Membesarkan Anak dengan Nilai Supaya Nggak Jadi Pejabat Ngawur

Agustus 2025, hanya beberapa hari setelah Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaannya, kini kembali penuh dengan suara demonstrasi. 

Anak muda, mahasiswa, hingga masyarakat turun ke jalan, memadati gerbang parlemen. Tuntutannya jelas, agar wakil rakyat di Senayan lebih peka terhadap kondisi riil bangsa yang sedang carut marut. 

Di satu sisi, rakyat sedang bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan kerja yang seret, dan biaya hidup yang makin berat. Belum lagi beban pajak yang belum tentu balik modal menjadi fasum yang dinikmati masyarakat. Di sisi lain, berita tentang fasilitas mewah, tunjangan melimpah, dan gaya hidup elite politik membuat jurang perasaan makin lebar dan tak terjangkau.

Sebagai orang tua, ada rasa getir saat menyaksikan ini. Pertanyaannya sederhana: kalau di level pemimpin bisa lahir perilaku yang jauh dari rasa keadilan rakyat, bagaimana kita sebagai orang tua bisa memastikan anak-anak kita tidak tumbuh jadi bagian dari lingkaran itu?

Ingat, pejabat adalah cerminan rakyatnya. 

Maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah: pendidikan nilai sejak dini. Harapannya, jika rakyatnya sudah jadi "orang bener", maka output yang dihasilkan juga adalah para pejabat, pemimpin, dan wakil rakyat yang "juga bener". 

Prosesnya panjang memang, membutuhkan konsistensi generasi ke generasi. Tapi ini bukan mustahil.
Setidak-tidaknya, mengecilkan kemungkinannya sehingga meminggirkan yang kurang-kurang ini menjadi sebagai sebagian kecil oknum, bukan dominasi mayoritas model begini. 

ilustrasi: membesarkan anak yang tidak mudah di zaman ini

Kejujuran, Bukti Awal dari Pendidikan Anti-Korupsi

Kejujuran bukan sekadar tidak berbohong. Ia adalah fondasi dari kepercayaan. Anak yang berani mengakui kesalahan meski kecil, seperti menumpahkan susu, sedang belajar satu hal penting; kata-katanya bisa dipercaya.

Kita bisa mulai dari hal sederhana. Ketika anak menyontek PR dari internet, ajak ia diskusi. Katakan bahwa kemampuan sejati lahir dari usaha, bukan dari jalan pintas. Dengan begitu, anak belajar bahwa jujur itu memang kadang berat, tapi selalu lebih mulia.

Menurut Psikolog Ratih Zulhaqqi, S.Psi., M.Psi., kejujuran yang ditanamkan sejak kecil dalam keluarga bisa menjadi benteng pertama untuk mencegah perilaku korupsi di masa depan. Ketika anak berani mengakui kesalahan dan orang tua merespon dengan menerima serta mencari solusi bersama, itu bukan sekadar tentang ubah perilaku, tapi membentuk karakter yang tahan godaan korupsi. 

Parenting masa kini juga menyepakati bahwa ketika anak ketahuan berbohong, orang tua sebaiknya merespons dengan tenang dan bijak. Bukannya langsung memarahi atau melabeli sebagai pembohong karena hal itu justru meningkatkan kemungkinan mereka terus berbohong. Interaksi ini jadi momen penting untuk menanamkan nilai kejujuran secara lembut. 

Integritas, Konsisten antara Ucapan dan Tindakan

Kalau jujur adalah bicara apa adanya, integritas adalah hidup apa adanya. Ini yang sering hilang di ruang-ruang politik kita. Anak perlu tahu bahwa integritas berarti tidak hanya berkata benar, tapi juga bertindak sesuai nilai itu. Semua nilai ini menjadi antitesis dengan perilaku para elit di kabinet dan wakil rakyat di DPR saat ini. 

Kita bisa mencontohkan lewat hal kecil; kalau kita bilang akan main bersama sepulang kerja, usahakan untuk benar-benar melakukannya. Anak belajar dari keteladanan, bukan ceramah. Konsistensi orang tua adalah pelajaran integritas yang paling kuat.

Kementerian Pendidikan menggarisbawahi "integritas mencakup kejujuran, konsistensi, dan komitmen terhadap nilai etika." Anak akan meniru apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang didengar. 

Dan seperti yang pernah dikatakan penulis Jim Fay dalam Parenting with Love and Logic:

“Generally, honesty is conveyed to our kids through our actions, not our commands. We need to step back and analyze the model we are presenting to our kids.”

Adil, Seimbang dan Proporsional

Demo hari ini salah satunya berangkat dari rasa ketidakadilan. Rakyat yang pontang-panting, sementara pejabat hidup berlimpah. Anak perlu mengerti sejak dini bahwa adil bukan berarti semua orang mendapat hal yang sama, melainkan setiap orang mendapat apa yang seharusnya.

Contoh praktis, ketika anak punya adik yang masih kecil, berikan perhatian sesuai kebutuhan. Kakak mungkin merasa iri, tapi jelaskan bahwa adik butuh bantuan lebih banyak. Begitu pula sebaliknya, ketika kakak sudah besar, dia punya tanggung jawab lebih. Dari rumah, anak belajar bahwa adil itu proporsional, bukan seragam.

Orang tua hendaknya menjelaskan alasan secara masuk akal ketika memberi kebijakan berbeda pada tiap anak. Berikan pengertian bahwa masing-masing tanggung jawab dan kebutuhan anak ada porsinya masing-masing sesuai jenjang dan usianya. 

Tidak mudah untuk adil selama jadi orang tua. Kecenderungan subjektif pasti ada, diiringi rasa bersalah karena tahu itu tidak seharusnya. Tapi, sebisa mungkin kita juga belajar untuk adil dan proporsional kepada anak. 

Kapabilitas, Pasang Niat Baik dengan Skill Nyata

Nilai-nilai moral akan lebih sempurna dengan kapasitas dan kapabilitas untuk menghadapi tantangan nyata, supaya bukan cuma melakukan hal yang benar, tetapi bisa melakukannya dengan baik.

Dalam konteks demonstrasi hari ini, kita menyadari bahwa kritik saja tidak membuat perubahan kecuali diikuti dengan kemampuan untuk merencanakan, memimpin, dan bertindak nyata. Baik untuk kedua belah pihak, ya rakyatnya, ya pejabatnya. 

Mari jujur, banyak masalah bangsa bukan hanya soal moral, tapi juga soal kapasitas. Kita ingin anak-anak tumbuh selain jujur dan adil, tapi juga kompeten. Karena pemimpin yang berintegritas sekalipun bisa kelabakan kalau tidak punya kemampuan. 

Mendorong anak belajar sungguh-sungguh, mengasah keterampilan, hingga berani menghadapi tantangan adalah bagian penting. Misal mulai dari menuliskan buah pikiran, misal kalau senang dengan ekonomi dan keuangan ya menulislah sebuah blog tentang keuangan. Nanti jejak pemikirannya menjadi dasar untuk generasi selanjutnya seperti kita lihat betapa inspiratifnya Tan Malaka pada gerakan-gerakan hari ini. 

Hal ini akan membentuk pola pikir yang solutif dan komprehensif. Paham substansi, dan bisa mengelaborasi solusi. 

Komunikasi Empatik sebagai Fondasi Hubungan Sehat

Mengutip teknik komunikasi dari psikolog Haim Ginott, yang menjadi guru bagi banyak pakar parenting modern:

  • “Never deny or ignore a child’s feelings.”
  • “Only the behavior is treated as unacceptable, never the child.”
  • Anak perlu tahu bahwa dia dicintai, bukan karena berperilaku sempurna, tapi apa adanya—kesalahan yang dia buat wajib dibahas, bukan disalahkan secara personal.

Pendekatan seperti ini membangun rasa aman dalam keluarga. Kalau anak merasa bisa mengakui kesalahan tanpa takut dihukum berlebihan, integritas dan kejujuran justru tumbuh alami.

Demo dan keresahan rakyat hari ini mungkin terasa jauh dari ruang keluarga kita. Tapi sebenarnya, masa depan yang lebih baik justru dimulai dari ruang paling kecil itu. Dari meja makan atau ruang tengah, dari obrolan di perjalanan, dari contoh kecil keseharian.

Kalau kita berhasil membesarkan anak yang jujur, berintegritas, adil, dan punya kemampuan, kita sedang menanam benih pemimpin masa depan yang tidak buta terhadap penderitaan rakyat. Mereka mungkin bukan duduk di kursi DPR, tapi bisa jadi guru, dokter, pengusaha, penulis dengan blog gaya hidup, atau warga yang aktif menyuarakan kebenaran.

Pada akhirnya, bangsa yang sehat bukan hanya diukur dari siapa yang berdiri di podium, tapi juga dari jutaan anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai benar di rumah. Dan di situlah, peran kita sebagai orang tua terasa paling nyata.

Dalam masa ketika rakyat menuntut wakilnya untuk peka, jujur, dan adil, peran kita sebagai orang tua justru sangat strategis. Kita sedang mencetak generasi yang tidak hanya menuntut perubahan, tetapi menjadi agen perubahan itu sendiri. Anak yang tumbuh berintegritas, adil, cakap, dan tangguh akan jadi tulang punggung masyarakat bukan sebagai majikan elit, tapi pemimpin yang merakyat.

Kalau ada satu orang tua yang memulai begini dan jutaan orang tua lain melakukan hal yang sama, semoga Indonesia nggak menuju generasi cemas lagi. 

Next Post Previous Post
24 Comments
  • Katerina
    Katerina 11 Agustus 2026 pukul 13.22

    Setuju banget soal integritas ini, Rel. Menurutku, integritas memang bukan cuma soal berkata benar, tapi bagaimana kita tetap bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini, bahkan ketika nggak ada yang melihat.

    Makanya aku rasa ini penting dibiasakan sejak anak masih kecil ya. Dari hal-hal sederhana seperti menepati janji, berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab dengan apa yang sudah dikerjakan, sampe tetap melakukan yang benar meskipun nggak ada yang mengawasi. Soalnya nanti ketika dewasa dan punya jabatan, yang menjaga dia bukan cuma aturan atau pengawasan, tapi nilai yang sudah tertanam dalam diri si anak.

  • Yonal Regen
    Yonal Regen 11 Agustus 2026 pukul 13.32

    Rasanya makin miris melihat berita-berita yang memperlihatkan gaya hidup para pejabat yang hedon di negeri ini sedang di sisi lain banyak rakyat yang engap-engapan mencari sesuap nasi. Sungguh kontradiksi yang sangat.

    Makanya sepakat sekali dengan pola pendidikan anak yang harus kuat yang bermula dari rumah, karena memang pada dasarnya rumah adalah sekolah utama anak seperti halnya yang disebutkan dalam kaidah Islam: Al-ummu madrasatul aula, bahwa ibu adalah madrasah utama dan ayah adalah kepala sekolahnya. Which is butuh kerja sama yang solid, ya diantara kedua orang tua ini.

    Mudah-mudahan dengan pola pendidikan karakter yang sudah dibina sedari kecil, anak-anak bisa beradaptasi dengan baik ketika terjun di circle nya di setiap usianya, karena lingkungan juga pada akhirnya akan menjadi salah satu aspek yang akan mempengaruhi karakter mereka, tetapi mudah-mudahan jika fondasi karakternya sudah kuat, maka dimanapun mereka berada, mereka tetap akan menjaga integritasnya

  • erykaditya
    erykaditya 11 Agustus 2026 pukul 15.09

    Semoga anak2 kita bisa menjadi agen perubahan di negeri kita ini ...sebuah negeri yang butuh perubahan besar2an namun sayang masih banyak orang diatas sana yang masih ngotot dan enggan untuk mundur demi sebuah perubahan yang lebih baik...
    Perubahan juga bisa diawali dari lingkup terkecil yaitu keluarga dimana orangtua bisa menanamkan nila2 luhur untuk dicontoh anak-anak sehingga bisa menghasilkan suatu perubahan besar nantinya

  • Fanny Nila (dcatqueen.com)
    Fanny Nila (dcatqueen.com) 11 Agustus 2026 pukul 22.39

    setuju sih.... aku udh speechless ama pejabat yg skr yaaa... kayaknya udh terlkalu bangkotan untuk diperbaiki karakternya... apalagi kalau korupsinya udh kejauahan... mau ngajarin udh sesuatu yg mustahil terjadi.

    jadi yg aku lakukan, ngajarin anakku sendiri utk tidak menjadi orang memalukan seperti itu. mereka harus diajari integritas sejak kecil... hrs berani mengakui kesalahan... hrs jujur, harus tahu cara berpikir logis, dan mereka harus takut dengan Tuhan... kalau ada 1 yg dilewatkan, apalagi yg takut terhadap Tuhan, ngeriiii ngebayangin akibatnya...

    para pejabat itu udh dipastikan rasa takutnya terhadap Tuhan udah mati mungkin... :(. makanya berani menzalimi rakyat :(

    • Rella Sha
      Rella Sha 13 Agustus 2026 pukul 21.50

      huahaahah... terlalu bangkotan untuk berubah :))

  • Bambang Irwanto
    Bambang Irwanto 11 Agustus 2026 pukul 22.42

    Saat anak-anak ditanya kalau besar mau jadi apa? Rasanya sepengalaman saya, belum ada anak yang menjawab mau jadi pejabat. Jadi tugas orang tua memang terus menanam nilai-nilai kebaikan, kemudian mencontohkan dalam kehiduapan sehari-hari. Nah, bila nanti dalam perjalanan hidupnya anak itu jadi pejabat, nilai-nilai moral inilah yang akan berperan penting saat ia jadi pejabat. Bagaimana di jujur, peka, dan lainnya. Intinya menjadi pejabat yang baik dan tidak merugikan masyarakat dan negara.

    • Rella Sha
      Rella Sha 13 Agustus 2026 pukul 21.52

      heheh, pejabat itu emang 'jabatan' yg berat.. sesimpel jadi Ketua Kelas tuh ya pejabat juga, amanahnya besar jadi gak bisa dijalani dengan main-main dan malah kesempatan untuk melakukan hal-hal tidak baik

  • Tukang jalan jajan
    Tukang jalan jajan 12 Agustus 2026 pukul 21.49

    Kadang suka nyesek ya ngeliat berita belakangan ini, tapi bener kata Kak Rella, semuanya memang harus dimulai dari rumah. Hal-hal kecil kayak ngajarin anak jujur pas ngebumpahin susu atau belajar konsisten sama janji itu kelihatan sepele, tapi dampaknya panjang banget buat karakter mereka pas gede.
    Mendidik anak zaman sekarang emang tantangan berat, tapi setidaknya kita berusaha biar anak-anak kita nanti nggak ikut-ikutan jadi orang yang krisis empati.

  • Yuni Bint Saniro
    Yuni Bint Saniro 13 Agustus 2026 pukul 08.39

    Ini nih. Pas adikku masih SD, aku hati-hati banget dalam bertindak. Bukannya apa ya. Khawatirnya, aku nggak sengaja melakukan sesuatu yang kurang bijaksana. Pas adikku melakukannya, aku kan nggak bisa melarang. Karena dia saja mencontoh aku.

    Sama konsep adil. Banyak yang merasa adil berarti sama rata. Padahal, nggak begitu. Aku lebih setuju kalau adil tuh proporsional. Sesuai dengan kebutuhannya.

  • Okti Li
    Okti Li 13 Agustus 2026 pukul 13.33

    Sungguh bikin gedeg akutuh kakak kalau melihat kelakuan para oknum pejabat yang saat ini hancur berantakan
    Dua hati lalu saya didatangi pimpinan sebuah bank yang meminta maaf gegara pelayanan di KCP nya curang, minta uang. Ketika saya upload ke X eh buming, sampai 70 ribuan tayangan belum sampai satu hati satu malam
    Postingan saya hapus setelah yg bersangkutan minta maaf dan katanya instansi terkait juga mendapat teguran
    Kebiasaan yg tidak benar tapi dibiasakan itu yang harus mulai kita singkirkan
    Kalau sejak, kecil, dididik jujur, tanpa pamrih kecuali hak nya. Insyaallah anak tidak akan berkelakuan tidak baik

  • dinda
    dinda 13 Agustus 2026 pukul 14.28

    baca soal pendidikan anak, makin ke sini rasanya makin sadar kalau yang paling berat bukan mengajarkan Bnak menjadi pintar, tapi menanamkan nilai yang konsisten dari rumah. Yang nyentil pake buanget bagian ekspektasi kita sebagai orang tua yang pengen anak jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, tetapiiiii kita pun lupa berkaca apakah perilaku kita sehari-hari sudah menunjukkan hal yang sama atau belum.

    Masalah integritas ini nggak cuma semboyan kalau bener-bener diterapin, dan hasilnya pun bukan sekedar kaleng kosong ke anak. Karena jujur aja, makin lihat kondisi pejabat makin OVT sama didikan sendiri lho mbak.. :(

  • Fenni Bungsu
    Fenni Bungsu 13 Agustus 2026 pukul 19.00

    Ini bahasan yang ga sering daku temui di blog. Walau terbilang sesuatu urusan politik, tapi memang iya sih, dari sekarang itu anak-anak udah didik dengan apik, karena ga tahu rejekinya kan ke depan mereka bakalan jadi pejabat yang seperti apa. Kalau didikannya lurus, bismillah lurus terus saat mendapat kursi empuk nantinya, ya ga sih kak?

  • Lala
    Lala 13 Agustus 2026 pukul 21.11

    Semoga artikel ini banyak dibaca oleh para orangtua yang sedang mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Sehingga ampuh dan ngena. Membuat mereka menyiapkan cara jitu sehingga bisa membesarkan anak yang berintegritas, punya kemampuan mumpuni, punya empati, serta peka sama situasi. Jadi, bila tumbuh dan bisa menduduki kursi kepemimpinan ia akan menjadi pemimpin yang amanah.

    Agai, semua hal baik memang harus dicontoh kan rill dari rumah, dalam keseharian secara konsisten. Bukan hanya nasehat tetapi ortu berikan teladan yang baik juga. Semoga Indonesia segera membaik dan tidak semakin tertinggal serta mundur.

  • Asri M Lestari
    Asri M Lestari 13 Agustus 2026 pukul 21.18

    Tugas berat kita saat ini membimbing generasi penerus agar lebih baik dari generasi sebelumnya. Terutama masalah kejujuran. Nggak memungkiri, jamanku sekolah dulu, nyontek itu kaya sesuatu yang wajar. Padahal kan jelas ya itu perbuatan tidak jujur, tapi karena banyak yang melakukan, jadinya dianggap wajar. Mungkin bibit-bibit korupsi berasal dari sini. Melakukan segala hal demi mendapatkan tujuan.
    Nah sekarang gimana agar generasi muda bisa jujur, berintregritas, dan adil. Sungguh ini PR yang berat tapi semoga dimampukan.

  • Didik Purwanto
    Didik Purwanto 13 Agustus 2026 pukul 22.13

    Miris banget ama kehidupan pejabat kita ya kak. Di saat masyarakat diperas keringatnya utk disuruh bayar pajak dan segala aturan, eh malah duit hasil pajak dikorupsi.

    Giliran kita yg teriak keadilan, malah kita dibungkam dgn memasukkan masyarakat kritis ke penjara. Padahal loh kita yang gaji mereka.

    Smg kita selalu org tua bs mendidik anak dgn baik. Melalui pendidikan karakter yang sesuai zaman dan aturan agama. Tentu semua agama baik, bahkan jg melarang korupsi.

    Masalahnya, pejabat skrg udh ga malu utk korupsi. Kalo bs ngajak keluarga buat meraup untung sebanyak-banyaknya.

  • Fajarwalker.com
    Fajarwalker.com 13 Agustus 2026 pukul 23.05

    Keinget salah satu tulisan di threads yang pernah berseliweran beberapa waktu lalu. Ada beberapa anak siswa yang gak bisa masuk sekolah, perkara gerbangnya udah ditutup.. alias kesiangan.
    Sampe sini, harusnya wajar dong ya. Salah anaknya sendiri, kenapa datang ke sekolahnya telat? Eeeeh.. orang tuanya malah gak terima. Ya marah lah, yaa di komplain lah. Kan ga jelas ya? Bukannya mendidik.. ini justru yang bakal menciptakan generasi-generasi korup ke depannya. Heuheuheu

  • Dyah Kusuma
    Dyah Kusuma 13 Agustus 2026 pukul 23.33

    Sepakat banget mbak, banyak hal-hal prinsip yang dimulai dari rumah sehingga menajdi kebiasaan saat anak-anak dewasa nantinya. Kebiasaan itulah yang akan melindungi mereka dari tindakan tidak terpuji. Tampaknya sepele saat ini tapi tanpa disadari hal itu akan berdampak besar saat mereka eeq ada nanti
    Tugas berat dan besar bagi orang tua untuk memberikan bekal pendidikan karakter untuk anak-anak nya

  • Fauziah Rachmawati
    Fauziah Rachmawati 14 Agustus 2026 pukul 03.20

    Mba Relaaa bener banget mendidik haman skrg butuh effort yg sangat. Apalagi ada sosmed dan byk ortu yg memberi keleluasaan akses. Duh duh jadi bikin lupa waktu. Belum lagi kl yg diakses tontonan yg kurang bermutu. Smg byk ortu dan guru yg baca tulisan mb😊

  • Heni Hikmayani Fauzia
    Heni Hikmayani Fauzia 14 Agustus 2026 pukul 04.56

    Ngerii ya mbak ....gak pernah terbayang di benak orang tua manapun kalau anaknya ditakdirkan jadi pejabat misal suatu saat nanti tapi ajdi pejabat gak bener yang korup dll. Aduuh enggak deh.

    Emang betul kata mbak Rela..kalau karakter orang dewasa itu ditentukan oleh pembinaan karakter saat kecil alias pendidikan dini di rumah.

    Rumah adalah fondasi utama membentuk karakter anak. Jadi daat fia manggung di luar sudah paham mana salah mana benar mana yang boleh dan mana yang tak boleb dilakukan.

  • Srie Ummu Kayshwa
    Srie Ummu Kayshwa 14 Agustus 2026 pukul 05.35

    Sepakat, fondasi moral memang harus ditanamkan sejak dini. Karena karakter ini terbentuk dari kebiasanaan yang berlangsung terus menerus. Namun fondasi yang kuat dari keluarhga juga perku didukung oleh sistem (faktor eksternal) yang bagus, karean individu yang baik, namun berada dalam sistem yang rusak lama-lama juga kan mengalami kerusakan. Jadi memang perlu ada sinergi dari keluarga, masyarakat, dan sistem yang dijadikan pengikat anggota masyarakat.

  • Antung apriana
    Antung apriana 14 Agustus 2026 pukul 07.08

    setuju banget nih sama tulisan mbak Rella. Anak sejatinya belajar langsung dari orang tua, ya. Makanya sebagai orang tua kita juga harus memberikan contoh bagaimana menjadi sosok yang jujur dan berintegritas sehingga ketika anak berada di posisi berkuasa mereka juga bisa memiliki integritas dan empati kepada yang di bawahnya

  • April Hamsa
    April Hamsa 14 Agustus 2026 pukul 07.55

    Btw aku kebetulan sejak SMA dan kuliah tu beberapa teman2ku anak2nya pejabat2, tahu nggak mereka sekarang jadi apa? Yaaa pejabat juga, kalau nggak simpatisan parpol haha. Jadi yaaa keluarga itu mulu yang "berkuasa", jadi menurutku nilai2nya juga sama diturunkan dari generasi ke generasi di keluarga2 itu. Kadang aku lihat ada yang hidup normal, tapi ada juga yang sekarang juga sama aja plengernya kek pendahulunya =))
    Apalagi kalau udah terlibat parpol, duh :(
    Makanya aku nggak bangga kalau punya teman pejabat, ya sewajarnya aja nganggep mereka sama kek kita2 juga kalau ketemu. Kalau kerja mereka bagus ya dipuji secukupnya.
    Kalau kita yang rakyat jelata yaa semoga saja bisa dimampukan mengajari anak2 kita integritas dan kejujuran. Juga mendoakan anak2 kita kelak survive di manapun mereka berada yaa dengan nilai2 baik yang kita tanamkan.

  • Bunda Saladin
    Bunda Saladin 18 Agustus 2026 pukul 17.02

    Setujuu di part jujur karena memang harus dinomorsatukan. Jangan sampai anak jadi pembohong karena selalu ditekan orang tua, atau malah meniru bapak atau ibunya yang ternyata juga suka bohong.
    Bismillah anak-anaknya jadi pejabat atau orang penting yang kaya-raya berkah dunia akhirat ya.

  • lendyagassi
    lendyagassi 19 Agustus 2026 pukul 21.16

    Aku ngerasa tersentuh banget sama artikelmu ini, Rel..
    Betapa membesarkan anak itu bukan hanya sekedar pengasuhan yang kita terapkan, namun juga pendidikan terhadap diri sendiri. Bcoz "Actions speak louder than words".

Add Comment
comment url