayanya memang lebih baik ke bagian penjualan saja ya :) kalau di share juga rasanya bisa mematikan rejeki :(

  • Unknown
    Unknown 14 Agustus 2021 17.50

    Hmm... jepret-makan-posting, biasanya untuk konten ya. wkwkw. Aku suka mikir, buat google map ini. Lumayan nampah poin dan lama-lama naik level #eeehhh wkwkkw

Add Comment
comment url