Eco-Camp. Kemping Minim Sampah.

Tidak ada komentar
Kita semua tahu, di tempat-tempat kemping, di gunung pendakian, sampah masih jadi PR utama bagi para pengelola. Berapa banyak pendaki yang mengaku pecinta alam itu hanya berkata cinta sebatas mulut saja? Benarkah cinta alam atau hanya cinta pujian yang didapat dari konten? Nyatanya, di sudut-sudut area kemping selalu menggunung sampah sisa konsumsi, mulai botol minuman kemasan sampai styrofoam, yang akhirnya dengan praktis disatukan lalu dibakar menghasilkan gas metana dan polusi udara yang buruk. 



Zero waste camp kedengarannya memang seperti mustahil, masa sih tidak ada sampah sama sekali? Trus bungkus ini, bungkus itu, dikemanakan? Rasanya nggak kebayang ya, bepergian tanpa bawa sesuatu berkemasan, apalagi ini camping...butuh yang praktis-praktis, kenapa repot bawa wadah-wadahan sih, kan bikin berat?

Iyaaa, itu juga yang saya pikirkan waktu ikut Family Eco Camp dua minggu kemarin di Pinus Jungle Camp, Prigen. Seluruh peserta tentunya diharapkan berkomitmen dengan prinsip minim sampah. Merasa tertantang, bisa nggak ya? Itu suami kan demen banget bawa snack minimarket, bisa kah dia ditahan gak bawa snack angin? Apalagi kita mutusin buat berangkat naik kendaraan umum, jadi nggak ada excuse buat "bawa-bawa tambahan untuk jaga-jaga". Diusahakan seringkas mungkin semua masuk ransel, karena kita perlu handsfree untuk menggandeng anak-anak.

Mencari inspirasi dan informasi, terutama setelah ngobrol bareng Siska Nirmala, dengan buku Zero Waste Adventure-nya, saya langsung ingin segera ngelist barang bawaan dan cari-cari wadah yang akan dipakai untuk mengemasnya. Teh Siska ini spesialis pendakian, bawaannya tentu lebih ringkes lagi karena ransel akan terus nempel di punggung... Kita hanya camping, artinya itu ransel meski berat akan ditaruh di dalam tenda. Dari sini saya jadi optimis kalau ini bisa banget dilakukan, sekaligus mematahkan pandangan sinis tentang anti plastik, anti kemasan, anti sampah, dll. 

NO. Berzero-waste (yang di-Indonesiakan menjadi minim sampah), pengertiannya tidak sesempit GUE BENCI SAMPAH, ANTI PLASTIK-PLASTIK CLUB. Ia kemudian akan mempengaruhi sendi-sendi pola hidup kita tentang minimalisme, hidup hemat dan sederhana, dan konsumsi dengan kesadaran. Kenapa saya sebut 'sadar'? ya, karena banyak sekali selama ini kita terus mengonsumsi, ngonsumsi, dan ngonsumsi tanpa memikirkan sesudahnya, baik sisa konsumsinya maupun efek lain ke diri kita sendiri (jejak karbon, boros, gemuk, tidak sehat, dsb). 

Terlalu luas? Baik, kita balik ke teknis persiapan camping aja karena pasti banyak yang bingung soal teknisnya. Dari foto-foto persiapan pra-camping Teh Siska, sedikitnya melegakan saya, bahwa Teh Siska aja bawa 'calon sampah' kok, apalagi kami yang masih belajaran, tapi balik lagi ke kesadaran bahwa itu sampah lho, nggak bisa dipakai lagi apalagi dikomposkan...jadi meskipun mudah, jangan bermudah-mudahan. Saya yakin, suatu saat sampah-sampah yang saya bawa ini akan makin minimal, seiring kami mulai piawai, terbiasa dan baik-baik saja tanpa bawa snack-snack-an itu. 

Satu KUNCI penting dari melakukan ini adalah : PERENCANAAN, dan ini  sangaattt berpengaruh mulai dari mindset sampai praktik di lapangan. 

Meals 



Ini persiapan bekal kita buat nginep 2D1N dengan 5 anggota keluarga. Ada beberapa asumsi yang memudahkan sebetulnya, bisa dibilang cheating lah karena kita nggak bener-bener kemah mandiri. Ada panitia di baliknya yang menyediakan nasi (3 x 2 porsi), ada teman-teman camp yang mau bawakan nasi pincuk, dan sebelumnya kita udah browsing daerah camp, ada warung-warung di sekitar untuk pertolongan kalau butuh bahan lauk tambahan. But this is worth to try as first practice. 

Sebagai ibu-ibu pasti paling bingung masalah makan kaaann, saya kasih ilustrasi yaa : 

Lauk-lauk makan : tempe kering, fillet kakap panggang, telur asin 5 pcs. 
Lauk tambahan : beli 2 pincuk nasi krawu, dan telur mentah 6 pcs.

Day 1 
Siang : nasi (bawa dari rumah), tempe kering, kakap 
Malam : nasi goreng telur asin (nasi dari panitia) -> anak-anak
              nasi krawu -> orangtua (karena tnyata krawunya sedikit pedas) 
Ngopi pake kopi bubuk+air panas pakai tumbler. 

Day 2 
Bikin wedang uwuh 
Pagi : nasi (dari panitia) + telur ceplok 
Siang : nasi (dari panitia) + sisa telur direbus, plus telur asin. 
Snack wafer yang ada di rumah dibawa dalam wadah. 

Kelaparan? enggak sama sekali. Makan tercukupi, sukses tanpa kudu bekel mie instan/popop mie-an atau sarapan energen. Gizinya kurang seimbang? plis deh, sehari doang mah nggak langsung bikin kurang gizi...


kali aja pingin nyambel dan lalapan

Rekomendasi : ibu-ibu bisa bawa beras untuk bikin nasi liwet ya. Lauk makan yang awet lagi (tahan dalam 1-2hari) : telur rebus, kentang mustopha, dendeng, rendang kering, tempe-tahu goreng, dll .....

Untuk susu cair bocah-bocah, daripada menghasilkan beberapa sisa tetrapak, mendingan bawa yang sekalian satu liter. Di luar ruangan, ia bisa tahan selama 18 jam (udah percobaan), sebelum itu kayanya udah habis yaa. Bisa juga bekal oatmeal/muesli+susu untuk sarapan. 

Bawa buah paling yahud, sisanya bisa langsung dibuang ke lubang komposter. Gizi dapet, nggak nyampah juga. Mbak Siska malah pernah lho mendaki bawa melon kecil, hebring kan? Berarti kita juga bisaa.... 

Personal Care and Toilettries


Untuk ini, saya bawa yang ada di rumah aja. Skincare harian nggak usah bawa 10 steps deh ya, bawa yg basic aja dulu...ini penting nih, in case ibu-ibu bingung mau bawa item yang mana aja :D 

Facial wash, face mist moisturizer, sunblock, serum, nite cream...beberapa saya repack ke kemasan travel. Plus natural organik care seperti sabun, cleanser, lipbalm, sikat dan pasta gigi masukin semua ke dalam satu pouch...muat kok, masih bisa masuk minyak angin oles juga.

Rekomendasi :
- Siapin travel pack (bisa dibeli di Miniso dkk) untuk nuang item yang botolnya besar. Secukupnya aja, ngga usah diisi penuh, sesuaikan dengan durasi camp.
- Untuk yang sudah bisa move on dari personal care pabrikan ke yang natural, cukup pakai VCO dan baking soda untuk all purpose (pasta gigi, sabun mandi, shampoo) ~ saya jujur aja belum bisa dan belum prioritas ke sini.
- Bawa wash cloth (atau handuk yang digunting seukuran sapu tangan), sebagai pengganti tisu toilet. Setiap habis dari toilet, basuh dengan handuk tersebut lalu jemur. 

Clothing

Ini mungkin agak sedikit effort lebih kalo punya bayi yaaa, karena komitmen kita nggak boleh bawa pospak dan tisu basah. Tapi kemarin saya lihat bapak-bapak so sweet banget nyuci sebaskom clodi di pancuran, dengan sabun lerak tentunya. Jadi, tanpa pospak pun memungkinkan, yah.


ini biji lerak yang kalau direndam akan mengeluarkan busa dan daya pembersih

Memang harus gesit, segera dicuci dan dijemur agar bisa dipake lagi (jemur baju bisa kok, bisa di atas tenda atau ikat tali pramuka di antara dua pohon, jadi deh tali jemuran).


Pengalaman saya camping di pantai dan di gunung, kalo ke pantai bajunya banyak ganti karena sering basah-basahan, kalo ke gunung load bertambah karena bawa jaket tebal dan sleeping bag...jadi saling silang aja sih.  Tapi lagi-lagi, di manapun itu, bisa banget dijemur (kan gak mungkin camping saat musim hujan, toh?) jadi nggak usah bawa baju kebanyakan.

Rekomendasi : bawa dry bag untuk persiapan bawa clodi/baju yang nggak sempat dicuci karena keburu pulang, misalnya... untuk baju kering kotor (tanpa bau ompol), pisahin aja susunannya dengan baju bersih, kalo saya nandain baju kotor dengan dibalik baru dilipat. Nggak perlu kresek.

Bhaiiiq....soal tetek bengek beres yaaaa..

Aktivitas

Sekarang mau cerita acaranyaaa..... sekalian kali aja ada yang tertarik juga ngadain acara kemah minim sampah macam begini yaaa... Sebenernya sama aja sih, nggak eksklusip gimana juga, ya artinya bahwa semua bisa dilakukan sewajarnya aja dengan normal. Nggak jadi tegang atau kaku karena nggak bisa nyampah, haha.   

Hari pertama, setelah beres-beres tenda dan perkenalan, kami main layangan antara ayah dan anak....terus terang, anak-anak saya nggak gape main layangan, mereka emang kurang gerak :D Tapi main layangan di tempat terbuka gini tetep aja membahagiakan, masang senar, naikin layangan, tarik ulur.....meski harus berakhir karena layangannya sobek.

Selanjutnya sesi panahan untuk bapak-bapak, ibu-ibu maupun anak-anak (7th up). Pada girang banget terutama yang baru pertama kali pegang bow dan arrow. 

Hari kedua, hirup dan rasakan terapi sholat subuh di alam terbuka. Masyaallah....jadi pengalaman tak terlupakan juga buat anak-anak, sholat di hamparan rumput beratapkan langit. Habis itu masak sarapan bareng-bareng keluarga terus makan pake alas daun ala bancakan. 


Pagi-paginya, kita semua merambaann alias foraging. Survival skill yang satu ini nggak cuman ibu-ibu aja yang perlu tau, melainkan semua orang termasuk anak-anak juga sudah harus dilatih pengetahuan survivalnya. 

Kalau meramban gini jalannya nggak mesti jauh-jauh karena ternyata di sekitar aja sudah ketemu banyak edible plants yang manfaatnya berlimpah. Di sekitaran Pinus Camp kemarin, kami menemukan beberapa tumbuhan seperti sintrong, semanggi gunung, beluntas, dan tentunya kupas tuntas pinus dari daun sampai getahnya. 


Sehabis meramban, bisa langsung membuat pecel dari dedaunan edible yang nggak ngga lazim kita makan. Kami membuat infused water pinus, sirup pinus, cincau kaca piring dan teh... Masih banyak lagi yang bisa diulik sebenarnya, perlu camp khusus bertema foraging seharian. 





Salah satu kegiatan seru untuk anak-anak adalah membuat compost art. Yaitu bebikinan macam-macam dengan sisa konsumsi organik. Kreasinya bebas, mau diguntingin, mau disobek-sobek, terserah kreativitas anak-anak aja. Ali membuat alien yang pakai jambul dan jenggot, entahlah....semoga bukan manifestasi muka bapaknya, haha. 



Setelah pembuatan compost art selesai, semua bahan sisa konsumsi bisa dimasukkan ke dalam lubang komposter lalu belajar mengkompos sampah.   

Api Unggun 


Malam-malam mungkin sedikit jadi ujian untuk yang terbiasa mengaitkan kemping dan kelezatan aroma pop mie, hahah. Dihangatkan dengan api unggun, dikenyangkan oleh pop mie dan kopi sasetan sambil ngobrol ngalor ngidul, uhuuuyy... ~ nggak yaaaa.... kalo di camp minim sampah nggak maenan pop mie, karena styrofoam nggak bisa terurai, no tawar-tawar. 

Alternatifnya :

1. Bikin mie tektek/mie goreng 
2. Libur dulu lah nggak makan mie instan 
3. Makan roti bakar
4. Makan jagung bakar yang dibakar di api unggun 
5. Makan pisang rebus, ubi panggang
6. Nyate sekalian! 

Banyak juga ternyata pilihannya. Namun kalo alasannya malas ribet sih ya pasti kepikirannya balik Pop Mie maning....MINDSET itu penting. 

Masalah kopi-kopian lebih mudah, sorenya rekan camp ada yang jualan kopi bubuk dalam toples, lalu ditimbang gram-nya dan dimasukkan ke dalam tumbler pembeli. Pembeli tinggal nyeduh pake air panas yang direbus sendiri. Murmer. Segelas kopi robusta Arjuno 20gr hanya saya beli seharga 8 ribu saja, langsung habis, ampasnya pakai sebagai masker malam. Hal yang sama bisa diterapkan pada teh tubruk. 




Tertarik untuk bikin eco-camp di sekolahan atau komunitas? 

Silakan email saya untuk panduannya ya, nanti saya kirim. Menurut catatan saya, ada beberapa syarat bagi panitia agar konsep eco-camping bisa terjaga dan berjalan lancar, antara lain : 



1. Persiapkan acara dengan matang, termasuk kemungkinan A, B, C dan konsekuensi-konsekuensinya
2. Pilih tempat yang pengelolanya sepakat dengan konsep yang diajukan, lebih baik lagi bisa bekerjasama lebih lanjut untuk proses pengolahan sampah organik, komposting, dll 
3. Berikan panduan selengkap pada peserta. Fokus pada solusi jika peserta mengalami kesulitan karena belum kebayang, pertama kali, dll 
4. No compromise. Sekali ada yang nawar bawa satu kresek, maka seluruh peserta akan menawar hal yang sama...kreseknya jadi banyak deh
5. Sediakan kardus per tenda untuk sampah, nanti ketahuan sebanyak apa sisa konsumsi kita selama camping dua hari dan belajar pemilahan organik dan non organik   
6. Buat acara semenarik mungkin yang nature-related. Yang tetap bikin seru, kenyang dan tidak kaku dan garing karena penuh aturan
7. Panitia bukanlah polisi lingkungan, buat peserta sadar bahwa "sampahmu adalah tanggung jawabmu". Semakin sedikit sampah non organik dihasilkan, semakin ringan tanggung jawabnya. 

Lainnya, saya mikir dulu yak.... :) 

Selamat mencoba dan loving your earth actually! 

Tidak ada komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^