Jul 13, 2019

Korean Movie Review : Cart (2014).




Cart (Ka-teu), film lawas bertema isu sosial yang lagi-lagi entah kenapa, bikin saya berderai air mata sepanjang durasi film. Lemah banget emang kalo dikasih tema begini, dibanding cinta-cintaan yang sedihnya menye-menye, nonton film kaya ginian tuh semacam ikut sakit hati dan paham betul problematika rakyat jelantah, hahah...hadeuh

Sejenis Pursuit of Happiness atau Misaeng lah...bukan cuman mengedepankan drama, tapi ada isu sosial aktual yang diangkat untuk jadi perhatian penonton.

Pemeran : 
Yum Jung-ah as Sun-hee (sekilas mirip banget sama Jang Na Ra versi tua)
Moon Jung-hee as Hye-mi
Kim Young-ae as Madam Soon-rye
Kim Kang-woo as Dong-joon
Do Kyung-soo as Tae-young
Director : Boo Ji-young
Writer :  Kim Kyung-chan
Rilis : 13 November 2014 

Oke, mau ngaku dulu kalau awalnya tertarik nonton film ini karena ada Kyungsoo oppa yang juga menyanyikan soundtracknya yang berjudul Crying Out. Ih lagunya sediiihhh... Kabarnya film ini termasuk awal-awal karir aktingnya D.O sehingga mendapatkan Best Rookie Actor di Soompi Awards. 


Film yang ditayangkan perdana pada Toronto Music Festival tahun 2014 ini disutradarai oleh Boo Ji-Young. Sutradara ini tersohor handal dalam mengungkapkan isu-isu sosial kedalam sebuah film, banyak hasil karyanya yang terpilih mengikuti festival-festival film internasional. 

Baik, langsung ke story plot. 

Cart bercerita tentang situasi pemogokan kerja yang dilakukan sekumpulan pekerja kontrak wanita di jaringan supermarket besar, The Mart. Pemogokan ini didasarkan pada suatu alasan yakni pemberhentian sepihak secara tiba-tiba oleh perusahaan terhadap karyawan sebelum masa kontrak mereka habis, lazimnya kalau sekarang disebut efisiensi (duh, kekinian banget kan...) 

Para pekerja ini tentu tidak bisa terima begitu saja. Adalah Sun Hee, seorang ibu dua anak yang berprofesi sebagai kasir selama 5 tahun, harus dihempas kenyataan bahwa promosinya sebagai karyawan tetap sesuai yang dijanjikan perusahaan tidak akan terwujud. Padahal dia sudah bekerja dengan sangat keras. Sun Hee juga punya tanggungan dua orang anak yang membutuhkan biaya, sedangkan suaminya bekerja di laut dan jarang pulang.

Hye Mi, seorang single mother yang juga bertugas di bagian kasir dengan berani memimpin dan mempengaruhi kawan-kawan sesama pekerja kontrak untuk mendirikan serikat pekerja dan memperjuangkan hak-hak mereka yang diabaikan perusahaan. Bersama Sun Hee dan seorang cleaning service senior, mereka didaulat jadi juru bicara perserikatan. 

Bagi para pekerja wanita ini, berstatus kontrak saja sudah membuat ketar ketir setiap kali waktu perpanjangan kontrak habis, apalagi seringkali mereka diperlakukan tidak cukup baik. Bekerja di luar kapasitasnya, dipaksa meminta maaf pada pelanggan walau salah (karena slogannya pelanggan adalah raja yang terhormat), belum lagi berbagai makian yang sering dilontarkan atasan mereka. 

Berhenti di sini bentar, mungkin sebagian pembaca kelas menengah ngehe akan berkata "keluar aja lah, ngapain bertahan di situasi yang nggak sehat begitu." Hellow milenial serba tanggung, tentu tidak mudah berada di posisi mereka. Persoalan tenaga kerja vs lapangan kerja di mana-mana, di negara maju sekalipun selalu jadi isu sosial yang seksi. 

Pemogokan kerja dimulai dengan mengokupasi supermarket selama berhari-hari, sampai supermarket harus tutup operasional dulu. Mereka nggak pulang-pulang sampai ada kesempatan untuk menemui pihak manajemen perusahaan setelah berkali-kali gagal dilakukan. Harapannya, manajemen mau membuka negosiasi bagi mereka setidaknya sampai kontrak selesai. Namun nihil, perusahaan malah mengirimkan pasukan polisi anti huru hara untuk membubarkan kerumunan. 

Aksi unjuk rasa mencapai puncaknya ketika beberapa karyawan tetap yang juga merasakan ketidakadilan perusahaan bergabung dengan mereka. Dong Joon, salah satu manajer toko bersedia untuk menjadi ketua perserikatan dan berjanji akan sama-sama berjuang sampai akhir. 

"Bibi, bisakah tetesan air menembus batu?" 
- Dong Joon, Manager The Mart
Kehidupan personal Sun Hee yang paling banyak disorot dalam film ini, termasuk  konflik dengan anak sulungnya yang masih SMA, Tae Young. Diceritakan bahwa Tae Young merasa kecewa karena ponselnya masih model flip (di mana saat itu udah ketinggalan jaman), kartu makan siang yang tak terisi saldo, sampai terancam nggak bisa ikut fieldtrip sekolah ke pulau Jeju karena ibunya nggak ada biaya, uceett yaahhh....mau darmawisata apa mau syuting, bang? 
Awalnya si Tae Young ini rada ngeselin, tipikal anak-anak yang nggak mau ngerti keadaan orangtua. Saat dia bekerja paruh waktu di minimarket, ternyata dia juga mengalami ketidakadilan dari sang pemilik minimarket. I love the way Sun Hee membela hak anak laki-lakinya ketika si pemilik minimarket menuntut kerugian toko. Begitu tegas, terasa welas asih namun keadilan harus ditegakkan. 

Sementara itu, mogok kerja masih terus berlangsung sampai berganti musim. Aksi dorong mendorong, gusur menggusur, retorika sampai disiram tembakan air mewarnai hari-hari para pengunjuk rasa. Tenda markas yang mereka dirikan bahkan kembali diobrak-abrik oleh polisi sampai putra Hye Mi yang masih balita harus masuk rumah sakit karena ketiban tiang tenda. Hye Mi pun harus realistis. Sementara ketua serikat terpaksa terlibat masalah hukum saking sudah sangat putus asa. 


My View. 

Himpitan kebutuhan hidup dan idealisme memang seringkali berbenturan jauh melampaui yang terlihat. Suatu hari bapak saya pernah bilang, "Nggak perlu ikut-ikutan serikat-serikatan, pasti kamu yang rugi. Selamatkan diri dan keluarga kamu aja yang penting." 

It sounds very natural and realistic memang. Beberapa kali jadi bagian dari sebuah perusahaan, isu hak dan kewajiban ini nggak pernah mati. Entah siapa yang nggak puas, manajemen kah, pekerja kah...atau semua dibuat nggak puas oleh sistem yang tidak berperikeadilan.

It's hurt to know bahwa yang berkuasa hampir sudah pasti selalu menang. Entah dengan cara menawarkan kompensasi lebih pada para aktivis serikat, memberikan ancaman, atau negosiasi dengan berbagai persyaratan.

Dari sisi filmnya, agak pingin ketawa sih kalo D.O masih cocok meranin anak SMA padahal 2014 umur dia udah 21 tahun. Nggak nyangka sekarang dia sudah pergi wamil *menatap nanar*. Aktingnya di sini udah lumayan sih, meski belum bisa dibilang bagus. Gapapa oppa masih belajar yah....
Akan lebih menyentuh lagi kalau konflik antara ibu dan anaknya dipertajam, pasti deh memperkuat cerita. Rada nggak jelas saat mereka bertengkar malam-malam, apakah situasinya Tae Young habis mencuri atau gimana. Kehadiran temen cewek yang nggak gitu mempengaruhi isi cerita mungkin maksudnya mau menggambarkan bahwa situasi ini juga dialami oleh banyak keluarga lain, tidak hanya keluarga dia yang drama. 

Yang saya bingung juga, emang kalau di Korea ayah yang bekerja jauh nggak ngirimin uang ke keluarga mereka gitu? Kalau di sini kan biasanya nih, biasanyaaa, income kepala keluarga yang bekerja jauh dari keluarga rata-rata tinggi, makanya dibelain walau mesti LDR dari keluarga.

Yang menarik lagi, bahwa film ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi pada bulan Juli 2007 ketika pekerja di Supermarket E.Land Mart mendadak dipecat dan mendorong terjadinya pemogokan selama 510 hari. (sumber: asianwiki.com). Lama banget kan itu hampir 2 tahun. Saya coba cari informasi tentang pemogokan karyawan E-Land Mart tahun 2007 dan menemukan berita ini di Korea Times. 

Sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan nyata, ending film ini juga tidak berupa happy ending maupun sad ending. "Despite constant negotiations, the union and management failed to narrow their differences over employment security, salaries, upgrading non-regular workers to regular employees and management's lawsuit against the union." Hiks.

No comments:

Post a Comment