Pura-Pura Hamil

1 komentar
Kemarin-kemarin baca statusnya dokter Annisa Karnadi yang ini , isinya tentang viralnya status-status sosmed memajang testpack dua garis ditambah caption alhamdulillah dapet rejeki lagi blablabla, yang kemudian di bawahnya zonk ternyata nggak hamil dan cuman bercanda. Buat lucu-lucuan.  

Kok rasanya nyeess....sekilas nampak seperti biasa saja (buat kita yang nggak mengalami kesulitan untuk hamil) tapi ketika dibaca lagi dan memosisikan diri sebagai pasangan menikah yang belum kunjung dikaruniai anak, trus baca candaan seperti itu...duh! Lucu dimana nya?


Kita mungkin boleh sering mengeluh karena sabuk naga yang tertinggal permanen di perut pasca melahirkan atau stretchmark yang tak pernah pudar. Kita mungkin sering berteriak lelah digandoli anak kesana kemari, dan ketika takdir memilih kita untuk hamil setiap dua tahun sekali, maka kita merasa dunia tidak adil, sampai-sampai berkata "aduuh kok hamil lagi, sih"


Tapi tahukah kita kalau ada yang diam-diam menangis saat melihat foto keluarga bahagia dengan anak sepasang yang lucu-lucu, ada yang sangat ingin bertukar posisi dengan kita mempunyai banyak anak, mengalami morning sickness dan drama kehamilan lainnya.


Jujur, saya sendiri nggak gitu banyak tahu soal prosedur yang ditempuh teman-teman dalam program hamil, fertilitas, dsb. Saya suka dengar, beberapa teman yang usia pernikahannya sama juga ada yang mengalami, tapi memang nggak berani banyak nanya, cukup meluangkan perhatian dan berdoa yang terbaik untuk mereka. God has everything to answer the time.


Karena saya nggak tahu banyak, dan nggak mengalami bagaimana perjuangan berat mereka, maka saya nggak berani bikin candaan pura-pura hamil atau bikin jokes soal belum hamil, tidak hamil, dan semacamnya. Saya tahu, ada banyak ibu di luar sana yang tidak mudah untuk mendapatkan panggilan seorang "ibu". Saya tahu, ada banyak hati yang pedih ketika mendengar teman seangkatan menikahnya hamil duluan, adik yang menikah belakangan sudah hamil kedua sedangkan dia tak pernah menemukan testpacknya menggambarkan dua garis.


Jangan mempertanyakan kesabaran pada mereka, karena mereka sungguh-sungguh memaknai arti kata sabar itu dengan sebenarnya. Sabar menjalani rangkaian pemeriksaan demi pemeriksaan, terapi sana sini, diberi obat ini itu, disuntik berapa kali dalam sebulan, itu saja sudah pasti sakit, dan berbiaya tidak sedikit. Belum lagi cibiran dan bombardir pertanyaan yang berasal dari teman Facebook sampai keluarga sendiri. Sungguhlah ketika kesabaran menjadi pilihan satu-satunya, kita akan tahu bahwa sabar itu tiada batasnya.     


Video di atas saya liat di youtube mengenai serangkaian tes fertilitas. Tentulah fertilitas hanya satu dari sekian faktor yang menyebabkan seorang perempuan belum berhasil hamil. Dan bukan persoalan pada perempuannya saja, sebagaimana hegemoni patriarki selalu menekankan bahwa perempuanlah penyebab kemandulan, perempuanlah yang bermasalah, semua karena ketidakmampuan rahimnya untuk mengandung. Padahal, faktor yang berasal dari pria juga punya kontribusi yang sama besarnya yang menyebabkan perempuannya belum hamil.


Adil lah sejak dalam pikiran, sejujurnya saya pun masih belajar untuk menahan diri buat nggak berkomentar atau nanya "udah isi apa belum?", pada siapapun pasangan yang kelihatan lama belum momong anak, ataupun pasangan yang baru menikah. Karena apa, karena itu sensitif, bagi pasangan yang memang menunda pun, pertanyaan itu sangatlah gengges dan bermuatan kepo terselubung. Ya udah lah ya, kalo mereka pingin hamil pun akan keliatan lah perutnya membesar atau suatu saat juga mereka akan gendong anak. Syukuri kondisi masing-masing aja, terutama buat kamyuuuu (iyaa kamyuuu, yang dibuntutin anak tiga padahal kepengen banget ngejar beasiswa kuliah lagi hahaha)


Yuk, mari berhenti berkata dan menulis jahat pada para pejuang infertility ini. Jika tidak mampu menahan diri untuk komentar, maka berkata baiklah, atau lebih baik diam.

1 komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^