Food Preparation : Menu atau Belanja dulu?

15 komentar
Beberapa minggu yang lalu, saya iseng klik bergabung dengan sesegrup Facebook Food Preparation, isinya udah ketebak yaahh… sharing mengenai food preparation alias menyiapkan bahan-bahan siap masak yang belakangan kerap dilakukan ibu-ibu masa kini.

meal preparation

Namanya grup publik ya ada aja sih yang postingannya ajaib-ajaib semisal status ini :


Dan seperti biasa, jalan ninja di kolom komentar adalah sesi paling menarik. Ada berbagai komentar nyinyir, netral, dan bijaksana memberi advise. Yah, inti dari semua komentar yang bisa saya simpulkan yaitu yang bisa menyelamatkan isi dompet kita adalah diri kita sendiri. 

Bagaimana kita menahan diri dari keinginan-keinginan tidak penting, meskipun ada ‘alasan’ yang bisa dijadikan pembenaran semisal “sehari-hari saya umek di rumah aja ngurus anak, ingin refreshing…”, atau “seminggu saya masak terus, weekend waktunya makan di luar”, sampai ke alasan yang sepertinya hanya cari alasan seperti “ingin jalan-jalan aja ke mall kaya orang-orang lain”

Well, all of the reasons sih sah-sah aja. Seraahhh lo deh, kalo kata netijul jaman now tuh “duit-duit dia, suka-suka dia mau dipake apa”. Yeah, semua aja suka-suka lo, suka-suka dia, suka-suka ente. Hidup kok suka-suka, wkwkwk (aduh burel, nggak boleh nyinyir kau!)

Balik aja deh ke soalan food prep tadi, status berikutnya status yang saya lihat adalah kebingungan seorang ibu gimana mengatur menu harian. Kadang dia belanja ke pasar sesuai dengan daftar belanjaan yang direncanakan tapi malah bobol over budget.

Sebagian besar komentar menjawab tahapannya sesuai teori; buat meal preparation (menu) > belanja > food preparation.

Sementara itu, saya bisa mengerti betul perasaan si ibu yang curhat di atas, karena saya mengalami hal yang sama. Beberapa kali bikin list menu, berakhir gagal total. Kegagalan diindikasikan oleh belanjaannya yang bengkak atau tiba-tiba masak keluar dari menu yang sudah ditentukan.

Gagal Membuat Menu Harian


Percayalah, beberapa kali yang saya sebut ini nggak cuman sekali dua kali saya coba. Di hari-hari reguler dan bulan puasa, saya udah coba bikin menu dulu dan nggak pernah berlanjut lebih dari dua minggu aja abis itu ambyar lagi.

Setelah saya telisik, ada beberapa faktor kegagalan membuat menu dulu:

Pertama, Kalau cuman nulis menu, ini biasanya awalnya berdasarkan keinginan dulu. Ingin makan A, makan B, makan C… lalu ditambahkan dengan bumbu imajinasi “wah kayanya enak nih lauk rawon ditambah empal gepuk kaya di warung anu..”. Atau ingin mencoba menu resto di rumah dalam rangka lebih hemat masak di rumah ceunah, maka ditulislah menu beef grill (yang kemudian akhirnya harus mikir lagi menu makan kedua dan ketiga, karena beef grill mah paling satu kali sesi makan aja)

Yang kedua, saat mem-breakdown menu menjadi satuan list belanjaan. Jatuhnya buanyaakk banget itemnya, mulai bahan utama hingga bumbu perintilan. Karena nulis-nulis aja kan gampang, harus ada kedelai, taburan seledri, saus ini, saus itu, dll…

Ketiga, permasalahan berlanjut karena saya nggak apal harga-harga bahan di pasar. Paling banter ayam sekilo berapa, daging berapa, tempe sepapan berapa, tahu seplastik berapa. Ya itu-itu aja yang fluktuasi harganya nggak jauh-jauh. Sedangkan kalau harga pare 2 biji, terong 2 biji, kacang panjang segenggam, udang seperempat, ikan 3 ekor (yang timbangannya nggak selalu sama).. kan yaaaaa agak susah ya kalo mau diapalin juga. Jadi, saya nggak bisa mengira-ngira duluan bakal habis berapa buat belanja. 

Ketebak kan, jatuhnya saya terkaget-kaget dengan jumlah belanjaan saya. Belum lagi kalau di pasar cenderung belanja dengan satuan yang lebih fix ketimbang di tukang sayur yang bisa beli kol separo, kemiri isi 4 biji, minta daun bawang sebatang, atau paket sambelan yang isinya cabe merah 2 biji, rawit 5 biji dan tomat sebiji. Di pasar ya sungkan beli eceran kaya gini…

Karena teruuss aja setiap hari merencanakan masakan yang ideal, ya nggak heran kalau budget boncos sana sini. Malah jangan-jangan baru belanja buat sampe hari Rabu, tapi duitnya kok udah tinggal beberapa lembar lagi. Mulailah pusing lagi memikirkan Kamis, Jumat, Sabtu pake menu apa yang lebih hemat...trus memandang isi kantong belanjaan yang sudah dibeli sambil ngebatin “duh, padahal tadi ngga usah beli ini aja...ngga pake ini juga gapapa”.

Belum ketambahan bahan yang direncanakan ternyata nggak ada… Ini udah bukan persoalan duit lagi, wong barangnya ngga ada, duit ada juga ya mau gimana. Mau ada duit atau gak ada duit, mack-mamack memang ngga jauh-jauh idupnya dari mikir dan mikir.

Menu atau Belanja Dulu?

Akhirnya saya tobat dari meal prep alias menyusun menu. Bahkan dalam daftar menu yang sudah sedemikian realistis (nggak menu mewah-mewah, menu ndeso, menu rumahan), saya tetep mengalami kegagalan. Tiba-tiba ada menu di luar perencanaan, males masak, atau rekues dadakan lainnya.

Sadar diri bahwa jika ini terus diterapkan di saya nggak akan berhasil, saya balik metodenya. Belanja dulu, kumpulin bahan-bahan, baru dipikir bisa dibuat apa dari bahan-bahan yang ada.

Pakai metode “mumpung ada ini, mumpung ada itu”, saya berangkat ke pasar, muter-muter, nemuin bahan-bahan yang saat melihat dan menimbangnya, langsung berselera kebayang masakan apa yang bisa dibuat dari situ. Mungkin ini namanya spark joy yah, hahahahaha.

Saya beli bahan-bahan yang saya inginkan, yang pasti bakal dimakan semua anggota keluarga, dan budgetnya sesuai dengan uang yang saya pegang (nggak dihabiskan semua yoo, karena saya spare budget untuk menu-menu kejutan barangkali besok nemu sesuatu yang menarik di tukang sayur). 

food preparation
food preparation

Sampai rumah, saya keluarkan isi keranjang belanjaan dan gelar di lantai. Sembari menyiapkan food prep satu per satu, saya mulai membayangkan sawi putih akan dibuat tumis, daging setengah kilo akan dimasak soto bandung, potongan dada ayam mau dibikin ayam kecap, bawang bombay ada, jahe ada, dan seterusnya.

Setelah puas dengan susunan kotak berisi food prep di kulkas beserta rencananya, beban hidup saya seolah berkurang dua ons. Lumayan, seperempat kilo kurang dikit. Saya bisa mengeliminasi pikiran “besok masak apa?” sebelum tidur, dan fokus rebahan di kasur sambil menonton drakor.

beberapa bahan yang disimpan matang

Setiap paginya, saya masih suka tengok-tengok tukang sayur untuk mencari kejutan. Anggap aja sambil berjemur pagi hari, nyapu halaman, urus kucing, tukang sayur berdatangan dan saya bisa window shopping. Kalau pun hari itu nggak dapat apa-apa, saya pun nggak khawatir karena sudah ada bahan siap masak  di kulkas.

Sebentar, kalau begitu apa bedanya antara nulis menu dan belanja dulu? Kan sama-sama intinya ada bahan masakan di kulkas yang siap dimasak dan tidak perlu belanja tiap hari?

Yesss….!! Karena goalnya adalah sama-sama mengurangi stres di malam sebelum tidur dan keesokan paginya, maka kalau goal itu tetap tercapai dengan cara yang berbeda, lanjut aja...metode apa saja bisa berhasil, tergantung orangnya. Hal seperti ini kan bukan perkara prinsip yang nggak bisa fleksibel.

Kenapa metode belanja dulu lebih berhasil? Kalau di saya, ternyata alasannya karena saya mengenali diri sendiri yang masakannya nggak jauh-jauh dari tumisan, oseng, sop kuah, bumbu kecap, dan sayur bening. Jadi, bumbu default selalu ada di rumah (nggak nambah-nambah bumbu lain yang cuman dipake sebulan sekali, misal).  

Ternyata, hanya tinggal dibalik aja metodenya, efeknya bisa berbeda di saya sendiri. Mungkin ini bukan yang sesuai teori dalam mengatur keuangan belanja harian, tapi ternyata ideal buat saya. Jadi buat ibu-ibu yang mengalami kegagalan di metode sebelumnya kaya saya, bisa coba membolak-balik metode mana yang paling cocok dan bekerja dengan baik.

Pokoknya, apapun jalannya, meski ukuran bahagianya nggak sama, semua ibu berhak berbahagia menjalani perannya ^^

15 komentar

  1. kalo aku, dua2nya dimainkan mak...
    ada kalanya pengen makan apa, terus dicari resepnya, dibeli bahannya. tapi paling itu kan 1 menu ya kan... (yang dimasak untuk minimal 3 porsi biasanya, terus dimasukin container trus disimpan di freezer. harap maklom anak kost)
    tapi klo menu sayur biasanya pilih sayur yang tahan lama, stok di kulkas, dimasak sesempatnya atau tepat sebelum jadi busuk dan gak kemakan lagi. :p
    dalam hal ini kita sesama penganut tumisan, plus rebusan/kukusan + cocol sambel atau kecap. :*

    BalasHapus
  2. Pokoke selalu ngakak, ngikik, ngukuk nganti kepuyuh-puyuh kalo baca tulisan Rella. SUWEGEERRR BENER dah! :D

    Aku juga bagian dari ibu2 yg mumet soal menu makanan ini mba.
    Akibatnya... sering beli matang atau kadang2 order catering rumahan.

    Abis gini, aku mau coba tips ala dikau dah
    Yeayy, bakal aku ATM-isasi nih tips ala mba Rella!

    BalasHapus
  3. Beda orang beda metode ya yang cocok. Jadi, kita harus mengenali diri kita sendiri, bisanya bagaimana.

    Memang ngeri bertanya di grup. Jatuhnya banyak yang jutek .... sering lihat yang begitu. Kasihan kan ya, harus siap mental mah kalo mau nanya di grup.

    BalasHapus
  4. Emang tiap orang punya metode masing masing ya mbak
    klo aw biasanya susun menu dulu, pas susun menu ya di obrolin bareng anak anak dan suami. mereka mau makan apa. setelah bikin menu 10 hari, baru aq belanja trs food prep.gitu sih aku biasanya

    BalasHapus
  5. Kayanya sama, saya juga belanja dulu. Paling beli yang biasa dimakan. Nanti tinggal kreatifnya aja gimana ntar

    BalasHapus
  6. Saya juga nggak hafal harga-harga di pasar, saking nggak doyan main ke pasar. Untung sekarang udah ada aplikasi belanja sayur online. Bahkan sebelum pandemi pun saya udah pakai aplikasi itu. Karena menurut saya lebih hemat waktu dan duit. Saya langsung tahu habis berapa saat itu juga, terus kalau lebih dari budget, bisa tinggal hapus aja dari cart.

    So far untuk food prep, saya mulai dengan bikin menu secara garis besar aja sih, baru kemudian cari apa aja yang mau dibelanjakan. Saya suka belanja langsung banyak, biasanya minimal untuk 1 pekan sekalian, maksimal 2 pekan sekalian.

    Food prep ini memang membantu banget untuk saya yang nggak suka lama2 di dapur. Nggak bingung tiap hari mikir besok masak apa. Sekaligus memaksa saya untuk memasak setiap hari, karena udah dibeli bahan2nya masak nggak dieksekusi, kan sayang kalau busuk :D :D

    BalasHapus
  7. Seru Kak Rella, saya tim belanja dulu, karena ayem ada bahan di kulkas, terserah mo jadi apa, prok prok prok😍

    BalasHapus
  8. Mbak rella, keren deh bisa food preparation. aku juga tim belanja dulu, walaupun masih kurang ini dan itu. tapi ya goalsnya ngurangi stress memang hehe

    BalasHapus
  9. Semakin memudahkan mbak kalau gini, pernah 3 bulan yll ikut kelas online gitu yang berhubungan dengan dapur. Ilmunya dapet, tapi terkadang prakteknya yang gak konsisten saya mbak, wkwkwk. Endingnya kalau lagi malas masak, ya buat telur sayur saja buat anak-anak. Yang perlu diperhatikan adalah gizi seimbangnya. Setiap hari ada sayur dan buah

    BalasHapus
  10. Kalau aku juga nggak pernah pakai menu, mbak. Tiap hari masak apa yang ada di kulkas aja. Hihi. Tapi kalau ke pasar juga belanjanya paling sayur itu lagi itu lagi. Nggak kreatif memang anaknya. Hihi

    BalasHapus
  11. Kalau aku, biasa'y random beli2 apa aja yg ada d tukang sayur yg kira2 bisa d makan sama anak. Abis itu baru deh cari2 resep mau masak apa. Haha. Dulu juga pernah sok2an bikin "weekly cooking planning" berbekal teori Production Planning pas masih kerja, jd dr 1 bahan makanan bisa d bikin apa aja tu dlm beberapa hari. Cuma kesini2 gak rajin lagi bikin begituan, jd metode'y randomisasi aja. Wkwk

    BalasHapus
  12. Aku belum bisa nih food prep kyk gini. Kadang2 aku coba tapi malah jadi boros. Jadi aku paling belanja untuk stok dua hari aja.

    BalasHapus
  13. Pas banget nih aku lagi belajar bikin food prep juga, seru ya ternyata hehe.. Selain bisa lebih hemat, bisa bikin bahan makanan lebih tahan lama juga

    BalasHapus
  14. Wiwin | pratiwanggini.net13 Maret 2021 06.47

    Sepertinya saya lebih sering menerapkan cara yang mba lakukan ini. Jadi langsung menghadapi bahan makanannya sambil membayangkan mau dibuat apa. Tosss!

    BalasHapus
  15. AKu bahaya banget memang kalau ke pasar tanpa rencana, bawa uang berapaaa aja ludes.
    Sampai diingetin sama suami, kalau ke pasar mending bikin list atau bawa uang ngepas sekalian.
    Kadang lo...mau beli sayur, malah ngerambat ke daging, eh...inget anak-anak suka makanan frozen food, eh...mamak juga mau ngemil, lhaaa..

    Ya udahlah yaa..
    Alhamdulillah pandemi, jadi pasarnya sekarang online.

    Gak laper mata lagi, ayyey~

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak ya... ^^