2021: Sekolah Daring atau Tatap Muka?

14 komentar
Jumat (20/11) jam 13.30 siang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar siaran langsung di channel Youtube-nya Kemendikbud RI dengan tajuk "Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19". 

Tayangan ini, sama halnya seperti pengumuman sebelum-sebelumnya, merupakan update keputusan bersama antara 4 kementerian dan BNPB mengenai sistem pembelajaran persekolahan di masa pandemi Covid-19. 

Dalam kurun waktu 9 bulan ini, pemerintah sudah mengeluarkan dua Surat Keputusan Bersama:  
SKB 1 (Juni) : pembelajaran diprioritaskan pada wilayah zona hijau 
SKB 2 (Agustus) : perluasan izin tatap muka pada zona kuning dan daerah kepulauan 

Lalu SKB ketiga diumumkan sekarang isinya adalah penyesuaian terhadap hasil evaluasi penyelenggaraan yang ditetapkan sebelumnya. 

sekolah di masa pandemi



Sebagai orang tua yang punya anak sekolah, pastilah masa-masa ini dilematis banget. Nggak dipungkiri bahwa kita juga mengalami kelelahan, tapi juga kalau anak-anak disuruh balik sekolah seperti biasa lagi, kok kayanya was-was gituuu.. tapi juga kalau lihat anak-anak di rumah diam saja, gemeessss... 

Duuhh, emak-emak memang yaaa. 9 bulan di rumah aja mengampu pembelajaran sekolah dan pendidikan di rumah memang sangat menguras energi dan emosi jiwa. Kadang ingin ada waktu bernapas sejenak, untuk sekadar rehat dari hiruk pikuk menjelaskan dan mengupload tugas.  

Untuk itu, kita banyak berharap pada keputusan-keputusan dari pemerintah yang dapat memberikan alternatif solusi, gimana caranya anak-anak tetap mendapat haknya bersekolah dengan cara yang aman. Karena nyatanya, ini pandemi nggak selesai-selesai, masih aja mubeng di first wave -___-  

Sekarang sudah hampir memasuki akhir semester ganjil, anak-anak juga mulai pekan depan sudah ujian tengah semester, pertanyaan selanjutnya tentu saja... "tahun depan masih daring kah? sampai kapaannn???" 

Keputusan Pembelajaran Semester Genap 2020/2001

Pengumuman Keputusan Bersama hari ini setidaknya memberikan penggambaran, jika kita tidak bisa berharap pada pusat, maka harapan tinggal pada pemerintah daerah yang lebih mengerti situasi dan kondisi persekolahan di wilayahnya. Selanjutnya harapan kita akan bergantung ke kesiapan sekolah dalam menerapkan kedisiplinan protokol kesehatan selama KBM. 

Menurut pihak Kementerian PMK, keputusan ini diambil demi keselamatan pendidik dan anak didik, dan tidak berisiko kehilangan kesempatan. Karena dari Belajar di Rumah (BdR), anak hanya dapat satu dari empat aspek bersekolah, yakni knowledge; sementara untuk tiga aspek lainnya yaitu attitude, skill, dan values biasanya bisa didapatkan dan dilatih di sekolah. 

Izin pembelajaran tatap muka kali ini dikeluarkan berdasarkan pada rekomendasi dari pemerintah daerah dan kantor wilayah/kementerian agama. Pemerintah perlu menyesuaikan kembali SKB 4 menteri untuk 2020/2021. Pemda yang merupakan pihak yang paling memahami wilayahnya, perlu diberikan kewenangan penuh untuk menentukan model pembelajaran. 

Kondisi kecamatan, kelurahan dapat sangat berbeda satu dan lainnya. Maka, SKB kali ini tidak lagi berdasarkan zonasi pemetaan  dari Satgas Covid-19 seperti sebelumnya, tetapi berdasarkan penilaian pemda masing-masing. 

Paparan Kemendikbud

Fokus: pemberian kewenangan bagi pemda untuk penyelenggaraan pembelajaran tatap muka 2020/2021

Dalam SKB yang kedua, pemerintah sempat memberikan relaksasi untuk zona kuning dan wilayah kepulauan untuk menyelenggarakan belajar tatap muka. Tetapi, hanya 13% satuan pendidikan yang melaksanakan pertemuan tatap muka. Hal ini karena tergantung kesiapan sekolah dalam memenuhi ceklis yang ditetapkan pemerintah dan persetujuan komite sekolah yaitu wali murid. 

Setelah Kemendikbud mengevaluasi hasil dari PJJ, pemerintah mengambil kesimpulan >> semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, semakin besar dampak negatif yang bisa terjadi pada anak, sbb:  
- ancaman putus sekolah (anak harus kerja, persepsi orang tua terhadap sekolah)
- kendala tumbuh kembang (learning loss risk, ketidakoptimalan pertumbuhan di usia PAUD, kesenjangan capaian belajar) 
- tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga (anak stres, kekerasan tidak terdeteksi)

Penentuan kebijakan kali ini berfokus pada daerah agar sesuai konteks, kondisi, dan kebutuhan daerahnya. Sesuai permintaan para kepala daerah ke pusat, bahwa walaupun zonasi risiko ditentukan per kabupaten atau kota, tetapi bahwa ada wilayah-wilayah atau desa-desa yang situasinya aman dan di wilayah tersebut sulit dilakukan pembelajaran jarak jauh. 

Jadi, 2021 sekolah luring atau daring? 

Semester Genap (mulai Januari 2021), kebijakan pembelajaran tatap muka dimulai dari pemberian izin oleh pemda/kanwil/kemenag, kemudian tetap dilanjut dengan izin berjenjang dari satuan pendidikan dan orang tua. 

Pembelajaran tatap muka diperbolehkan, namun tidak diwajibkan. 


sekolah tatap muka
prosedur perizinan sekolah tatap muka



Untuk itu, sekolah yang ingin melakukan tatap muka harus segera melakukan persiapan memenuhi ceklis yang ditetapkan. Pemda diminta untuk benar-benar mempertimbangkan dengan matang, dan sekolah tidak harus langsung serentak melakukan tatap muka melainkan boleh bertahap.

Orang tua tetap memegang kunci untuk mengizinkan anaknya pergi sekolah tatap muka ataupun tidak, meskipun sekolahnya sudah mulai tatap muka.


Faktor-faktor pertimbangan pemda dalam pemberian izin pembelajaran tatap muka: 

  • tingkat risiko penyebaran covid di wilayahnya

  • kesiapan faskes

  • kesiapan satuan pendidikan 

  • akses terhadap sumber belajar/kemudahan BDR

  • kondisi psikososial peserta didik 

  • kebutuhan layanan pendidikan bagi anak yang ortunya kerja di luar rumah

  • ketersediaan akses transportasi aman (karena akan terjadi lonjakan penumpang saat anak mulai bersekolah)

  • tempat tinggal warga satuan pendidikan 

  • mobilitas warga antar kabupaten-kota-kecamatan-kelurahan-desa

  • lokasi geografis 


ceklis sekolah untuk dapat melakukan pembelajaran tatap muka


Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan hanya boleh dilakukan setelah memenuhi 6 ceklis : 

  • sanitasi sekolah
  • akses faskes
  • wajib masker
  • memiliki thermogun
  • pemetaan warga satuan pendidikan (siapa saja yang memiliki komorbid, riwayat sakit, dll)
  • persetujuan komite sekolah tentang adanya tatap muka

protokol kesehatan sekolah saat pandemi
protokol kesehatan tatap muka di sekolah

Setelah sekolah memenuhi keenam ceklis di atas, sekolah memasuki protokol baru. Jadi, pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan tertentu (bukan kembali ke situasi seperti sebelum pandemi).
  • kapasitas 50% dari rata-rata jumlah murid (paud 5:15, dasar - menengah 18:36, SLB 5:8)
  • shifting
  • masker
  • cuci tangan
  • jaga jarak
  • etika batuk/bersin
  • warga sekolah yang memiliki komorbid dilarang ikut sekolah
  • tidak diperkenankan kegiatan berkerumun
*kantin boleh buka dengan protokol
*kegiatan olahraga yang melibatkan kontak fisik tidak diizinkan


Paparan Kemendagri dan Kemenkes


Kemendagri akan mengeluarkan Surat Edaran, dimana isinya menyebutkan apa saja yang harus dikerjakan oleh kepala daerah setelah membuka sekolah. Termasuk bila terjadi cluster saat anak mulai sekolah, kemendagri akan lihat pemda sudah bertindak apa tidak? kalau sudah, akan didukung, kalau belum, pusat akan turun tangan. 

Kemenkes akan mendorong peran puskesmas di setiap wilayah, dan meningkatkan kapasitas kesiapan pelayanan kesehatan. 

Bagaimana dengan Perguruan Tinggi? 

Akan ada wacana diberlakukan tatap muka juga, tapi protokol dan daftar periksa, aturan dan detailnya sedang dibuat oleh Dirjen Dikti, jadi menunggu dulu. 


Sikap Orang Tua Menghadapi Sekolah Tatap Muka


Sejujurnya, saya pun galau. Dua bulan terakhir ini, anak-anak memang sudah melakukan tatap muka terbatas (satu kali sebulan) dengan jam pelajaran terbatas di sekolah. Saat seperti ini, kami masih oke saja hitung-hitung anak menghirup udara segar di luar dan melihat jalan. Tapi kalau semester depan sekolahnya jadi tiap hari...ya kepikiran lagi... 

Hanya saja, tingkat penularan Covid-19 di daerah saya memang tidak seganas di kota-kota lain (setidaknya begitu yang saya tahu), pun juga suami masih anteng bolak-balik WFO dari sejak awal pandemi, jadi rasa khawatir ini masih bisa diatasi. 

Orang tua

Bagi orang tua yang berada di zona merah, dan masih belum rela melepas anaknya pergi ke sekolah, penting untuk bersinergi lebih kenceng lagi dengan sekolah mengenai hal-hal yang dikhawatirkan orang tua, bagaimana yang diinginkan, dan harapan terhadap tindakan yang diambil sekolah.  

Orang tua perlu menyampaikan secara gamblang, kalaupun tidak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah, mintalah kompensasi pada sekolah untuk memfasilitasi anak-anak yang tidak bisa pergi ke sekolah. 

Sekolah
 
Sebaliknya, sekolah juga harus mempersiapkan sebaik-baiknya amunisi dan antisipasi ketika murid-murid mulai bersekolah lagi. 

Ada penyesuaian-penyesuaian, mulai dari materi pembelajaran, jam pelajaran, bobot mengajar guru, dan proses pembelajaran yang harus disiapkan dalam waktu kurang dari dua bulan ini. 

Kita tentu tidak ingin mengalami lost generation, usia bertumbuh anak-anak juga tidak dapat terulang lagi, jika kemudian pada akhirnya kita akan berdampingan dengan situasi seperti ini, pastikan untuk tetap melakukan ikhtiar yang tak pernah kendor, dan doa yang tak pernah putus. 

Together, we fight! 

14 komentar

  1. Jadi serba salah ya, di rumah aja, emaknya yang stroke, kalo ke sekolah Kasian anaknya karena bayang-bayang si Corona. Kalo anak saya kelas 5SD di Depok belum pernah belajar di sekolah, jadi belajar di rumah terus, saya yang ngajarin, jadi, istri hanya ngurus rumah aja

    BalasHapus
  2. Pas dengar rencana buat Januari nanti, kami langsung bahasa Mbak, saya dan istri. Intinya sih kami belum bisa merelakan anak-anak belajar di sekolah dengan tatap muka. Anak-anak dan sekolah terbukti belum bisa tertib dan taat protokol dalam beberapa kesempatan kemarin. Belum lagi perilaku warga sekitar yang mengabaikan bahkan meremehkan covid19. Jadi ya sementara belajar di rumah dulu deh, rencananya. Semoga aja Januari nanti ada kabar baik. Aaamiin.

    BalasHapus
  3. aku ikut gimana sekolah anakku deh, klo mereka siap tatatp muka ya aq siap, anak anak dilatih biasa dgn kebiasaan new normal

    BalasHapus
  4. Pembelajaran tatap muka memang perlu banyak yang disiapkan, selain isi kelas yang nggak bisa full, perlu juga melihat ventilasi udara agar sirkulasi di dalam kelas tetap baik dan menghindari droplet juga

    BalasHapus
  5. Pastinya banyak yang kangen tatap muka di sekolah. Kira-kira olahraga apa ya yang tidak perlu kontak fisik dan cocok dilakukan di sekolah

    BalasHapus
  6. keputusan yang sangat berat untuk masyarakat dan pemerintah mengenai pendidikan. DIsatu sisi tatap muka penting dilakukan sementara disisi lain protokol kesehatan harus ditegakkan. semoga solusi ini yang terbaik

    BalasHapus
  7. Apapun itu sebenarnya saya mematuhi segala keputusan pemerintah karena pasti terbaik, namun kalau boleh jujur semoga pandemi ini segera selesai dan anak2 bisa sekolah tatap muka

    BalasHapus
  8. Anak saya sudah tidak betah belajar secara daring. Alasannya sulit bisa menerima pelajaran kalo hanya diberi tugas-tugas terus. Kalo memang awal tahun nanti sekolah dibuka, harapan saya bisa berjalan sesuai protokol.

    BalasHapus
  9. Sebenarnya ini seperti buah simalakama. Tapi untuk kondisi saat ini, saya setuju untuk tatap muka asal dengan protokol kesehatan dan sistem selang-seling. Jadi gak full sekolah dan siswapun bergantian jadwalnya. jadi tetap bisa jaga jarak.

    BalasHapus
  10. Kalau saya tetap lebih setuju dengan metode daring.
    Kasus positif di Indonesia makin parah dan per kemaren malah udah tembus 500rb lebih. Serem sih kalau tatap muka.

    BalasHapus
  11. Aku gak semoat lihat pengumumannya nih kemarin soal sekolah tatap muka apa aja persayaratannya. Sejujurnya masih bingung sih aku haru setuju atau gak. Kalau belajar di rumah semuanya enjoy-enjoy aja selama ini cuma ada kendala sedikit kalau berurusan ke sekolah aja. Iya mudah-mudahan ada solusi ya anak tetap dapat hak untuk belajar tapu juga dengan cara aman & gak membebani semua

    BalasHapus
  12. Setuju sih dengan semua paparan di atas, yaa pada dasarnya sekolah daring atau tatap muka ada sisi positifnya masing-masing. Tapi kalau pribadi sih lebih seneng tatap muka, semoga pandemi segera benar-benar berakhir dan siswa/guru dapat produktif dan maksimal belajar dan mengajarnya.

    BalasHapus
  13. Selalu ada sisi positif dan negatif ya dalam pembelajaran secara daring maupun tatap muka, semoga pandemi segera berakhir dan kita segera beraktivitas normal kembali

    BalasHapus
  14. Ini jadi pembahasan seru juga di sekolah anak2. Tapi tetap sebagai orang tua saya belum rela, mengingat wilayah kami masih belum aman juga

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^