M-U-D-I-K 1439H

by - Juni 13, 2018


Meski namanya pulang kampung, sejatinya saya pulang ke kota...namun begitu, tetap saja Bandung adalah rumah, tempat pulang, kampung halaman tempat lahir dan besar, walau halaman di rumah mama sudah berganti alas keramik #eeaa

Kalau secara etimologi, Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya (mengacu pada kalimat kembali ke udik, dari kota ke ladang/desa), maka benarlah adanya...saya rantau, saya pulang, saya makan!
Sudah lebih dari 10th saya jadi pemudik, baik antar kota maupun antar propinsi. Benar-benar selalu persiapan dan jadi agenda tahunan saat lebaran (kalau waktu masih jarak 100 km-an sih, long weekend; juga mudik).
Beberapa tahun belakangan ini, saya bela-belain nyiapin talangan dulu buat beli tiket H-90 demi seat yang genah dan murah. Maklumlah, kalau nunggu THR turun sih wassalam ya, kebagian kelas paling mahal mele yang mana kalau dikali lima wow...itupun kalau masih kebagian.
Ya sudah, anggap aja semacam hunting tiket promo Air Asia yang dibooking setahun sebelum keberangkatan, hihihi
Hal selanjutnya yang dilakukan setelah tiket di tangan adalah persiapan barang bawaan. Saya pernah terpikir gak usah mudik aja kala membayangkan preparasi yang aduhai ruwetnya. Apalagi setelah anak-anak pada sekolah, rasanya pengin ngekepin aja tuh THR buat biaya-biaya sekolah. Tapi...entah ya, mudik selalu berjalan pada relnya. Dengar obrolan orang-orang yang sudah bertahun-tahun gak pernah pulang kampung karena orangtua sudah tidak ada, atau para pekerja yang mesti kerja qeras bagai quda di saat liburan, rasanya jadi clue buat "okelah, kita mudik aja" . Mumpung rejekinya ada, mumpung orangtua masih lengkap, mumpung transportasi dan jarak yang masih rasional.
Orang Indonesia betul deh, gak mudik gak asik, kurang afdol dan merasa bersalah kalau sampai gagal mudik.
Tahun 2014 saya pernah tidak mudik waktu hamil 8 bulanan. Di kota Malang yang tidak ada sanak saudara sama sekali, tetanggapun sepi, saya masak-masak sendiri hidangan lebaran sebisanya. Lumayan, dimasak dewe dipangan dewe. Lalu siangnya kami nyari bakso ke kota (halah, bakso deui!) dan hari keduanya melancong ke Surabaya via kereta api untuk membunuh sepi.
Tapi bae-bae aja sih....
I mean, it's okay if you have any reason to stay. Gak semua orang diberi kelapangan waktu dan rejeki untuk melakukan ritual mudik masal. Mudik is only tradition, not sunnah. Bukan perkara ibadah juga, jadi bukan bid'ah, hihi. Hanya saja kebanyakan timing libur panjang dan megang duit ya di momen-momen ini, membuat mudik menjadi semacam budaya yang tabu untuk ditinggalkan. Ada duit kok gak balik? Gitu lah kira-kira ya....
Tapi pernah sih dibilang orang, "kok gak pulang, gak kasian sama orangtua?", "gak pengen silaturahim sama sodara?", atau yang paling keji "kerja terus ngejar dunia apa gak inget akhirat?"
Wew. You gotta be kidding. Yang wajib itu silaturahmi, tidak memutus persaudaraan dan meminta maaf pada orangtua. Bukan mudik. Maka silaturahim bisa dilakukan kapan aja, insya allah akan ada rejeki dan waktu luang, tak perlu menunggu setahun sekali.
Beda, yes?
Ahh, 00.30. kereta Mutiara Selatan yang saya tumpangi saat ini sudah sampai stasiun Jogja. Separuh perjalanan menuju pulang. Ada saja yang nggak tahan dengan 16 jam-nya perjalanan kami, "kenapa ga naik pesawat aja sih, beda dikit...kasian anak-anak". Ya udah saya jawab betapa pecicilannya anak-anak sedari tadi, mondar-mandir, bercanda, ketawa-ketawa sampe ngabsenin kereta lain yang berpapasan....alhamdulillah mereka hepi dengan pengalaman ini...malah emak bapaknya yang butuh dipijet. Nih baru tiga jam lalu mereka terlelap, makanya saya bisa nulis-nulis.
Akhirul kalam, saya mau bagi-bagi tips aja untuk pemudik berkeluarga dengan transportasi umum. Jangan banyak berharap bisa bermudik cantik geret-geret koper sambil headset-an dan berselfie ria. Realistis aja yuk, mak emak...yang penting mudik kita nyaman dan aman.

1. Tentukan tujuan mudik. Biasanya kalau sudah menikah ada kesepakatan tertentu apakah mudiknya gantian ikut siapa atau bagaimana pembagiannya biar adil. Jangan sampe mendekati hari H baru ribut, merusak suasana banget.

2. Perhitungan dana. Sudah biasa ya kalau sama keluarga itu selalu ada pengeluaran tak terduga dari mulai anak minta jajan sampai bela beli printilan macam tisu basah, popok, baju dadakan karena sesuatu hal. Jadi jangan terpaku pengeluaran hanya pada harga tiket dan makan saja.

3. Cari tiket jauh hari. Thanks to KAI, Traveloka, Pegi-Pegi, Tiket.com dkk, jawara yang membuat semakin mudah untuk cek tarif dan booking online. Traveling is just one click away. Rajinlah ngecek fluktuasi harga tiket atau perubahan seat kelas yang tersedia. Salah-salah, bisa kehabisan tiket best deal dan terjebak di kelas paling atas lho.

4. Bawa pakaian yang dibutuhkan. Sepengalaman saya, saking banyaknya acara kunjung-mengunjungi, susah kalau mau beli baju dulu di hari-hari prime time silaturahim lebaran. Kalau sudah tau rencana silaturahim, alokasikan baju A untuk acara A, baju B untuk acara B (sesuaikan dengan kondisi cuaca dan acara). Hal ini juga mempersingkat waktu berpikir pakai baju yang mana tiap mau pergi, karena ibu-ibu banyak yang harus diurusin, betuull?

5. Terkait no 4, tips saya pribadi, lebih enak bawa baju sendiri yang mapan ketimbang baju anak-anak. Some said that "bawaan baju anak gw aja sekoper sendiri!" Kalau saya, setelah menghitung kebutuhan dan spare 2-3 stel, jaket, kaoskaki dll ya udah, aman. Baju anak-anak jika habis bisa dicuci atau belanja dadakan, mudah dicari dan cepat kering. Sedangkan kalau baju emak yang habis, walaupun jadi alasan buat beli baju lagi, tapi bagi saya gak mudah. Nyari baju yang cocok size dan harga itu butuh keliling sana-sini, apalagi bajunya dapet tapi kerudungnya ga ada yang pas, trus sendalnya kok gak senada...jadi aja repot 😝

Tapi itu sih saya ya, horang lain mah bebas.

6. Sounding anak-anak tentang perjalanan. Ini penting, agar anak tidak geger menuju bosan mencapai kerewelan yang hakiki. Sering kan kalau pergi biasa aja anak tidak sabar ingin cepat sampai, apalagi jika jarak jauh dan dia nggak bisa ngapa-ngapain.

Jangan terlalu banyak mengatur, tapi berilah tata tertib di perjalanan, terutama jika pakai transportasi umum. Semisal, nggak ngeluarin mainan yang kecil-kecil berpotensi hilang, harus makan yang banyak agar tidak masuk angin, tidak terlalu ribut di kereta saat jam orang lain tidur, harus mau kalau disuruh tidur sama orangtua biar saat di tujuan sudah nggak ngantuk lagi, juga bagi saya nggak perlu bawa permen atau sweeties selama perjalanan (bikin banyak pengen pipis dan batuk).

7. Tenang, tidak panik. Mahapenting buat ibu-ibu yang bawaannya bagai sebulan untuk seminggu, atau ibu-ibu yang keder duluan dengan dirinya sendiri menghadapi anak di perjalanan. Niatkan bahwa perjalanan ini tujuannya menyenangkan, jadi jangan bete di jalan. Saat anak menolak makan yang biasanya, atur strategi asupan makanan pengganti lain. Wajar jika anak sedikit berubah preferensinya saat bepergian, keluar rutinitas sejenak tidak apa-apa. Anak-anak pasti senang kalau kita ceritakan tentang tujuan kita. "Kita mau ke rumah nenek lho, di sana ada kandang ayam trus ayamnya suka main-main di halaman. Kamu mau kasih makan ayam?" Simply as that, membuat mood mereka cerah di perjalanan. Kalau bayi, wayahna ya, Bu, sesekali bawa gendong jalan-jalan, lihat ke jendela atau banyak-banyak nen. Bayi mpasi, bisa sediakan finger food jika spoonfeeding terlalu repot dilakukan.

Apapun yang meleset dari anak kita, tetap tenang, karena kereta terus melaju, ban mobil tetap menggelinding... Jika perlu istirahat, ya lakukan...duduk-duduk dulu di taman atau nyeruput es kelapa di sepanjang jalur mudik.

Happy mudik, all...stay safe, stay healthy 😊

You May Also Like

1 komentar

  1. Cemilan apa mbak yg dibawa kalau jalan jauh? Belum pernah bawa anak sampe jauh banget naik kereta.. Pengen, tapi belum tatag 😂

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^

Baca Juga

7 Essentials Korean Kitchen