17 Agustus dari Bukit Lincing 1.860 mdpl

Ehm, madingnya udah keburu terbit belum ya kalau cerita sekarang? 

Gapapa deh yaaa, menulis sebagai pengingat pernah merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026 dengan cara berbeda. 

Tapi bukan sengaja cari cara unik demi HUT RI juga sih. Kebetulan aja momen dan kesempatannya pas. Hitung-hitung nambah pengalaman baru, mumpung tanggal 15–17 Agustus tahun ini long weekend.

Jadi, ceritanya, akhir Juli lalu suami ngajak saya ikut pendakian 17 Agustusan ke Bukit Lincing. Eventnya bersama komunitas Jejak Mahapena (komunitas pencinta alam dan pendaki gunung), jadi nggak muncak sendirian. Nggak banyak mikir, saya langsung mengiyakan. Saat itu belum terpikir tantangannya seperti apa. Kebetulan, suami dan anak-anak sudah pernah ikut acara yang sama tahun lalu, jadi saya tenang dan percaya aja buat ikut.

Bukit Lincing secara geografis adalah sebuah punggungan di lereng Gunung Arjuno, dengan ketinggian sekitar 1.860 mdpl. Termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo (meliputi kawasan konservasi di komplek gunung Arjuno-Welirang-Anjasmoro). Kalau Lincing dibandingkan dengan gunung induknya--Arjuno, yang punya ketinggian 3.339 mdpl, ini masih jauh yaaaa..baru setengah jalan aja. 

Sementara rutinitas saya baru sebatas trekking di perbukitan, hutan, susur sungai dan air terjun aja, nggak mungkin lah langsung ambil tantangan ekstrim ke gunung-gunung. Nah katanya sih track Lincing ini ramah pemula, kalau lihat jaraknya cuma sekitar 10-12km, aman lah yaaa udah biasa jalan kaki segitu. 

Tapi sebelum berangkat, ada rasa takut juga. Saya pernah pingsan karena hipoglikemia padahal cuma di Bromo yang nggak ngapa-ngapain, mendaki pun tidak. Sehingga salah satu kekhawatiran saya adalah kalau ada apa-apa nanti malah merepotkan orang lain.

Tapi jujur aja, penasaran. Kalau ditunda terus, mau kapan lagi?

Bismillah deehh.

Berangkat sama suami dan tiga anak laki-laki kami, saya mencoba hadir mengukir kenangan. Beberapa tahun lagi anak-anak mungkin akan memilih muncak bersama teman-temannya. Jadi ibu anak laki-laki juga nampaknya harus coba petualangan yang berbeda dari keliling coffeeshop dan fancy activity. 

Walau anak-anak sempat tanya, “Ibu beneran ikut? Sampai mana?” saya cuma jawab sambil bercanda, “kalau ada apa-apa gendongin ibu, ya.”

Persiapan 

Sebetulnya karena saya masih nggak pede sampai mendekati hari H, saya nggak terlalu memikirkan bawaan. Karena kalau dipikir-pikir, kita pergi masih di bawah 24 jam, dan rumah juga masih satu kecamatan sama Lincing (akamsi banget yeekaaan), jadi so far masih gampanglah mitigasi risikonya. 

Saya lebih banyak mempersiapkan fisik, seperti workout di rumah full tiap hari. Squat dan lunges jadi menu utama, kadang-kadang ditambah beban, pokoknya apa pun biar otot tubuh bagian bawah (setidaknya) lebih kuat nggak mudah geter, wkwk.

Selain itu jaga asupan makanan, biar nggak sakit gigi, biar nggak maag, biar nggak diare, biar nggak sakit apa pun yang bisa menghambat nantinya. Tapi saya tetap mengumpulkan obat-obatan satu-satu, mulai dari obat lambung, obat sakit kepala dari yang mild sampai yang extra, salep otot, minyak gosok, sampai obat alergi.

Lebay? Biarin, hehe. Beginilah kalau pergi sama ibu yaa. Mengingat saya juga yang paling lemah, saya yang harus lebih mempersiapkan diri.

Jaket-jaket windbreaker, baselayer, long john juga saya kumpulkan. Cuci semua sehingga setiap orang memakai double layer (vest/sweater + jaket). Suhu di bulan Agustus sedang dingin kering dan sangat berdebu, meskipun kita warlok, yaaa better prepare than sorry.

Lagi-lagi, beginilah kalau pergi sama ibu, ya, hehe.

Perbekalan

Masing-masing ransel isinya perbekalan pribadi dan bersama. Makanan dan minuman juga diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan cairan dan tenaga. Tiap orang punya jatah bekal masing-masing dan bisa saling silang jika dibutuhkan.

Logistik tiap orang
  • Air mineral 2x600ml
  • Air kelapa 500ml
  • Energy food (madu, kurma, cereal bar, cokelat)
  • Baju ganti
  • Senter kepala
  • Track pole
Khusus saya dan kakak, kami bawa tambahan tumbler sendiri isi @750ml.

Logistik bersama (dibagi rata ke semua ransel)
  • Kompor + gas portable
  • Nesting
  • Air mineral 2x1.5lt
  • Telur rebus tiap orang 2 butir
  • Nugget goreng
  • Roti-roti dan biskuit
Khusus ibu, nggak dibolehkan bawa ransel sendiri. Perbekalan ibu disatukan di tas ayah. Saya hanya bawa tas kecil untuk tumbler, energy food, dan tongsis. Masya allah...sehat-sehat kaliaaan yaaa 😘😘

Berangkat ketika sebagian orang sedang tidur

Tanggal 16 malam, kami berkumpul di Pos Pendakian Kebun Teh Lawang sekitar pukul 22.30. Keberangkatan ada tiga kloter; pagi, siang, dan malam. Yang berangkat siang sudah posisi nge-camp di atas, sementara kloter yang berangkat tektok ini ternyata lebih banyak.

Kami sengaja nggak nge-camp supaya nggak berat bawa tenda dan logistik lebih banyak. Plus, ninggal anak yang paling kecil di rumah sama neneknya, lebih cepat pulang lebih baik. 

Ada banyak pendaki baik warlok maupun luar kota, dan sebagian besar pastinya anak-anak muda, geng, atau komunitas entah dari mana saja. Bawaan mereka relatif simpel, bahkan ada yang pakai setelan running, celana pendek. Yang bener aja malih, apa nggak dingin? Oh iya lupa, mereka masih muda. 

Saya lihat ada juga beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu. Itu bikin lega. Ada teman seumuran, hehe.

Dari panitia, tiap orang mendapat sekantong bekal snack (pop mie, roti, permen loli, cokelat, air mineral) dan merchandise (slayer, gelang, stiker, trashbag). Lumayan buat ngemil di pos sambil nunggu keberangkatan.

Kami baru mulai berjalan sekitar pukul 1.15 dini hari bersama-sama rombongan lain dan beberapa sweeper. Menapaki jalanan kebun teh di dalam gelap berbekal senter kepala. Kalau siang-siang berangkatnya masuk dari gerbang ini nih yaaa.... 



Pesan suami kepada anak-anak sebelum berangkat, “Ibunya jangan ditinggal sendirian, ya.”
Kalimatnya sih mungkin biasa aja, tapi bikin semangat dan hati hangat sepanjang perjalanan di suhu 15 derajat ^^

Basecamp - Pos 1 (1 jam) 

Setengah jam pertama lumayan terasa sesak dan bikin kaki panas. Deru nafas yang nggak beraturan dan paha yang shock dibawa nanjak non stop bikin cepat capek. Padahal elevasinya belum seberapa, tapi mungkin kebawa suasana peserta lain yang masih pada jalan dengan cepat.

Medan berbatu yang dilalui juga cukup menyulitkan untuk jalan dengan stabil. Beberapa kali kepelitek, nyari jalanan yang rata hampir mustahil karena 2 kilometer area kebun teh ini tracknya bebatuan.

track debu (siang hari)

track batu (siang hari)

Setelah ritme jalan mulai on track, badan jadi kebawa santai dan mindful. Tubuh juga mulai menyesuaikan diri sama suhu dan otak. Berhenti-berhenti dulu di pinggir buat minum atau atur nafas. Silih berganti saling permisi dan mendahului dengan pendaki lain udah biasa. Yang tadinya sama-sama di bawah, tiba-tiba ketemu di tengah atau ternyata baru nyusul dari belakang.

Patokan saya juga kalau heart rate sudah masuk 130an maka saatnya berhenti dulu nunggu turun sampai 110-120.

Sekitar jam 2.30 sampai juga di Pos 1, meleset 15 menit dari durasi ideal. Masih dalam suasana yang gelap tapi rame, hanya cahaya lampu di kepala yang menjadi penerang satu sama lain.

Di sini masih ramai banyak warung, toilet, dan rest area kalau mau ngemil-ngemil atau menghangatkan diri. Juga sebetulnya kita masih bisa naik ojek dari basecamp ke Pos 1. Nggak tahu kenapa kemarin nggak nanya ya tarifnya berapa, tapi desas desus katanya 25 ribuan (perlu diverifikasi lagi). 

aneka penanda di perjalanan

Kami nggak lama-lama diam di Pos 1, mumpung masih banyak tenaga jadi lanjut dulu aja, takutnya kesiangan juga sampai atasnya. Jadi cukup duduk-duduk makan cereal bar terus lanjut jalan lagi.

Kakak dan adik di sini sudah nggak kelihatan, mereka jalannya cepat naik duluan. Saya, suami, dan anak kedua yang masih jalan barengan dari bawah tadi. Si tengah ini beberapa kali trekking emang yang paling sering barengin saya. Saya minta dia jalan di depan, supaya nunjukkin jalan dan energinya bisa dipake jalan lebih cepat.

Pos 1 - Pos 2 (1 jam) 

Menuju Pos 2, suasana mulai berubah. Masih gelap, tapi langit cerah banget. Konon kita bisa lihat galaksi Bimasakti juga kalau langitnya benar-benar clear. Saat itu bintang juga bertaburan, rasanya pingin banget rebahan sambil melamun skygazing gitu. 

Track menuju Pos 2 relatif lebih berat daripada ke Pos 1, tapi seharusnya bisa ditempuh dengan waktu yang lebih cepat karena nggak terhambat sama bebatuan. Meski begitu, jalurnya berpasir dan berdebu, dan angin yang berembus makin dingin. Memang nggak kelihatan karena malam, tapi sebagai orang yang sensitif sama debu, partikel debu-debu ini terasa banget di hidung dan lidah.

Di sinilah gunanya slayer, sebagai penutup mulut supaya anginnya nggak membuat kering ke tenggorokan. Slayer better than masker di saat-saat begini karena dia tidak begitu rapat dan lebih fleksibel.

Para pendaki mulai melambat naik. Beberapa malah sengaja melipir nongkrong dulu di tengah perjalanan sambil foto-foto menikmati suasana. Kami naik pelan-pelan dan tahu diri. Pakai trackpole sangat membantu menyeimbangkan beban badan yang suka oleng, maklum, milenial sudah lewat waktunya tidur, wkwkwk.

Sudah lewat sepertiga malam perjalanan berlalu (tentu lebih lambat dari waktu idealnya). Nggak ada azan Subuh yang terdengar tapi kenal banget sama aroma dan udara yang dihirup tiap hari saat bangun. Di saat yang sama, lampu-lampu para pendaki yang naik ke arah puncak kelihatan seperti titik-titik cahaya di kejauhan.


Jalur menuju Pos 2 ini memang bagian yang cukup menguras tenaga. Terutama karena tanjakannya nggak ada jeda. Tapi karena sudah berada di ketinggian, pemandangannya masya allah meskipun gelap gulita. Sampai kamera pun nggak bisa menggambarkan indahnya tangkapan mata manusia. 

Kami akhirnya tiba di Pos 2 sekitar pukul 04.30. Alhamdulillah. Total 3 jam perjalanan (dari estimasi ideal 2 jam).

Dua belas derajat dan toilet darurat 

Langit sudah mulai terang. Sebentar lagi matahari muncul dari ufuk timur. Ketika sudah berhenti berjalan, baru kerasa badan kaku dan mata sepet.

Anehnya, rasa capek saya berasa menghilang. Loh, sudah sampai ternyata?

Pos 2 adalah tempat para pendaki yang datang sebelumnya bermalam. Tenda-tenda warna-warni berdiri di antara rerumputan, wangi seduhan kopi menguar dari panci-panci di atas kompor.

Kami duduk-duduk di rumput dengan matras pinjaman. Suhu saat itu sekitar 12 derajat Celsius. Anak-anak sudah pada menggelepar berbantal ransel. Padahal sehari-hari udah biasa biasa berangkat sekolah dari subuh, tapi usia segitu kebutuhan tidurnya masih sangat tinggi, jadinya pelor deh.

Suami masak air buat nyeduh kopi dan rebus mie untuk sarapan. Di saat-saat begitu, lidah memang terasa tawar bikin nggak berselera untuk sarapan, tapi ya nggak bisa begitu, tetap harus ada asupan buat tenaga.

Segelas pop mie dan telur rebuspun jadi menu sarapan pagi itu. Sederhana aja, tapi tepat sasaran.

camp pos 2

Fasilitas di Bukit Lincing memang jauh dari kata lengkap, jika dibandingkan dengan Budug Asu (bukit lain yang ada di lereng Arjuno), memang masalah di jalur Lincing ini nggak ada titik sumber air. Otomatis tidak ada MCK.

Buat berwudhu saja kami pakai air mineral terbatas. Sementara untuk urusan toilet, ternyata ada lokasi semacam semak darurat di mana ada dua bilah kayu di atas juglagan untuk pembuangan kotoran.

Saya yang biasanya butuh banyak air di toilet beberapa kali urung mau buang air, antara takut ada yang ngintip dan rasanya risih banget gitu jongkok di atas pembuangan. Hufff, tapi ya mau gimana lagi?

Daripada kebelet terus ditahan sampai turun berjam-jam lagi, jelas lebih tidak nyaman. Bawa tisu kering tisu basah dan air sebotol, kami pun saling gantian jaga.

Ini salah satu pengalaman yang mungkin tidak akan pernah masuk daftar alasan orang memilih mendaki gunung. Tapi detail-detail semacam ini juga yang bikin sebuah perjalanan jadi ada ceritanya.

Sekitar pukul enam pagi, setelah sarapan dan menaruh barang-barang, kami mulai jalan naik lagi ke Puncak Lincing.

Puncak Bayangan dan Puncak Lincing

Puncak 2 (bayangan) dan Puncak Lincing (tengah)

Dari Pos 2 menuju puncak sebenarnya hanya sekitar setengah jam-an bolak balik. Lewati hutan sedikit lalu ketemuu dengan medan yang tanjakannya masya allah. Agak ngilu karena jalan licin berpasir sementara kiri kanannya jurang. Di beberapa bagian tersedia tali yang bisa digunakan sebagai pegangan untuk membantu naik maupun turun.

Masalah terbesar saya saat itu sebenarnya bukan medan juga sih, tapi ngantuk setengah mati bikin badan serasa melayang saat jalan. Tapiiii, viewnya terlalu indah untuk dilewatkan, jadi berusaha bertahan, minimal untuk menangkap pengalaman sensorik ciptaan Allah yang Maha Kuasa.

Hangatnya cahaya matahari, hamparan hijau vegetasi dan perbukitan, dan segarnya udara di ketinggian bikin tantangan jadi pengalaman. Nggak ada kamera hape apa pun menggantikan capture moment oleh mata langsung. Beneran deh, makanya kami nggak kebanyakan foto-foto soalnya takut kelewatan pemandangan indahnya. Mau nangiiisss bangeettt, huhu. 

Oh ya, Bukit Lincing memiliki dua puncak: Puncak Bayangan dan Puncak Lincing. Saya, suami, dan anak kedua memilih berhenti di Puncak Bayangan aja. Pengen bangeettt sih sampai ke puncak sebenarnya, tetapi pengen nyimpen energi juga untuk perjalanan turun.

18 Agustus besok semua aktivitas mulai normal dan saya ada pesanan kue ratusan pcs, jadi harus tetap strong. Kaki yang jadi tumpuan bekerja di dapur tolong jangan diforsir, wkwkwk. 

Cuma si kakak aja yang lanjut naik ke Puncak Lincing sendirian. Energi dia masih banyak. Kami nunggu di bawahnya aja sambil tiduran, foto-foto, ngelamun…

Pokoknya,
Saya sudah sampai di sini.
Dan itu sudah cukup.

Sekitar jam 8 lebih, kami mulai turun dari Puncak Bayangan menuju Pos 2 kembali. Jalur turun dari puncak juga didominasi pasir dan cukup licin. Ketimbang turun menggelinding, saya full memanfaatkan tali-tali untuk menuruni track.

Sampai di Pos 2 lagi, panitia mulai mengerahkan orang-orang untuk ikut upacara bendera di savana. Cuma suami dan anak ketiga (tadi nggak ikut ke puncak karena tidur di camp pos 2) yang mewakili rombongan kami upacara.

Pengibaran bendera di Lincing ini sudah jadi event rutin beberapa tahun. Ada beberapa titik pengibaran juga di lereng gunung lain yang bikin 17an berbeda dari biasanya. Seru-seru banget kalau lihat postingan orang-orang yang pada upacara bendera dari ketinggian.

Saya dan dua anak merebahkan diri di dalam barak kecil beralas matras. Tidur sejenak buat istirahatin mata dan isi tenaga sampai sekitar jam 10 orang-orang selesai upacara dan kembali ke camp.

Beres-beres bentar, kami langsung menuju jalur turun masing-masing. Lumayan juga nih kalau nggak banyak bawa bebawaan jadi bisa efisien di segala lini.

Tapi turun ternyata bagian yang paling menguras tenaga dan ceritanya ada lagi aja... 

Kalau pas naik yang paling terasa adalah nafas, perjalanan turun justru kaki dan lutut yang benar-benar berhak protes. Medan yang berbatu dan berpasir dalam track turun bikin setiap langkah harus dikendalikan. Menahan beban tubuh ternyata jauh lebih melelahkan dan menyakitkan.

Durasinya sih memang lebih cepat, cuma 2 jam saja udah sama istirahat dan lain-lain. Tapi cobaannya astaghfirullah. Betis mulai mengeras, lutut kayak dipukul palu terus-terusan. Beruntung telapak kaki nggak kebas karena sepatu hiking ada gripnya, jadi lumayan bisa menahan nggak nggelinding dan bisa ngerem-ngerem.


Kami sampai kembali di Pos Pendakian Kebun Teh Lawang (basecamp) sekitar pukul 12 siang. Sehat dan selamat. Alhamdulillah a’la kuli haal.

Anak-anak dan suami sudah sampai duluan, mereka udah tidur dan bangun lagi. Sementara saya sama kakak begitu tiba langsung cari tempat untuk rebahan. Tidur sekitar setengah jam sambil lurusin kaki dan punggung.

Akhirnya, rumah…

Kami tiba di rumah sekitar pukul 15.30 setelah mampir warung buat makan nasi krengsengan sapi yang terasa nikmaatt sekali disantap waktu itu.

Setelah membersihkan diri, sambil nunggu anak-anak pada mandi, tiduran sebentar di kasur sampai magrib. Nggak langsung jemput si kecil di rumah neneknya karena kita masih capek, nanti malah kasihan nggak ada yang nemenin karena yang lain pada ngantuk.

Tapi ternyata ‘sebentar’ itu nggak kerasa kebangun jam 9 malam. Baru inget kalau belum jemput, huhu.

Untungnya, dia baik-baik aja nggak rewel. Hanya nggak mau tidur dulu karena udah dijanjiin mau dijemput pulang. Tambah guilty sekaligus haruuu.

Happy! 

Kalau dipikir-pikir lagi, bagian tersulit dari perjalanan ini bukan tanjakan, bukan jalur berpasir, bukan lutut yang sakit ketika turun. Bahkan bukan tidur yang hilang semalaman.

Bagian tersulitnya adalah keputusan untuk berangkat.

Keputusan menitipkan bermalam anak 3 tahun dan keyakinan dia akan baik-baik aja ditinggal sebentar. Keputusan untuk percaya diri bisa menyelesaikan pesanan cookies 500 pcs dalam 3 hari habis pulang dari sini. Dan terutama keputusan untuk tidak selalu menjadi orang yang berada di belakang semua kebutuhan keluarga.

Selama bertahun-tahun, saya biasa mikir kalau ibu tidak boleh lelah karena anak-anak membutuhkan saya. Ya itu memang benar, sih....

Tapi mungkin ada hal lain yang juga benar, kalau seorang ibu tidak harus selalu berada dalam kondisi siap sedia selalu. 

Saya naik ke Lincing bukan mau merayakan 17 Agustus. Saya bahkan belum tentu milih mendaki ke sana kalau nggak ada eventnya. Bisa jadi milih staycation aja yang clean and fancy... 

Saya hanya sedang mencoba mengambil kembali sedikit waktu yang selama ini tertahan. Waktu untuk mencoba. Waktu untuk menguji tubuh sendiri. Waktu untuk merasa tertantang dan tetap berjalan.

Dan mungkin yang paling penting, waktu untuk melihat bahwa anak-anak saya ternyata sudah tumbuh cukup besar untuk menjaga ibunya. I'm grateful beyond words :)
Previous Post
3 Comments
  • Okti Li
    Okti Li 22 September 2026 pukul 10.46

    Selamat ya akhirnya bisa menjadi pemenang dalam menentukan jadi ikut atau tidak mendaki. seberapa tinggi pencapaian kita, tetap harus kita apresiasi
    Kenangan ini pasti tidak akan terlupakan...

    Saya sekarang istirahat mendaki karena anaknya mondok. Kemungkinan bisa pensiun kalau anak lanjut sekolah jauh lagi

    Tapi walau sekarang banyak event pendakian yang kami lewati tidak ada penyesalan karena saya sudah merasa berhasil mengantarkan anak ke puncak gunung berapi tertinggi di NKRI yaitu Gunung Kerinci pas 17 Agustus 2018 lalu.
    Saat itu anak kelas satu SD. Puas dan rasanya seperti sudah khatam saja melakukan pendakian
    Haha...

    Walaupun racun nya sampai sekarang masih ada. Saya hanya bisa tetap berolahraga di rumah saja. Tetap menjaga kesehatan karena mau mendaki atau tidak kesehatan dan kekuatan tubuh tetap penting

    Semangat nih buat anak-anaknya juga ternyata udah berhasil menjaga ibu tercinta hingga kelak semoga seperti saya, ga ada penyesalan kalau anak udah misah sendiri sendiri dengan s…

  • Rizky Kurnia Rahman
    Rizky Kurnia Rahman 23 September 2026 pukul 16.36

    Keren juga ceritanya, pengalaman unik mendaki gunung pas mau 17-an. Apalagi berangkat dini hari, wah, itu jelas perjuangan yang luar biasa. Pas kondisi tubuh seharusnya tidur dan istirahat malam, eh, malah mendaki. Tapi, ya, sekali-kali oke juga sih.

  • erykaditya
    erykaditya 23 September 2026 pukul 18.28

    Waaaahhhhh selamat mb rella akhirnya bisa sampai puncak di lincing meskipun puncak bayangan itu sudah sebuah pencapaian karena ternyata anak2 yang kita anggap selama in masih kecil ternyata sudah bisa mengambil alih peran gantian menjaga ibu dalam pendakian ini...
    Berasa kayak diratukan gak sie mba,,,selalu di dampingi kakak, gak boleh bawa ransel berat...aku yang baca aja ngerasain vibes hepi nyaa hehehe,,,
    Dan btw masalah oendakian ini yg selalu buat pr aku adalah masalah toilet duhhh gimana yaaa,,secara cewek kan biasanya gt ya mba maunya pake air bersih yang banyak tapi karena keadaan mau gak mau ya harus di tempat seadanya...
    Kerenn hebat selamat mbaaa !!! ;)

Add Comment
comment url