Hi, Bye, Covid-19 !

13 komentar
Hi, apa kabar, Dunia? :) 

Post ini ditulis di pekan ketiga dalam masa social-distancing sehubungan wabah Covid-19 di seluruh dunia. Nampaknya sayang kalau nggak ninggalin jejak tulisan. Karena momen ini bakal jadi masa yang bersejarah di masa depan. 




Tahun 2020, di mana ada pandemik coronavirus mungil yang berasal dari Wuhan, China yang mampu mengubah aspek interaksi sosial mulai tataran masyarakat sampai antar negara.    

Masa di mana seluruh tingkatan sekolah tiba-tiba diliburkan secara mendadak, kemudian byur, bergegas menjalani pembelajaran jarak jauh. Sesuatu yang selama ini seharusnya sudah bisa dilakukan namun terhambat ketidaksiapan, akhirnya kita semua dipaksa keadaan untuk siap, tanpa alasan. Baik pihak sekolah, guru, siswa, maupun orang tua. 

--- Anak-anak pun shock, tiba-tiba berhenti berangkat ke sekolah. Tanpa brief dari wali kelas, tanpa dikasih pendahuluan terlebih dahulu, bahkan tanpa diberi harapan keriaan spt saat liburan biasanya tiba. Karena ini bukan liburan, ini diam di rumah. Belajar dan beribadah di rumah.  

Masa di mana para pekerja bisa work from home. Sesuatu yang diidam-idamkan namun pada saat dijalankan sedikit kelabakan, tak seindah yang dibayangkan. Ada anak-anak yang sering ikutan mama papanya kerja, digerecokin pas nge-Zoom, belum lagi seabrek tugas-tugas rumah tangga yang harus dikerjakan due to mbak ART hariannya diberhentikan dulu. 

Jangan lupa juga dengan adanya anak-anak full seharian di rumah, energi mereka juga berdaya penuh. Nggak kalah demanding dengan si Bos yang juga menginginkan kita nggak santai-santai saat kerja di rumah (pada beberapa curhatan, WfH hampir seperti 24 jam kerja, karena kerjaan bisa masuk sewaktu-waktu). 

Juggling at one time anyway? Yes. Mohon bersabar yaa, para ibu dan bapak pekerja. Ini waktunya support each other sama pasangan, saling back up demi kelancaran pekerjaan dan rumah tangga, dan juga saatnya bangun bonding sama anak-anak, sesuatu yang mungkin terbatas waktu di hari sebelumnya  :)


Masa di mana bisnis dan perekonomian semacam berjalan kaya siput. Hanya yang kuat yang bertahan, sisanya menutup diri, tak sanggup berdiri dengan pemasukan nyaris nol. Beberapa bangkit membangun bentuk marketing yang baru, gerilya di grup-grup Whatsapp menawarkan dagangannya, fasilitas pengantaran diberdayakan, yang penting barang muter, gak apa-apa dijual murah ketimbang stuck di gudang nggak jadi uang. 

 --- Turut prihatin sama temen-temen yang punya usaha jasa yang nggak memungkinkan untuk daring. Penginapan misalnya, dua hari sebelum masa social distancing, saya sempet mampir sarapan di Ibis Style Malang, saat itu pun okupansi sudah mengalami lonjakan penurunan. Semakin ke sini, okupansi tidak ada sama sekali apalagi golongan penginapan middle low. Pengusaha bingung bayar karyawan, karyawan hancur karena dirumahkan. Ketambahan lagi instruksi pemda setempat yang meminta usaha-usaha untuk tutup sementara, oleng semua mulai dari level supplier bahan baku sampai pramusaji. 

Masa di mana pertemuan jadi hal yang membahayakan, sementara memberi jarak adalah tanda cinta dan kepedulian. Bukan lagi tentang aku dan kamu, tapi tentang kita dan mereka. 
--- Huhu, ini yang paling sedih. Karena seluruh kegiatan berkumpul ditiadakan, termasuk juga lalu lintas orang pergi ke luar daerah asal. Libur, tapi juga nggak bisa kemana-mana.  Sebentar lagi bulan Ramadhan, yang bahkan saya nggak tahu bakalan bisa tarawih jamaah apa tidak, bisa sholat Ied di lapangan apa tidak ... 

Kalo mudik, sudah pasti nggak bisa ... silaturahmi kita hanya di vcall dan WA keluarga. Ya Allah, berat, kuatkan kami semua :'( 

Jujur aja, kalo saya sendiri disuruh diam di rumah masih bisa ditahan, cukup dengan wifi unlimited dan nggak mati listrik, duh, anak onlen banget yah. Meskipun kadang bosan juga, mau buka sosmed apa lagi, skral skrol gajelas, nonton drama sampe pusing ... chat sana sini kaya pengangguran. Yah well, it's okay, sehari-harinya juga saya nggak kemana-mana, ini masih bisa diatasi. 

Anak-anak, hmmm ... meskipun mereka asik-asik aja tapi sebagai orangtua yang schooling rasanya mak nyeess gitu. Ingin ajak jalan-jalan tapi bukan liburan, ingin intens nemenin belajar, ngajarin ini itu seperti yang selama ini waktunya ditunggu-tunggu tapi cucian piring dan kerjaan lain menunggu. Akhirnya memang harus membagi kewarasan pada semua pos. Turunin standar semuanya. Pastikan nggak ada yang hilang dari hak mereka. Ibu adalah koentji, apalagi suami saya tetap bekerja, nggak WfH, setiap hari keluar masuk rumah. Otomatis saya yang jadi garda antara dunia luar dan keluarga. 


Duh, bentar ... kok jadi mberebes mili. 


Ah, ketimbang mengutuki kegelapan, fokus saja pada cahaya. Meski sulit, selalu ada hal-hal yang bisa disyukuri dari setiap keadaan. 


Mulai dari hal-hal yang terlihat kecil, semacam berhentinya teriakan tiap pagi nyuruh anak mandi dan bersiap. Mamak bisa turunkan suara sejenak, mengurangi kepusingan menyiapkan bekal apa lagi buat sekolah. 


Anak-anak bisa lihat kesibukan ibunya setiap hari, bahwa saat mereka sekolah ibunya nggak leyeh-leyeh tok seperti yang dibayangkan :p Libatkan mereka dalam kerjaan rumah tangga, insyaallah gak akan merasa seperti babu, hahaha. Buangin sampah, jemurin bantal, angkat jemuran, urus kucing, dsb ... simple but more meaning. 


Bisa tidur siang bareng anak-anak, ya kapan lagi kan? Sehari-hari mereka sampe rumah udah hampir sore, habis itu ngaji, malam tinggal belajar. 


Iya, masak memang jadi lebih sering dan pengeluaran dapur juga melonjak. Tiga kali sehari plus cemilan, bow. Rumah sudah kaya warteg, pelanggannya gak pulang-pulang ... Tapi ini juga patut disyukuri, bahwa dapur yang ngebul terus adalah privilege bagi sebagian orang yang makan tidaknya bergantung pada penghasilan hari itu. Ketika sekarang mereka nggak bisa ngojek, nggak bisa jualan, dapurnya dibahanbakari pake apa? 


Saya masih bisa keluar untuk groceries seminggu sekali. Kadang ke pasar untuk beli bahan masakan harian, sisanya ke supermarket terdekat buat barang-barang tertentu. Ketika belanja, ingatlah bahwa kita masih punya uang untuk dibelanjakan. Ketika buka kulkas lihat stok, syukurilah kulkasnya ada isinya. Terpaksa beli hand sanitizer yang harganya bisa buat makan tiga harian, itu artinya kita ada dana buat beli di luar kebutuhan pokok. 


Dari Shuhaib bin Sinan dia berkata: Rasulullah bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”


Yakin aja, Allah Maha Pemilik Kehidupan pasti udah ngasih kesulitan bersama kemudahannya. Bersabar dulu sementara, hingga waktunya tiba kita kembali ke kehidupan normal yang baru. Abdullah bin Mas’us berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur.” 


I can wait at home to say bye, Covid-19! 

13 komentar

  1. Duuh...seru baca blog Mbak Rella nih...saya juga blom kelar nyelesaian cerita tentang covid-19 yang internasional ini. Semangat ya Mbak Rella...sabarnya harus berkali lipat, sama dengan saya...duh, jadi curhat, he..he..

    BalasHapus
  2. HUhu Teh Rella aku juga kangen sama bapak Ibuk padahal mereka di Sidoarjo kan deket tinggal lewat tol aja satu jam setengah dah nyampe. Tapi deket aja nggak berani ke sana :(
    Sejak wabah ini aku jadi lebih sering bikin2 cemilan si buat Akmal . padahal biasanya njajan di luar ngegofood aja haha. Semua emang ada hikmahnya ya

    BalasHapus
  3. aku kok yo mbrebes mili to bacanya mbak. emang banyak kesedihan di balik musibah si covid ini. semoga segera berlalu deh biar sedihnya berubah jadi tawa lagi.

    BalasHapus
  4. insyaAllah bisa jadi ladang amal selama dirumah aja. lebih ingat dgn Allah sang maha pencipta

    BalasHapus
  5. Semangat. Saya juga bersyukur banget di masa serba susah ini berada di zona hijau. Semua masih terbilang normal meski kami pun tetap berikhtiar dan mengikuti anjuran pemerintah. Semoga semua ini segera berlalu ya

    BalasHapus
  6. Duh aku ikutan terharu soalnya mengalami hal yang sama. Bener banget ya kita harus banyak bersyukur karena bisa makan terus tiap hari pdhl banyak org yg makan aja susah karena bisa kerja lagi begini. Aku juga mau nulis blog tentang pandemi ini supaya nanti bisa dibaca ulang sambil senyum karena sdh berhasil melewati masa2 sulit :)

    BalasHapus
  7. Di saat dunia kita terasa jungkir balik karena pandemi ini, ternyata masih banyak hal baik yang bisa kita syukuri ya, Mbak. Semoga kita bisa melewati masa krisis ini dalam keadaan sehat.

    BalasHapus
  8. Semua Ada hikmahnya. Tuhan punya Cara sendiri mengingatkan hambanya agar kembali dekat,kembali mengemis kepada sang pencipta. Mengingatkan kembali sebegitu powerfull nya Tuhan.

    BalasHapus
  9. Hihi judulnya menarik banget. Kayak judul drakor favoritku. Iya banget deh, kepengen rasanya segera pisahan sama si covid 19 ini. Kepengen bias tenang, bias beraktivitas di luar lagi, kepengen silaturahmi dengan yang lain lagi, da jalan-jalan. Sehat-sehat selalu semuanya. :)

    BalasHapus
  10. Semenjak Covid19, daerah di sekitar rumahku jadi sepi banget mbak. Aku juga ngerasa perekonomian agak terganggu mengingat orang tuaku pedagang dan omzet lumayan menurun. Semoga aja keadaan cepat membaik ya mbak.

    BalasHapus
  11. I feel you Mbak🤗 kadang memang apa yang kita intinya belum tentu baik yah atau belum tentu kita siap :') I got the point. Semoga wabah ini segera berlwlu

    BalasHapus
  12. masyaa Allah kak suka deh baca tulisannya semangat terus kak stay safe

    BalasHapus
  13. aku malah belum update sama sekali mengenai keresahan selama covid ini menyerang bumi terutama untuk bumi pertiwi, semoga kita kuat ya melalui ini.

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^