Perbedaan Nasi Kebuli, Nasi Mandhi, Nasi Biryani, Nasi Kabsah, dan Nasi Bukhori

Apa bedanya antara nasi mandhi, nasi biryani, nasi kabsah, nasi biryani, dan nasi kebuli? Hayooo, apa coba? Pernah nggak bingung mau milih menu yang mana saat makan di restoran masakan arab atau Timur Tengah? Dari penampakan, semua tampak sama, tapi kok ada sampai 5 nama yang berbeda?

Padahal, kelima jenis masakan nasi Timur Tengah punya dua persamaan yakni menggunakan rempah yang banyak, dan memakai beras basmati (long premium) yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak yang baik untuk energi tubuh. Tahu kan ya, yang bulirnya panjang-panjang itu lho, makanya kelimanya terlihat sama.

Perbedaan Nasi Kebuli, Nasi Kabsah, Nasi Biryani, Nasi Mandhi dan Nasi Bukhori

Nasi Arab adalah penyebutan umum untuk nasi apa saja yang berasal dari wilayah Timur Tengah. Tapi dari kelimanya, perbedaan nasi kebuli, briyani, kabsah, mandi, dan bukhori ternyata cukup banyak. Mulai dari rasa, cara pengolahan, dan warna nasi saat dihidangkan. 

Yang jadi pembeda aneka macam nasi Arab (Timur Tengah) adalah pada cara memasak yang mencirikan khas di setiap negara wilayah Timur Tengah. Misalnya nasi biryani yang dibawa oleh kalangan muslim di Pakistan dan Bangladesh, yang selanjutnya berkembang di Indonesia. Lalu ada nasi kabsah yang berasal dari Yaman yang terkenal di Saudi Arabia dan lalu diperkenalkan ke Indonesia. Dari sinilah terlihat bahwa berbagai negara Timur Tengah memang membawa ciri khas teknik memasaknya sendiri.

Nasi Kebuli 

Jenis yang ini mungkin paling familiar di antara kita karena sudah berakulturasi dengan kebudayaan Betawi. Sering hadir juga di acara-acara masyarakat Betawi, padahal sebenarnya nasi kebuli bukan dari arab, tapi berasal dari nasi kabli, dari Afghanistan. 

Nasi kebuli dibuat dengan cara menanak nasi dengan kaldu dan susu kambing bersamaan. Sebelumnya, daging kambing ditumis dulu dengan minyak samin untuk memberikan aroma khas, kemudian campur dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, lada hitam, cengkeh, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, pala, dan minyak samin. 

Biasanya, nasi kebuli disajikan dengan daging kambing bakar atau goreng, tapi belakangan ini sering juga saya temui dengan daging sapi atau ayam, dan tetap sama enaknya! 

Rasa dari nasi kebuli ini cenderung kaya akan rempah, belum lagi dari rasa kapulaga yang sangat pekat dan aroma bunga lawang yang kuat. Warna nasi kebuli cenderung coklat, bergantung kuantiti rempah yang digunakan.


Untuk membuat aneka sajian nasi arab ini sekarang sudah mudah karena kita bisa beli rempah di Cairo Food, supplier rempah masakan arab dan internasional. Bumbu dan rempah yang dijual di sini sudah ada izin edar, kualitasnya terjamin karena sudah dipakai oleh banyak vendor juga. 

Dari segi harga juga terjangkau, bisa dibeli secara online di website Cairo Food atau di Supermarket Lulu dan reseller tertentu. Bisa juga beli rempah melalui Whatsapp Cairofood 081218222610. 

Masakan arab hingga saat ini makin digemari oleh masyarakat Indonesia. Nuansa restoran masakan Timur Tengah juga pada umumnya vibes-nya cocok untuk makan-makan sekeluarga. Selain karena porsi yang disediakan ukurannya besar, seating table-nya juga lebih santai dengan meja besar atau lesehan di atas karpet.

Tapi bukankah nasi uduk, nasi kuning, nasi liwet, dan nasi goreng juga berasnya tetap sama?
Ya jelas aja, kitorang Indonesia langsung bisa membedakan berbagai gaya nasi Nusantara. Jadi, sangat wajar jika kita kebingungan di hadapan buku menu masakan arab 😄
Next Post Previous Post
1 Comments
  • Ikrom Zain
    Ikrom Zain 29 Agustus 2021 07.19

    aku taunya memang cuma nasi kebuli mbak
    yang sering dijual di pinggir jalan
    mayan lo sekarangh 10 ribuan dah dapet
    bisa buat sarapan
    rempahnya terasa banget
    tapi aku tetap tim nasi kuning
    tiada yang menandingi hehe

Add Comment
comment url